Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
ijin keluar


__ADS_3

Sebelum tiba waktu magrib, Debby bersama Nuha menyiapkan hidangan untuk makan malam.


Entah karena kehamilan yang sekarang hormonnya berbeda atau bagaimana, Nuha jadi lebih sering pergi ke kamar mandi hanya untuk mengeluarkan isi perutnya.


Sembari meraih beberapa lembar Tissue, Debby mendekati Nuha yang nampak pucat.


"Nuha sudah istirahat saja. Ini biar aku yang selesaikan."


"Nggak Papa, Ce. Aku masih bisa kok. Biasa ini mah."


"Tapi kamu pucat. Biar ku panggil suami kamu ya? Kamu duduk dulu." Dipapahnya tubuh Nuha menuju kursi meja makan, dan belum sempat Debby memanggil Faqih, pria itu sudah masuk lebih dulu.


"Neng kenapa, Sakit?" Tanya Faqih sembari menyentuh keningnya.


"Nggak A', Nuha hanya mual terus agak lemes."


"Istirahat saja yuk ke kamar."


"Nggak mau, kasian Ce Debby."


"Ya ampun, aku nggak papa Nuha. Kamu istirahat saja." Potong Debby.


"Tapi kan?"


"Beneran nggak papa, lagi pula hanya tinggal menumis. Bumbu kan sudah siap semua, sudah kamu istirahat."


"Maaf ya Ce."


"Kenapa jadi minta maaf. Aku memaklumi kok, walaupun aku belum tahu bagaimana rasanya." Debby tersenyum lebar. Sehingga membuat bibir Nuha yang pucat itu tersungging, ia lantas memegangi tangan Debby.


"inshaAllah secepatnya, Cece akan merasakan, nikmatnya mengandung," kata Nuha memberi semangat.


"Aamiin." Debby tersenyum.


Setelahnya, Nuha pun beranjak, dan berjalan keluar bersamaan Faqih. Debby mengamati mereka dengan senyum.


"Pengen di manja, seperti Nuha di manja sama suaminya karena lagi hamil." Debby tersenyum sendiri sembari memegangi perutnya. "Kapan ya aku bisa merasakan ngidam yang sama seperti Nuha." Ia terkekeh lantas menggeleng pelan, ia ingat olahannya harus segera di selesaikan.


–––


Selepas Isya, Mobil A' Faqih yang membawa Nuha dan Ziya pun sudah menjauh dari pandangan. Sementara di pelataran itu, masih ada ustadz Irsyad yang belum meredupkan senyumnya sembari menggendong tangannya di belakang, memandang jalan yang sudah kosong.


"Ayo Bi, masuk." Ajak Rumi.


"Huft... Abi pikir Ziya mau menginap," kata ustadz Irsyad.


Rumi tersenyum, "tadi kenapa tidak di suruh nginap saja Ziyanya."


"Anak itu yang tidak mau, mintanya pulang terus. Kalah Abi sama kakeknya yang satu." Terkekeh, hanya untuk bercanda saja. Karena Ziya memang lebih betah berlama-lama dengan ustadz Rahmat walupun tanpa Nuha, mungkin karena sejak bayi anak itu sering di rawat oleh ustadz Rahmat dan istrinya, sementara beliau dulu lebih sibuk memperhatikan Rahma, membuat waktunya dengan Ziya tidak pernah lama.

__ADS_1


"Sepertinya harus lebih pendekatan lagi Bi."


"Mau bagaimana lagi, mungkin memang harus begitu. Abi akan lebih sering ke rumah Nuha setelah ini. Rasanya hati ini sepi, tapi kalau ada cucu MashaAllah." Ustadz Irsyad terkekeh sama halnya Rumi, dan juga Debby yang hanya tersenyum tipis.


Ia memegangi perutnya sendiri, ingin rasanya segera memberikan anak untuk Rumi, dan cucu untuk ustadz Irsyad. Agar beliau tidak kesepian lagi. Hingga ia pun berniat untuk mendatangi dokter kandungan esok hari tanpa sepengetahuan Rumi.


Iya... Dia hanya ingin memeriksanya sendiri saja, soalnya agak khawatir juga dengan hasilnya.


***


Pagi harinya...


Selepas subuh, Debby mencari tahu. Apa saja makanan ataupun minuman yang baik untuk program hamil di internet. Walaupun dia sudah berusaha untuk tidak makan macam-macam, namun sepertinya hal itu belum membuahkan hasil.


