
Nuha berusaha tersenyum. Mencoba untuk tidak memperlihatkan sisi cemburunya pada Zahra. Walaupun masalah dulu sudah usai, karena Umma Hasna kini sangat menyayangi Nuha. Lebih-lebih saat sudah ada Ziya, seolah kesan Umma Hasna yang dulu sempat menolaknya pun tak nampak. Namun tetap saja, hanya dengan melihat penampilan wanita karir yang masih melajang di hadapannya itu, sudah membuat dia merasa minder sendiri.
"Jadi bagaimana kak? Kak Zahra mau kurma jenis apa?" tanya Nuha membuat Zahra sedikit tersenyum, setelah terpaku cukup lama pada sosok karismatik serta sorot mata yang menghujam itu semakin menjauh dan menghilang dari pandangan.
"Aku mau kurma ajwa. Sekitar lima kilo ya," kata beliau.
"Boleh," Nuha mencatat pesanan tersebut. "Ada yang lain lagi?"
"Kacang arabnya sekalian. tiga kilo saja."
Nuha kembali mencatat, lalu memerintahkan salah seorang pegawai A' Faqih untuk menyiapkan pesanan itu.
"Nuha, bagaimana kabar Umma Hasna?" Tanya Zahra.
"Alhamdulillah baik."
"Sudah lama tidak bertemu beliau, sudah lama juga tidak mengobrol bersamanya." Senyum-senyum, sementara yang di ajak bicara hanya diam saja, sembari tersenyum tipis.
Dulu mungkin Nuha akan merasa biasa, namun setelah tahu fakta tentang dirinya pada Faqih membuat Nuha lebih menjaga jarak dengan wanita itu. Karena hingga saat ini pun, pandangan penuh kekaguman pada sang suami masih sering ia tangkap dari sorot mata wanita yang empat tahun lebih tua darinya.
"Tapi Umma masih suka kue lapis legit, 'kan?"
"Iya, dua Minggu yang lalu saja beliau sempat merasa tidak enak badan. Dan minta di belikan kue lapis legit yang katanya pernah ia makan. Di belikan yang lain rasanya beda," terkekeh kecil.
"Emmm, kalau boleh aku nebak. Mungkin nggak sih Umma kangen lapis legit yang pernah ku belikan di toko kue dekat kantor ku. Soalnya Umma pernah bilang, tidak ada lapis legit yang lebih enak dari pada yang ku bawa waktu itu."
'Allah kak Zahra kok bicara seperti itu sih. Aku kan jadi mikir nggak baik.' Nuha bergumam dalam hati, walaupun di luar ia hanya tersenyum saja. "Mungkin kak,"
Zahra tersenyum. "Besok-besok ku coba belikan deh."
"Boleh kak. Kalau kakak mau main ke rumah Umma juga silahkan. Umma pasti senang Kak Zahra datang, karena sudah cukup lama, kakak tidak berkunjung." tutur Nuha.
"Begitu ya?"
Tak lama A' Faqih kembali. Namun kali ini beliau membonceng seseorang, dialah Harun. Membuat Nuha dan Zahra kembali menoleh ke arah pintu masuk toko.
Di mana pria berpostur tinggi, dengan jaket hitam dan ransel di punggungnya itu langsung melepaskan helmetnya.
Terkekeh sebentar saat berbicara dengan A' Faqih. Lalu terdiam sejenak saat melihat seorang wanita di dalam toko tersebut.
"Ayo masuk." Ajak Faqih pada Harun, yang langsung tersadar.
"Iya A'..." Harun pun turun dari motornya, lalu berjalan pelan di belakang A' Faqih, masuk ke dalam toko. Didalam Faqih sempatkan untuk mengusap kepala Nuha, lalu meraih buku nota yang berada di atas etalase. Hal itu membuat Zahra menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Teh." sapa Harun pada dua orang wanita di sana.
"Walaikumsalam warahmatullah...." jawab Nuha sembari menelungkupkan ke-dua telapak tangannya di depan dada, menjawab salam Harun. Kemudian menoleh ke arah sang suami. "A' Faqih ketemu ustadz Harun di mana? Kok bisa barengan?"
"Di jalan dekat masjid. Beliau mau ke sini katanya, Untung ketemu," jawab Faqih.
"Oh..." Nuha manggut-manggut.
"Iya Teh, mau ambil barang. Karena ada pesanan kebetulan kurang. Jadi mau ambil ke A'a."
