
Pagi yang cerah, adalah waktu yang pas untuk mengawali hari.
Dengan rasa penuh percaya diri, serta ucapan syukur yang tak henti-hentinya tercurahkan pada Tuhan pemilik alam semesta, yang selalu memberikannya Rahmat dan keberkahan dalam hidupnya. Juga yang selalu membukakan pintu-pintu rezeki dari segala penjuru, bagi mereka insan yang pandai bersyukur.
Rumi bercermin dengan bibir tersenyum lebar, merasakan kelegaan ketika ia bisa menjadi pemimpin yang sesungguhnya. Walaupun penghasilan dari berdakwahnya di berikan seluruhnya kepada Debby. Namun kali ini dia bisa memberi lebih pada istrinya, ketimbang ratusan ribu yang selama ini dia berikan padanya. Ya walaupun dia tetap bersyukur atas itu.
ia pun berjalan keluar dari tandas, membaca doa lalu menghampiri sang istri yang sibuk dengan beberapa pakaian di koper.
"Ini kemeja sama celana bahanya." Mengulurkannya, dan Rumi pun menerima itu dengan perasaan senang. "Ya Allah, untung bawa kemeja putih."
Rumi tersenyum, ia mengusap-usap kepala Debby. "Bisa kebetulan ya?"
"Seperti karena kebawa sih. Tapi untungnya ada, kalau nggak? Mungkin kemarin kita kelimpungan cari kemeja baru."
"hehehe, Terimakasih ya Zaujatti."
"Sama-sama. Cepetan pakai, aku nggak ngintip kok."
"Hahaha... Ngintip juga nggak papa sayang." Rumi berjalan menuju sudut ruangan, ia mengenakan pakaiannya di sana sementara Debby berjalan menuju meja yang di peruntukan untuk merias diri, di dalam lacinya terdapat alat pengering rambut yang memang sudah di siapkan oleh pihak hotel. Debby segera mengeluarkan alat pengering rambutnya, lantas menyambungkan konektor listrik pada stopkontak di dekatnya.
"Kak, sini." Debby menepuk-nepuk kursi meja rias. Rumi pun menuruti ia duduk di sana setelah selesai memakai pakaiannya.
Ia duduk di kursi tersebut, menghadap cermin.
Membiarkan apapun yang akan di lakukan istrinya itu.
"Saya Keringkan dulu rambutnya ya Tuan," kata Debby dengan nada seperti seorang pegawai salon.
"Hahaha, iya Teh." Rumi menanggapi lawakan Debby, di mana sang istri sudah mulai menyalakan mesin alat hairdryer-nya.
"Duh, Tuan itu Sultan dari mana sih?"
"Memang kenapa teh?" Rumi tersenyum.
"Gantengnya teu katulungan."
"Hahaha... Teteh modus nih ngegodain saya."
Debby tertawa, ia pun meletakkan alat pengering rambut tersebut setelah selesai, lalu menyisir rambut sang suami menggunakan jari-jari tangannya hanya untuk mengacak-acak saja.
"Di model seperti apa nih?" sejenak ia meraih sisir rambut, lalu mulai merapikan rambut Rumi dengan itu.
"Emmmm... Buat saya setampan mungkin."
__ADS_1
"Eh...? Jangan-jangan."
"Kok jangan?"
"Kalo terlalu tampan nanti banyak Mrs. K berseliweran, ngegodain."
"Apa itu Mrs. K?"
"Mbak Kunti lah, Mbak Kunti kantor itu lebih mengerikan dari pada yang suka nangkring di pohon."
"Astagfirullah al'azim." Rumi terkekeh.
"Hahaha... Tapi benar kan, kak?"
"Lebih serem sih kayanya. Kalau Mba Kun yang di pohon mereka itu menutup aurat dek."
"Hehehe... Kak Rumi nih." Debby sudah selesai menyisir rambut suaminya. "Waaaaahhhh.... Ganteng pake banget."
"Masa?" Rumi tebar pesona di depan cermin. "Wah... Wah... Bisa nih buat menggaet seseorang."
"Idih... Kok gitu bilangnya, punya niatan menggaet siapa?"
"Menggaet Teteh lah... Hahaha."
Ia beranjak merapikan sebentar lalu menoleh ke arah Debby.
"Udah rapi ya? Aman kan?"
"Aman dong, gantengnya level Superstar."
"Serius nih?"
