
"Kakek–" teriakan Ziya melengking dari kejauhan.
Gadis kecil dengan hijabnya itu melambaikan tangan dari gendongan Rumi saat Ustadz Irsyad menoleh sembari tersenyum.
Beliau segera mendekatinya.
"Kakek, tadi Ziya cari kakek tapi kakek malah lagi di sini."
"Iya, kakek lagi cari jangkrik," jawab Ustadz Irsyad yang langsung mengambil alih menggendong cucu pertamanya itu.
"Cari jangkrik, memang di sini ada?"
"Ada– banyak. Coba dengarkan ya... Kruuukkk." Ustadz Irsyad menyerukan suara jangkrik.
"Masa jangkrik suaranya kruuukkk?" cibir Ziya.
"Oh salah ya? Brati bunyinya gimana?"
"Kriiiikk... Kriiikkk..."
"Wah kakek sudah nemu nih jangkriknya."
"Mana?" Mata Ziya memburu, menoleh ke kiri dan ke kanan
"Ini–" Ustadz Irsyad mengangkat cukup tinggi tubuh Ziya lalu menciumi area perutnya, membuat gadis kecil itu tertawa lepas.
Rumi yang memandang itu hanya tersenyum membiarkan Abinya bercengkrama dengan cucu pertamanya itu.
Dering ponsel berbunyi, Rumi sedikit berbinar, saat Debby menghubunginya.
"Assalamualaikum, Dek?"
"Dari tadi di telfon susah?"
"Iya sinyalnya agak sulit, maaf ya."
"Nggak papa, suami. Aku cuma Rindu." tuturnya dari sebrang, Rumi pun menoleh ke arah Abinya yang sedang senyum-senyum, sembari menutup mulutnya dengan jari telunjuk. Hal itu di lakukan sama dengan Ziya yang turut menempelkan jari telunjuknya di bibir sembari cekikikan saat Ustadz Irsyad berjalan berindik menjauhi Rumi yang hanya geleng-geleng kepala.
"Aku juga Dek. Sangat rindu, sama Dede bayi juga," jawab Rumi saat Abi Irsyad sudah semakin menjauh.
"Iya Abi... akunya gerak-gerak terus, lama nggak di cium sama di usap-usap." ledek Debby.
"MashaAllah, nanti kalau Abi pulang di usap-usap sampai Umma nggak bisa tidur karena kegelian."
"Hahaha, ya ampun Abi." Debby yang di sana semakin memeluk bantal Sofa, karena ia duduk di kursi tengah. "Nanti pulangnya langsung ke Bandung, 'kan?"
"inshaAllah, Dek. Karena aku bawa mobil Abi sendirian. Jadi bisa langsung ke Bandung."
"Oo... Emmmm, tadi sampai jam berapa?"
"Pagi... Karena kemarin kan berangkatnya malam. Kak Gallen jadi menginap di rumah Papa?"
"Iya– ada kabar baik juga."
"Apa?"
"Kak Lenna, hamil."
"Wah... Syukurlah."
"Iya, dan lagi ngidam juga. Dia parah sih, sampai nggak doyan makan."
"Begitu ya? Memang katanya kondisi ibu hamil itu berbeda-beda."
__ADS_1
"Iya. Kak, aku di suruh makan sama mama. Karena memang sekarang aku makanya jadi lebih sering."
"Ya sudah, makan dulu saja sana. Nanti ku telfon lagi. Assalamualaikum, salam buat keluarga di sana ya."
"Iya suami, walaikumsalam." Pikk... Telfon di matikan, Rumi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu berjalan keluar dari area persawahan tersebut, kembali ke rumah.
Sudah lama dia tidak datang ke tempat itu, jadi cukup membuatnya bernostalgia. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menyapa dengan ragu, karena tampang Rumi seperti familiar, sehinga membuat mereka bertanya-tanya namun ada juga yang berani bertanya langsung.
"Saya Rumi pak, anaknya Pak Irsyad, atau cucu dari Mbah Muktar."
"Walah dalah... Lama nggak liat, sudah sedewasa ini, guantenge koyo ngeneh. MashaAllah, cucu Mbah Kyai rupanya." ucapnya sembari mengusap lengan Rumi. Sementara Rumi hanya senyum-senyum, bingung juga menjawab apa saat diantara mereka berbicara dengan bahasa Jawa. Namun seperti itu orang-orang di desa, yang penuh dengan keramah-tamahannya.
🍂
🍂
🍂
Minggu demi minggu berganti bahkan hingga berganti bulan di lalui Ustadz Irsyad dengan nyaman. Beliau benar-benar menikmati peran barunya sebagai pengajar di pondok pesantren.
Walaupun masih banyak belajar dari Pak leknya namun beliau cepat menguasai.
Hingga sebuah senyuman terpancar dari bibirnya, saat mendengar kabar Anak Rumi dan Debby telah lahir. Bayi laki-laki yang beratnya mencapai 2,9 kilogram itu terlahir dengan sehat tadi malam, membuatnya mengucap syukur teramat atas nikmat Allah yang tiada batas.
–––
Dua hari kemudian, di Bandung...
Rumi mencium bayi kecilnya, menggendong dengan sangat hati-hati dan nampak Lues. Di rumah orang tua Debby, karena sang istri lahir dengan proses normal jadi mereka hanya menginap satu malam di rumah Sakit.
"Kamu keren banget sih, sudah bisa gendong Dedenya?" Debby bertanya dengan posisi duduk.
"Aku pernah gendong bayinya Ziya. Jadi sekarang sudah bisa." Rumi mendekatkan bibir mungil itu di pipinya, nampak bibir yang terus terbuka. "Dek sepertinya dia mau minum ASI."
