Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
embun di sepertiga malam


__ADS_3

🌸 🌸 🌸


Masih di rumah Ci Maryam.


Sepertiga malam... sebagai waktu yang pas untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta, dimana Allah SWT turun untuk melihat hambaNya sendiri, tengah bersimpuh di atas alas sujudnya meminta ampunan serta Rahmat dariNya.


Ada yang terjaga, lalu Allah bukakan pintu-pintu Rahmat untuknya. Ada pula yang tetap terlelap dalam tidurnya, lalu Allah SWT pun akan tetap setia menanti hari esok, dengan keyakinan mungkin Fulan itu akan terjaga besok.


Begitu lah Allah memandang hamba-hambaNya, tidak pernah sekalipun Allah meninggalkan mereka dalam kesusahan. Malah justru kita sendirilah yang menjauh.


–––


"Assalamualaikum warahmatullah." Rumi menoleh ke sebelah kanan, lalu mengucap salam lagi seraya menoleh ke sebelah kiri.


Seorang wanita sudah tersenyum manis kepadanya. yang langsung membuat Rumi tersenyum membalasnya. Debby mengetuk-ketuk keningnya, meminta sebuah kecupan manis dari suaminya itu, di area yang ia tunjuk.


"Sini..." Menjentikkan jari, pada wanita yang baru saja terjaga dari tidurnya. Debby pun mendekat berjalan menggunakan lututnya. "Mau berapa kali?" Tanya Rumi, saat gadis itu sudah berada lebih dekat di hadapannya.


"Sebanyak mungkin." Jawab Debby, dengan nada manja, kemudian.


Rumi tersenyum. Perlahan ia mendekat lalu berhenti satu senti dari kulit kening itu.


"Ayo... Kok lama?" Protes Debby, karena kecupan itu tak kunjung mendarat di keningnya. Sementara Rumi hanya terkekeh, lalu memundurkan posisinya. "Iiisssh..."


"Apa?" Rumi menghindari pukulan Debby di bahunya.


"Cium."


"Tadi kan sudah?"


"Apaan? Belum." Bersungut.


"Sudah. tadi kamu sudah ku cium, dek."


"Kapan? Tadi cuma mendekat tuh, belum tersentuh."


"Masa sih? Nggak kerasa? Aku nyium kamu pakai hati."


"Iiiihhh..." Debby hendak memukul bahu Rumi lagi namun di tahan. Dengan Rumi yang langsung menariknya dan memeluk tubuh itu.


"Maaf... Maaf... Aku rindu kamu yang begini."


"Apa?" Mendongakkan kepalanya. Dan sebuah kecupan pun mendarat di kening.


"Kamu yang bersungut, dan penuh semangat." Mencium lagi sampai tiga kali.


"Huuu..." Debby semakin memperkuat pelukannya. "Kakak curang."

__ADS_1


"Apa?"


"Tidak membangunkan ku. Aku juga kan pengen solat di sepertiga malam."


Rumi tersenyum. "Besok ya... Tadi aku liat kamu lelah sekali, semalam saja ketiduran. Dengan ponsel masih di tangan."


Debby tersenyum kecut. Bibirnya pun mulai mengulum, rasa getir mulai kembali menyeruak di hatinya.


"Kak?"


"Hemmm?" Posisi mereka masih saling memeluk.


"Aku kangen papah dan mamah." Gumamnya. Rumi pun terdiam mendengarkan ucapan dari sang istri. "Papah, sangat kecewa kepada ku. Sampai-sampai aku tidak di beri kesempatan untuk menelfon papah. Semalam, aku coba telfon orang rumah, tidak hanya semalam sih, tapi dari awal aku memutuskan untuk kembali menetap di Jakarta, setelah menjadi mualaf, mereka tidak pernah mau menjawab panggilan telepon dari ku."


Rumi melepaskan pelukannya, lalu menatap lekat wajah yang sendu di hadapannya.


Mengusap pipi itu dengan lembut.


"Besok-besok kita ke Bandung ya. Ketemu sama papah dan mamah?" Ucap Rumi halus.


"Tapi aku takut. Kalau kak Rumi di usir papah? Atau mungkin di maki-maki kak Gallen, bagaimana...? Aku kan tidak tega."


