
Selepas sholat dan berzikir, ia pun duduk di depan teras masjid.
Dan seketika mengingat, jika pesan dari Debora tadi belum di balas.
Rumi meraih ponsel di saku bajunya. Sontak matanya sedikit melebar, saat mendapati satu masalah.
Ya... Beberapa panggilan tak terjawab, serta pesan chat sudah menumpuk di sana. Tanda sang istri khawatir, semua gara-gara Rumi yang Kelupaan, sehingga membiarkan pesan itu terbuka tanpa membalasnya.
📱(Maaf, sayang. Aku abis solat.) Balas Rumi. Ia pun meletakkan sejenak ponsel itu di sebelahnya duduk, lalu meraih satu kaos kaki dari dalam sepatu, dan memasang di kaki kanannya. Tak lama layar itu kembali menyala. Rumi menggulir naik membuka kunci layar.
📲 (Oh...) Balas Debby singkat. Rumi tersenyum, ia meraih ponsel itu lalu mengetik sesuatu.
📱(Aku on the way pulang kok, sebentar lagi. Kamu mau aku beliin apa?) Kirim. Kembali Rumi meletakkan ponselnya di sebelah. Memasang lagi kaos kaki di sebelah kiri. Tak lama layar kembali menyala.
📲 (Nggak mau apa-apa. 😒) Balas Debby.
📱(Ya udah, kalau begitu. ❤️❤️) Balas Rumi kemudian. Ia pun memakai sepatunya. Dan pesan chat kembali masuk.
📲 (Ya udah??? Cuma ya udah?)
📱(Ya udah... Kan kamu nggak mau, jadi ya udah dong jawab ku.)
📲 (Dasar... Serah lah.)
Rumi garuk-garuk kepala. Dia bingung, karena sepertinya sang istri ngambek.
📱(Kamu kenapa? Marah ya?) balas Rumi kemudian.
📲 (Nggak tuh...)
📱(Beneran?) Tanya Rumi dalam pesannya lagi.
📲 (Hemmm! 😤)
📱(Kan marah...? Maaf Ya Zaujatti... Tadi aku pas mau bales pesan kamu di ajak ngobrol sama bos. Abis itu buru-buru ke masjid jadi lupa. Maaf ya 😭)
📲 (Y) chat yang masuk dari Debby, membuat Rumi terkekeh.
📱(Muaaahh...) Balas Rumi, sembari tersenyum gemas.
📲 (Nggak mempan 😒)
📱(Masa? Aku pake Semar mesem loh dek, kirim kissnya.)
__ADS_1
📲 (Tau ah...) Balas Debby kemudian, walaupun dia jengkel. Namun ia membalas pesan chat Rumi sangat cepat. Membuat Rumi tidak kunjung beranjak dari posisi duduknya itu.
📱 (Jangan marah dong, aku lagi mau jalan pulang nih. Sabar ya sayang, nanti ku peluk sampe puas.)
📲 (Ogah... )
Rumi masih senyum-senyum, ia lantas berjalan santai, melangkah sembari menatap ke arah ponsel serta tangan yang tengah mengetik balasan untuk sang istri.
"Duh... Debby sepertinya ngambek beneran ini," gumam Rumi. karena balasan chat istrinya kini hanya sebatas, 'Oh... Emmm... Y dah...! Gpp ! Dan terakhir B aja.' niat hati ingin menelfon Debby saja, menjelaskan kesalah pahamannya. Di mana matanya masih fokus mengarah ke layar, hendak menyentuh logo call. saking asiknya, ia bahkan menyebrang jalan yang lengang itu tanpa menoleh kanan dan kiri.
Kring... Kring...
Suara lonceng sepeda yang di bunyikan. Amat terdengar nyaring, membuat Rumi sedikit terkejut hingga tak sengaja ia menjatuhkan ponsel di tangan. Menghindari sebuah sepeda yang hendak menabraknya.
Praaaakkkk...
"Astagfirullah al'azim." gumam Rumi.
Gadis yang memakai sepeda itu berhenti. Memarkirkan sejenak sepedanya lalu mendekati.
"Ya Allah... Maafkan saya ya A'. Saya tidak sengaja."
'Ya Allah Umma...? Astagfirullah.' Rumi sempat mematung Sejenak lalu menggeleng cepat, ketika tersadar.
