
Kembali pada Debby dan Maryam.
Seperti pada rencana awal, setelah dari salon keduanya pun mampir ke salah satu panti asuhan milik kenalan dari Bibinya.
Namun karena adzan Dzuhur sudah berkumandang mereka pun rehat sejenak di salah satu masjid guna menjalani ibadah sholat. Barulah setelahnya melanjutkan perjalanan, ke tempat tujuan.
–––
Di sebuah panti yang tidak begitu besar, keluar seorang wanita yang usianya masih sekitar lima puluh tahun,
Senyumnya yang hangat memancarkan sifat keibuan dari diri Beliau. menyambut Maryam dan Debby dengan suka cita, layaknya seorang ibu yang kedatangan anak-anaknya dari rantau. Sebut saja Ummi Hajar. Wanita bertubuh tambun dan tidak terlalu tinggi, memiliki warna kulit sawo matang, berhijab pajang dengan kacamata tebal terpasang di kedua mata beliau.
"MashaAllah, putri ku datang." Sapa beliau ramah, lantas memeluk Maryam erat.
"Assalamualaikum Ummi, apa kabar?" Tanya Maryam, membalas pelukan seorang wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya.
"Walaikumsalam, baik sayang." Melepaskan, lalu mengusap-usap lengan Maryam. Setelahnya menoleh kearah Debby di samping. "Siapa ini?"
"Debora Bu." Debby meraih tangan wanita itu, lantas mengecup punggung tangannya.
"Debora? MashaAllah, manis sekali." Puji beliau.
"Dia keponakan saya, Mi. Anak dari Koko saya di Bandung."
"Oh... Pantas, terlihat seperti etnis mu." Terkekeh. "Mari masuk."
"Iya Ummi." Jawab Maryam.
Mereka pun masuk ke dalam rumah panti tersebut. Sambutan hangat langsung tercurahkan kepada dua wanita Chinese tersebut. Beberapa di antaranya langsung berlari mendekati, lantas berhambur di pelukan wanita yang mereka sebut Ummi Maryam.
Debby yang melihat itu tersenyum senang, seperti tamu istimewa ia menyalami satu persatu, saat Maryam memperkenalkan dia kepada mereka.
Ya... ada banyak anak kecil di sana, jumlahnya bisa sampai belasan anak. Di antaranya balita yang nasibnya tidak beruntung, karena di tinggal begitu saja oleh orangtua mereka
Pandangan Debby tertuju pada salah satu bayi perempuan berusia lima bulan.
Ia sangat senang sekali tersenyum, bahkan hanya di tatap saja, dia sudah melebarkan senyumnya.
"Hai... Siapa namanya?" Tanya Debby sembari memegangi tangan anak itu. Yang lantas menggenggam jari telunjuknya.
"Aku Hanum," jawab salah satu kakak perawat yang mendampinginya.
"Wah, nama yang cantik. Aku boleh gendong?" Tanya Debby.
"Boleh silahkan."
Dengan perasaan senang Debby menggendongnya. Anak itu pula nampak senang.
__ADS_1
"Hanum... Cantiknya kamu."
"Anak ini baru masuk beberapa bulan yang lalu." Kata Ummi Hajar.
"Oh ya?"
"Iya... dan saat menyelamatkan Dia, sungguh amat dramatis."
"Memang ada kejadian apa?"
"Jadi, anak ini di temukan menangis sendirian di sebuah kontrakan."
"Astagfirullah al'azim. Benar-benar sendirian?" Tanya Debby, matanya sudah berkaca-kaca.
"Iya, dan mungkin anak itu di tinggalkan orang tuanya begitu saja. Menurut si pemilik kontrakan? wanita yang di sinyalir adalah ibu dari anak itu baru menyewa kontrakan tersebut sekitar lima hari, tapi selama itu tidak pernah nampak keluar rumah."
"Ya ampun, jadi anak ini di rumah itu sendirian sudah berapa lama?"
"Di dalam kontrakan itu kurang lebihnya sudah ada sekitar tiga hari, yang lebih memprihatinkan anak ini nampak lemas, mungkin karena tidak minum."
"Ya Allah... Kasian-nya." Debby mencium pipi balita di gendongannya. Balita itu tersenyum, ia bahkan menyentuh-yentuh wajah Debby. Sepertinya ia bisa merasakan nyaman.
hingga hampir setengah jam berada dalam dekapan Debora, ia pun tertidur.
Sementara obrolan masih berlangsung, antara Bibi Maryam, Debby, dan Ummi Hajar. Membahas tentang banyak hal, lalu selang beberapa menit mereka mencoba untuk bermain sebentar dengan beberapa anak panti.
