Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
jalan-jalan


__ADS_3

Masih di sore yang sama.


Sepasang suami-istri baru itu tengah berjalan bersama di sebuah departemen store, yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Tangan Debby memegang erat lengan Rumi, mereka berjalan tanpa mengobrol.


Melihat-lihat suasana ramai di tempat tersebut. Ada keinginan untuk menonton film Sebenarnya, dan setelah melihat jadwal film yang di putar hari ini? rupanya tidak ada tontonan yang membuat Rumi berkenan untuk menontonnya.


Debby memahami itu, dan memilih untuk keluar dari area Cinema, lantas memilih untuk jalan-jalan saja sembari cuci mata, mungkin nanti mereka akan makan. Namun tidak sekarang, di samping belum lapar, Debby pun meminta untuk di antar ke toko buku sejenak.


Belum sampai pada tempat yang di tuju, Sesaat langkah kaki gadis itu terhenti, tepat di depan toko pakaian. Dengan mata tertuju pada gamis cantik yang terpajang di depan dinding kaca.


"MashaAllah cantiknya." Ia bergumam, membuat Rumi menoleh.


"Kamu mau itu, sayang?" Tanya Rumi. Debby menoleh sesaat ia tersenyum.


"Kita lihat-lihat dulu yuk, kak." Ajaknya, Rumi sebenarnya ragu. Toko itu menjual pakaian mahal, sedangkan dia hanya memiliki uang tak sampai satu setengah juta dalam kartu Atm-nya. Serta uang cash sebanyak lima ratus ribu.


"Boleh, yuk." Mengiyakan. Keduanya pun masuk, di mana Debby dengan sangat antusiasnya mendekati gamis yang sudah menggodanya tadi.


"MashaAllah." Hendak menyentuhnya. Namun seorang pegawai toko itu menghampiri.


"Silahkan, ada yang bisa saya bantu, kak?" Tanya sang pegawai.


"Emmm... Ini, harus satu set kah, atau bisa persatuan, kak?" Tanya Debby.


"Itu satu sek kak, Khimar dan gamisnya, namun jika mau satuan bisa."


Debby menyentuh bandrolnya melihat harga yang tertera, ia pun tersenyum. "Aku mau ini satu set kak. Dan?"


Ia beralih pandang pada Mannequin satunya, dimana terdapat satu set tunik panjang hingga se-betis kaki berwarna hijau tosca serta bawahan rok plisket berwarna putih. Belum lagi hijab segi empat yang panjang, hingga menutupi bagian bokong. Debby menyentuh bagian lengan melihat aksen di ujung lengannya. "Ya Allah... Cantik. Ini juga kak, minta dua set ya. Satunya minta atasnya warna hitam."


Debby masih berbicara dengan pegawai itu, dimana sang pegawai menanyakan size dan sebagainya.


'duh istri ku... Aku tahu kamu ada uang, sangat mudah untuk mu belanja sebanyak ini. Namun, kalau aku tidak membayarnya? Apa guna ku sebagai suami mu, terlebih selama ini aku belum pernah membelikan apapun untukmu. Tapi uang ku pasti tidak cukup.' gumam Rumi dalam hati.


"Baik, ada yang lain lagi kak?"


"Sebentar." Debby menoleh kearah Koko gamis yang tergantung tak jauh darinya berdiri. Debby berjalan mendekati, ia meraih satu.


"Kak, mau ini nggak?" Debby menempelkan itu pada tubuh Rumi.


"Aku tidak usah, dek." Menolak dengan halus.


"Kenapa?"


"Pakaian ku sudah banyak, kamu saja ya." Tersenyum.

__ADS_1


"Kok gitu sih? Ya sudah, bagaimana kalau ini?" Debby mengambil sebuah jaket berwarna hitam, untuk Rumi.


"Emmm, nggak usah ya. Aku masih ada jaket."


Gadis itu murung. "Aku ingin membelikan sesuatu untuk mu kak."


"Iya aku menghargai kebaikan mu itu, dek. cuman? Sebaiknya uang mu di simpan ya. Dan baju-baju yang kamu pilih itu biar aku yang bayar."


"Eh... Nggak usah kak, biar Debby bayar sendiri saja."


"Sssstt nggak papa," Kata Rumi, meyakinkan.


"Jadi bagaimana? Ini saja?" Tanya pegawai toko itu.


"Ada yang mau di beli lagi nggak?" Tanya Rumi, dengan perasaan sedikit takut.


"Tidak ada," jawab Debby.


"Emmm iya mbak, yang itu saja," jawab Rumi, mereka pun berjalan menuju kasir, mengantri sebentar lalu saat sampai pada gilirannya. Sang kasir pun mulai menghitung.


Di sana Rumi berkali-kali mengusap keringat di keningnya. Ia berharap, uangnya akan cukup. Hingga proses penghitungan selesai.


"Totalnya dua juta dua ratus sembilan puluh tujuh rupiah."


