Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
anggota baru keluaga Faqih


__ADS_3

Di Jakarta....


Langit kelabu menyapa, menyisakan sepenggal senja yang mulai meredup.


Gerimis pula datang menghujani kota dengan intensitas kecil.


Masih bisa terbilang amat ringan, untuk membasahi tubuh orang-orang yang tak melindungi diri dengan payung mereka. Yang berjalan menuju tempat beribadah di kala adzan sudah memanggil.


A' Faqih berdiri di depan cermin, menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya.


Bersamaan dengan datangnya Nuha yang baru saja masuk ke dalam kamar, lalu menutupi hidungnya.


"A'a? Pakai apa sih?" Protes Nuha, ia memilih untuk tetap bertahan di depan pintu. Walaupun Ziya sudah berlari masuk mendekati Abinya yang langsung menggendong anak itu.


"Pakai apa? A'a nggak pakai apa-apa kok." Dikecupnya pipi Ziya dengan lembut sembari berjalan mendekati Nuha. Wanita itu lantas mundur satu langkah.


"Ya ampun... Parfum apaan sih itu? Baunya bener-bener nggak enak."


"Parfum yang biasa di pakai lah." Faqih mencium aroma parfum yang berada di bajunya.


"Parfum A'a, bau banget sumpah." Nuha menutup hidungnya.


"Bau bagaimana? A'a biasa pakai ini."


"Tapi ini beneran bau, Ganti sana."


"Apaan sih, Neng? Tumben banget protes."


"Tapi sumpah baunya, bikin mual."


A' Faqih terdiam, ia lantas mengangkat satu tangan lalu mendekatkan ketiaknya itu pada Nuha. Sontak Nuha yang melihat itu malah justru setengah berlari kabur menghindari suaminya.


"A'a...! Apaan sih, beneran Nuha nggak suka."


"Lebay banget sih, Ini tuh wangi."


"Lebay apanya? Nuha Serius, baunya bikin mual." Berucap kata mual saja sudah membuat Nuha memutuskan untuk ngibrit menuju tandas, sembari memegangi perutnya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menutup mulutnya sendiri. Faqih yang melihat itu hanya menatap penuh kebingungan. Lalu mencium aroma tubuhnya sendiri sekali lagi, ia menoleh pada Ziya?

__ADS_1


"Geulis, Abi itu wangi 'kan?" Tanya Faqih pada putrinya.


"Wangi... Abi wangi," Jawab Ziya yang hanya mengikuti ucapan Abinnya tanpa paham apa yang di maksud. Di mana Faqih langsung tersenyum gemas, sembari mencium anaknya.


"Tuh, Neng saja bilang wangi. Emang dasar Umma, nih." Faqih memutuskan untuk kembali ke kamar mendekati Nuha.


Di sana ia melihat Nuha keluar dengan lemas-nya.


"A'a ganti bajunya sana... Bau banget."


"Bau apa sih? Kaya nggak biasa aja nyium aroma ini. A'a mau ke masjid dulu. Kamu masuk angin, mungkin? nanti A'a pijitin ya, sekarang A'a pergi dulu." Faqih menyerahkan Ziya pada Nuha yang sedang menahan nafas karena tidak tahan dengan bau parfum suaminya, sekilas senyum jail nampak mengembang di bibir Faqih. Ia kembali mengangkat ketiaknya menggoda Nuha.


"A'a, Ya Allah..." Nuha mendorong tubuh itu dengan sedikit kesal. Di mana Faqih hanya tergelak lalu berjalan keluar kamar.


Nuha pun menghela nafas, ia meletakkan Ziya di atas ranjang lalu meraih seprai pengharum ruangan. Disemprotkannya pengharum ruangan itu beberapa kali, dan bukanya ia merasa lebih baik? Malah sebaliknya, Nuha semakin mual dengan aroma yang menyengat. Ia kembali berlari ke toilet guna mengeluarkan isi perutnya.


***


Malam semakin bergulir. Nuha masih tertahan di sofa ruang tengah, mendapatkan pijatan hangat di keningnya yang ia rebahkan di pangkuan Faqih.


"Neng, tidur di dalam saja. Ziya ngantuk tuh."


"Nggak mau, di kamar itu baunya nggak enak."


"Bau apa sih? Dari tadi protes bau terus. Sampai-sampai A'a mandi lagi, gara-gara kamu nggak mau di deketin walaupun A'a sudah ganti baju," runtuk Faqih sembari memijat pelan kening istrinya.


