Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
tidak pulang


__ADS_3

Senja ini, ketika sang sandiakala mulai menyelimuti seisi bumi.


Rumi berjalan berdua bersama dengan Jimmy, yang keduanya baru saja selesai dan berniat untuk mengunjungi masjid. Berbeda dengan Rumi yang akan langsung pulang, karena Jimmy masih ada pekerjaan lain yang membuatnya terpaksa harus lembur.


"Makan malam dulu yuk Kak setelah ini," ajak Jimmy di sela-sela obrolan mereka sepanjang jalan.


"Maaf aku tidak bisa. aku harus segera pulang. Dan makan malam di rumah," menolak dengan sopan, karena seperti itu lah Rumi.


"Memang tidak lapar kak? Perjalanan Bandung ke Jakarta kan cukup lama."


"Lapar sih, tapi aku lebih sayang masakan yang sudah di siapkan istri ku." Rumi tersenyum tipis saat mengatakan itu, sembari melirik kearah Jimmy dengan tangan terkepal menutup mulutnya.


"Yaaah... Yaaah... Yang punya istri mah enak ya."


"Hehehe makanya nikah," Rumi menyikut Jimmy.


"Sudah sangat ingin sih, tapi jodohnya yang belum ada."


"Loh, dulu kamu pernah janji 'kan? Untuk menikahi wanita yang pernah menjadi pacar mu selama lima tahun?"


Jimmy tersenyum getir. Mengingat sesuatu yang membuatnya merasa menyesali diri.


"Dia sudah menikah dengan orang lain," kata Jimmy kemudian, dengan suaranya terdengar lirih.


"Oh... Maaf," merasa tidak enak Rumi pun memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya.


"Tidak apa, ada satu kecelakaan yang membuatnya harus menikah. Bahkan sebelum dia lulus kuliah."


"Begitu ya?" jawab Rumi, yang memahami maksudnya.


"Ya... Jadi, selang beberapa bulan setelah aku memilih untuk memutuskan hubungan kami. Dia menjalin hubungan dengan yang lain, dan akhirnya wanita itu?"


"Sudah cukup, sebaiknya jangan di lanjutkan. Maaf, aku jadi membukanya." Rumi merasa tidak enak hati.


"Tidak masalah kak. Tidak apa-apa jika kak Rumi ingin tahu. Tapi aku tetap semangat kok. Dengan ini, aku jadi paham. Kalau dia bukan wanita yang cocok untuk ku. Dan yang lebih membuat ku bersyukur yaitu, ketika aku masih bisa mempertahankan keistiqomahan ku dalam hal ibadah, serta mendekat kepada Rabb ku. Padahal setelah keluar dari kost dan berpisah dari kak Rumi, juga teman-teman hijrah lainnya? Lumayan sulit. Bertemu teman baru pun, mereka tidak seperti kalian yang bisa membantu menguatkan iman."


Rumi tersenyum, ia mengacungkan ibu jarinya.


"Bersyukurlah, karena itu mungkin bisa menjadi suatu tanda. Jika Allah me-rahmati hidup mu. Siapa yang tahu kan, jika setelah ini kamu ketemu jodoh mu."


"MashaAllah... Aamiin ya Allah." Tersenyum senang. "Semoga saja ya."

__ADS_1


"Hehe Aamiin... Ayo cepat jalanya. Keburu komat."


"Iya kak."


Keduanya semakin mempercepat langkah kaki mereka, menuju masjid yang jaraknya tidak jauh dari gedung kantor tempat dua orang itu bekerja.


***


Di masjid...


Beberapa jamaah saling lirik, ada pula sebagian yang menoleh kebelakang. Semua sebab, sudah hampir seperempat jam mereka menunggu sang imam yang tak kunjung datang.


Hingga salah seorang wanita menaikan kain hijau sebagai penyekat antara jamaah pria dan wanita. Ia berbicara pada salah satu jamaah pria di dekatnya, jika pak kyai kemungkinan tidak bisa hadir ke masjid ini karena beliau sakit. Dan pesan yang di sampaikan itu membuat pria di belakang tadi maju, lantas membisikkan sesuatu pada Muazin yang tengah melantunkan puji-pujian. Pria paruh baya itu mengangguk sejenak lalu beranjak dan mengumandangkan Iqamah.


"Maaf, apakah di sini ada yang mau menjadi imam?" tanya sang Muazin setelah selesai melantang-kan Iqamah. Mereka yang di sana saling lirik, ada yang menunduk karena tidak ingin di tunjuk, ada pula yang saling menunjuk antar satu sama lain.


Rumi menoleh ke arah Jimmy, di mana Jimmy langsung mengangguk. Dalam artian, ia setuju jika Rumi hendak menjadi imam sholat magrib untuk jamaah masjid ini.


Dengan sedikit ragu, akhirnya Rumi pun melangkahkan kaki, maju. Karena sepertinya tidak ada yang berkenan, sementara waktu sudah lewat. Alasan mereka sebagian besar adalah tidak hafal banyak surat pendek, sehingga tidak enak hati jika mereka harus mengimami. Atau mungkin tidak pede menjadi imam, dan lebih memilih menjadi jamaah saja.


Di depan, Rumi berdiri di hadapan pria paruh baya.


