Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
Ejekan mereka


__ADS_3

Tiba waktu makan, mereka semua berkumpul dalam satu meja yang sama.


Terlihat tidak nyaman sekali Rumi yang hanya menundukkan kepala. Karena di hadapannya ada sekitar lima orang wanita termasuk ibu dari Debby.


Tiga di antaranya memakai busana yang benar-benar memperlihatkan sedikit bagian dada mereka. Tertawa keras sembari bercerita kesana-kemari.


Tak ada satupun dari mereka yang mengajak bicara Rumi dan Debby, terkecuali Mama.


Ibu paruh baya itu meletakkan beberapa centong nasi ke piring Rumi dan Debby. Mereka mengucapkan terimakasih, lebih-lebih Debby yang merasa bersyukur ketika kehangatan sang ibu sudah kembali.


Ruang makan semakin riuh, dencingan sendok dan garpu yang beradu memotong daging membuat suasana makan semakin hangat.


Lusiana melirik ke arah pria di sebelah Debby, lalu terkekeh pelan menertawakan. Karena tangan Rumi yang sedang memegangi sendok dan garpu nampak amat gemetaran. Kepalanya bahkan sama sekali tak terangkat, memasukkan satu demi satu suapan nasi ke dalam mulutnya.


Ia berdeham. "Deb, tempo hari aku bertemu Justin."


Deg...! Rumi mematung, mendengarkan namun tetap pada posisi menunduknya.


"Dia sekarang hebat, memegang perusahaan X, salah satu cabang perusahaan milik kakeknya."


"Wah... Itu kan perusahaan lumayan besar. Siapa itu Justin?" Ibunya yang bernama Margaretha bertanya.


"Pria yang menyukai Debby sejak SMA. Dia satu kampus dengan ku dulu. Orangnya keren dan mapan."


"Waaah... Kok mendadak merasa sayang ya?" Cibir Margaretha. Ada beberapa yang menanggapi dengan tertawa, ada yang menanggapi dengan cibiran lain. Berbeda dengan kakak, ayah dan ibu Debby yang hanya diam saja.


Di sisi lain, Debby menoleh kearah Rumi, ia sama sekali tidak enak hati mendengar ucapan Lusi tadi. Sementara sang suami hanya diam saja, meraih segelas air di sebelah piringnya lalu menengguk itu dengan tenang. Kembali Debby menatap kearah Lusi yang berada di hadapannya.


"Lusi, bisa kan kamu tidak membahas itu?" Bisik Debby pada sepupunya.


"Oh... Aku kan hanya bercerita saja, apakah itu akan menjadi masalah."


"Tentu saja! di sini ada suamiku, kau harus bisa menjaga perasaannya." Mulai gusar, dimana tangan Rumi langsung meraih tangan Debby. Gadis itu menoleh dan melihat Rumi tersenyum tipis sembari menggeleng. Maksudnya, tidak usah berbicara apapun untuk menanggapi ucapan mereka, sementara dia sendiri tidak mempermasalahkan itu.


Gadis itu menghela nafas, melirik sinis kearah gadis yang tengah menyunggingkan separuh bibirnya.


"Oh... ngomong-ngomong, suami mu kerjanya apa?" Tanya Antoni.


"Suami ku, baru saja masuk ke salah satu perusahaan. Sebagai desainer grafis."


"Baru? Memang selama ini kerja dimana?" Tanya Margaretha.

__ADS_1


"Selama ini, saya masih nganggur dan mengandalkan penghasilan dari dakwah tante," jawab Rumi ramah.


"Ya ampun... Nganggur? Selama ini suami mu nganggur Deb? Jadi, kamu dong yang menghidupi dia." Menunjuk ke arah Rumi.


Deg....! Rumi tertohok namun ia masih diam saja. Menggenggam tangan Debby semakin kuat, menahannya yang hendak membuka suara. Sementara Debby menggeleng pelan, ia beristighfar. Sungguh, ingin rasanya ia melontarkan kata-kata yang tak kalah tajam demi bisa membalas ucapan dari tantenya tadi lalu mengajak Rumi beranjak dari meja itu, dan pergi dari sini. Karena sepertinya keluarga dari dua adik sang ayah tengah sengaja menghina dia dan suaminya.


"Margareth!!! Bisakah kau tutup mulut mu itu? Makanlah dengan tenang, jangan kau banyak tanya seolah-olah tengah mengintrogasi putra mantu ku ini," bela ibunda Debby yang mulai tidak nyaman.


"Ci, masalahnya di mana? Aku kan bertanya... Hanya bertanya!"


