Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
kopi buatan Isti


__ADS_3

Malam yang begitu panjang, menemani ustadz Irsyad yang masih terjaga dalam diamnya di atas ranjang.


Beliau menoleh kearah foto besar yang terpajang di dinding.


Senyum manis Rahma di foto itu membuat ustadz Irsyad tersenyum, beliau pun merebahkan tubuhnya dalam posisi miring menopang kepalanya dengan satu tangan.


"Mas tidur dulu ya...." Kata beliau yang perlahan mulai memejamkan matanya. Entah mengapa kembali rasa rindu itu muncul dalam benaknya.


πŸ‚


πŸ‚


Hari yang kembali berganti, Minggu, bahkan sampailah pada akhir bulan.


Hari dimana ustadz Irsyad kembali mengisi kajian di masjid dekat rumah Isti.


Karena cuaca di langit itu nampak mendung, bahkan sejak kedatangan beliau beberapa menit yang lalu, memang tak mematahkan semangat ustadz Irsyad untuk tetap berbagi ilmu dengan para jamaahnya.


Rinai hujan di luar mulai turun, yang semakin kesini semakin deras padahal kajian sudah selesai. beberapa dari mereka pun sudah mulai pulang, hanya tertinggal ustadz Irsyad serta sang Tamir masjid. Karena dua anak muda yang di utus Beliau untuk menemaninya memutuskan untuk pulang lebih dulu karena ada tugas kuliah yang harus mereka selesaikan hari ini juga untuk di kumpulkan esok hari.


"Hujan semakin deras saja," keluh sang Tamir masjid, karena dia juga harus buru-buru pulang sementara dirinya tak membawa payung.


"Tunggulah beberapa menit lagi pak, sebentar lagi paling juga reda."


"Ustadz Irsyad sendiri memang tidak terburu-buru?"


"Tidak sih, karena saya hanya tinggal pulang. Tapi karena hari ini pakainya motor jadi harus nunggu."


"Iya ustadz pakai motor ya, biasanya mobil?"


Ustadz Irsyad terkekeh, "hari ini mobil sedang di pakai anak saya jadi tidak bisa pakai. Lagian sebenarnya saya lebih suka naik motor. Berasa lebih muda saja."


"Hahaha ustadz Irsyad ini bisa saja." Perbincangan masih berjalan, hingga beberapa saat datanglah seorang anak laki-laki yang membawa payung.

__ADS_1


"Kakek–" panggilnya.


"Waduh... Cucu saya sudah menjemput, sebentar ya Ustadz."


"Iya pak silahkan." Ustadz Irsyad mempersilahkan Tamir masjid itu keluar Sejenak menghampiri cucunya. Entah berbicara apa keduanya, karena suara mereka kalah dengan suara hujan yang deras. Tak lama pria sepuh itu berjalan tergopoh-gopoh mendekati.


"Maaf ustadz, saya harus pulang karena istri saya terpeleset di kamar mandi."


"Innalillah... Lalu bagaimana?"


"Kalau kata cucu saya tidak apa-apa hanya sedikit terkilir, nanti biar di pijat saja. Maaf sekali lagi ustadz, saya harus meninggalkan Ustadz di sini sendirian."


"Tidak masalah pak, lebih baik bapak pulang dulu saja. Sebentar lagi saya juga akan pulang kok," kata beliau mempersilahkan bapak itu untuk pulang lebih dulu. Sembari beranjak dari posisinya duduk.


"Mohon maaf sekali ya ustadz."


"Tidak apa-apa, salam untuk semuanya." Ustadz Irsyad berjalan bersama hingga ke teras masjid.


"Terimakasih ustadz. Kalau begitu saya permisi assalamualaikum."


Saat sang Tamir sudah semakin menjauh ustadz Irsyad menatap ke langit, sepertinya hujan semakin deras saja. Tangannya lantas menengadah ke tetesan air yang terjatuh dari ujung-ujung genting.


"Ini mah awet, sepertinya." gumam ustadz Irsyad.


Di sisi lain, seorang wanita bercadar menyibak gorden putih, mengintip sedikit sang mantan dosennya yang masih di masjid itu sendirian.


