Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
ketaatan yang di uji


__ADS_3

Sudah beberapa menit berlalu. Ustadz Irsyad masih tertahan. Menunggu anak itu berhenti untuk menangis, sampai dia benar-benar tenang. Dan bisa membuka suaranya lagi.


"Shafa, ikhlas lillahita'ala. Kalau Shafa, tidak berjodoh dengan Rumi. Jadi, Shafa minta kalian semua menerima keputusan ku dan Rumi." Tutur Shafa, saat kondisinya sudah mulai tenang. Aida dan Ulum pun sudah duduk di sana, terdiam di ruang tamu itu mendengarkan ucapan Shafa. "Dan, untuk Pade Irsyad. Shafa ada satu permintaan."


"Apa? Sebutkan, nduk." Tanya Ustadz Irsyad.


"Saudari ku itu, sangat membutuhkan pertolongan. Dia butuh imam, yang baik seperti Rumi." Ucapnya hati-hati.


Irsyad terdiam, dia jadi mengingat ucapan Rumi beberapa hari yang lalu tentang gadis mualaf yang ia kagumi.


"Shafa harap, Pade merestui mereka."


Irsyad tersenyum. "Kita tidak usah membahas itu ya."


"Pade, sungguh Shafa sudah melepaskan semuanya. Shafa sudah bisa menerima ini. Jadi tolong, jangan merasa tidak enak hati terus. Ayah pun bilang pada Shafa. Akan ada laki-laki baik hati, yang nantinya akan menjadi jodoh Shafa. Dan aku percaya itu... Tolong ya pade."


Ustadz Irsyad sudah kehabisan kata-kata, dia pun hanya mengangguk, hingga percakapan mereka mulai menghangat lagi. Aida pun bahkan sudah meminta maaf pada Ustadz Irsyad karena perkataan yang tidak sopan itu.


–––


Sudah lebih dari satu jam, beliau di sana. Dan akhirnya memutuskan untuk berpamitan karena waktu yang semakin larut juga.


Di luar, Ustadz Irsyad memakai helmnya setelah jaket kulit itu melekat di tubuhnya. Beliau tersenyum lalu menyentuh pundak Ulum.


"Maaf ya, jadi bikin kegaduhan."


"Ya Allah, Ustadz. Yang ada saya yang minta maaf. Serius.... Rasanya masih tidak enak, ini hati saya." Tukas Ulum.

__ADS_1


Irsyad terkekeh. "Nggak papa, kamu lebih sabar lagi menghadapi Aida ya. Di mana-mana sikap wanita memang seperti itu. Keras."


"Iya, Ustadz. Sekali lagi maafkan istri saya ya."


"Iya Ulum... Maafkan saya juga. Ya sudah, kalau begitu saya pamit. Kamu beruntung punya putri sebaik Shafa. Jaga dia baik-baik... Siapapun jodohnya, mudah-mudahan, dia pria yang lebih dari pada anak saya."


"Hahaha, ya Allah... Aamiin, Aamiin. Seperti Rumi juga tidak apa, dia anak yang baik kok."


"Hehe, perkenalkan juga dengan saya ya. Kalau sudah ada."


"Iya Ustadz." Ulum Terkekeh, sama halnya Irsyad. Beliau lantas menaiki kendaraan, membaca bismillah sembari menyalakan mesin motor tersebut.


"Saya permisi dulu, assalamualaikum." Pamit.


"Walaikumsalam warahmatullah, hati-hati Ustadz."


🍁 🍁 🍁


Esok paginya di Bandung...


Debby, baru saja menyelesaikan solat Subuhnya, dia pun bermunajat memanjatkan doa yang hanya dia saja dengan Tuhannya yang tahu.


Dalam kekhusyukannya, Gallen sudah menyetel musik lagu rohani. Dengan volume yang kencang, sehingga sedikit membuat Debby kurang Fokus. Herannya, tidak tau-tau kakaknya itu menyetel musik di pagi buta seperti ini, seolah di sengaja saja.


