Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
perubahan sikap


__ADS_3

Saat ini di kamar Nuha.


Karena semua tamu sudah pulang, Faqih pun masuk ke dalam kamar mereka. Di lihat sang istri tengah duduk menyandar di atas ranjang dengan posi kedua kaki sedikit tertekuk, dan ponsel di tangan. Menonton video Abi dan Ummanya di mana saat Keluarga mereka tengah berkumpul. Sehingga tidak menyadari A' Faqih datang. Karena Nuha menggunakan headset di telinga.


Bibir itu menyunggingkan senyum, namun air matanya mengalir deras. A'a berjalan pelan, lalu duduk di sebelah Nuha. Gadis itu terkesiap kaget, ia melepaskan headsetnya cepat.


"Maaf A'... Aku nggak denger A'a masuk." Ucap Nuha. Bersamaan dengan itu punggung jari telunjuk Faqih, bergerak tengah mengusap lembut pipi Nuha yang basah.


"A'a minta maaf ya neng..." menyentuh pipi itu, dengan perasaan bersalah.


"Minta maaf untuk apa?" Tanya Nuha, parau.


"Andai A'a peka dari saat siang kemarin. Pasti kamu sempet ketemu Umma dalam keadaan sehat."


Nuha tersenyum, ia langsung memeluk sang suami. "Nuha sudah ikhlas, lagi pula A'a tidak salah apa-apa. A'a tidak perlu minta maaf."


Faqih mempererat pelukannya. Mencium bahu Nuha cukup lama.


"Aku cuma ingin, menjadi wanita yang taat pada mu. Nuha rasa, Umma tidak akan marah pada ku." Gumam Nuha masih dalam posisi memeluk tubuh sang suami.


Faqih tersenyum tipis. "Neng mau nangis lagi? A'a siap menjadi sandaran mu... Bahkan sampai semalaman."


"Hehe, A'a kan lelah? Karena Semalam tidak tidur." Kata Nuha dengan suaranya yang imut.


"Hemmm... Nggak papa, buat bidadari surga, A'a mah rela."


Nuha terkekeh, "MashaAllah..."


"MashaAllah juga untuk mu neng... Hilwah ku. A'a tenang, kamu bisa setegar ini." Masih saling memeluk.


"Karena aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Aku masih punya orang-orang terkasih yang masih harus aku jaga dan ku sayang. Seperti? A'a, Ziya, Umma Hasna, Abi Rahmat, Abi Irsyad, kak Rumi, Ci Debora dan semuanya."


"MashaAllah... A'a makin sayang sama kamu." Ucap Faqih.

__ADS_1


"Tambah sayang tapi nggak di kasih cium."


"Oh... Minta cium, boleh-boleh." Faqih melepaskan pelukannya hanya untuk mencium bibir Nuha sebanyak tiga kali, lalu tersenyum. "Lagi nggak?"


"Lagi, tapi yang lama." Pinta Nuha manja.


"MashaAllah... Sini A'a kasih, sesuai request mu. Tapi jangan lama-lama. Nanti Ziya bangun." Terkekeh bersama. Faqih mendekati lagi sang istri memberikan kecupan di bibir, melepaskan sejenak lalu menempelkan lagi.


Nuha mendorong pelan dada Faqih setelah beberapa detik pada posisi itu, hingga kecupan dari sang suami terlepas.


"Terimakasih A'..." Nuha menyentuh wajah Faqih. "Sudah mau membantu mengurus semuanya. Termasuk turut masuk ke liang lahat, untuk menerima jenazah Umma. Suami ku jadi kelelahan."


"Enggak lah. Kalau bisa melakukan lebih dari itu, pasti sudah A'a lakukan. Umma Rahma kan, Ummanya A'a juga. Hormat A'a hanya berbeda sedikit sekali dari Umma Hasna. Jadi A'a ikhlas.... Terlebih sudah melahirkan kekasih baik hati ku ini." Mencium lagi karena bibir manis Nuha tengah tersenyum haru, beliau bermain sebentar lalu melepaskannya.


"Sayang A'a..." Nuha merengek. Membuat Faqih langsung memeluknya.


"A'a juga sayang sama kamu neng, jangan sembunyikan kesedihan mu ya. A'a jadi terluka kalau neng, selalu menyembunyikan setiap duka mu, seolah A'a jadi tidak berguna."