"Oh begitu ya."
A' Faqih kembali mendekati Harun, yuk ke sudut sana. Ajak beliau sembari melangkah bersama.
Berbarengan dengan itu, seorang pegawai membawa satu Karton berukuran sedang berisi kurma dan kacang Arab.
"Langsung di masukan ke dalam mobil saja, Mbak?" Tanya Ali.
"Iya Mas." Zahra menekan tombol untuk membuka kunci mobilnya. "Letakan saja di jok tengah ya."
"Iya mbak," jawab Ali menyaut kemudian.
Zahra kembali menoleh ke arah Nuha. "Jadi berapa, Dek?"
"Sebentar ya kak, aku tanya A' Faqih dulu... soalnya, Nuha belum paham semua, harganya."
Nuha berjalan mendekati Faqih, dimana Faqih langsung meraih nota tersebut, mencatat harga per-satu kilonya lalu menjumlahkan total harganya. Nuha pun kembali mendekati Zahra.
"Ini kak totalnya, sekian. Kata A' Faqih dapat potongan harga juga." Nuha menyerahkan selembar Nota pada Zahra yang langsung di raih olehnya.
"Wah terimakasih ya. Semoga berkah, dan rezeki selalu lancar."
"Aamiin, terimakasih kak..." Nuha menyaut, dimana Zahra langsung tersenyum lalu membuka dompetnya, dan memberikan sejumlah uang pada Nuha.
Nuha pun meraihnya, lalu menghitung ulang. Masih terdapat sisa empat puluh ribu, ia pun memberikan kembaliannya.
"Ini kak. Terimakasih banyak ya sudah belanja kurma di sini."
"Sama-sama, Dek. Kalau begitu aku permisi. Salam untuk Umma Hasna ya." ucap Zahra seraya beranjak dari kursinya.
"Iya kak, nanti aku sampaikan," jawab Nuha, sembari menjabat tangan Zahra yang terulur kepadanya.
Menatap Zahra yang kini sudah memasuki mobilnya, dan mobil pun melaju pergi. Ia pun menghela nafas.
__ADS_1
"Kak Zahra itu baik, hanya aku yang sensitif sepertinya. Astagfirullah al'azim." gumam Nuha sembari tersenyum, ia pun kembali duduk di kursinya.
–––
Di sisi lain, Harun masih berdiskusi dengan Faqih mengenai harga barang yang ia ambil, setelah cocok Faqih pun mencatatnya.
"A', boleh tanya?"
"Tanya apa?" Masih fokus menjumlah dengan alat hitungnya.
"Wanita tadi itu, pelanggan A'a bukan?"
"Yang tadi sama istri saya ya?"
"Iya..."
"Oh, itu kerabat sih. Karena Abinya dia bersahabat dengan Abi saya dan Nuha."
"Begitu ya? Berati A'a kenal orang tuanya dong?"
Mendengar itu, Faqih menoleh. "Tunggu, tunggu? Ini, Ada apa nih?" Faqih mengembangkan senyum penuh kecurigaan.
"Hehehe, nggak A'... Aku cuma sering liat dia di masjid dekat kantor perpajakan."
"Lalu?"
"Ya sudah, cuma sering liat saja." Harun Senyum-senyum, sembari menutup mulutnya karena tatapan menggoda dari Faqih.
"Wah... Wah... Ada yang sudah dewasa nih." Terkekeh.
"Astagfirullah al'azim, saya memang sudah dewasa." Harun turut tertawa.
"Eh... Beneran ini? Ada apa? Jawab cepat."
"Hahaha nggak ada apa-apa, A'..."
"Serius? Padahal saya bisa bantu loh, kalo mau di kenalin ke orangtuanya." Faqih menggoda dengan menaik-turunkan alisnya.
"Apaan sih... Hahaha, sudah lah hitung saja itu berapa."
"Nggak mahal kok, mahar buat dia mah." Ledeknya lagi.
"Allahu Rabbi, A' Faqih. Ckckckck, kena nih saya jadinya."
__ADS_1
"Hahaha... Kabar-kabar saja, kapan kemantapan hati mu itu. Biar saya bilang ke bapaknya juga, kalau ada yang mau datang."
"Ya kareem... Iya... Iya... Sudah itu hitung dulu harganya berapa." Wajah Harun semakin merah padam karena malu, sementara Faqih menanggapinya dengan tertawa lalu melanjutkan kegiatannya.