"Boleh Jang, Mangga..." Muazin tersebut mempersilahkan Rumi untuk menuju mihrab-nya. Yang kala itu ia langsung mengucapkan permisi lantas berdiri di atas alas sujudnya.


Ia mulai membaca niat, lalu mengangkat kedua tangannya sebatas telinga.


"Allaaaahu Akbar...." Seru Rumi, para jamaah di belakang pun mulai mengikuti. Bacaan di awali dengan Alfatihah, di susul surat Al Maun yang terdiri dari tujuh ayat, setelahnya Al ikhlas sebagai penutup rakaat pertama.


Bacaan yang halus dan indah, membuat para jamaah tersihir dalam ketenangan ketika berhadapan dengan Rabb mereka di dalam sholatnya.


Rumi memimpin shalat Maghrib itu dengan tenang dan tuma'ninah.


Hingga tiba di rakaat ke dua, Rumi membaca surat Al kafirun selepas bacaan Alfatihah-nya.


Memang ketika beliau memimpin shalat, ia lebih banyak membaca suratan pendek. Sebenarnya, melihat dari jamaahnya juga, jika para jamaahnya adalah orang-orang lanjut usia atau mungkin para paruh baya? Mungkin ia akan membaca suratan yang tak terlalu panjang, agar para jamaah tidak merasa kesusahan karena harus berdiri lebih lama.


Berbeda saat di masa kuliahnya dulu, dia sering mengimami jamaah yang sebagian besar adalah para pemuda, yaitu teman-temannya. Sehingga membuat dia memilih untuk membaca surat yang bahkan bisa sampai lima puluhan ayat atau lebih.


"Assalamualaikum warahmatullah..." Menoleh ke kanan, "assalamualaikum warahmatullah..." Menoleh ke kiri kemudian.


Terdiam sejenak, Rumi menghadap belakang menyalami para jamaah yang masih bisa menjangkau tangannya. Setelahnya kembali menghadap depan, lalu zikir pun di mulai.

__ADS_1


Singkat namun jelas dan berbobot, itulah yang orang-orang rasakan kala di pimpin oleh Rumi. Sehingga membuat mereka merasa senang dan kagum. Hingga beberapa menit berlalu, Rumi mundur beberapa langkah keluar dari mihrab-nya. Ia kembali berdiri untuk melangsungkan shalat Sunnah ba'diyah Maghrib.


"MashaAllah, kamu itu anak pesantren ya? Bacanya bagus sekali, zikirnya juga pinter," puji salah seorang paruh baya di sana, setelah Rumi selesai shalat. Sementara yang di puji hanya senyum-senyum saja, merasa tidak enak sendiri di puji seperti itu.


"Jang? Aslinya 'teh orang mana?" Tanya salah satu yang lain.


"Saya asli Jakarta, pak."


"Owh... Ya ampun, di sini kerja? Atau sedang berkunjung saja?"


"Saya kerja di kantor X, dekat sini pak."


"Wah... Wah..." Geleng-geleng kepala. "Berarti nanti bisa sambung Isya ya."


"Hehe, maaf pak. Saya harus pulang ke Jakarta sekarang juga."


"Loh, kenapa buru-buru? Bukannya besok masih kerja ya?"


"Kebetulan saya datang ke sini seminggu tiga kali pak. Jadi masih bisa balap," jawab Rumi yang masih di hujani pertanyaan. Sehingga membuatnya tidak enak untuk segera beranjak dari masjid itu.


"Memangnya nggak cape ya, bolak-balik."


"Alhamdulillah enggak sih pak. Mungkin karena sudah biasa."


"Hei pak Juni. Ujang ini mah Masih muda. Kalau kaya kita tuh baru... Karena sudah bangkotan makanya nggak akan kuat perjalanan jauh bolak-balik." Semuanya yang di sana terkekeh, mendengar seruan dari salah satu yang ada di sana. Rumi menoleh ke arah jam tangannya, yang di belikan oleh sang istri. Jam itu kini menjadi jam kesukaannya, yang akan selalu ia pakai. Rumi pun menoleh ke arah Jimmy, ia mengangguk sekali. Maksudnya untuk beranjak dari tempat itu, sama halnya dengan Rumi, ia pun membalasnya dengan anggukan kepala sekali.


"Permisi pak, saya harus pergi," kata Rumi berpamitan.


"Waduh sayang sekali, kirain mah orang sini. Kalau iya, nanti imam-in juga shalat isya-nya. Karena tidak ada yang mengimami kita pulang ini, jadinya." ucap seorang bapak yang berada di sebelah Rumi, sembari menepuk-nepuk pundak Rumi pelan.


"Hehehe, sebenarnya saya mau sekali pak. Tapi mau bagaimana, saya harus pulang. Mohon maaf ya bapak-bapak."


"MashaAllah, tidak apa-apa Jang. Ckckck andai di antara anak-anak saya ada yang masih gadis? saya jodohkan ini sama kamu." Tuturnya dan tertawa renyah kemudian.


"Ya ampun." Rumi terkekeh, menanggapi itu tidak serius.


"Ya sudah, hati-hati. Dan terimakasih banyak ya."


"Sama-sama pak."


Rumi dan Jimmy menjabat tangan mereka, beranjak lalu berjalan keluar dari dalam masjid itu.

__ADS_1


__ADS_2