"Tapi pertanyaan mu itu sangat tidak enak di dengar...!"


"Tidak enak di dengar apanya, hal wajar jika aku ingin tahu, bukan begitu nak ustadz?" Bertanya sembari menahan tawa.


"Emm... Iya, iya Tante. Tidak apa-apa kok Mah." Rumi tersenyum, ramah.


"Astagfirullah al'azim." Debby benar-benar ingin beranjak dari sana.


"Kalau begitu, aku ingin tanya? Di perusahaan mana kau kerja?" Tanya Margaretha.


"Di perusahaan X."


Sontak beberapa yang mendengar itu tertawa. Karena Lusi berbicara dengan suaranya yang keras.


"Lusi, hentikan...! Cepatlah minta maaf pada suami ku." Hentak Debby.


"Lihat... Kau membela seorang pria yang bahkan menatap kami saja tidak berani."


Braaaaakkk....! Debby menggebrak meja, Membuat Rumi tersentak kaget lalu beristighfar kemudian.


"LUSIANA!!!" Debby berseru.


"Apa?" Menjawab dengan tatapan menantang balik Debora.


"Cukup...!!!" Seru Tuan Yohan. Membuat semua yang di sana terdiam seketika. "Aku mengundang kalian makan bukan untuk berdebat atau saling menghina satu sama lain. Jadi tolong hargai saya selaku Tuan Rumah di sini."


Semuanya menunduk lalu kembali melanjutkan makan mereka. Debby beristighfar berkali-kali, matanya sudah mengembun, sungguh dia ingin mengajak Rumi keluar dari rumah orang tuanya namun Rumi masih saja menahannya dengan cara yang sama tersenyum kepadanya. hingga beberapa menit berlalu.


Ada sebagian yang beranjak keluar dari dapur. Sementara yang lain masih di meja makan menikmati buah segar yang ada di sana. Hingga satu demi satu mereka mulai keluar. Dan hanya tersisa Debby serta Rumi, gadis itu beranjak sebentar untuk mencuci tangannya.


Di sisi lain sang ibu mulai berjalan mendekati Rumi yang masih duduk sendirian di meja makan, beliau membawakan buah apel yang sudah di kupas didalam piring kecil lalu menyerahkannya kepada Rumi.

__ADS_1


"Ya ampun. Mah, kenapa ini di kasih ke Rumi?"


"Mama benar-benar tidak tahu, harus dari mana mengutarakan permintaan maaf Mama pada mu."


"Kok Mama bilang seperti itu. Minta maaf untuk apa?"


"Kamu pasti sakit hati sekali kan? Soal tadi."


Rumi tersenyum. "Ya ampun, enggak Mah. Rumi nggak merasa gimana-gimana."


"Jangan bohong. Ucapan Tante dan Om nya Debby memang seperti itu. Lebih-lebih keponakan Mamah yang satu tadi. Tapi tidak semua kok yang kasar, hanya beberapa."


"Sungguh mah, saya itu bukan tipe orang yang mudah sakit hati. Karena dalam Islam kami selalu di ajarkan untuk berlapang dada. Ucapan seperti itu tidak lah mampu membuat saya terluka."


Nyonya Brigitta tersenyum. Ia meraih sepotong buah apel itu lalu mengulurkannya pada Rumi. "Makan lah ini nak, tangan Mama bersih kok."


"Hahaha... Ya ampun." Rumi membuka mulutnya, di mana tangan sang ibu mertua mulai bergerak memasukkan sepotong buah itu. "Terimakasih Mah, buahnya segar. Enak."


"Hahaha Ya Tuhan... Menantu ku ini halus sekali kalo ngomong, hati Mama adem jadinya."


"MashaAllah. Bisa saja Mama mujinya."


"Bisalah... Karena itu fakta." Tertawa, sama saja dengan Rumi yang turut membalas tawanya.


Debby yang melihat itu amatlah Terharu, ia langsung mendekati ke-duanya.


"Mama, kok cuma kak Rumi?"


"Oh, kamu mau?"


"Iya lah."


"Sini, buka mulut mu."


"Aaaaa... Emmmm" Debby mengunyahnya.


"Enak?"


"Enak Mah... Apa lagi dari tangan Mama," puji Debby.


"Hahaha... Anak ini, sini makan yang banyak ya." Menyuapi lagi ke Rumi. Entah mengapa beliau melihat anak dan menantunya itu seperti anak kecil. Apalagi Rumi menurut sekali saat di suapi buah dari tangannya, sama sekali dia tidak memperlihatkan ekspresi canggung apalagi menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2