Sementara Nuha terdiam, matanya terpejam tak mau menjawab. Akibat rasa mual dan pusing membuatnya tidak mood untuk banyak berbicara.


"Sok, pindah neng. Istirahat di dalam yuk," ajaknya lagi. Namun Nuha malah justru memiringkan tubuhnya menghadap Fakih, seraya memeluk lingkar pinggangnya. "Neng?"


"Nggak mau, kamarnya bau." Rengek Nuha, ia lebih suka aroma tubuh Faqih yang habis mandi itu ketimbang aroma parfum manapun.


"Ya udah awas dulu, Ziya ngantuk. A'a mau buat susu buat dia." Faqih memegangi tangan Nuha, mencoba melepaskan diri. dari sang istri lantas beranjak duduk, sembari membenahi rambutnya.


"Ziya ngantuk?" Tanya Nuha, sembari merentangkan kedua tangannya. Di mana anak itu langsung mendekati Ummanya, naik ke atas pangkuan sang ibu dan duduk menghadap Nuha sembari memeluk. Nuha pun membalas pelukan itu sembari mengusap-usap punggung sang anak. "Kasian anak Umma, kelelahan."


Masih menahan pening dan mual yang menurutnya sudah lebih baik dari pada tadi. Nuha pun berfikir sejenak, lalu melihat tanggal di ponselnya.

__ADS_1


"Sudah tanggal segini, aku kok belum haid ya? Kalau di hitung-hitung? Aku telat sepuluh hari sepertinya," gumamnya. Namun dia memilih untuk diam saja, mencoba memeriksa sendiri besok.


–––


Pagi harinya, tepatnya pukul sepuluh Nuha memeriksa kondisi dirinya dengan testpack yang ia beli baru saja.


Tak sabar menunggu esok hari, ia memutuskan untuk memeriksanya sekarang.


Awalnya ragu, namun raut keraguan itu berubah menjadi senyum haru. Garis merah itu terlihat tidak terlalu jelas, namun ia yakin kalau dirinya hamil lagi.


Nuha keluar dari kamar mandi, ia benar-benar bersyukur dan tidak sabar menunggu A' Faqih kembali. Hingga senja kembali menyapa, walaupun ia tetap meminta Faqih untuk mandi langsung, dengan drama keduanya. Antara yang satu ingin duduk lebih dulu karena lelah, sementara Nuha sudah tidak tahan dengan bau parfum dan keringat Faqih yang bercampur menjadi satu.


Beberapa menit kemudian, sebelum tiba waktu Maghrib. Faqih duduk di ruang tamu, menekan tombol tasbih digitalnya, berzikir di waktu petang, sembari menemani Ziya bermain Lego. Sementara Nuha baru selesai menyiapkan hidangan makan malam, ia berjalan pelan mendekati Faqih, lalu duduk di sebelah sang suami.


Faqih menoleh, ia melihat senyum Nuha mengembang. Entah apa maksudnya, namun tetap di balas dengan senyuman tipis A' Faqih.


"A'... Nuha mau ngomong."


"Ngomong aja."


"Berharap ini adalah kabar yang akan membuat A' Faqih bahagia, saat mendengarnya."


Faqih tersenyum tipis, karena ia sepertinya memang sudah ada feeling sesuatu. "Cepet ngomong, neng."


"Nuha tadi periksa urin pakai testpack. Ternyata, ada dua garis," jawab Nuha malu-malu.


Faqih yang mendengar itu tak bisa berkata-kata. Namun dari kedua matanya yang berkaca-kaca itu seolah sudah menggambarkan jika dia terharu plus tidak percaya.


"Maksudnya gimana? MashaAllah neng." Faqih meraih kepala Nuha lalu mengecup kening istrinya lembut.


"Iya, itu." Nuha terkekeh, karena A'a mencium pipinya berkali-kali.


"Itu apa? Ya ampun, kesayangan. A'a mau di kasih anak lagi?"


"Iya A'a..."


"MashaAllah, Alhamdulillah ya Rabbi." Faqih memeluk tubuh Nuha erat, seraya bergumam Hamdallah berkali-kali. Lalu melepaskannya sejenak. Beliau tersenyum saat Nuha mengusap air mata bahagia di kedua matanya. Lantas mendaratkan kecupan di kening dengan tangan kanan menyentuh perut Nuha sementara bibirnya bergumam memanjatkan doa untuk janin yang berada di dalam kandungan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2