"Tauge, bisa meningkatkan kesuburan?" Debby mengetuk-ketuk dagunya dengan ujung jari telunjuk. "Berarti nanti aku dan kak Rumi harus banyak makan tauge. Okeh, nanti beli toge satu kilo." Bersemangat Debby kembali membaca artikel untuk program hamilnya.


Hingga beberapa jam berlalu selepas sarapan, Debby mencoba berbicara dengan Rumi.


Di dalam kamar mereka, dalam posisi duduk menyandar, sementara Rumi merebahkan kepalanya di atas pangkuan Debby memeriksa email di ponselnya.


"Kak, hari ini aku keluar ya." Ucap Debby pelan-pelan sembari mengusap-usap kening Rumi dengan jari telunjuk.


"Mau kemana, Dek? Aku antar ya."


"Nggak usah, aku mau keluar sendiri," jawab Debby, dimana Rumi langsung mematikan ponselnya, lalu menoleh ke atas.


"Kok sendiri? Emang mau kemana?"


"Ya ampun, kirain kemana. Kalau begitu aku antar saja ya."


"Aku mau naik taksi online." Nyengir.


Rumi pun beranjak, duduk bersila menghadap sang istri. "Kan ada aku, kenapa harus pakai taksi online? Lagian mobil Abi juga di tinggal, kalau kamu nggak mau pakai motor."


"Bukan begitu, tapi Aku memang mau sendiri."


Rumi terdiam menatap Debby.


"Aku perginya bukan untuk neko-neko, sayang." Debby menyentuh pipi Rumi.


"Ya udah, sama aku."


"Kak Rumi kan lelah. Aku bisa sendiri, lagian juga bukan hal penting."


"nggak usah pergi kau begitu, di sini aja."


"Kak Rumi– sebentar aja... Aku izin pergi cuma sebentar," merengek.


"Kemana dulu yang jelas, kalau ke toko buku kamu pasti mau aku antar."

__ADS_1


"Ya itu udah jelas, aku cuma mau keluar sendirian."


"Kenapa? Ada yang di sembunyikan ya?"


Debby menggeleng sembari menunduk.


"Dek, jawab jujur." Tanya Rumi pada Debby yang masih diam saja, menunduk. "Dek?"


"Aku mau ke dokter kandungan," jawab Debby lirih.


"Dokter?"


"Aku cuma mau ngecek kondisi aku. Karena aku tak kunjung hamil."


"Ya Allah..." gumam Rumi lirih.


"takut aja nggak bisa kasih keturunan ke kamu." Cetus Debby sembari memainkan ujung kukunya yang pendek.


"Astagfirullah al'azim, jangan bilang seperti itu. Lagi pula kita baru nikah satu tahun. Itu wajar sayang, kalau kamu belum isi." Rumi meraih tubuh Debby, memeluknya.


"Tapi aku sedih. Makanya aku mau cek kondisi rahim ku," gumam Debby sembari membenamkan wajahnya di bahu sang suami.


"Ya ampun, Dek. Pokoknya aku temani, karena pemeriksaan seperti itu setahu aku harus bersama dengan pasangan juga kan?" Tanya Rumi yang di balas dengan anggukan kepala Debby. "Ya sudah jangan sedih ya, mau ke rumah sakit jam berapa?"


"Jam sebelas."


Rumi tersenyum, "ya sudah,"


"Oh iya, tadi aku masak tumis tauge. Nanti di makan ya, jadiin camilan."


"Tumis tauge?" Tanya Rumi, sembari melepaskan pelukannya.


"Iya."


"Dek, aku lupa belum bilang ke kamu ya? Kalau aku tidak suka tauge."


"Kamu nggak suka?" Tanya Debby, Rumi pun mengangguk cepat. "Makan sedikit-sedikit, enak kok. Paksain."


"Tapi aku nggak suka, Dek."


"Aaaaaa.... Paksain, paksain pokoknya. Mau punya anak nggak sih kamu?" Rengek Debby, jengkel.


"Astagfirullah al'azim... Pengen lah Dek."


"Ya udah paksain. Pokoknya tiap hari kita makan sayur tauge."


"Ya Allah... Iya deh iya."


"Janji ya. Jangan terpaksa harus ikhlas."

__ADS_1


"Iya sayang... Sini cium dulu." Rumi memeluk tubuh Debby yang terkekeh sembari menghindari bibir Rumi yang sudah maju hendak menciumnya.


__ADS_2