
Angin siang yang berhembus terasa sejuk bagi mereka.
Hingga rasa kantuk pun terasa. Rumi menguap lalu beristighfar.
"Dek, aku ngantuk sekali."
"Ya sudah kita cari makan tapi di bungkus saja, setelahnya cari penginapan untuk kita istirahat. Sorenya baru kita kembali," Debby mengusulkan sembari mengusap pipi Rumi lembut.
Rumi pun mengangguk. Ia beranjak sembari meraih tangan Debby mengajaknya berdiri, setelah itu berjalan bersama dengan tangan saling bertaut.
Ketika baru tiba di dekat mobilnya, sebuah dering ponsel berbunyi.
Melihat nama Jimmy di layar tersebut.
"Bentar dek, teman ku telfon," Rumi menekan tombol terima. Lalu menempelkan ponsel tersebut di telinga. "Assalamualaikum. Ya Jim."
"Walaikumsalam warahmatullah. Maaf kakak sibuk tidak?"
"Tidak sih, ada apa?"
"Begini, kira-kira besok kakak bisa ke Bandung?"
"Emmm kebetulan, aku di Bandung. Bagaimana?"
"Wah kebetulan, besok bos ku ingin bertemu, kemungkinan dia ingin melakukan interview juga sih. Soalnya dia bilang suka dengan desain yang kak Rumi kirim."
"Alhamdulillah, begitu kah?"
"Iya, kak. Berhubung kak Rumi sudah di Bandung kemungkinan jam sepuluh lah kita ketemu di Kafe X. Bisa tidak?"
"MashaAllah, bisa...bisa... Akan ku usahakan." Berbinar.
"Iya sudah itu saja. Nanti alamatnya saya kirim via chat."
"Iya Jimmy terimakasih banyak ya."
"Sama-sama kak, kalau begitu saya tutup assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah," Tersenyum senang, ia langsung memasukkan kembali ponselnya. "Aku nggak jadi ngantuk, dek. MashaAllah."
"Ada apa memangnya?"
"Kamu ingat teman ku yang menawarkan pekerjaan, 'kan?"
"Iya..."
"Atasan dia mengajak ku bertemu besok. Kemungkinan langsung di interview. Ya... Nggak tahu juga, mudah-mudahan iya."
"MashaAllah," turut senang.
"Aku sih berharap, tetap bisa di tempatkan di Jakarta. Kalau benar aku bisa bekerja di perusahaan itu."
__ADS_1
"Iya kak, semoga besok sukses ya. Aku dukung kamu seratus persen." Debby mengepalkan kedua tangannya di depan dada memberi semangat. Sehingga membuat Rumi terkekeh gemas, namun lega karena sang istri sudah tidak sedih lagi.
Mengusap-usap kepala Debby lembut. "Ya sudah ayo masuk, kita cari makan habis itu ke penginapan. Kita pulangnya lusa ya."
"Iya kak, berati besok malam kita bisa ke rumah papah lagi? Sebelum ke Jakarta," mode semangatnya kembali on.
"Iya sayang. Yuk masuk," ajaknya, sembari membukakan pintu untuk istrinya. Nampak Debby menatap Rumi dengan senyum jail, karena merasa di perlakukan romantis oleh dia. Rumi yang tidak tahan hanya geleng-geleng kepala lalu kembali menutup pintu mobilnya, berjalan memutar sedikit lalu membuka pintu di bagian kemudi. Ia pun masuk kedalam mobil itu.
π
π
π
Esok harinya...
Rumi sengaja membawa Debby karena dia juga tidak tega jika harus meninggalkannya sendirian di penginapan.
Sehingga mengajaknya keluar sembari membuang jenuh pun menjadi pilihannya, ia memilih meja lain yang bukan tempat Jimmy mereservasi. Karena ia juga butuh privasi untuk istrinya. Biarlah dia duduk sendirian, di sudut yang sekiranya masih bisa nampak saat dia mengobrol nanti dengan Jimmy dan bosnya.
