
Tak lama, setelah menempuh perjalanan. Mobil mulai memasuki kawasan perumahan tempat tinggal ayahnya Debby.
Sedikit berdebar di dada Rumi, rasa takut yang tiba-tiba berkecamuk pun muncul. Namun demi ketenangan Debby, dia berusaha biasa saja. Jangan sampai memancarkan rasa ciutnya saat hendak menemui orang tua Debby.
Waktu itu dia datang dengan Abinya. Untuk saat ini, dia lah yang harus menghadapi mereka, sebagai pendamping yang akan melindungi Debby.
Mobil terus melaju, hingga sampai pada sebuah bangunan yang tak terlalu besar namun tertata. Ada dua buah mobil yang terparkir, satunya di dalam garasi, satu nya lagi di belakang mobil tersebut.
Rumi mematikan mesin mobilnya, menarik tuas rem tangan kemudian.
"Kak... Papah Sepertinya di rumah, juga kak Gallen," memegangi lengan Rumi erat, jantungnya berdegup kencang. Mengingat pendar kekecewaan yang seolah tidak pernah hilang dari benak Debby, saat mengingat tatapan ayahnya.
Ia tahu, tidak ada orang tua manapun yang menerima begitu saja, perubahan dari sang anak, terlebih soal keyakinan yang di anut selama ini.
Rumi menyentuh punggung tangan Debby lembut. "Jangan takut, ada aku."
"Aku percaya kak. cuman? Kalau kak Gallen sampai memaki-maki kak Rumi. Aku akan merasa tidak enak hati."
"Sayang, jangan berfikir yang buruk dulu. Niat kita itu baik. Jadi tenang ya... Ayo turun."
"Kak? Tapi kalau sampai benar?" Menahannya lagi. Mata itu memancarkan tatapan penuh kekhawatiran kepada suaminya. Kalau hanya dia yang di maki-maki tidak masalah, jika itu Rumi?
Rumi tersenyum. "Aku akan menerimanya. Jadi jangan khawatir ya. Ayo turun."
Debby mengangguk, ia membaca basmalah lalu membuka pintu mobilnya.
Baru saja kedua pintu mobil itu di tutup, suara pintu rumah yang terbuka pun terdengar.
Debby berdiri di sebelah Rumi, dimana tangan Rumi langsung meraih tangan sang istri menautkannya. Menunggu siapa yang akan keluar dari pintu tersebut.
Muncullah seorang wanita paruh baya, ia terpaku sejenak menatap penuh kerinduan kepada gadis yang sudah berhijab besar bahkan sampai ke lututnya.
Pakaian yang serba hitam serta hijabnya itulah, yang membuat nyonya Brigitta kembali menjatuhkan bulir beningnya. Ia diam saja. Hingga Keduanya mulai melangkah memasuki gerbang yang sedikit terbuka.
Senyum Debby mengembangkan, ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh saat sudah berdiri di depan teras rumah.
"Siang mah... Apa kabar?" Sapanya serak.
Nyonya Brigitta berjalan pelan, kedua tangannya terangkat.
Matanya menatap lurus tak berkedip, bibirnya pun bergetar. Menyentuh kedua pipi itu.
"Debby..."
"Mah... Hiks, Debby kangen sama mamah." Isaknya. Nyonya Brigitta mengangguk-angguk, ia tidak bisa berbicara apapun selain terisak. Lalu memeluk tubuh sang putri.
"Debby.. Debby." Hanya itu yang bisa beliau ucapkan, sembari menangis. Saking rindunya dengan anak itu.
Rumi yang melihat keduanya berpelukan pun menghela nafas lega, matanya turut basah, ia terharu.
__ADS_1
Memang, tidak akan ada seorang ibu pun yang mampu, menghilangkan sosok anak dari hidupnya. Kecewa karena pindahnya Debby dari Katolik ke muslim itu sudah pasti. Namun ia yakin, seiring berjalannya waktu ibunda dari Debby itu pasti akan menerimanya juga.
Debby melepaskan pelukannya. Ia mengusap air mata sang ibu. "Maaf ya mah... Maafkan Debby. Maaf... maaf."
Gadis itu hendak bersimpuh, namun di tahan oleh ibunya.
"Mamah sudah memaafkan mu, mamah sudah menerima keputusan mu. Sungguh... Hanya saja, mamah terlalu tunduk pada aturan papah."
"Hiks... Terimakasih mah. Terimakasih banyak." Debby menoleh kearah Rumi. "Ini suami Debby, mah. Kak Rumi."
"Selamat siang Mah." Rumi menjabat tangan ibu mertua.
"Pria yang tampan. Maaf, mamah tidak menemui mu waktu itu."
"Tidak apa mah. Rumi memaklumi kondisinya pada saat itu."
Nyonya Brigitta tersenyum lebar, ia menepuk-nepuk pundak Rumi merasa senang, karena telah menjaga putrinya selama di Jakarta.
Hingga seorang pria keluar, ia terkejut saat ada Debby di depan rumah. Iya... Gallen.
"Kalian...?"
"Kak... A... Apa kabar?" Debby bergetar.
"Masih bisa bertanya kabar?? Berani sekali kalian menginjakkan kaki kemari?" Hunus Gallen, menatap tidak suka pada pria di sebelah Debby. Sementara sang ibu menahannya memeluk Gallen.
