Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
obrolan


__ADS_3

Selepas pulang dari mall, Debby mengeluarkan salah satu kotak lain dari dalam paper bagnya.


Nampak antusias dan tak sabar, dia duduk di atas ranjangnya. Menanti sang suami yang amat memenuhi hatinya, seolah-olah kekaguman itu malah justru semakin bertambah, cinta yang sudah di perbolehkan untuk bersemi membuat Debby rela memberikan semua itu padanya, lebih dari apa yang orang lain kira.


Ya... Seperti apa besarnya cinta Debby pada Rumi, dia sendiri pun tidak bisa mendeskripsikannya. Sebab dari awal mendengar setiap kajian yang di bawakan sang suami, seolah membuka gerbang-gerbang dongeng serta khayalan cinta bernuansa islami yang indah dalam kehidupannya. Rumi senantiasa menunjukkan sisi pria yang terpuji. Walaupun selepas menikah dengannya, dia lebih banyak tahu, tentang karakter sang suami. Namun tidak apa, itu manusiawi. Begitu isi hatinya berbicara, seolah seperti menghibur diri. Ketika perasaan gusar serta kecewa mulai menerkam.


Cklaaakk... Pintu tandas terbuka, membuat Debby langsung memasukkan kotak itu kedalam sakunya. Kembali menatap Rumi dengan perasaan yang amat bahagia. semua sebab penampilan sederhana Rumi itu.


ya... dia paling suka melihat Rumi menggunakan kaos berwarna putih beserta sarungnya. Entahlah... Lebih ganteng saja, begitu pikirnya.


Rumi berjalan mendekati, ia pun duduk di atas ranjang bersebelahan dengan Debby.


"Kamu cape nggak? Sedari tadi jalan-jalan terus." Rumi mengusap lembut pipi yang selalu menggemaskan baginya. mencubitnya pelan kemudian.


"Aaaa... Jangan cubit." Merengek manja.


"Kenapa?" Terkekeh, ia gemas dengan rengekannya itu.


"Nanti tambah panjang gimana?"


"Ngarang kamu." Rumi meraih dua kaki Debby menaikannya ke atas ranjang. Membuat Debby terkesiap.


"Kakak ngapain?"


"Mau kasih kamu sentuhan," jawabnya sembari memijat dengan lembut.


"Eh... Jangan." Debby memegangi kedua tangan sang suami sembari terkekeh. "Harusnya aku yang pijat suami ku lah... Masa kak Rumi yang pijat."


"Memang kenapa? Nanti gantian." Nyengir.


"Tapi mijatnya yang bener, nggak naik-naik juga sampai ke sini, bapak." Debby terkekeh karena merasa geli ketika Rumi memijat hingga ke bagian atas lututnya.


"Adek, jangan gerak-gerak terus dong." Turut tertawa karena gemas.


"Ya habis kak Rumi tuh, modus aja mijit. Pasti ada yang lain nih..."


"Emang iya." Jujur.


"Apa?" Tertawa, ketika Rumi mulai merebahkan tubuhnya. Dan dengan perasaan gemasnya langsung mencium Debby di bagian bibir.


"Mau nggak nih, ku kasih surga."


"Tadi siang udah kan? Masa sekarang lagi?"


"Dosa loh nolak."


"Astagfirullah al'azim, Emang dasar ya. Mengaitkannya ke dosa terus seapa-apanya," bersungut manja.


Rumi terkekeh. "Mau nggak?"


"Memang tidak cape?" Saling tatap, Debby menyentuh pipi Rumi.


"Cape sih sebenarnya, tapi?" tertawa, ketika Debby memukul bahunya.

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Kan mau bayar hutang. Dua Minggu."


"Hahaha... Apaan sih kak?" Mendorong pelan bahu suaminya, Rumi yang terkekeh kembali beranjak duduk. Dia menyibak rambutnya kebelakang. Membuat Debby kembali duduk, lalu memeluk lengan Rumi mencium pipinya.


"Senang, kak Rumi ku kembali," gumamnya bernada manja.


"Memang selama ini aku kemana? Kenapa di bilang kembali?"


"Ya di rumah, tapi kaya nggak di rumah. Di sebelah ku, tapi seperti tidak di sebelah ku. Itu lah kamu yang kemarin."


Rumi tersenyum tipis. Ia lantas meraih tubuh itu dengan satu tangannya memeluk. "Masih mau membahasnya? Aku jadi merasa bersalah lagi."


"Nggak kak. Sudah cukup... Katanya kan? Setiap masalah yang sudah selesai jangan di ungkit lagi. Maaf ya."


"Nggak papa dek. Emmm... Aku boleh bicara."


"Boleh. Bicara saja."


Keduanya merubah posisi, Rumi duduk menyandar, dengan tangan menepuk-nepuk sebelahnya. Meminta gadis itu untuk duduk menyandar di dadanya.


Debby hanya menuruti, dengan senang hati.


"Iya... tentang diri ku, yang masih saja menaungi mu dengan kesengsaraan."


"Eh...? Kok bilangnya seperti itu."


