Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
Rindu dalam relung hati


__ADS_3

Esok harinya.


Di luar, langit mulai nampak terang. Hanya nampak siluet-siluet jingga yang indah di langit, karena pagi ini ustadz Irsyad sudah tidak sabar mendatangi makam Rahma. Hingga ketika langit masih temaram beliau memutuskan untuk bergegas pergi, bahkan tanpa berpamitan dengan kedua anaknya di rumah.


Dinginnya embun pagi masih sedikit menusuk di tubuh, menemani langkah kaki seorang pria paruh baya. Yang datang membawa segudang rindu yang ia simpan dalam sanubari. Rasa cinta yang kini terselubung, menanti giliran waktunya untuk kembali. Hingga tiba masa itu, masa di mana ia akan bertemu lagi, dengan kekasih hatinya.


Ustadz Irsyad mengucapkan salam, pada seluruh ahli kubur tatkala kaki terus melangkah, menapaki tanah merah di bawahnya yang sebagian besar tertutup rumput Jepang di bagian gundukan makam yang sama rata. Lantas berhenti di salah satunya dan berjongkok. Beliau tersenyum, tangannya mengusap gundukan tanah makam milik Rahma.


"Assalamualaikum, istri ku tercinta." Gumam beliau, yang langsung terdiam. Walaupun hati saat ini sedang bergejolak ingin menangis tersedu-sedu akibat rindu, namun masih mampu ia tahan. Beliau lantas menghela nafas lalu mengangkat ke-dua tangannya berdoa.


"Assalaamu 'alaa ahlad diyaari minal mu'miniina wal muslimiin wa innaa insyaa allahu bikum laahiquun asalullaha lanaa walakumul aafiyah." Adalah doa yang selalu beliau ucapkan, sebagai salam untuk para penghuni kubur. Orang-orang yang sudah mendahului, dan mengingat bahwa akan tiba masa kita untuk menyusul.


Lantas beliau kembali melanjutkan, berdoa untuk Rahma. "Allahummaghfìrlaha war hamha wa 'aafìhii wa'fu anha, wa akrim nuzuulaha wawassi' madholaha, waghsilha bil maa'i watssalji walbaradi, wa naqqihi, minaddzzunubi wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadh minad danasi. Wabdilhu daaran khairan min daarihi wa zaujan khairan min zaujihi. Wa adkhilhul jannata wa aidzha min adzabil qabri wa min adzabinnaari wafsah laha fì qabrih wa nawwir laha fìhi."

__ADS_1


Baru selesai berdoa, ustadz Irsyad sudah menyeka air matanya. Teringat masakan Debby kemarin, yang membuatnya menangis.


"Dek, kemarin tuh. Menantu kita bikin sayur pare. Tapi mas nangis pas memakannya." Ucapnya sembari Terkekeh. "Semua gara-gara pahit. Iya mas tahu pare memang pahit, tapi pahitnya seperti masakan kamu. Yang tidak di ulen lebih dulu. Tapi Debby mah tidak ngeyel ya, dia menyadari kesalahan dan minta maaf kepada Abi mertuanya."


Ustadz Irsyad meredam kekehanya. Sembari mengusap-usap nisan sang istri. Beliau termenung, sungguh ia merindukan tubuh Rahma yang sedikit berisi.


Teman tidur beliau di kala malam ataupun siang, tempatnya mencurahkan segala kegiatannya setiap hari. Walaupun di akhir, ia akan lebih banyak menjadi pendengar. Segala keluh kesah sang istri setelah seharian mengurus putra dan putri kembarnya. Menatap lekat wanita yang tengah merebahkan tubuhnya, berceloteh yang ujung-ujungnya akan membuatnya membungkam dengan kecupan lembut di bibir. Mungkin sebab saking gemasnya, ketika ucapannya mulai masuk ke hal membicarakan orang lain.


Hanya tinggal doa, dan doa yang terus beliau sematkan di setiap kesempatan. Ustadz Irsyad pun menghela nafas, tatkala rindu kini semakin merejam-rejam urat nadi.


"Mas, merindukan mu loh. Kamu tahu? Setiap kali bangun tidur, ada perasaan bersyukur, namun ada perasaan sedikit sedih. Kok mas masih bangun, ya? padahal berharap sekali bisa menyusul kamu, walaupun kita dipertemukannya itu nanti, setelah selesai sidang di mashar, tapi setidaknya mas tidak merana seperti ini." Ustadz Irsyad mengusap lagi matanya yang basah. "Dek, kalau kamu masuk surga lebih dulu. Tunggu mas ya... Karena mas harus bertanggung jawab atas ibu, kamu, dan Nuha. Mas mungkin akan lebih lama mempertanggungjawabkan segalanya selama di dunia. Kalau ternyata mas tidak ke surga, dan kamu sudah di sana. Tolong cari mas ya jangan mau di jodohkan dengan yang lain."


Ustadz Irsyad sudah tidak kuasa, ia menepuk-nepuk dadanya pelan. Benar-benar menahan Isak tangisnya itu agar tidak keluar.

__ADS_1


"Mas rindu kamu, Rahma." gumam Ustadz Irsyad lirih. Beliau pun mengusap makam Rahma, lalu memilih untuk beranjak. Menurutnya, sudah cukup. Ia tidak ingin menjatuhkan air matanya di atas pusaran sang istri, karena itu akan menjadikan laknat baginya.


## tidak ada hari-hari yang lebih berarti saat masih menjadi kita, berlayar dalam bahtera cinta penuh kehangatan.


Tak sedikit terbayang, akan datang waktu ketika dirimu kini hanya tinggal menjadi rindu tak berujung.


Isak tangis tak akan membuat mu kembali, pada malam-malam indah di bawah naungan cinta dari Sang Maha Pencipta.


Cinta... Aku percaya bahwa kau tak benar-benar pergi. Tunggulah aku di sana, panggil nama ku jika sudah sampai pada taman paling indah, yang tidak pernah kau lihat di bumi.


Aku... Merindukan mu, walaupun senyum ku bentangkan lebar di depan khalayak, demi mampu menutupi getir dalam jiwa yang tidak bisa di obati, sebab rindu bayang-bayang diri mu. Duhai bidadari hatiku. – Ustadz Irsyad Fadillah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2