Karena memang kamar mereka berdekatan. Hingga ia pun hanya geleng-geleng kepala, lalu melanjutkan doanya. Dengan sesekali beristighfar. Karena suara musik itu lumayan keras, belum lagi kak Galen menyetel lagu rohani yang benar-benar Favorit Debby pada masanya. Bahkan Debby pun hafal liriknya di luar kepala, Sehingga sering tanpa sadar dalam hatinya seolah ikut menirukan lirik tersebut.


Ingin rasanya dia menegur kak Gallen, namun tidak berani. Dia sudah tidak seleluasa dulu. Sehingga Debby pun menghentikan doanya, setelah sudah tidak sanggup lagi menahan gangguan dari lagu tersebut.

__ADS_1


Dia pun beranjak, lalu keluar dari kamar itu. Menghampiri sang ibu yang sudah siap di dapur.


"Selamat pagi mamah." Debby memeluk ibunya dari belakang, lalu mencium pipinya. Sementara Nyonya Brigitta hanya diam saja, fokus membersihkan daging yang ia basuh di bawah air yang mengalir.


Debby tersenyum kecut. 'daging haram ini lagi?'


Debby sudah hafal, karena beberapa hari ini. Tidak ada olahan halal di rumah itu. Bahkan sayur pun ia kasih kaldu yang non halal. Sehingga Debby hanya bisa delivery makanan.


Seharusnya dari beberapa hari yang lalu, dia sudah berangkat lagi ke kantornya. Namun kondisi di rumah itu, benar-benar tidak memungkinkan dia untuk berangkat. Sehingga Debby memutuskan untuk mengambil cuti selama dua hari lagi, dan hari ini lah. Debby sudah harus kembali ke Jakarta. Namun ia bingung ingin meminta izinnya.


Karena selama dia di rumah itu kan, benar-benar merasa di asingkan sekali. Bertanya apapun tak ada satupun dari mereka yang menjawab. Rasanya lelah sih, seolah ingin menyerah. Namun tidak, karena jika ia kalah dengan kondisi ini, sepertinya itu bukanlah sikap Debby.


"Mah... Debby dapat voucher belanjaan loh dari brand kosmetik favorit mamah. Kita ke mall yuk hari ini." Bujuk Debby. Sementara Nyonya Brigitta pun hanya diam saja. "Mah...?" Hendak bertanya lagi, namu sang ibu sesudah melepaskan pelukan darinya. Dan setelah itu berjalan menuju meja lain tempatnya di dekat kompor.


Debby menghela nafas, dia pun berjalan lemas menuju kursi meja makan, lalu duduk diam di sana. Mengamati ibunya yang masih asik memasak.


Rasanya, sedih saja. Ketika mendapati dirinya seolah-olah benar-benar di asingkan, dan di anggap tidak ada. Karena memang tiada satupun dari mereka yang menegurnya selama di rumah ini.


Hingga Debby pun beranjak, saat Tuan Yohanes masuk meminta di buatkan kopi.


"Debby saja ya pah. Papah kan suka kopi buatan Debby." Gadis itu dengan penuh semangat melangkah maju, hendak meraih gelas. Namun di dahului oleh sang ibu yang juga meraih gelas, yang hendak di raih anaknya itu. Dia pun menyeduhnya sendiri. "Debby saja mah." Pintanya lirih sekali lagi. dengan suara yang sedikit serak, matanya sudah mengembun, sungguh tidak enak baginya jika seperti ini terus. Namun Debby masih tetap berusaha menyunggingkan senyum.


Kopi pun siap. Debby kembali menawarkan untuk membawanya ke depan, dan tanpa jawaban lagi. Kopi itu langsung di bawa oleh ibunya keluar.


Gadis itu menitikkan air matanya menatap sang ibu dengan nanar. Sungguh tak pernah terbayangkan, akan seperti ini jadinya. Dia pikir akan mudah, namun ternyata sulit.


Dia menghela nafas panjang, dengan tersenyum. "Aku Debby, aku kuat." Memaksakan senyum, walaupun air matanya malah justru semakin menderas saja. Gadis itu terkekeh mengusapnya. "Duh... Kalau nangis, benar-benar tidak bisa berhenti ya." Geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2