"Dek... Aku boleh jujur?"


"Aku sedih, ketika kamu bisa membayar pakaian mu sendiri. Namun aku malah mempermalukan diri ku sendiri."


"Apa? Ya Allah... Kak Rumi? Kenapa kak Rumi berfikir seperti itu?" Mengangkat kepalanya dengan tatapan merasa bersalah.


"Nggak, begini dek. Aku tahu, seharusnya itu kewajiban ku memenuhi segala kebutuhan mu. Tapi aku malah masih menganggur."


"Kak Rumi, aku sudah bilang tidak apa. Tidak perlu memikirkan hal yang sifatnya merendahkan diri kak Rumi sendiri." Debby menggenggam tangan Rumi erat.


"Tetap saja kan? Aku itu belum sempurna."


"Kak Rumi...."


"Bersabarlah... Selama hidup dengan pria tidak sempurna seperti ku. Yang masih saja menyebabkan kedua mata mu itu basah, karena kelemahan ku."


"Ya Allah... Kak Rumi. Sudah cukup. Jangan bilang apa-apa lagi. Jangan rendahkan diri mu sendiri."


Rumi tersenyum. "Aku tidak merendahkan diri ku sendiri kok." Memeluk tubuh Debby erat.


"Aku cuma takut, kamu menyerah. Lalu meninggalkan ku," Menciumi pipi sang istri lembut, seraya merebahkannya di atas bantal merubah posisinya lagi. "Wanita yang ku cintai, cuma tinggal kamu di dunia ini. Aku itu lemah dek. Jadi? Tolong bersabar untuk hidup bersama ku ya? Karena aku tidak bisa berjanji, akan terus membuat mu bahagia. Aku masih bisa membuat goresan di hati mu."


Debby kembali berkaca-kaca, ia menyentuh wajah sang suami. "Kak Rumi."


Belum Debby menyambung ucapan itu, Rumi sudah memberikan wujud kasih sayangnya. Berupa kecupan lembut, dan bermain sesaat di sana.

__ADS_1


'aku ingin membahagiakan mu dek, dengan kemapanan ku mungkin? kamu harus kuat hidup bersama ku untuk saat ini. sampai dentang waktu yang indah itu akan datang. Aku tidak tahu kapan, tapi aku akan mengusahakannya, agar segera datang.' batin Rumi, yang masih menikmati kecupan lembut. Dimana kedua mata mereka saling terpejam.


***


Pagi yang cerah, sebagai awalan untuk Rumi dan Debby. Setelah izin pada Abinya untuk pergi ke Bandung hari ini ia pun menghampiri sang istri yang tengah mencuci piring kotor, sisa sarapan pagi mereka.


"Dek, siap-siap gih. Ini biar aku yang selesaikan."


Menoleh sedikit. "Siap-siap kemana?"


"Ke Bandung."


Debby menghentikan kegiatannya. "Bandung?"


"Iya..."


"Mendadak gini?"


"Aku senagaja. Kita memang harus bertemu dengan orang tua mu. Jujur aku tuh nggak enak loh, kita belum pernah berkunjung."


"Begitu ya? Tapi... Apa kak Rumi sudah siap bertemu papah?"


"inshaAllah dek. Aku siap." Mengusap kepala sang istri.


"Emmm?"


"Kenapa? Jangan ragu, dan jangan khawatir. Kamu pernah bilang kan? Papah mu adalah pria paling perhatian selama ini? Beliau amat sayang dan bahkan tidak pernah marah pada mu?"


"Iya kak, itu benar."


"Ya sudah... Kalau begitu siap-siap ya. Kita ke Bandung, kita mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga. Semoga saja bisa jauh lebih baik."


Debby tersenyum. "Terimakasih ya kak, sudah berkenan untuk mendatangi papah."


"Dek, itu kan wajib. Malah aku merasa bersalah sekali. Kita sudah sangat telat mendatangi mereka..."


"Iya kak," tersenyum. "Ya sudah aku siap-siap ya." Debby melepaskan Apronnya lalu melenggang pergi.


"Dek..."


"Ya?"


"Ada yang lupa."


"Apa?"


Rumi mengetuk-ketuk pipinya dengan jari telunjuk. Debby pun menghela nafas sembari nyengir.


"Genitnya MashaAllah. Aku sampai melupakan diri mu yang pernah menghindar sekali dari ku." Terkekeh sembari mendekati lalu mencium pipi yang di tunjuk Rumi tadi.


"Alhamdulillah... Iya menghindar, itu kan dulu. Nggak sekarang."


Tersenyum tipis. Lalu putar arah, melenggang pergi.

__ADS_1


"Mungkin faktor kedewasaan membuatnya berubah, Debby tidak seceria dulu. Atau mungkin dia akan kembali ceria ketika hubungan dengan orang tuanya membaik? Entahlah... Mudah-mudahan demikian." Rumi tersenyum tipis, kembali menyalakan keran air, meraih satu piring kotor lalu mengusap-usap dengan Sponge yang sudah berbusa.


Bersambung...


__ADS_2