"Duh..." gumam Rumi, yang khawatir istrinya semakin jengkel. Terlebih pesan terakhir Debby yang 'B aja' itu belum sempat ia balas.
"Astagfirullah... Pasti LCD-nya 'teh kena. Biar saya perbaiki A', kebetulan saya punya konter, inshaAllah saya bisa perbaiki Hp, A'a."
"Eh... Nggak usah, Teh. Serius, ini nggak papa. Biar saya perbaiki sendiri."
"Tapi A'... Saya akan terus merasa bersalah. Karena gara-gara saya, hp A'a-nya jadi jatuh dan retak."
Rumi terdiam sejenak, suaranya benar-benar mirip Umma Rahma namun lebih lembut. Seolah rasa rindu itu kembali menghujami dadanya. ia pun kembali menatap kearah ponselnya, setelah cukup lama menatap gadis itu tanpa sadar.
"Kira-kira berapa lama?" tanya Rumi.
"Nggak lama sih, mungkin dua hari." Dia tersenyum, dengan senyum bulan sabitnya, gadis itu benar-benar manis. Persis Umma Rahma.
Hingga perlahan ia menyerahkan ponsel itu pada gadis berhijab panjang di hadapannya, yang langsung meraihnya.
"Mungkin saya akan datang sekitar tiga hari lagi," kata Rumi menimpali.
"Iya nggak papa A'. Sekali lagi maaf ya. Dan ini saya bawa. Nggak papa ya?"
__ADS_1
"Iya Teh. Nggak papa."
"Kalau begitu, saya permisi. Assalamualaikum..." Gadis itu putar haluan, mendekati lagi sepedanya. Rumi bergumam menjawab salamnya.
"Kalau saya mau ambil ponsel itu, di mana?" Tanya Rumi, sedikit ragu-ragu.
"Di sebrang sana ada konter, Amanah Cell namanya. A'a bisa datang saja. Nggak jauh kok dari sini," jawab gadis itu, sementara Rumi membalik badan. Ia tak ingin melihat gadis itu menaiki sepedanya. Karena itu adalah adab seorang pria Muslim, yang di larang untuk melihat seorang muslimah menaiki kendaraannya. Tak lama ia mendengar suara Kayuhan sepeda.
"Teh? Kalau saya cari teteh, harus menyebutnya siapa?" Seru Rumi, saat wanita itu sudah melewatinya.
"Sebut saja Meida A'...." jawab gadis itu, masih terus mengayuh sepedanya pergi.
"Meida?" Rumi bergumam, lalu tersenyum sembari menunduk. Ia pun menggeleng cepat lalu melanjutkan langkahnya menuju kantor tempatnya bekerja, karena motornya masih di sana.
🌸
🌸
🌸
Di rumah...
Debby yang mendengar suara motor Rumi segera menyibak gorden kamarnya.
Ia tersenyum, rasa rindu setelah seharian tidak bertemu membuatnya segera berlari keluar menghampiri sang suami.
Sejenak ia menghentikan langkahnya, duduk di ruang tamu. Benar... Ia masih jengkel, jadi harus berusaha mempertahankan ekspresi marahnya itu pada Rumi. Entah bagaimana caranya.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu, Debby berusaha semaksimal mungkin untuk tidak tersenyum. Ia pun berjalan mendekati pintu, lalu tertahan sejenak.
"Please... Jangan senyum, ku mohon jangan senyum." Debby menekan-nekan kedua pipinya, berdeham sejenak lalu membuka pintu itu.
Di lihatnya Rumi sudah melebarkan senyumnya.
"Assalamualaikum, bidadari ku."
'aaaaaa... Gantengnya suami ku. Pangeran ku pulang. Hiks... Bertahanlah Debby jangan senyum.' batin Debby yang masih menatap datar.
"Walaikumsalam." Gadis itu meraih tangan Rumi menciumnya lalu bergeser. "Masuk aja."
"Bareng dong masuknya, Abi belum pulang dari masjid kan? Bisa gandengan tangan dong kita." Ucap Rumi, berharap sang istri luluh dan mau tersenyum. sebaliknya, Debby malah justru diam saja.
"Nggak mau gandengan sama suami yang suka mengabaikan chat istri." Debby buang muka, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Rumi yang hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala. Ia pun menutup pintu rumahnya.
__ADS_1