
Di luar Rumi duduk di sofa ruangan tengah. Matanya mengembun sedih, karena perasaan takut jika harus kehilangan sang ibu.
Sementara Debby yang duduk di sebelahnya hanya bisa mengusap bahu Rumi pelan.
Membuat Rumi meraih tangan itu mengecupnya lembut, lalu menatap mata Debby, sendu.
"Maaf ya sayang, jadi ketunda."
Gadis itu tersenyum. "Nggak papa, kak. Kita malah justru salah kalau pergi begitu saja di saat kondisi Umma seperti itu."
"Nanti sore aku janji, kita langsung jalan ke Bandung." Rumi merasa tidak enak hati.
"Nggak, kak. Tunggu Umma sembuh saja ya."
"Tapi kita harus bertemu papah sama mamah, kan?"
"Bukankah? kita harusnya mendahului yang lebih memerlukan adanya kita dulu ya? Apa lagi menyangkut kesehatan seorang wanita paling berarti dalam kehidupan suami ku ini."
"Apa tidak apa di kamu, dek?"
"Nggak papa. Aku sabar kok... Walaupun Rindu. Tapi kalau suami ku sedang di butuhkan oleh ibunya? Masa aku harus melarang mu. Aku mau kita di sini dulu... Temani Umma ya."
Rumi tersenyum sembari menitikkan air matanya, ia merasa tersanjung. Lalu menghapusnya cepat.
"Aku cengeng sekali ya." terkekeh malu.
Debby menghapusnya lembut. "Nggak kok. Aku malah suka kamu yang seperti ini. Itu tandanya hati mu halus."
"MashaAllah, bidadari ku. Terimakasih ya." Rumi meraih tangan Debby menciuminya tiga kali. Debby terkekeh lantas beranjak.
"Mau kemana?" Rumi menahan.
"Ganti baju,"
__ADS_1
"Nggak usah, ini bagus. Kamu terlihat cantik." Puji Rumi, membuat Debby tersipu.
"Masa?"
"Iya... Serius dek."
"Tapi gerah, kak."
"Ku kipasin deh." Rumi meniup-niup.
"Hahaha... Kamu ngapain sih." menutupi bibir Rumi dengan kedua telapak tangannya.
"Biar kamu nggak gerah. Fuuhhhh fuuhhhh."
"Tapi kaya orang kelilipan jadinya." Gadis itu menghindari.
"Loh tapi kamu memang kelilipan, loh ini."
"Enggak." Debby masih menghindari tiupan Rumi yang mengarah ke matanya.
"Nggak, kelilipan tuh."
"Ada sayang... Tuh kelilipan cinta dari ku." Ucap Rumi membuat Debby tertawa lirih. Di ruangan tengah itu Rumi dan Debby masih cekikikan pelan, sedikit melupakan duka di dadanya.
***
Siang ini, ustadz Irsyad dan Rumi sedang di masjid dekat rumah mereka. Sementara Debby menemani ibu mertuanya, menyuapi makan siang Rahma dengan sangat telaten.
"Umma ngerepotin ya?" Ucap Rahma lirih.
"Nggak kok, Umma jangan bicara seperti itu." Debby memasukkan satu sendok nasi yang basah tersiram kuah bening, dari sayur bayam.
"Kalian kok belum jalan sih? Katanya mau ke Bandung?" Tanya Rahma, sembari mengunyah.
__ADS_1
"Nunggu Minggu depan saja Umma. Sekarang di sini dulu."
"Loh, kenapa? Pasti Umma deh, yang sudah bikin kalian jadi batal ke Bandung."
"Enggak Umma, sungguh. Sebenarnya juga tanggung, lusa kan Debby kerja. Jadi kaya kurang lowong saja waktunya. Mending nunggu liburan pekan depan saja." Tersenyum ceria.
Rahma membalas senyumnya itu. "Kamu sabar ya sama Rumi. Walaupun anak Umma itu agak cengeng, terus juga anak Mamih." Terkekeh.
"Kak Rumi nggak anak Mamih kok. Dia bertanggung jawab... Sayang juga sama Debby." Jawab Debby jujur.
"Tapi tetap saja, dia masih nganggur. Umma yang nggak enak sama kamu."
"Umma... Jangan bilang seperti itu." Debby mengusap-usap tangan ibu mertuanya sejenak, dan kembali menyentuh sendoknya.
"Satu lagi saja, Umma sudah kenyang." Ucap Rahma menerima satu suapan lagi.
"Masih banyak ini, Umma. Umma makannya sedikit."
"Umma kan pengen diet, biar langsing kaya kamu."
"Hahaha... Jangan Umma, aku mah nggak langsing tapi kurus." Tertawa.
"Andai lemak bisa di transfer ya." Canda Rahma. Membuat gadis itu mengangguk sembari tertawa.
"Biar di minta sedikit ya Umma, buat Debby." Gadis itu menutup mulutnya menyambung tawa, sama halnya dengan Rahma yang mengangguk juga.
Mereka masih asik di dalam, sehingga membuat Ustadz Irsyad yang hendak masuk kedalam kamar itu pun urung, beliau hanya tersenyum lalu berjalan lagi menjauh dari kamarnya.
Hingga datanglah Rumi yang berseru salam sembari masuk.
"Abi tidak jadi masuk?"
"Nanti saja, dua wanita itu tengah asik mengobrol. Jangan ganggu mereka." Titah Abi Irsyad, Rumi pun tersenyum mengintip ke arah pintu kamar orang tuanya lalu kembali berjalan menuju tangga lantai dua.
__ADS_1
Bersambung...