
Memasuki waktu dini hari, Ustadz Irsyad sudah terjaga.
Beliau kini sedang berzikir setelah menjalani shalat tahajud, taubat, witir lantas istikharahnya.
Menentukan sebuah pilihan memang tidak akan segampang itu beliau ambil. Butuh proses kematangan dalam hal berfikir. Karena Dia sendiri pun harus benar-benar memantapkan hati, agar tidak salah langkah akibat keputusan yang di ambil karena terburu-buru.
Satu hari, dua hari bahkan hingga berminggu-minggu dan tiba malam sebelum beliau mengadakan kajian lagi di masjid dekat rumah Isti. Ustad Irsyad meletakkan tasbihnya.
"Mungkinkah? Tapi aku harus mencoba untuk berbicara dengan Isti sendiri. Apa Dia bersedia untuk ku pinang." Mengucapkan kata meminang, dada Ustadz Irsyad bergetar. Beliau pun menghela nafas lalu beristighfar. Terdengar suara adzan subuh kemudian membuat beliau mengucapkan hamdalah lantas bersiap untuk ke masjid.
.
.
.
Senja kembali datang. Karena waktu memang cepat berputar, Ustadz Irsyad kini tengah duduk menghadap para jamaah wanita yang serius mendengarkan tausiyahnya.
"Ketika kita kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita, entah itu barang, anak, atau mungkin pasangan hidup biasanya akan muncul sifat hazzan dalam tubuh kita. Sebuah rasa kegelisahan yang membuat kita tidak rela, tidak ridho, sedih dan lain sebagainya. Kenapa bisa seperti itu, itulah ujian."
Ustad Irsyad sedikit tidak fokus, tatkala tatapnya selalu saja mengarah pada wanita bercadar satu-satunya di masjid itu. Beliau pun kembali mencoba untuk fokus dan mengalihkan pandangannya ke yang lain.
"Ujian ya... Ujian ketika kita kehilangan itu sungguh berat. Padahal Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Bukankah jelas ya, ketika kita ridho saat kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita maka akan digantikan dengan beribu-ribu kali hal yang lebih baik. Maka dari itu apa? Berucap lah innalilahi wa innailaihi roji'un. Segala sesuatu yang milik Allah SWT akan kembali kepada-Nya. Belajarlah dari sekarang untuk siap dan berusaha Ikhlas agar apa? Hati ini bisa lebih sigap. jadi ketika diterpa musibah, kehilangan harta benda ataupun pasangan kita sudah kuat. Sebab keyakinan tadi bahwa sejatinya apapun yang kita miliki hanya barang pinjaman, yang kapan pun Allah mau ambil maka di ambilah. Dan Kita tidak akan pernah mampu untuk menahannya selain berusaha ikhlas dan percaya Allah akan ganti dengan yang baru kok, Barakallau fiikum."
Tausiyah selesai, kini tinggal Ustadz Irsyad menengadahkan kedua tangannya, memimpin doa Munajat sementara para jamaah bersamaan mengamini. Barulah mereka mengucapkan kalimat istighfar, membaca surah Al Ashr, dan di tutup dengan doa penutup majelis.
Setelah semua serentak pulang, Ustadz Irsyad pun turut keluar. Ia melihat Isti hendak masuk ke dalam rumahnya.
"Mbak Isti, boleh saya bicara sebentar?"
Isti menoleh, "Bi–bicara, apa Ustadz? Mengenai kajian kah?"
"Tidak, kamu boleh duduk di ruang tamu. Biar saya di luar, karena ada sesuatu yang ingin saya coba bicarakan, lumayan serius."
Isti sedikit ragu, tangannya yang tertutup kain hijab panjang berwarna hitam hingga selutut itu sedikit terangkat menyentuh dadanya sendiri.
Ia lantas berjalan lebih dulu membuka pintu selebar-lebarnya. Lalu menggeser pelan kursi terasnya hingga ke dekat pintu.
__ADS_1
"Silahkan Ustadz." Isti mempersiapkan, sementara dirinya masuk dan duduk di sofa yang paling dekat dengan pintu.
Ustadz Irsyad menghela nafas, beliau pun berjalan dengan sedikit ragu-ragu lantas duduk di kursi yang sudah di siapkan menghadap lurus ke depan. Ada sekitar lima belas menitan, Irsyad terdiam mencoba untuk memulai perbincangan itu.
"Fara, sekarang tinggal dimana?"
"Dia ikut suaminya, ustadz."
"Bilal?"
"Bilal, dia lebih sering mengurus pondok pesantren mendiang Abinya, juga undangan untuk mengisi acara sholawatan, bersamaan dengan Hafiz walaupun tetap beberapa hari sekali pulang."
"Jadi, kamu sendirian?"
"Iya Ustadz."
Ustadz Irsyad kembali terdiam. Hingga beberapa menit, lalu mencoba untuk membuka suara.