"Serius pak ustadz hehehe," Debby terkekeh melihat ekspresi wajah Rumi yang mendengus saat di panggil pak ustadz. "pengen peluk tapi takut lecek lagi baju mu."
"Aku nggak masalah kalo lecek, sini peluk." Merentangkan kedua tangannya.
"Aaaaa.... Suami." Peluk.
"MashaAllah, istri." Membalas pelukan Debby. Keduanya tertawa, dan setelah puas melakoni drama konyol mereka pun keluar dari sana.
–––
Sebelumnya Rumi mengantarkan Debby lebih dulu kerumah orang tuanya, sesuai perjanjian antara dirinya dan Debby.
__ADS_1
Itu hanya untuk menghilangkan rasa jenuh, karena jika hanya di hotel saja tanpa berbuat apa-apa? Mungkin hal itu akan membuat Debora merasakan bosan, hingga tibalah keputusan untuk kerumah Mama saja. Begitu usul Debby dengan ekspresi cerianya.
Rumi membawa laju mobilnya, dan sampailah mereka di rumah orang tua Debby yang hanya ada sang ibu karena yang lain sedang bekerja.
Di depan rumah Tuan Yohanes...
Debby mencium tangan suaminya, lembut dengan harapan semoga segala sesuatu yang akan di kerjakan sang suami bisa berjalan dengan lancar dan baik hasilnya.
"Dek, aku jalan dulu ya. Setelah selesai aku jemput lagi, sore nanti kita kembali ke Jakarta."
"Iya kak. Hati-hati ya... Semoga lancar untuk hari ini."
"Aamiin," Rumi mencium kening Debby lembut. "Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Rumi melangkah mendekati mobilnya yang terparkir di luar pagar, masuk dan mobil pun berjalan menjauh.
Setelah memastikan mobil Rumi sudah tidak nampak Debby kembali masuk menghampiri Mama yang sedang duduk di ruang tengah, menikmati acara televisi.
"Deb, sini." Menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. Debby tersenyum lalu duduk di sebelah sang ibu.
Sudah lama dia tidak merasakan sesantai ini, semua sikap lembut Mama kembali, itulah yang membuat dia bersyukur. Nyonya Brigitta mengusap lembut kepala sang anak, menatap lekat wanita muslimah di hadapannya.
"Kamu semakin cantik dan berseri-seri," tutur Mama. Tangannya menyentuh kain hijab yang di pakai Debora. Sepertinya masih ada perasaan yang mengganjal, semua tergambar jelas dari tatapan sendu yang terpancar di matanya. Sementara Debby hanya tersenyum. "Kamu juga jadi lebih pendiam, lebih kalem. Dan...? Tambah kurus."
"Hehehe Mama..." Merasa tersanjung gadis itu, saat di puji namun dengan perasaan yang lain juga, itulah yang di rasakan Debora saat sang ibu berkata seperti tadi.
"Hehehe... tapi kamu bahagia kan hidup bersama dia?"
"Kok Mama tanyanya begitu? Memang Mama tidak percaya hanya dengan melihat kami berdua, mesra?"
"Ya... Mama percaya kamu bahagia Nak, tapi Mama ingin tahu juga dari hati mu."
"Debby Bahagia Mah, sangat. Walaupun tetap saja, namanya rumah tangga terkadang suka ada masalah antara kita tapi sejatinya dia baik dan perhatian."
Nyonya Brigitta tersenyum. "Syukurlah, Mama tenang mendengarnya."
"Mama jangan khawatir, aku percaya seratus persen sama Kak Rumi. Dia tidak akan seperti Om Akhri... Dia tidak akan menduakan Debby."
Sebuah genggaman hangat di berikan oleh nyonya Brigitta pada putrinya, beliau tersenyum lalu mengangguk pelan. Itulah yang dia maksud, kekhawatiran bahwa sang anak akan menerima nasib sama seperti Merry.
"Semoga saja, Mama akan sedih jika itu Sampai terjadi. Mama harap, Rumi tidak mematahkan perasaan Papa lagi setelah terpatahkan oleh Akhri. Apalagi, kamu anaknya Papa. Mama rasa? Papa mungkin bisa merestui kalian, tergantung seperti apa Rumi menyakinkannya. Dan Mama yakin, Rumi pasti bisa."
__ADS_1
"Aamiin, Ma." Debby mengembangkan senyumnya, penuh harap.