
Setelah mobil itu jalan, Aida dan Qoni meminta izin untuk ke salah satu mini market terdekat guna membeli sesuatu, sementara Ulum pun masuk kedalam rumahnya, meninggalkan Rumi dan Shafa yang masih berdiri di teras rumah, lalu Beliau pun duduk di kursi ruang tamu, mengamati dua orang itu dari balik kaca jendela rumahnya.
"Duduk Rumi." Titah Shafa, Rumi pun mengiyakan.
Keduanya lantas kembali duduk di kursi teras di depan Rumah milik keluarga Ulum. berbatas meja kecil di tengah-tengah antara Shafa dan dirinya, Keduanyan terdiam, sama-sama Canggu dan bingung, ingin memulai bahasan mereka.
Lebih-lebih Shafa yang penasaran, tentang apa yang ingin Rumi katakan kepadanya, bahkan dia sendiri tidak berani membuka suaranya selain menunduk dan meremas tangannya sendiri.
"Fa?" Panggil Rumi, dia akhirnya membuka suara. Terangkat pelan kepala Shafa, menoleh ke arah Rumi dengan malu-malu namu kembali mengalihkan pandangannya. "Maaf... Aku dengar, kau mengagumi ku?"
Seketika Shafa pun semakin menunduk. Remasan ditangannya semakin kuat.
"I...itu? Aku..." Shafa gelagapan.
"Sejak kapan?" Tanya Rumi, lembut.
Rasanya dia ingin menangis, ketika ditanya sejak kapannya. Dia mengagumi Rumi sejak lama, bahkan saat ini sudah menganak lebih dari itu. Sehingga batinnya terasa tersiksa.
"Se...sejak kapannya, aku tidak tahu. Yang jelas, itu sudah lama. Maaf Rumi, Maaf aku lancang mengagumi mu." Bulir bening itu jatuh begitu saja.
"Kamu tidak salah... mengagumi seseorang? bukan lah sebuah kesalahan. Karena yang berbicara itu adalah hati. Bukan kemauan mu."
Shafa, merasa lega saat mendapatkan jawaban itu dari Rumi. Dia berharap Rumi mau menerima ta'aruf mereka. Dan dosanya akibat mengagumi Ikhwan yang belum halal itu bisa di tebus dengan pernikahan. Dia mengusap air matanya cepat.
"Tapi maaf... Justru hati ku lah, yang merasakan ragu. Untuk melanjutkan ta'aruf kita."
Deg...! Mata Shafa sedikit melebar, hatinya langsung sesak, mendengar itu dari Rumi. 'dia menolak?' batinnya.
"Ra...ragu?" Gumam Shafa, dia pun kembali menunduk.
"Aku takut melukai mu... Karena?" Rumi berat ingin melanjutkan perkataannya itu, jujur dia takut sekali jika sampai melukai Shafa. Sementara gadis Yang ada di sebelahnya sudah menangkap maksud dari Rumi. Dia pun tersenyum.
"Haruskah? Shafa yang membantu mu mengatakan ini, kepada orang tua kita? Terutama pakde Irsyad. Kalau kita, tidak seharusnya menikah?"
Rumi sedikit terbelalak, Safa bisa menangkap isi hatinya itu. Dia pun langsung saja menunduk. Lalu menghela nafas.
"Tidak apa Rumi..." Ucap Shafa lembut, "cinta memang tidak bisa di paksakan."
__ADS_1
"Shafa?" Rumi menoleh.
"Aku tahu, wanita yang kau harapkan menjadi istri mu bukan lah aku?"
"Fa?" Suara Rumi melemah.
"Aku tahu kok, ada gadis Mualaf yang kau kagumi kan?"
Mendengar itu, Rumi langsung menitikkan air mata, bagaimana bisa Shafa tahu isi hatinya. Jika dia menginginkan Debora yang menjadi istrinya.
"Maaf Fa, maafkan aku ya." Dia menunduk, lalu mengusap matanya yang basah.
"Di sini, di antara kita, sama-sama tidak ada yang ingin menyakiti antar satu sama lain. Begitu pula aku, Rumi. Aku tidak mau memaksa mu menjadi imam ku. Walaupun seharusnya aku itu berjuang, memperjuangkan pria yang aku kagumi sejak lama. Namun, di antara kita rupanya ada seorang wanita yang lebih berjuang dari pada aku. Jadi?" Shafa menelungkup kan kedua telapak tangannya di depan dada. "Aku akan menolak ta'aruf ini. Dan kau bisa menemui akhwat pilihan mu. Nikahi dia, bimbing dia, dia yang lebih pantas mendapatkan mu." Tersenyum dengan anggun.
"Lalu kamu? Aku tidak mau melukai mu Shafa... Jujur aku tidak ada niatan melukai mu."
Mata yang sudah berlinang itu sebenarnya sudah tidak mampu menampung lebih banyak lagi, dia sangat ingin menangis saat itu. Namun sepertinya dia lebih memilih menyunggingkan senyumnya untuk Pria yang ia kagumi ini. "Aku ikhlas melepas mu. Wallahi Rumi."