"Maaf Isti, saya mungkin terlalu lancang bertanya ini. Tapi, bolehkah saya tahu alasan kamu belum menikah? Apakah ada larangan dari anak-anak mu?"
Isti tertegun. Ia menatap ke arah foto pernikahannya dengan sang habib. Lalu menunduk.
"Ustadz.... Saya itu, hanya wanita bodoh yang tidak memiliki banyak ilmu, hanya saja saya pernah mendengar satu hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani yang bunyinya– Wanita mana pun yang ditinggal mati suaminya, kemudian si wanita menikah lagi, maka dia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir."
"Lalu saya pun pernah mendengar satu ceramah yang isinya Wanita yang ditinggal wafat suami lalu tidak pernah menikah lagi hingga meninggal maka pasangannya di surga adalah suaminya di dunia.
Berarti apabila wanita yang ditalak atau ditinggal mati suami kemudian menikah dengan lelaki lain, maka dia akan dinikahkan dengan suami terakhir. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW yang saya ucapan tadi."
Ustadz Irsyad tersenyum, hanya dengan seperti itu dia jadi tahu jawabannya. Dan memilih untuk mengurungkan niatnya untuk mencoba meminang Isti.
"Isti, semoga apa yang kamu harapkan bisa benar-benar terwujud. Kamu wanita Solehah yang inshaAllah cocok untuk menjadi seorang wanita surga. Beruntunglah almarhum memiliki istri seperti mu."
Tangan Isti saling meremas, sembari menunduk.
"Maaf ya, saya sudah banyak bertanya. Dan maaf juga, saya harus pamit pulang."
Isti mengangkat kepalanya. Ia sama sekali tidak menjawab apapun lagi.
__ADS_1
"Salam untuk Bilal dan Hafizh. Dan juga untuk Fara dan suaminya."
"Walaikumsalam, nanti akan saya sampaikan Ustadz."
Ustadz Irsyad tersenyum, beliau pun mengucapkan salam dan berpamitan pergi.
Isti yang masih dalam posisi yang sama setelah menjawab salamnya belum berani beranjak, setelah mendengar suara pintu mobil yang di tutup dari depan masjid itulah dia baru memberanikan diri untuk menoleh. Di lihatnya mobil tersebut mulai mundur sedikit lalu berjalan maju dan menjauh.
Isti menunduk lagi....
"Aku tidak mengerti, kenapa Ustadz Irsyad tiba-tiba bertanya seperti itu. Tapi semenjak tahu, jika Ustadz Irsyad pernah hendak melamar ku dulu aku jadi gemetaran jika di dekatnya. Tapi? Aku harus ingat, aku bertahan selama bertahun-tahun seperti ini, demi A'a, demi bisa bersatu lagi dengan A'a." Setitik air mata mengalir begitu saja. Ia pun meraih foto mendiang suaminya lantas memeluknya. "A'a tahu? Tidak mudah menjadi janda muda dengan tiga anak yang masih kecil-kecil. Tapi Nisa kuat kok, buktinya Nisa masih bisa bertahan sampai saat ini, karena pengen sama A'a lagi."
Isti mencoba untuk tersenyum, menguatkan iman serta hatinya agar tidak goyah lantas beranjak sembari meletakkan fotonya ketempat semula, setelah itu berjalan keluar untuk menutup pintu.
–––
Di sisi lain, Ustadz Irsyad membawa laju mobilnya dengan kecepatan sedang.
Beliau pun tersenyum.
"Aku tersentuh dengan kesetiaan Isti pada suaminya. MashaAllah, Bib. Beruntungnya Antum." Beliau masih ingat wajah Isti yang masih muda, memang amatlah cantik. Dan di lihat dari sedikit di bagian mata, sepertinya Dia memang masih belum nampak tua, karena tidak ada kerutan sama sekali di area sekitar matanya.
Ustad Irsyad beristighfar, berharap semuanya bisa kembali normal. Dan dia akan mengatakan hal ini kepada pak Huda agar tidak lagi mencoba untuk menjodohkannya dengan Isti.
Selang beberapa lama sebuah pesan chat masuk dari mbak Adiba. Ustadz Irsyad menepi sejenak, lalu membuka pesan singkat itu.
Dari: mbak Yu Dibah
Assalamualaikum, Syad Piye?
Sudah di fikirkan belum, pondok pesantren Magelang itu butuh pengurus baru.
Ustadz Irsyad memijat keningnya. Membaca berulang-ulang, lalu membalasnya.
Untuk: Mbak Yu Dibah
Walaikumsalam warahmatullah... Sek Yu, biar Irsyad berbicara dengan anak-anak dulu. Nanti tak kabari lagi.
__ADS_1
Ustad Irsyad menghela nafas, beliau meletakkan kembali ponselnya dan mobil pun kembali melaju.
Bersambung...