Ia pun kembali menutup gorden tersebut. Lalu berjalan menuju kamarnya meraih ponsel di atas meja mencoba untuk menghubungi pak Huda.


πŸ“ž "Assalamualaikum, Anisa. Ada apa?"


"Walaikumsalam, kang? Kang Huda dimana? Ini ustadz Irsyad masih di masjid sendirian tertahan karena hujan."


πŸ“ž "Waduh, saya sedang di luar sama Teh Siti. Bagaimana ya? Memang benar-benar sendirian? Bukankah beliau bawa mobil ya?"

__ADS_1


"Hari ini beliau tidak membawa mobil. Hanya sepeda motor. Mungkin karena hujan yang turun lebat sekali jadi beliau memilih untuk menunggu."


πŸ“ž "Begitu ya... Duh bagaimana ya?" Pak Huda nampak berfikir. Namun tak lama panggilan telepon terputus, Isti pun menurunkan ponselnya. Mencoba untuk menghubungi pak Huda lagi, namun tidak aktif.


"Sepertinya HP kang Huda mati," gumam Isti, ia pun meletakkan lagi ponselnya lalu berjalan keluar. Di lihatnya ustadz Irsyad masih di sana. "Ya Allah... Bagaimana ya, kasian juga pak Irsyad. Tapi, tidak mungkin aku menghampirinya."


Isti masih mengamati ustadz Irsyad dari dalam, di lihatnya beliau yang memilih untuk kembali masuk kedalam masjid tersebut. Ia pun kembali menutup gordennya terdiam sejenak lalu memutuskan untuk berjalan ke bagian dapur, mengeluarkan dua toples dari dalam lemari gantung yang isinya bubuk kopi serta gula pasir.


Tak lupa cangkir serta lambarnya. Isti berinisiatif membuatkan ustadz Irsyad kopi. Ia pun menghela nafas saat secangkir kopi itu sudah siap.


"Semoga ini tidak menjadi fitnah, aku hanya menyerahkan kopi ini pada beliau lantas pulang." Isti mengucapkan basmalah lalu berjalan keluar. Sebelum itu ia meranggai payung yang tergantung di dekat pintu dapur.


Kembali ke masjid, ustadz Irsyad sedikit tertegun saat melihat Isti yang datang menghampiri beliau dengan pakaian serba hitamnya.


"Assalamualaikum, ustadz. Maaf ya, saya tidak bermaksud gimana. Hanya ingin menyerahkan ini." Isti meletakkan secangkir kopi itu dengan sopan di dekat pintu masjid. "Maaf ustadz jika saya menyerahkannya dengan cara tidak sopan, karena saya tidak berani masuk."


Ustadz Irsyad terdiam selain bergumam membalas salam dari Isti tadi, menatap wanita yang kini sudah membalik badannya kembali menjauh darinya.


"Isti sebentar–" panggilannya. Isti pun berhenti dengan posisi membelakangi. "Terimakasih kopinya. Saya menghargai ini."


Isti menyipitkan matanya, tanda ia tersenyum.


"Sama-sama ustadz, saya permisi." Ia pun meraih payungnya lagi, entah mengapa tangan itu gemetaran saat memegangi gagang payung, kakinya pun nampak lemas, membuatnya agak kesulitan untuk melangkah. Entahlah, sudah lama dia tidak melakukan itu pada seorang pria karena terakhir kali melakukan itu dengan suaminya, membuatkan kopi untuk seorang laki-laki.


Ustadz Irsyad pun tersenyum tipis, beliau melangkah pelan mendekati secangkir kopi yang tergeletak di lantai tepat di depan pintu masjid.


Beliau meraihnya, mengucap basmalah lalu menyeruput sedikit.


"Manis." gumamnya sebelum membawanya masuk kopi tersebut, sebagai teman sendiri menunggu hujan yang mereda. Di tempat lain, Isti yang sudah kembali mengintip dari balik jendela pun tersenyum ia bersyukur, setidaknya ada suguhan yang mampu mengusir rasa tidak enak hati di dada Isti, karena membiarkan beliau sendiri di masjid itu.


bersambung....


.

__ADS_1


.


# maaf ya, hari ini aku up dua bab saja. 😘


__ADS_2