"Tidak akan di usir, lagi pula Aku sudah siap kok. Karena mau bagaimana pun juga, kita harus tetap menjaga hubungan baik dengan mereka. Orang tua mu, yang sudah menjadi orang tua ku juga."


"Tetap saja aku takut, karena mereka sudah mengeluarkan ku dari keluarga."


Debby tersenyum. "Kakak panggil apa tadi?"


"Hemmm? Panggil?" Mengernyitkan dahi.


"Tadi... Yang tadi..."


"Yang mana?" Rumi terkekeh dia melepaskan pecinya seraya beranjak.


"Aaaa... Yang tadi." Debby menarik-narik Koko gamis yang di pakai Rumi.


"Apa sih? Sayang?" Rumi kembali membungkuk lalu mencium keningnya. sehingga membuat Debby terkekeh.


"Sudah tidak takut dengan ku?" Tanya gadis itu manja, dengan kedua tangan melingkar di leher Rumi.


"Takut? Kapan aku takut pada mu, dek?"


"Dulu, kan kamu senang sekali tuh. Kabur-kaburan dari ku."


"Dulu kan kamu bukan muhrim ku. Lagian kamu belum tahu batasan sekali. Bikin aku gimana gitu?"


"Gimana apa?" Memiringkan kepalanya, menatap dengan genit.

__ADS_1


"MashaAllah, bidadari ku... ambil air wudhu sana, gih." Titahnya.


"Loh? Kenapa?"


"Ambil saja, kita solat sunah."


"Solat sunah apa?"


"Ambil saja. Ku tunggu." ucap Rumi menarik pipi Debby gemas, Debby pun mengiyakan ia mengulurkan kedua tangannya.


"Bangunin." Pintanya manja.


"Ya Kareem..." Rumi geleng-geleng kepala. Dan yang ia raih bukanlah kedua tangan Debby, meliankan tubuh mungil itu, menggendongnya. Sehingga membuat Debby gelagapan lalu melingkari leher sang suami. Rumi berjalan pelan membawanya ke tandas.


"kita harus solat sunah dulu, sebelum memulai olah raga pagi, sebelum subuh..."


"Eh...?" Debby menutup mulutnya saat tubuh itu sudah mendarat di lantai ubin yang lembab. "Maksudnya?"


"Sudah wudhu saja sana." Rumi hanya menarik hidung gadisnya sembari tersenyum. lalu berjalan keluar.


"Tunggu? Ya ampun," Debby tersenyum, dengan tangan menyentuh dadanya yang berdebar. Karena ia tahu maksud dari Rumi itu. "Pasta gigi dan sikatnya. Cuci muka. Lalu pakai wewangian." Debby sibuk sendiri di dalam tandas itu, hingga hampir setengah jam dia baru keluar dari tandas.


Rumi yang sudah duduk di atas ranjang hanya menunggu dia sampai keluar dari tandas itu, lalu menggeleng pelan. "Lama sekali, Ngapain?"


"Treatment." Nyengir.


"Ya sudah sini... Sudah jam tiga lewat dua puluh lima menit." Ucap Rumi.


Debby melirik sejenak, di mana mukenahnya sudah berada di tangan suaminya itu. Dan mendekat setelahnya.


Dimana Rumi langsung beranjak, serta memasang kan atasannya. Keduanya menatap penuh cinta, setelah mukenah itu terpasang sempurna.


Karena tak mau kalah, Debby meraih peci Rumi, lalu memakaikannya.


"MashaAllah, tampannya." Puji Debby.


"Sungguh?" Tanya Rumi.


"Iya... Nggak ada saingannya."


"Hahaha, pakai bawahannya sayang. Yuk kita Sholat dulu." Ajak Rumi lalu berjalan menuju alas sujudnya di mana di sudut kamar Debby sudah terpasang dua sajadah. Karena malam ini mereka memang masih di rumah Ci Maryam.


Dan setelah dua rakaat shalat Sunnah itu di jalankan. Mereka pun melanjutkan aktivitas intim mereka untuk pertama kalinya.


Menyatu dalam suasana sejuk di pagi hari, dengan tubuh yang masih segar sebelum tiba waktu subuh.


Hingga senyum merona terpancar di kedua pipi mereka. Saat menikmati indahnya cinta halal yang mereka rasakan pagi itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2