"Allahuakbar... Allahuakbar... Sungguh aku tidak bisa berkata apa-apa lagi Fa." Rumi bergumam seraya mengusap air matanya sendiri sembari bertakbir, dengan kepala yang menunduk seraya menggeleng pelan. Dia pun kembali menatap Shafa.
Rumi pun membalas, tersenyum. "Aku berharap, akan ada Ikhwan baik hati. Yang imannya jauh di atas ku. Untuk bidadari sebaik diri mu."
Shafa terkekeh, lagi. "Jangan memuji, peri malang Seperti ku."
"Peri malang? Fa?" Rumi menjadi tidak enak lagi.
"Hahaha... Aku hanya bercanda. Emmm, kamu masih ada yang ingin di bicarakan lagi kah?" Shafa mengalihkan, karena dia sudah tidak tahan menampung tangisnya lagi.
"Nggak sih. Sudah ketebak semua sama kamu." Terkekeh, sembari mengusap matanya.
"Begitu ya." Gumam Shafa, sendu.
"Emmm... Aku, pamit ya?"
"Iya, hati-hati. Dan semoga kau berjodoh dengannya."
Rumi mengangguk lalu menelungkup kan kedua telapak tangannya terlebih dahulu, "terimakasih banyak, dan maaf sekali lagi Shafa... Kau wanita baik hati."
__ADS_1
Shafa tersenyum kecut dia sudah tidak tahan dengan situasi ini dan menginginkan Rumi segera pergi. Rumi pun beranjak pergi dari tempat itu, setelah menitipkan salam kepada Shafa untuk Ulum, Aida dan Qoni.
Seiring mobil yang di kendarai Rumi mulai berjalan pergi dari pelataran rumah Shafa. Air matanya pun mulai menetes kembali di pipinya, dan semakin menderas saja.
"Aku ikhlas... Iya, tidak apa Shafa." Bibirnya masih tersungging, namun tangannya meremas kuat kain hijab yang menutupi dadanya. "Astagfirullah al'azim... Aku kuat, kuat. Hiks..."
Di saat Shafa tengah menangis sendiri di depan rumah, Fathul Qulum pun keluar. Dia berdiri menatap nanar ke arah sang putri. Karena sedikit mendengar percakapan Shafa tadi, dia pun paham perasaan Shafa saat ini. namun dia tidak bisa juga menyalahkan Rumi.
Karena memang benar, kita tidak bisa memaksakan hati siapapun untuk berlabuh. salah-salah, pernikahan itu pun akan hancur dengan cepatnya.
Ulum mendekati Shafa, dia menyentuh bahu sang putri sulungnya itu. Shafa pun terkesiap. Dia menghapus cepat air matanya, namun di tahan oleh sang ayah yang menatapnya iba.
"Kau akan mendapatkan yang minimal seperti dia. Ayah percaya itu."
"Hiks... Ayah." Kedua tangan Shafa melingkar di pinggang sang ayah memeluknya sembari sesenggukan.
"Sabar... Anak ayah kuat. Kau wanita Solehah yang ayah miliki, kau pasti akan mendapatkan pria salih juga." Ulum mengecup pangkal kepala Shafa yang masih sesenggukan dalam pelukannya. Berusaha menguatkan Shafa, agar lebih tegar lagi. "Ada hikmahnya sih?"
"Hikmah?" Tanya Shafa serak, tidak mengerti.
"Iya... karena ayah sebenarnya tuh, belum mau loh di duakan oleh mu, ayah masih ingin kau hanya mencintai ayah seorang hehehe." Sambung Ulum yang membuat Shafa sedikit terkekeh dan mengeratkan pelukannya.
"Shafa sayang sama Ayah."
"Sama dong kalau gitu.... Emmm jalan-jalan yuk, berdua saja nanti kita jajan apa gitu? mau tidak kencan sama ayah?" Ujar Ulum menawarkan.
"Kalau berdua memang nanti Qonni tidak iri? Dan kalau ibu tanya bagaimana?" Tanya Shafa dengan suara seraknya.
Ulum meletakkan jari telunjuknya di bibir sendiri. "Diam-diam makanya, yuk. Sebentar ayah ambil kunci motor dulu ya."
"Tapi Shafa mau cuci muka. Kan habis nangis." Terkekeh.
"Ya sudah sana. Cepetan ya, mumpung Qoni sama ibu belum pulang."
"Hehehe... Iya ayah. Emang bisa ayah ini menghibur Shafa." Gadis itu mengelus lengan sang ayah yang hanya terkekeh lalu Sama-sama masuk ke dalam rumah mereka menuju tujuan masing-masing. Setelah itu keduanya kembali keluar, dengan Ulum yang menuntun motornya keluar, sementara Shafa hanya menutup pintu rumah sembari tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Bersambung...
__ADS_1