
Beberapa menit berlalu, kini acara pun di mulai. Maryam duduk di sisi kanan, dengan salah satu moderator perempuan, sementara di sisi kiri terdapat habib Bilal dengan salah seorang moderator laki-laki.
Karena tema seminar kali ini adalah membahas tentang menjadi sukses di usia muda, namun tetap memegang teguh syariat.
"Assalamualaikum Habib." Sapa moderator pria di sebelahnya.
"Walaikumsalam warahmatullah," jawab Bilal.
"Baik, Habib Bilal? MashaAllah... Pantes sih jika saat ini sedang digandrungi sekali ya oleh para akhwat muda. Masih muda sudah gitu seorang Habib, tampan pula, MashaAllah." goda moderator pria di sebelahnya.
Sementara habib Bilal hanya menunduk saja sembari senyum-senyum.
"Boleh kasih tahu sedikit, bagaimana perjalanan hidup seorang Habib Bilal sehingga bisa menjadi pemimpin sholawat serta pendakwah yang kini mulai naik daun. Hebat loh beliau ini..."
"MashaAllah... Jangan puji saya. Tetap yang hebat itu Allah SWT, karena karunia-Nya lah saya bisa seperti ini. Dan yang pasti doa ibu saya juga."
"Subhanallah, memang tidak bisa di pungkiri doa seorang ibu itu benar-benar paling luar biasa ya. Tapi maaf Bib, saya dengar Habib itu sudah yatim dari kecil. Benar begitu Bib?"
"Iya... Abi saya meninggal pada saat saya masih berusia empat tahun. Tapi di sini, saya amat sangat mengagumi sosok wanita hebat. Dialah Ummi saya, yang bisa membesarkan tiga anak dimana usia kami yang masih kecil-kecil. Adik ku yang tengah pada saat itu masih berusia tiga tahun, sementara si bungsu masih berusia satu tahun."
"MashaAllah... Seperti apa sih sosok Ummi bagi, Habib?"
"Ummi itu? Sosok wanita cantik yang menurut saya pribadi, dia seperti Siti Hapsah. Istri Rosulullah Saw... Wanita yang tidak pernah meninggalkan sholat malam serta puasa Sunnahnya." tutur habib Bilal. Mendengar itu, Maryam pun mematung. Sepertinya dia tertarik dengan cerita habib Bilal, ia mendengarkan dengan serius.
"Ummi bahkan memutuskan untuk tidak menikah lagi. Karena dia bilang? Ingin bertemu Abi di surga." Tersenyum.
"MashaAllah..." gumam beberapa orang di sana.
"Dulu saya belum paham. Jika seorang istri akan bisa bertemu lagi dengan suaminya di surga jika sang istri tidak menikah lagi selama hidupnya. Dan beramal Salih demi mendapatkan keridhaan Allah SWT. Tapi sekarang, saya paham... Dan Ummi, masih memegang teguh keyakinannya hingga detik ini. Untuk menjaga kehormatan dia sebagai istri Abi. Itu yang dia percaya... Karena bagi Ummi, Abi tidak pergi. Beliau hanya pulang lebih dulu, dan sedang menunggu Ummi saat ini."
"Subhanallah... Sungguh luar biasa Ummi. Memiliki istri yang setia walaupun kita sudah wafat itu mungkin tidak semua bisa mendapatkannya ya, Bib."
"Iya... Itu benar," jawab Bilal.
Sejenak Bilal terdiam. Ia mengingat masa lalu, ketika dirinya terjaga di sepertiga malam. Ia sering mendengar sang ibu menangis sesenggukan ketika tengah melakukan sujud panjang.
__ADS_1
Hal itu juga yang membuat Bilal kecil jadi turut menangis mendengarnya. Walaupun dia belum paham, penyebab Umminya menangis.
Namun untuk pemikiran yang sekarang? Bilal menangkap jika sang ibu begitu merasakan kesepian dan amat merindukan sosok suaminya.
Karena jika di pikir-pikir? hidup sebagai seorang janda, di usia muda. Yang pada saat itu masih berusia dua puluh empat tahun amatlah tidak mudah.
Sementara Ummi Isti pada saat itu sudah tidak ada orang tua lagi. Dia harus berjuang sendiri menghidupi ketiga anaknya.
Memang benar masih ada keluarga dari Abinya atau keluarganya sendiri. Namun sebab prinsip Ummi Isti itu yang tak pernah mau menjadikan dirinya sebagai beban orang lain. Yang lebih banyak menolaknya ketika hendak di bantu.
Bilal menghela nafas, ia mengusap matanya yang basah.
