
Di rumah Shafa...
Gadis itu, sudah berpenampilan semenarik mungkin, merias diri dengan make up tipis dan sederhana.
Ya... Hari ini, dia akan menyambut tamu yang belum tahu siapa orangnya. Tapi sedari tadi jantungnya sudah di buat berdebar kencang. Sehingga rasa tak sabar untuk bertemu membuatnya terus terkekeh sendiri.
"Mbak Shafa, Ada tamu." Seru Qoni di luar.
"Siapa?" Shafa menyaut dari dalam.
"Perempuan, namanya kak Debora."
"Debby?" Gumam Shafa, dia tersenyum senang. Sudah lama dia tidak bertemu gadis itu. "Suruh masuk, dek." Titahnya kemudian.
Di luar pun hening, Qoni tak menyaut lagi. Lalu tak lama sebuah ketukan pintu kamar pun terdengar. Membuat Shafa beranjak, dan lantas membuka pintu kamarnya.
"Assalamualaikum." Sapa wanita berhijab di hadapannya, yang seketika itu pula membuat Shafa mematung, tak percaya.
"Wa... walaikumsalam. Deb? Debby? MashaAllah?" Shafa gagap, dia tidak percaya gadis itu mengenakan pakaian syar'i hari ini di hadapannya. Sungguh, dia sangat cantik dan anggun, dengan wajah orientalnya itu "Ini? Serius? Kamu?"
Debby menutup mulutnya terkekeh. "Kaget ya? Alhamdulillah, kita sudah seiman. Aku sudah bersyahadat, dua hari yang lalu, mbak."
"Allahu Akbar... Debora MashaAllah." Shafa memeluk tubuh itu langsung. "Ya Allah... Aku senang sekali, Alhamdulillah... Debby kamu masuk Islam? Aku tidak percaya." Air mata Shafa mengalir, ia terharu sekali mendengar pengakuan Debby, bahkan sampai memelukannya dengan erat.
"I... Ini meluk senang atau apa? Kenceng banget, aku jadi tidak bisa bernafas."
"Ahh... Ya ampun, maaf. Maaf ya? Aku saking senangnya Deb." Shafa reflek melepaskan pelukannya, terkekeh. Lalu mengusap tetesan air matanya di pipi.
"Hehehe... Aku hanya bercanda." Jawab Debby turut terkekeh, Gadis itu masih sama, seperti Debby yang Shafa kenal. Ceria, dan sedikit humoris. Sejenak Debby mengamati penampilan Shafa dari atas ke bawah, dia terlihat menggunakan riasan dan pakaian yang rapi, terlebih di luar terlihat ibu dan bapaknya Shafa amat sibuk, mondar-mandir "Mbak? Mau ada acara ya di sini?"
Shafa tersenyum. "Iya... Kata ayah ku, mau ada seorang pemuda dan keluarganya yang akan berkunjung kesini."
"Wah... Wah... Mau lamaran ya?"
"Nggak... Bukan itu. Tapi nggak tahu juga sih, soalnya tujuan mereka datang tuh belum jelas." bantah Shafa malu-malu.
"Alaaah... Belum jelas bagaimana? Sudah jelas itu mah, mau lamaran." Terkekeh.
"Nggak bisa meyakini juga, aku takut kegeeran. Siapa tahu saja mereka cuma mau silaturahmi kan? Eh... Masuk yuk, kita ngobrol di dalam saja, jangan di depan pintu."
"Hehehe... Alhamdulillah di tawarin, aku nungguin padahal." Ledek Debby, Shafa pun tertawa.
__ADS_1
Di dalam kamar...
Keduanya mengobrol, tentang pekerjaan Debby sekarang, juga tentang bagaimana dia bisa yakin dengan kesungguhannya yang akhirnya memutuskan untuk benar-benar masuk Islam dan lain sebagainya.
Hingga membuat keduanya hanyut dalam keseruan mereka, yang sesekali tertawa jenaka. sebuah seruan pun membuyarkan senda gurau mereka di kamar itu.
"Mbak Shafa... Ada mobil Pade Irsyad. Dan kak Faqih juga." Seru Qonni yang masuk saja ke kamar Shafa tanpa mengetuk pintu.
"Hah?!" Shafa terkejut, dia segera beranjak lalu berjalan cepat menuju jendela kamar, mengintip dari sana.
Debby yang belum paham masih senyum-senyum, menggoda Shafa. "Kok, Pade Irsyad? Mungkinkah, Pade di undang kesini sama ayah?"
Shafa masih berdiri di depan kaca jendelanya, mengamati mereka-mereka yang keluar dari mobil, dengan di sambut ayah serta ibunya.
'Rumi?' Shafa melihat ada Rumi juga, tengah mengenakan pakaian batik berlengan panjang, sungguh ia amatlah tampan. Serta Rahma, lalu Nuha dan Faqih?
Jantung Shafa semakin berdebar, dia bahkan lebih merasakan gugup dari pada yang tadi.
"Nggak mungkin kalau pemuda itu?" Gumam Shafa, ia menutup mulutnya, kemudian. "Ya Allah....?"
"Mbak, ayo keluar." Ajak Qonni.
"I... Iya." Shafa menjadi bingung sendiri, namun dia harus tetap keluar menyambut para tamu itu, iya keluarga Ustadz Irsyad.
"Aku? Aku juga ikut keluar?" Tanya Debby masih duduk di ranjangnya.
"Iya. Yuk, dampingi diri ku." Tuturnya gugup, yang langsung memegangi lengan Debby.