'duh... Bagaimana ini.' batin Rumi, ia mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkan kartu Atm-nya dengan gerakan pelan.


PIK... PIK... PIK.... "Silahkan PINnya kak."


Rumi menoleh sebentar kearah Debby, tersenyum tipis dengan wajah sedikit pucat. Lalu kembali fokus pada mesin gesek kartu tersebut. PIK... PIK... PIK... Menekan-nekan tombol nomor dengan hati-hati hingga selesai, dan mengarahkan lagi kepada kasir itu lalu sang kasir pun mulai memprosesnya.


"Maaf kak, saldo anda sepertinya tidak mencukupi. Ada kartu lain? Atau cash saja mungkin?"


"Kira-kira kurangnya berapa?" Tanya Rumi.


"Emmm kak Rumi, biar Debby saja yang bayar ya."


"Nggak, aku ada kok dek. Aku juga bawa cash."


"Udah kak. Biar Debby aja." Gadis itu merasa kasihan dengan suaminya, ia pun mengeluarkan dompet dari dalam tas, menarik salah satu kartu ATM-nya dan menyerahkan itu pada sang kasir.


Melihat sang kasir menerimanya, lalu menyerahkan kartu sebelumnya pada Rumi yang langsung meraihnya dengan lesu, pria itu lantas menunduk. Jujur saja, ia merasa malu sekali.


Ia melirik kearah Debby yang hanya tersenyum kepadanya, lalu meraih kartu yang tengah di ulurkan kepadanya lagi.


"silahkan ini belanjaan. Terimakasih, dan datang lah kembali." Tutur sang kasir beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Keduanya pun keluar dari dalam toko itu. Debby memeluk senang belanjaannya.


"Aaaa senangnya, kebeli." Gumam Debby, sedangkan Rumi hanya tersenyum tipis. "Tinggal ke toko buku, tapi sebelum itu, aku mau beli krim pelembab wajah dulu ya kak, kebetulan habis. Sama satu lagi? Aku mau cari sepatu berwarna putih, aku belum punya yang polos. Ayo kak..." Menarik tangan Rumi.


"Dek?" Panggil Rumi, kakinya masih tertahan.


"Ya?" Menoleh.


"Emmm, tidak jadi deh. Nanti saja di rumah." Ragu, karena sepertinya berbicara di sini tidak baik. Dan ia juga harus menjaga hati Debby, takutnya gadis itu malah merasa jengkel.


"Loh... Kok gitu? Ngomong saja, tidak apa."


"Nggak sayang, di rumah saja. Yuk kita jalan lagi." Ajak Rumi.


"Bicara saja kak, aku jadi penasaran nih." Sembari melangkah, Debby masih saja menanyakan apa yang hendak di bicarakan Rumi tadi.


'sebaiknya aku diam saja. Bukankah fitrahnya perempuan, memang suka dengan keindahan?' batin Rumi yang memilih untuk diam saja menggandeng tangan istrinya, ke tempat tujuan lain.


Benar saja, ia mengunjungi dua toko Sebelum masuk ke toko buku, tujuan terakhir mereka.


Setelah memilih beberapa, serta membayarnya, Debby dan Rumi kini duduk berhadapan di sebuah restoran cepat saji.


Memesan menu yang tidak terlalu banyak, asal pas untuk porsi berdua.


Sembari menunggu Debby mengeluarkan salah satu kotak dari dalam paper bag kecil, ia tersenyum.


"bagaimana menurut kak Rumi? kalau ini untuk papah?"


"bagus." Puji Rumi, saat melihat Debby membukanya, lalu menunjukkan padanya.


"dua hari lagi, papah ulang tahun. Aku pengen kirim ini ke beliau." Tersenyum.


"Papah ulang tahun?" Rumi baru tahu, dan ia merasa tidak enak hati.


"Iya kak." Tersenyum tipis.


"Kalau begitu jangan di kirim. Kita datang saja, kasih langsung dek." Usulnya.


Debby menggeleng pelan. "Aku masih takut sebenarnya."


"Dek, tapi kita tetap harus menemui orang tua mu."


"Iya sih." Debby memasukkan kotak itu kedalam paper bagnya. Lalu mulai bersiap untuk menyantap hidangan yang telah tersaji Ketika sang pelayan restoran telah datang dengan pesanan mereka.


Rumi berfikir keras tentang benda Apa yang sekiranya bagus untuk dia berikan pada sang ayah mertua. Sungguh sangat malu, mereka bahkan sampai tertahan selama ini belum juga datang ke Bandung.

__ADS_1


Hingga sebuah keputusan ia ambil. Mungkin besok dia akan mengajak sang istri langsung ke sana. Menyelesaikan masalah yang belum selesai juga, dari awal pernikahan mereka yang hendak menginjak satu bulan lebih ini.


Dia harap akan baik-baik saja, dan Rumi pun bersiap untuk menerima apapun konsekuensinya.


__ADS_2