"Maaf, saya sensitif kalau bercerita tentang Ummi." Bilal berusaha terkekeh. Namun segera sang moderator pria di sebelahnya memberikan tissue untuk Habib Bilal.
Sesi pertanyaan pun berlanjut, kini bahasan mulai ke hal-hal yang membuat mereka para hadirin seminar tertawa karena rupanya sosok Bilal lumayan humble dan mudah mengajak orang untuk bercanda.
Hingga pertanyaan pun di alihkan pada Maryam. Seorang penulis yang karyanya mulai naik daun, semenjak ada salah satu buku yang di filmkan.
"Assalamualaikum Ci Maryam..."
"MashaAllah, anggun dan lembut sekali suaranya. Benar-benar cantik sekali ya."
"MashaAllah... Alhamdulillah." Maryam tersenyum.
"Ci mengenai buku yang berjudul 'Cinta yang terpatahkan akibat kemandulan.' ini luar biasa, best seller. Bahkan meraih beberapa penghargaan, karena menjadi buku yang terjual paling banyak. Gimana awalnya bisa sesukses ini?"
"Yang pasti rezeki sih. Hahaha." Terkekeh.
"Cici bisa saja.... tapi ide dari cerita itu, apakah benar kisah nyata ci? Soalnya menyayat hati sekali ya kalo saya melihat trailer film yang akan di tayangkan, MashaAllah."
"Ada sedikit, namun nggak semua. Beberapa romansa karangan juga menjadi bumbu di Novel tersebut. Seperti karakter Zaeni seorang pria alim yang akhirnya menikahi Wanda seorang janda yang mandul. Padahal usianya jauh lebih tua dari pria Itu. Sebenarnya nggak ada sih, dalam kisah aslinya."
"Wah... Berarti memang ada ya sosok Wanda itu?"
"Iya..." Jawab Maryam dengan senyumnya yang menawan.
__ADS_1
Sementara Debby menitikkan air matanya saat melihat ekspresi tegar Tantenya. Ya... Karena dia tahu, bahwa Maryam lah sosok Wanda itu.
"Jadi penasaran... Wanda itu seperti apa karakternya? Pada novel itu deh. Spoiler sedikit lah ya..." Terkekeh.
"Emmm... Wanda adalah wanita yang amat lemah, ketika dikucilkan oleh keluarga besar sebab dia yang berpindah keyakinan. Dari Katolik ke Muslim."
"Ahhh... jadi dia mualaf?"
Maryam terkekeh, "iya..."
"MashaAllah. Lalu?"
"Iya... ketika memutuskan untuk menikah dengan seorang pria yang mengajaknya berhijrah, dia harus memberikan sebuah keputusan besar. Ketika tahu bahwa Wanda tidak bisa memberikannya keturunan. Lantas dia meminta sang suami untuk menikah lagi dan bersedia di poligami. Dari sana lah kehidupan getir Wanda di mulai."
"Ya ampun... Tapi dalam buku itu, tidak di tulis detail kisah hidup Wanda sebelumnya ya. Hanya sekilas-sekilas. Lalu Wanda bertemu sosok Zaeni itu."
"Iya... Itulah pangeran impian Wanda, pria yang bisa menerima kekurangan dia. Karena dia sendiri pun memiliki kekurangan yang sama. Yang juga mandul."
"Tapi endingnya?"
"Baca atau nonton saja filmnya nanti." Maryam terkekeh, yang juga membuat orang-orang di sana tertawa.
Sementara Habib Bilal tersenyum tipis sembari tertunduk mendengar ucapan Maryam. Sejujurnya, sedari tadi ia meresapi cerita itu, walaupun Maryam sedang menceritakan tentang tokoh dalam Novel? Namun entah mengapa, itu seperti real sekali membuatnya turut hanyut dalam cerita singkat tersebut.
***
Acara pun selesai... Semua pengunjung berhamburan.
Maryam dan Debby memutuskan untuk mengunjungi masjid yang tak jauh dari lokasi tersebut sembari menunggu waktu Ashar.
Mereka berkeliling sejenak, mengagumi bangunan megah, tempat paling nyaman untuk semua umat muslim di dunia, iya... Itulah masjid.
Hingga tanpa sadar, suara adzan mulai berkumandang mereka berdua pun langsung mendatangi tempat wudhu.
Setelah selesai mereka kembali menuju ruang sholat. Lantas tak lama iqomah berkumandang, mereka mulai merapatkan stafnya bersiap untuk sholat.
__ADS_1
"Allahu Akbar...." Seru seorang imam, yang menggema menggunakan pengeras suara. Membuat Maryam terdiam sejenak, ia seperti kenal suara ini tapi siapa? Namun secepatnya dia bertakbir memulai empat raka'at itu.