
Di saat ustadz Irsyad sedang berdoa. Dua petugas medis pun menghampiri, karena adanya alarm emergency di ranjang Rahma membuat mereka bergegas mengecek kondisi pasien.
Salah satu dari mereka mengecek denyut nadi, satunya lagi mengecek tanda vitalnya melalui monitor statistik kerja jantung.
Mereka pun saling tatap, lalu mengalihkan pandangan pada Ustadz Irsyad.
"Pasien Rahma sudah berpulang, kami turut berdukacita pak." Tutur salah satu dari mereka. Ustadz Irsyad pun mengangkat kepalanya setelah mencium lagi tangan Rahma, beliau lantas mensedekapkan kedua tangan Rahma di antara dada dan pusar dengan posisi tangan kanan menumpang tangan kiri. Lalu mencium lagi wajah yang terlihat seperti Rahma yang tengah tertidur, sebelum benar-benar beranjak bangun.
Beliau pun mengucapkan terimakasih dengan suara paraunya pada petugas medis tersebut, lalu berjalan lunglai keluar.
Sebelum keluar dari tirai itu, Irsyad menoleh kebelakang. Dimana kain yang menyelimuti sebagian tubuh Rahma kini tengah di angkat oleh salah satu dari perawat tersebut, hingga menutupi wajahnya.
"Astagfirullah al'azim... Ya Allah..." Irsyad merasa lemas, ia masih tidak percaya istrinya telah berpulang secepat itu. Beliau pun menghela nafas panjang, menepuk-nepuk dadanya yang sesak. Andai bisa dia teriak saat itu, sungguh ia ingin histeris memanggil nama Rahma. Namun ia tidak ingin memberatkan perjalanan sang istri, sehingga hanya bisa mendesah saja sembari meremas baju bagian depannya.
"Anda baik-baik saja pak?" Tanya seorang perawat pria di sana yang melihat tubuh Irsyad yang seperti hendak tumbang.
"Tidak... Tidak apa-apa." Jawab beliau, lantas melanjutkan langkahnya, keluar dari ruangan ICU.
Di luar...
Nuha dan Rumi beranjak dari posisi duduk mereka, menghampiri Abi Irsyad.
"Abi, bagaimana Umma?" Tanya Nuha yang baru saja tiba, dia sudah tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Irsyad merangkul kedua pundak anak-anaknya itu, mengajaknya duduk di kursi panjang sejenak. Mencium kedua wajah yang masih harap-harap cemas di samping kiri dan kanannya.
__ADS_1
"Umma? Sudah tidak sakit lagi." Jawab Abi Irsyad, Membuat kening Keduanya berkerut. "Tapi, Umma tidak bisa bersama kita lagi."
Deg...! Kedua anak itu seolah merasakan remuknya separuh jantung mereka, ketika mendengarkan ucapan Abi Irsyad.
"Maksudnya Bi?" Mata Rumi melebar. "Bi, jawab Bi? Maksudnya bagaimana?"
Abi Irsyad menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya. "Tenang... Tenangkan diri mu. Istighfar Rumi."
"Bi? Umma kenapa Bi. Umma sehat beneran kan Bi?" Isak Nuha. Abi Irsyad menoleh kearah Nuha. Beliau membelai kepala Nuha lembut.
"Umma kalian, sudah berpulang nak." Suara itu parau, dengan air mata yang kembali menetes. Sehingga membuat Isak tangis Nuha semakin pecah, yang langsung di peluk oleh Abi Irsyad. "Ikhlaskan... Ikhlaskan sayang."
"Ummaaaaa... Hiks, Umma? Umma Bi." Isak Nuha, sesenggukan di pelukan Abi Irsyad. Sementara Rumi langsung beranjak, dan berjalan cepat masuk ke dalam ruangan ICU tersebut untuk memastikan langsung, keadaan Ummanya. Yang di susul oleh Debby di belakang.
"Umma...?" Gumam Rumi, dirasa jantungnya yang seolah remuk redam. Bersamaan dengan bulir bening yang menetes di pipinya. Rumi menyeret kakinya mendekati tubuh yang sudah terbujur di atas ranjang. Ia pun menyentuh kain selimut itu dan menyibak pelan. Wajah Umma Rahma terlihat tenang di sana, benar-benar seperti Umma yang sedang tidur. Dia pun mencondongkan tubuhnya, menempelkan telinganya di dada Rahma.