Debby pun senyum-senyum. "Ya ampun... Begini kah? Ekspresi seorang wanita yang mau di lamar?" Terkekeh.
"Debby, jangan menggoda ku."
"Hehehe maaf, mbak." Keduanya pun keluar dari dalam kamar, menyusul Qoni yang sudah keluar lebih dulu.
Dalam hati Shafa masih bergumam, 'tidak mungkin, tidak mungkin sih.' namun di dalam hati kecilnya yang paling dalam dia berharap kalau pemuda yang di maksud ayahnya memang benar, Rumi.
"Assalamualaikum–" ucap Ustadz Irsyad saat sudah di depan pintu.
"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Shafa, seraya menyambutnya.
Ustad Irsyad pun senyum-senyum menatap Shafa. Sementara Shafa hanya menelungkup kan kedua tangannya di depan dada, karena dia sedang menjaga wudhu. Lalu mempersilahkan Ustadz Irsyad untuk masuk, bersamaan dengan Ulum, lalu di susul Rumi di belakangnya.
__ADS_1
Sementara itu Debby yang berada di belakang Shafa terkejut. Saat menyambut pria di belakang Ustadz Irsyad, sama halnya Rumi yang langsung mematung dengan mata sedikit melebar sesaat, lalu menelungkup kan kedua telapak tangannya di depan dada, menyalami Debby yang langsung membalas dengan itu juga, lalu menunduk.
Rumi sedikit tidak percaya jika itu adalah Debora. Lebih-lebih dengan penampilan syar'inya. Rumi pun langsung menunduk, menggeleng pelan lalu beristighfar berkali-kali tanpa suara. dan setelahnya, mendekati sofa.
Hal yang membuat Shafa sedikit terdiam dengan tangan masih tertelungkup yaitu? ketika Rumi sama sekali tak menatapnya, bahkan membalas salamnya kepada dia pun tidak.
"Assalamualaikum, Shafa." Ucap Rahma membuat Shafa tersadar.
"Walaikumsalam warahmatullah, Ummu Nuha. Apa kabar?"
"Baik sayang. Alhamdulillah Umma sudah jauh lebih baik, sedikit-sedikit sudah bisa menggerakkan kakinya." Jawab Rahma, yang langsung memeluk tubuh Shafa. Lalu menatap wajah wanita di belakang Shafa, yang tengah tersenyum. "Ini siapa? Cantiknya?" Puji Rahma kemudian lalu melepaskan pelukannya tadi pada Shafa.
"Debora Tante." Jawab Debby, sembari meraih tangan kanan Rahma, mencium punggung tangan itu kemudian.
"Oh... MashaAllah." Tersenyum senang.
"Debora? Kayanya pernah tahu nama itu, seperti pernah lihat juga. Dimana ya?" Ustad Irsyad menyaut.
"Iya pak ustadz, saya pernah kerumah bapak. Gadis katolik, yang datang sekitar tiga tahun yang lalu, kalau nggak salah."
"ohh... Allahu Akbar... Iya saya ingat. Kamu kok berhijab?"
"Iya, Alhamdulillah. saya baru saja masuk Islam."
"Subhanallah... Tabaraqallah nak. Selamat ya." Ucap Ustadz Irsyad, begitu juga yang lainnya. Sementara Rumi hanya melirik kearah Debora sebentar, lalu menunduk lagi dan tersenyum kemudian. Dalam hati dia mengucap hamdalah.
Namun sepertinya Shafa menangkap itu. Dia pun hanya berdeham pelan lalu menepis semua pikiran yang tidak patut untuk dia pikirkan.
Keluarga itu pun sudah seluruhnya masuk dan duduk di kursi mereka, serta mulai mengeluarkan kata-kata yang lebih ke basa basi.
Dan karena Ziya tertidur, Nuha pun menidurkan anak itu di kamar Shafa, dengan di temani Qonni, dan juga Debby. Karena dia merasa itu adalah urusan keluarga Shafa dan Rumi, jadi Debby lebih memilih untuk turut masuk juga bersama adik dari Shafa itu.
di dalam kamar, Debby banyak diam, karena samar-samar dia mendengarkan pembicaraan keluaga itu, walaupun tatapannya tertuju pada balita yang masih tertidur pulas di ranjang itu, dengan sesekali menjawab pertanyaan Qonni dan Nuha, Debby benar-benar kurang fokus menanggapi pertanyaan dari dua wanita di dekatnya, dan lebih tertarik dengan apa yang ada di luar.
'ini bukan lamaran kan?' hati Debby mulai terusik. 'kalau memang benar, lamaran? memang kenapa? Kalau Kak Rumi jodohnya mbak Shafa, itu baik kan? Harusnya aku mendukung itu. Dan lagi, mau dipaksa seperti apapun, kak Rumi kan memang tidak menyukai ku dari dulu.' dia berusaha menenangkan dirinya sendiri, dengan hembusan-hembusan kecil di bibirnya itu.
"Rumi, sudah paham kan? Pertemuan ini untuk apa? Jadi sebelum itu... Abi mau tanya dulu untuk meyakinkan lagi. Menurut mu, bagaimana Shafa?"
Rumi mengangkat kepalanya, mencoba untuk menatap mata Shafa untuk pertama kalinya. Gadis yang semakin gugup itu pun hanya diam saja memegangi tangan ibunya dengan kuat.
Rumi memandangi wajah itu hingga beberapa menit. Lalu terdiam kembali menunduk. Berusaha dengan keras untuk meyakinkan hati, sebelum memutuskan sebuah jawabannya.
__ADS_1
bersambung...