
Malam berselang...
Hidangan makan malam pula sudah siap. Tertata rapi, di atas meja. Debby menyambut sang ayah mertua bersama Rumi. Sebelum menikmati santap malam, ustadz Irsyad sedikit tertegun.
"Sayur pare." Gumam Beliau.
"Kenapa Bi? Abi tidak suka sayur pare?"
"Suka, nduk. Cuman sudah lumayan lama tidak makan. Kamu jarang masak sayur ini."
"Hehehe, itu karena Debby kurang suka. Tapi buat sekali-kali tidak apa-apa."
"Alhamdulillah kalau begitu. Abi langsung makan ya."
"Iya Bi, silahkan."
Mereka pun mulai sibuk dengan lauk masing-masing, suara gemerincing sendok dan garpu terdengar, bersamaan dengan suara keramik yang tergesek benda stainless steel di kedua tangan mereka.
Membaca doa makan di awal, lantas memasukkan satu sendoknya. Ustadz Irsyad terdiam sejenak.
Lantas mengingat satu masa.
## flashback is on
"waduh, koyo mangan brantawali. Astagfirullah." gumamnya. Ingin rasanya ia protes lebih dari itu, ketika perang kecil mengenai masalah menguleni pare sebelum di olah, sementara Rahma tidak mau. Menurutnya melakukan itu hanya membuang-buang waktu. Yang ada, setelah pare tersebut di potong tipis ia langsung mencucinya lantas di masak.
"jangan protes macem-macem, makan saja. Rahma itu masaknya cape."
"Iya... Iya mas makan. Sayur rasa biji mahoni."
"mas Irsyad...!"
"enak dek maksudnya. Kamu juga makan."
"Aku nggak suka pare." Nyengir.
__ADS_1
"Wes... Angel. Mas yang harus ngehabisin ini mah ujung-ujungnya."
"Kan mas Irsyad yang minta sayur pare."
"Hemmm... Tapi pengene masak dewe' Nek ngomong wegah koe sing masak, Dek? Iso perang." *(Hemmm.... Tapi maunya masak sendiri. Kalau ngomong nggak mau kamu yang masak, dek? Bisa perang.)
"Nggak usah ngedumel pakai bahasa Jawa. Makan...!"
"Yo..." Jawab ustadz Irsyad yang lantas memakannya dengan terpaksa.
## flashback is off
Ustadz Irsyad menitikkan air matanya, sembari melanjutkan makan Beliau hingga habis.
"Abi? Abi baik-baik saja?" Tanya Rumi. Ustadz Irsyad mengangkat kepalanya. Beliau tersenyum, lalu meraih air mineral di gelasnya.
"Memang Abi kenapa?" Tanya beliau setelah selesai meminum air putih dari gelas di tangannya.
"Abi nangis, ya?"
"Abi, makanan Debby kurang enak ya?" Tanya Debby khawatir.
"Enak kok... Cuman Abi mau tanya, apa parenya di uleni dulu dengan garam?" Tanya Ustadz Irsyad, Debby pun menggeleng.
"Maaf Bi."
"Nggak papa, ini sudah enak, Nduk. Cuma lebih enak lagi jika di uleni dulu dengan garam. Agar rasa pahitnya sedikit berkurang."
"Lain kali Debby lakukan, Bi. Sekali lagi maaf."
Ustadz Irsyad beranjak, beliau hanya tersenyum. Membawa piring kotornya ke dalam Wastafel lalu mencucinya bersih, setelah itu keluar tanpa berbicara apapun lagi.
"Kak, Abi marah ya?" Debby merasa sedikit sedih.
"Aku rasa nggak, sayang."
__ADS_1
"Tapi Abi terlihat seperti itu."
"Pasti ada satu hal lain. Bisa jadi Beliau ingat Umma. Karena Umma kalau masak pare kan paling tidak suka ngulenin dulu. Katanya kelamaan."
"Apa iya ya?"
"Iya sayang, tenang ya. Abi itu tidak pernah marah kalau masalah seperti ini mah." Tutur Rumi berusaha menenangkan, lantas mengajak sang istri untuk kembali melanjutkan makannya.
***
Di antara ilalang yang tinggi, serta suasana yang nampak lapang dan indah penuh keheningan. Ustadz Irsyad berdiri di tengah-tengah padang ilalang tersebut.
Menoleh ke kiri dan ke kanan, bertanya-tanya. Tempat apa ini?
Beliau pun berjalan pelan, hingga sampai pada ujung dari padang yang sebenarnya masih amat luas.
Di lihatnya seorang wanita tengah bermain ayunan, wajahnya berseri-seri, dengan tubuh langsing, cantik. Gadis itu tersenyum, menatap ke arah ustadz Irsyad.
Dimana beliau hanya terpaku, menatap penuh kerinduan pada wanita muda berbusana putih, yang terus saja memandang kearahnya.
Beberapa menit berlalu, ustadz Irsyad terjaga dalam tidurnya. Ia bermimpi, iya... Wanita yang ia jumpai dalam mimpi, adalah Rahma di masa mudanya. Rahma yang cantik, Rahma yang memiliki senyum bulan sabitnya yang manis. Di liriknya jam di dinding, masih menunjukkan pukul dua belas malam.
Beliau lantas menengadahkan kedua tangannya berdoa, dengan air mata yang mengalir turun dari pelupuk mata. Cukup deras, bahkan sampai berderai-derai membasahi kedua pipinya, hingga ke jenggot tipis Beliau.
Ada perasaan syukur, dan sebuah pengharapan, itu adalah mimpi yang berartikan baik.
Setelahnya beliau pun menyentuh dadanya yang berdebar tatkala mengingat wajah Rahma yang cantik dalam mimpinya. Seolah rasa rindu semakin menguasai jiwanya, beliau pun turun dari ranjang, berjalan menuju lemari pakaian, mencari sesuatu yang entah masih ada atau tidak.
Ya... Sebuah kebaya muslim. Pakaian putih yang di gunakan Rahma saat menikah dengannya. Beliau pun tersenyum, pakaian itu tergantung dengan plastik yang sudah berdebu. Ustadz Irsyad langsung mengeluarkan itu. Lalu menggantungnya di dekat ranjang, tidak melakukan hal yang berlebihan, beliau hanya memandangi saja.
"Iya kamu tuh dulu langsing ya, ini baju kecil sekali. MashaAllah." Ustadz Irsyad mengingat hari pertama dia memandang wajah Rahma, yang membalas tatapannya dengan ogah-ogahan. Malam pertama yang indah, di hiasi dengan sikap ketus Rahma, dan juga cara Rahma menghindari pandangannya dengan cara bersungut.
"Lucunya kamu, Dek. Di pandang suami malah kesal." Ustadz Irsyad terkekeh sembari meraih bantal guling, lalu merebahkan tubuhnya dalam posisi miring memeluk bantal sementara satu tangannya ia jadikan bantalan. "Dek kamu di sana tambah cantik, pokoknya tunggu mas ya. Jangan mau di jodohkan dengan yang lebih salih. Mas bakal berubah lebih salih biar bisa sama kamu terus."
Kata-kata itu hanya untuk menenangkan jiwanya yang sedang dilanda perasaan rindu. Karena beliau pun paham mau bagaimana pun juga kehidupan akhirat hanya rahasia Allah SWT.
__ADS_1
Sementara kita di dunia hanya bisa berusaha menjadi insan yang tak merugi. Mengabdi sebagai hamba Allah yang beriman, dengan harapan terbebas dari siksa neraka dan bahagia secara abadi di sebenar-benarnya tempat manusia tinggal.