"Enggak kok A'... Nuha malah tidak ingin membuat A'a banyak pikiran."


Nuha hanya tersenyum dan menghela nafas setelahnya. Hatinya masih merasakan berkabung sebenarnya namun ia tetap harus terlihat tegar di depan semua orang, termasuk suaminya. Malah justru yang ia khawatirkan adalah Rumi... Kakaknya itu sedari dulu paling dekat dengan sang ibu. Bahkan seharian ini dia tak mendengar suara Rumi, pria itu banyak menghabiskan waktunya untuk berzikir. Membuatnya merasa tidak enak hati dengan iparnya itu.


"Neng?" Faqih memanggil istrinya yang mendadak diam.


"Emmm?" Melepaskan pelukan Faqih.


"Mikirin Umma lagi? Katanya tadi sudah ikhlas?"


Nuha tersenyum. "Nggak A'... Nuha mikirin kak Rumi. Dia itu kan paling nggak bisa jauh sama Umma. Dia gampang sakit kalau jauh dari Umma lebih dari dua Minggu lamanya."


"Emmm, melihat Rumi tadi saja A'a jadi turut khawatir. Tapi tidak apa lah, dia sudah ada istri. Hatinya pasti akan lebih mudah terobati."


"Nuha harap begitu A'... Semoga saja kak Rumi bisa ikhlas. Kalau seperti itu terus kasihan Ci Debora."

__ADS_1


Faqih tersenyum, ia membelai lembut rambut Nuha lalu mencium keningnya. Setelahnya menoleh kearah Ziya.


"Solehahnya Abi sudah sembuh?" Faqih mencondongkan tubuhnya mengungkung tubuh mungil sang anak yang tengah tertidur, menciumi pipinya.


"Jangan diciumi seperti itu A'... Nanti bangun." Nuha menyentuh lengan Faqih. Membuat sang suami menoleh.


"Ya sudah Ummanya saja." Faqih beralih pada Nuha yang langsung memalingkan wajahnya, sembari tertawa pelan. meraih bantal di dekatnya guna menutupi wajah Faqih.


🥀


🥀


🥀


Sementara itu di kamar Rumi.


Rumi duduk melamun di dalam kamarnya, menatap kearah kaca sebelah ranjang. Memikirkan tentang kata-kata sang ibu.


'anak Umma yang satu ini kapan menikahnya? Mau menunggu Umma wafat dulu ya?' kata-kata itu terngiang-ngiang, saat di mana Rahma baru pulang dari rumah sakit tiga tahun yang lalu.


'nikahkan saja dia dengan Shafa, Bi.'


"Ya Allah..." Rumi menelungkup kan kedua telapak tangannya di wajah, lalu mengusap naik hingga menyibak rambutnya. Fikiranya seolah berkelana kemana-mana, Seperti sebuah penyesalan yang entah apa.


Cklaaakk... Pintu tandas terbuka, Debby keluar setelah membersihkan tubuhnya sebelum tidur. Dia pun berjalan pelan duduk di sebelah Rumi.


"Kak?" Panggil Debby, sementara Rumi hanya diam saja, tatapannya masih kosong mengarah ke jendela kaca di hadapan mereka. Di sentuhnya bahu itu pelan, membuat Rumi menoleh. Debby tersenyum. Sementara Rumi hanya membalas senyum itu tipis, lalu menyeret tubuhnya mundur. Rebahan dengan posisi miring membelakangi Debby.


Gadis itu tak memikirkan apa-apa, dia hanya paham suaminya sedang sedih karena kepergian sang ibu. Debby pun menutupi sebagian tubuh Rumi dengan kain selimut hingga sebatas bahu. Lalu mengecup pipi Rumi lembut.


"Selamat tidur suami ku." Gumam Debby, pada pria yang sudah memejamkan matanya itu. Debby pun merebahkan tubuhnya di sebelah Rumi, menatap punggung itu seraya menarik selimut menutupi tubuhnya juga.


'kak Rumi tidak mencium ku seperti biasa. Tidak apa, dia butuh waktu.' batin Debby yang mulai memejamkan matanya, rasanya sangat lelah. Tenaga dan emosinya terkuras habis sejak semalam, jadi malam ini dia benar-benar harus istirahat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2