Debby mencium Hanum, mengusap pipinya yang sedikit kurus. Walaupun kata ibu panti itu sudah lebih mending, ketimbang saat dia di temukan.
Ada perasaan berat meninggalkan balita itu, namun dia harus pulang.
tidak bisa juga ia berlama-lama di rumah panti ini, sebab ia harus sampai rumah sebelum pukul empat sore, sesuai keinginan sang suami.
***
Sesampainya di rumah, Debby buru-buru menyiapkan hidangan makan malam untuk keluarga itu.
Walau Rumi sudah meminta Debby untuk istirahat saja, tapi berhubung pare itu sudah ia potong-potong pagi tadi rasanya sayang saja jika tidak ia olah.
Selang beberapa waktu kemudian, Rumi yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya kini sudah siaga di dapur membantu sang istri.
Membantu melakukan apapun yang perlu ia lakukan, tanpa menggangu fokusnya Debby saat mengolah makanan.
Dan sebuah tumis pare pun selesai di masak, hanya tinggal memasak hidangan lain. Secepatnya ia mempersiapkan bahan-bahan untuk ia olah kembali. Dan di tutup dengan bebersih dapur, setelah selesai dengan pertempuran masak mereka.
"Kak?" Debby duduk di kursi meja makan, yang sedang di lap bagian atasnya oleh sang suami.
"Hemmm?"
__ADS_1
"Kak Rumi percaya, nggak? Kalau ada seorang wanita yang tega membuang anaknya?"
"Tentu percaya, Dek. Banyak kasus seperti itu dengan berbagai alasan mereka."
"Tapi kan– mau seperti apapun alasannya? Membuang darah daging sendiri itu tidak manusiawi."
"Bagi kita memang seperti itu, karena kita tahu seperti apa dosanya. Tapi mereka mungkin juga kalau di tanya? Pasti tidak mau melakukan itu." Rumi menoleh, ia menghentikan pekerjaannya, mencuci tangan lebih duli lalu duduk di sebelah Debby. "Ada apa, tiba-tiba tanya itu?"
"Tadi tuh pas ke panti, aku merasa sedikit sedih. Melihat banyak anak-anak tanpa orang tua. Kebanyakan kisahnya menyedihkan, sampai ada salah satu yang paling membuat hati ku tercubit." Debby pun menceritakan kisah anak balita bernama Hanum, di mana Rumi yang nampak serius mendengarkan. "Dan itu nggak manusiawi, kalau sampai di tinggalkan begitu saja. Anak itu bahkan kurus sekali. Sepertinya kurang gizi juga."
"Tapi aku yakin sih, anak itu pasti di rawat dengan baik di panti."
"Aku harap begitu. Tapi melihatnya seperti itu jadi pengen?" Debby melirik.
"Apa?"
"Bukan apa-apa." Ia mengurungkan untuk bertanya yang sebaiknya tidak terburu-buru untuk ia katakan.
Rumi tersenyum. "Jangan dulu ya, kalau hanya menganggap anak, dan kamu mau sering-sering datang ke sana boleh saja."
"Ya ampun, apa kak Rumi paham maksudnya?"
"Sepertinya iya." Rumi tersenyum. "Intinya kita memang ikhtiar, mengambil keputusan untuk adopsi dan sebagainya bisa kita jadikan jalan terakhir, itu pun kalau sudah benar-benar ada vonis yang mengatakan kalau kita itu memang tidak bisa. Tapi aku yakin kok kita tetap akan punya momongan."
"Emmm, iya kak."
"Nggak papa ya? Aku tidak menyinggung kan?"
"Enggak kok, tapi kapan-kapan kesananya lagi sama kamu ya."
"Boleh, tunggu lusa ya. Sehabis dari Bandung."
"Oh iya, besok kamu berangkat. Pasti nginep lagi deh." Debby cemberut.
"Nggak tau juga, sayang. Kan aku kerja."
"Hemmm..."
"Jangan ngambek. Besok aku beliin mooncake."
"Di toko kue yang sama seperti kue yang di kasih Justin waktu itu loh ya."
"Astagfirullah kenapa inget banget sih, kalau dia pernah kasih kue."
"Bukan begitu, cuma aku suka kue dari toko itu." Nyengir, di mana Rumi hanya diam saja. "Jangan cemburu, aku Beneran suka kuenya."
"Sama orangnya juga tidak apa-apa." Rumi pun melenggang pergi, sementara Debby langsung menyusulnya sembari terkekeh gemas.
__ADS_1