"Sini–sini sayang."
"Aaaaa... Perih." Rengeknya, saat bayi merah itu mulai menghisap.
"Memang sakit sekali ya?" Rumi turut meringis.
"Iya sakit."
"Kalau begitu yang satunya."
"Sama sakit juga," jawab Debby.
"Kok bisa begitu ya?"
"Kalau kata Mama wajar." Debby tersenyum dengan bibir pucatnya. Ia pun menyentuh pipi Rumi yang sedang menatapnya dengan rasa bersalah. "Nggak papa, sakitnya cuma kalau pas lagi mau di hisap."
"Beneran?"
"Iya." Debby terkekeh. "Biasa aja ngeliatinnya."
"Ya mau gimana, aku kasian sama kamu, Dek."
"Ya Allah... Kasian kenapa?" Debby terkekeh, dengan sesekali meringis.
"Ya aku nggak tahu, ku pikir hanya pas lahiran saja kamu ngerasa sakit, nggak tahunya bayi sudah keluar pun masih sakit juga. Sampai kapan?"
Debby menggeleng pelan, "kata Mama mungkin bisa jadi selama aku menyusui.
"Ya Allah–"
__ADS_1
"Nggak papa, kan kodrat ku sebagai seorang ibu. Kata kak Rumi, pahalanya besar."
Rumi tersenyum. "MashaAllah... Mudah-mudahan menjadi ladang pahala untuk mu. Ya Zaujatti."
"Aamiin..."
Rumi tersenyum ia mengecup kepala mungil itu lembut. "Alzah Al farokh."
"Alzah? Dia mau di kasih nama itu?"
Rumi mendongakkan kepalanya, lalu mengangguk. "Setuju nggak?"
"Artinya apa?"
"Pria yang tampan dan beruntung. Yang pasti memiliki iman yang kokoh. Berharap Dia bisa menjadi hamba Allah yang beriman dan selalu mendapatkan keberkahan dalam hidupnya."
"MashaAllah... Aku suka nama itu. Baby Alzah. Ya ampun... Alzah kesayangan Umma."
Suara ketukan membuat keduanya terkesiap, Rumi pun beranjak membuka pintu kamar mereka.
"Mama?" Menyapa dengan sopan.
"Di luar ada tamu. Temui sana–" titah beliau dengan suaranya yang lembut.
"Tamu siapa?"
"Liat saja." Nyonya Brigitta masuk ke dalam kamar itu menemui cucunya dan juga Debby, sementara Rumi masih bertanya-tanya, ia lantas melangkah keluar.
Sepanjang langkahnya itu, ia mendengar suara yang tak asing, tengah berbincang dengan ayah mertuanya. Membuat Rumi semakin bergegas mendekati ruang tamu.
"Abi?" Gumam Rumi yang masih terdengar. Abi Irsyad beranjak, seraya tersenyum.
"Assalamualaikum."
"Wa– walaikumsalam, MashaAllah Abi?" Di peluknya Ustadz Irsyad dengan perasaan rindu yang teramat. Ustadz Irsyad pun menciumi kedua pipi Rumi.
"Selamat ya, sudah jadi ayah Sekarang. Sudah tambah dewasa anak Abi ini." Ucap beliau lembut, sementara Rumi hanya mengangguk-angguk sembari tersenyum.
"Nih Ustadz... Cucunya laki-laki." Nyonya Brigitta keluar sembari menggendong bayi yang masih memerah.
"MashaAllah... Tampannya." Beliau menerima bayi itu, dan menggendongnya. "Matanya sipit seperti ibunya."
Tuan Yohan yang mendengar itu tertawa.
"Gen keluarga kami lebih kuat." Tukasnya yang mengundang tawa di sana.
"Selamat ya nduk. Terimakasih... Sudah mau berjuang buat melahirkan cucunya Abi."
"Sama-sama Abi, Debby pun senang akhirnya bisa punya Dede bayi," jawabnya sembari senyum-senyum Rumi mendekati Debby yang duduk di Sofa, dimana dua kakek itu sedang berbincang bersama cucu laki-laki yang berada di gendongan Ustadz Irsyad, sementara nyonya Brigitta kembali masuk untuk menyiapkan suguhan.
Rumi pun menggenggam tangan Debby, memberikannya kecupan secara diam-diam, senyum merekah terpancar di wajah keduanya. Mengucap rasa syukur dalam-dalam setelah semua rentetan peristiwa yang membuat mereka mampu menjadi lebih dewasa.
Ya... Kini semua telah normal, keluarga besar pun sudah menerima Merry dan juga Debby. Hidup yang lebih indah, ketika sesuatu yang bercerai-berai kembali menjadi satu.
Dan kini semua telah berlu dengan ribuan rasa syukur yang tak pernah sekalipun meruntuhkan benteng rumah tangga barunya. Hanya dengan memahami, pernikahan adalah ibadah terlama sepanjang hidup manusia, tempat dimana setan mengerahkan kemampuannya untuk menghancurkan gembok pernikahan tersebut. Hanya orang-orang beriman lah yang mampu mempertahankan mahligai rumah tangga mereka, untuk tidak saling merasa benar di setiap kali timbul perdebatan.
Karena menyatukan dua kepala bukanlah cara mudah. Dan menyingkirkan ego masing-masing lah, perisai ampuh mencegah runtuhnya sebuah hubungan rumah tangga.
––– Ikrar cinta Rumi Tamat. –––
.
.
__ADS_1
.
## terimakasih teman-teman yang sudah setia dengan ikrar cinta. maaf kalau endingnya kurang memuaskan. 🥺🙏 di tunggu saja part tambahannya ya... mudah2an si besok kalau nggak ya? tetap di tunggu saja.