"Hei...! Tidak usah sok berkata ingin menjalin hubungan lebih baik lagi, sadar tidak...? Kau sudah membawa pengaruh pada wanita di sebelah mu ini, hingga bisa menghancurkannya sendiri. Jadi enyah saja sana... Papah tidak akan mau bertemu dengan kalian."
"Hiks...." Debby menunduk, sementara tangan Rumi langsung menggenggam tangan Debby erat, menguatkan.
"Gallen, apa yang kau lakukan? Sudah masuk saja."
"Mah... Tidak perlu luluh hanya karena tangisan anak itu. Keputusan kita untuk membuangnya itu sudah bulat."
"Kak Gallen, tolong maafkan aku kak. Aku tetap tidak bisa menghapus rasa rinduku pada kalian. Terlebih papah ulang tahun kan besok. Debby ingin mengucapkan sesuatu untuknya."
"Papah tidak perlu ucapan apapun dari mu. Jangan membuat papah dan mamah semakin terluka, jadi pulang lah. Kembali saja ke Jakarta."
"Gallen...!!" Hentak salah seorang pria dari dalam membuat keduanya bungkam, Tuan Yohan keluar, dengan pakaian yang sudah rapi.
"Pah..." Debby tersenyum sumringah, yang masih berderai air mata. Sementara Tuan Yohan hanya diam saja.
Berjalan melewati kerumunan itu.
"Papah... Hiks. Debby Rindu." Gumam anak itu, sesaat setelah Tuan Yohan melewatinya. Namun ucapan rindu dari bibir sang anak tak membuat beliau menghentikan laju kakinya.
"Pah...? Papah tidak ingin berbicara dengan Debby? Papah mengizinkan Debby menginap kan di sini?" Tanyanya. Sementara Tuan Yohan masih diam saja, membuka pintu mobilnya lalu masuk. Gallen berjalan cepat, ia membantu membukakan gerbang di luar lebih lebar lagi.
Setelahnya, mobil mundur keluar lalu pergi tanpa meninggalkan ucapan apapun.
__ADS_1
"Hiks." Debby kembali menangis, sama halnya dengan sang ibu yang langsung memeluknya.
"Sabar sayang. Papah masih butuh waktu, tapi mamah yakin? Papah akan segera menerima mu lagi."
"Tidak usah memberikan dia harapan mah... Debby tidak layak menjadi Keluarga di rumah kita. Dan kau!" Gallen menunjuk Rumi, lalu meraih lengan Debby melepaskan pukannya kepada sang ibu dengan paksa. Lalu mendorongnya pelan ke arah Rumi, di mana Rumi langsung beristighfar dalam hati, sembari menahan tubuh Debby dalam pelukannya. "Bawa dia pergi dari tempat ini. Kalian tidak akan pernah di terima di sini."
Gallen melenggang pergi sembari menarik tangan sang ibu masuk kedalam rumah itu, lalu menutup pintunya dengan cara membantingnya kasar.
"Hiks... Kak Rumi." Debby semakin terisak di dalam pelukan sang suami.
"Sabar ya sayang... Kamu pasti mampu, Dek. Besok-besok kita datangi lagi papah dan mamah ya. Kamu lihat mamah sudah menerima ku, siapa tahu nanti. Tinggal papah dan kak Gallen."
Debby mengangguk, ia pun melepaskan pelukan Rumi, lalu meletakkan paper bag kecil keatas meja bundar di teras tersebut.
Meraih buku notenya, menuliskan sesuatu, lalu memasukkan selembar kertas yang yang ia robek ke dalam paper bag.
"Bagaimana?" Tanya Rumi.
"Kita pulang saja ke Jakarta kak. Kalau kak Rumi tidak lelah."
"Nggak dek, kita menginap di hotel saja dulu ya malam ini. Besok pagi kita ke sini lagi."
Debby menggeleng. "Sebaiknya pulang saja. Aku sudah meletakkan kado untuk papah di sini."
"Yakin kah?"
"Iya kak. Ayo." Ia menoleh sejenak ke arah pintu dengan tatapan sedih, lalu berjalan sembari menggandeng tangan.
'semoga papah senang dengan hadiah ku. Ku berharap papah bersedia memakainya. Atau paling tidak ia simpan.' batin Debby, dalam jiwa yang sesak. Seolah kekosongan semakin ada terasa. ia menyadari, tidak mudah memperbaiki hubungan yang sudah hancur. Namun ia juga percaya, tidak ada kebencian orang tua yang abadi, semua pasti akan membaik, walaupun entah kapan.
Bersambung...
.
.
.
Epilog...
Tuan Yohan menghentikan laju mobilnya di depan Greja.
Beliau berjalan masuk dengan lunglai, menuruni anak tangga yang terdapat kursi-kursi panjang di samping kanan dan kirinya. Melewati satu persatu dari barisan bangku itu. Lalu memilih salah satunya untuk tempat beliau duduk.
Beliau hanya termenung, menatap lurus ke depan, dengan air mata yang menetes.
Beliau mengangkat sedikit kedua tangannya, menautkan kesepuluh jarinya di depan dada. Berdoa, yang hanya beliau lah yang tahu. Cukup lama dalam posisi itu.
Hingga beliau selesai, lantas menunduk. meremas kedua lututnya, punggungnya pun berguncang hebat, menangis sesenggukan dalam kesendiriannya.
__ADS_1