"Umma." Gumamnya lagi, ia mulai menangis di sana. Sementara Debby yang tadi mengikutinya di belakang, perlahan turut mendekati. Ia tidak percaya jika yang terbaring kaku di sana adalah sang ibu mertua.
"Kak Rumi, ikhlaskan Umma." Debby menyentuh punggung Rumi, mengusap lembut, sembari terisak.
"Ummaaaa... Ummaa ya Allah, Umma." Punggung itu berguncang hebat, memeluk tubuh sang ibu. "Umma, Rumi sayang sama Umma. Rumi mau Umma sembuh. Bangun Umma... Bangun! ya Allah, Umma...!"
"Kak, jangan seperti ini. Bangun kak Rumi. Kasian Umma Rahma." Debby masih berusaha keras membangunkan tubuh Rumi yang masih memeluk erat Umma Rahma.
"Ummaaaa... Hiks," tubuh itu enggan bangun dari posisinya, memeluk sang ibu erat. Ia masih berusaha memangil-manggil Umma Rahma. Kali saja Ummanya benar-benar hanya tertidur saja, dan dia akan bangun jika Rumi memanggilnya.
__ADS_1
Namun nyatanya tidak, tubuh itu semakin kaku. Rahma benar-benar sudah berpulang malam ini.
Ustadz Irsyad pun masuk, ia meraih tangan Rumi menariknya pelan lalu memeluk tubuh jangkung yang lemas itu.
"Ikhlas Rumi... Ikhlas..." Abi Irsyad menepuk-nepuk punggung Rumi.
"Ya Allah, Umma kenapa meninggalkan Rumi. Rumi sayang Umma Bi. Rumi akan merawat Umma lebih baik lagi. Suruh Umma bangun Bi..." Gumamnya dengan wajah terbenam di bahu Abi Irsyad, matanya pun terpejam lemas.
"Istighfar... Istighfar kamu, Rumi." Abi Irsyad semakin mempererat pelukannya, "Umma sudah tidak sakit lagi. Ini lebih baik untuk Umma, kamu tidak kasian Umma menahan sakit selama tiga tahun. Umma sudah berjuang nak... Biarkan dia beristirahat sekarang."
"Ya Allah... Umma, Hiks." Gumam Rumi, tubuhnya seperti semakin lemas saja. Membuat Irsyad segera memapah Rumi keluar dari tempat itu. Sementara Debby masih menangis menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Ia menatap dengan rasa kehilangan, karena sang ibu mertua benar-benar baik menurutnya. Ia tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Umma Rahma hanya sesingkat ini, tidak ada dua minggu ia merasakan nyamannya memiliki ibu mertua yang sangat baik hati. Namun kini beliau justru pergi, meninggalkan dunia ini.
Debby membungkukkan badannya, mendekati telinga Rahma.
"Selamat jalan, Umma." Gumam gadis itu lirih. "Terimakasih, walaupun baru sebentar Debby merasakan dekat dengan Umma. Tapi Debby merasa nyaman, dan senang sekali bisa menjadi menantu Umma. Debby bahkan sudah mencintai Umma, Seperti Debby mencintai mamah di Bandung." Punggung itu berguncang, menangis sesenggukan di tempat itu sendirian.
"Maafkan Debby yang belum sempat membahagiakan Umma. Tapi Debby janji, ketika Umma bilang Debby harus sabar menghadapi kak Rumi yang manja. Debby akan berusaha Umma, menjadi penguat Kak Rumi, sebagai wanita kedua yang ia cintai setelah Umma. Umma yang tenang ya, semua sayang Umma." Debby mengusap air matanya hingga benar-benar kering, agar air mata itu tidak menetes ke ibu mertuanya, lalu mencium pipi Rahma. Dan kemudian menutup wajah Umma Rahma lagi dengan kain selimut itu.
Sementara Debby hendak keluar, Nuha dan A' Faqih masuk, membuat Debby segera bergeser sejenak memberikan jalan, lalu keluar dari tempat itu.
Dimana ia mulai mendengar, suara Nuha yang kembali menangis tersedu-sedu di pelukan Faqih.
Terdengar sangat menyayat hati sekali tangisan Nuha itu. Membuat Debby kembali menekan dadanya yang sesak, ia pun berjalan cepat hingga benar-benar keluar dari ruangan ICU tersebut.
__ADS_1