Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
hal baik yang tak terduga


__ADS_3

Tatapan Gallen yang menjadi diam dengan senyum mulai memudar mulai menyoroti dua orang itu.


"Kak, kami datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahan kalian," ucap Rumi sembari mengulurkan tangannya pada sang kakak ipar.


Debby yang melihat itu sedikit menelan ludah, ia khawatir. Namun hal tak terduga lah yang ia dapatkan. Gallen tak menerima jawabatan tangan dari Rumi, namun ia malah justru memeluk tubuh yang menjadi kaku akibat bingung sekaligus tak menyangka.


"Terimakasih, adik ipar." jawabnya lirih. Rumi pun mulai tersenyum, senang. Dan setelah Gallen melepaskan Rumi, ia beralih pandang pada sang adik yang masih betah mematung.


Terlihat matanya basah, yang mengguratkan tanda kerinduan pada adik perempuannya itu. Gallen menarik pipi Debby hingga wanita itu terkesiap.


"Ka... Kakak, selamat ya. Selamat atas pernikahan kakak."


Gallen meraih wajah Debby, menciumi kening dan ke-dua pipinya lalu memeluk tubuh Debby erat.


"Terimakasih adik manis ku. terimakasih sudah datang. Maafkan kakak ya, sekali lagi maafkan kakak."


Kedua mata Debby yang sudah menganak sungai itu mulai menjatuhkan bulir-bulir beningnya. Ia membalas pelukan sang kakak erat.


"Kak Gallen, sudah nggak marah lagi sama Debby?"


"Nggak, sama sekali. Sejak beberapa hari kemarin aku menunggu mu. Tapi tak kunjung datang. Dan hari ini aku senang kamu datang. Maafkan kakak yang terlalu gengsi untuk menghubungi mu lebih dulu."


Isak tangis pun pecah, Debby tidak bisa menjabarkannya selain ucapan hamdallah yang bergeming di dalam benaknya. Wujud rasa syukurnya saat semuanya sudah kembali, kasih sayang Papa dan Mama yang mulai normal, dan kini Kokonya pun mulai menerima dia lagi sebagai adiknya.


Gallen melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata Debby dengan dasinya. Namun hal itu malah mengundang gelak tawa semua yang ada di sana, saat Debby mendorongnya memberi penolakan.


Lenna memberikannya tissue yang langsung di raihnya oleh Debby, dengan ucapan terimakasih yang masih terdengar serak.

__ADS_1


Lenna merentangkan kedua tangannya pada Debby yang langsung menghambur ke pelukannya. Gadis yang di kenal ramah, adalah wanita yang sudah di pacari kakaknya sejak masa SMA hingga kini ia benar-benar menjadi kakak iparnya.


"Apa kabar Debby," Lenna mempererat pelukannya.


"Baik, Ce... Ya ampun, aku senang Cece sama kak Gallen akhirnya menikah."


"Ya Tuhan, aku pun senang. Rindu juga jalan-jalan sama kamu."


"Besok-besok ya, setelah Cece sama koko pulang honymoon."


"Hehehe, iya." Suasana hangat itu masih tercipta hingga acara selesai. Lenna dan kak Gallen langsung menempati hotel yang sudah mereka pesan selama satu malam, dan setelahnya akan terbang ke Bali untuk berbulan madu selama sepuluh hari.


***


Di Jakarta...


Debby menatap langit yang sudah menggelap, bibirnya senyum-senyum sembari mengusap-usap perutnya itu.


Abi Irsyad dan Papa kini sudah semakin dekat, terlihat saat Papa merasa senang, menunjukkan beberapa alat memancing ikan kepunyaan beliau, lalu mengajak Ustadz Irsyad untuk memancing di kolam belakang rumahnya. Papa memang seperti itu, jika sudah merasa akrab dengan seseorang, pasti akan sangat antusias menyambut kedatangan orang itu.


Apalagi saat mendengar gelak tawa keduanya tatkala mendapatkan ikan Gurame yang lumayan besar membuat Ustadz Irsyad sedikit berusaha keras menarik kailnya.


Sementara itu dengan tanggok besarnya papa sudah mengambil ancang-ancang, namun sayang besarnya ikan yang di dapat membuat senar pancing itu putus, lalu mencipratkan air cukup banyak hingga mengenai wajah-wajah mereka.


Sungguh hari yang tak terlupakan, sekaligus membuat Debby amat bahagia melihatnya.


Rumi datang dengan susu hamil di gelasnya.

__ADS_1


"Di minum, Dek."


"Terimakasih, suami." Debby meraihnya, mengucapkan basmallah lalu menyeruputnya sedikit. Ia merasa kaget saat tendangan di perut semakin terasa kencang. "Ya ampun, Umma di tendang, Bi."


Rumi yang mendengar itu terkekeh. Ia berjongkok mencoba untuk merasakan gerakan di perut istrinya, dengan cara menempelkan telinganya di perut sang istri. Lagi... Gerakan itu terasa, membuat Debby dan Rumi tertawa.


"Dede, lagi apa? Ini Abi." Berbicara sendiri dengan malu-malu, membuat Debby tertawa, merasa lucu. "Abi di ketawain sama Umma, Dek."


"Hahaha... Kamu kaku sih ngomongnya."


"Loh, kaku gimana?"


"Harusnya kan pakai nada yang di buat-buat. Seperti ini ya Nak, anak Umma." Debby merubah suaranya menjadi suara anak-anak.


"Seperti ini kah?" Rumi mengikuti. Namun malah justru membuat Debby semakin tertawa.


"Jangan-jangan kak. Sumpah, semakin aneh."


"Kamu mah gitu orangnya." Rumi menekan kedua pipi Debby dengan satu tangan.


"Lucu habisnya... Aneh kaya apa gitu? Hahaha."


"Terus saja ketawa, kita nggak temenan sama Umma ya, Dek."


"Iiih... Ngajarinnya?" Debby menarik daun telinga Rumi pelan.


"Habis begitu ngomongnya."

__ADS_1


"Hehehe.... Kesayangan." Debby mencium pipi Rumi lembut. Membuat Rumi Tersenyum lalu mengajaknya ke kamar, untuk membalas kecupan itu dengan yang lainnya.


Ya– yang lainnya, hal yang hanya di ketahui oleh Rumi dan Debby hehehe.


__ADS_2