Di meja yang berbeda itu, Debby dan Rumi duduk, ia masih menunggu temannya yang belum juga nampak. Selang beberapa menit ia melihat pria yang tak lain adalah Jimmy, duduk di mejanya sembari mengeluarkan ponsel.
Rumi tersenyum ia menatap Debby. "Dek, teman ku sudah tiba. Aku kesana dulu ya."
"Iya kak, semoga sukses," menyemangati. Membuat Rumi tersenyum, lalu berjalan menghampiri meja nomor tiga belas.
"Assalamualaikum," sapa Rumi.
"Iya, maklum setelah ibu ku sakit. Aku jadi di rumah saja," jawab Rumi sembari duduk.
"Ku dengar? Ibunya Kak Rumi, wafat?"
"Iya," tersenyum tipis.
"Aku turut berdukacita ya kak. Semoga Almarhumah di terima di sisiNya, dan masuk dalam golongan orang-orang yang beriman."
"Aamiin ya Allah... Semoga saja," tersenyum sendu. Dima tangan Jimmy langsung menepuk-nepuk pelan lengannya turut prihatin. Setelah beberapa detik mengobrol basa basi, tibalah pada pokok bahasan, sembari menunggu bosnya.
Jimmy pun menjelaskan, tentang apa saja yang di kerjakan Rumi jika saja pria itu di terima.
Nampak fokus Rumi mendengarkan sembari sesekali manggut-manggut, dengan mata terarah pada berkas di tangan Jimmy.
Sementara itu, Debby mengalihkan kesendiriannya dengan bermain ponsel. Ia membuka-buka akun sosial medianya, menggulir naik layarnya membaca satu persatu Artikel yang menurutnya menarik.
"Maaf... Kamu Debora, ya?" Seorang pria berdiri di depan mejanya, Debby menoleh, lalu menaikan kepalanya melihat wajah pria yang mengenalinya.
Pria itu tersenyum, dengan penampilan rapih, berwajah oriental.
"Justin?" Gumamnya, Debby berdiri. Saat yang bersamaan, fokus Rumi buyar. Ia melihat Debby tengah berbicara dengan seorang pria. Membuat Rumi mengerutkan keningnya.
'siapa dia?' batin Rumi, ada perasaan seperti kurang suka melihat Debby berbicara dengan pria itu. Terlebih penampilannya nampak luar biasa, ia sendiri melirik kearah pakaiannya sendiri, lalu mendesah gusar.
__ADS_1
Kembali pada Debby. Pria itu mengulurkan tangannya. Sementara Debby hanya menelungkupkan ke-dua telapak tangan di depan dada.
"Maaf..."
Justin mengerti, namun ia tetap memandang aneh juga. "Kamu di sini? Ya Tuhan... Jadi rumor tentang kamu yang menjadi mualaf itu benar?"
"Ah... Iya," tersenyum. Debby melirik kearah suaminya, tatapan mata Rumi terlihat sedikit tajam.
"Sendirian saja?" Tanya beliau.
"Pak Justinβ" Jimmy berseru. "Kami di sini."
Justin tersenyum pada Jimmy, memberikan isyarat tangan. Memintanya untuk menunggu sebentar.
"Boleh minta nomor mu?"
"Maaf, aku tidak bisa memberikannya."
"Kenapa? Ahh... Benar. Kata Lusiana kamu sudah menikah ya, tapi aku hanya ingin berteman saja kok. Tidak salah kan."
Rumi beranjak dari bangkunya ia berjalan mendekati sang istri. Lalu berdiri di sebelahnya, merangkul.
"Eh... Eh.." Debby terkejut, namun masih berusaha melebarkan senyumnya di hadapan Justin.
"Mohon maaf, pak. Dalam agama kami, tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Apalagi? Debby sudah bersuami," tersenyum.
"Kamu?" Menunjuk Rumi.
"Iya... Saya suaminya."
"Oh... Haha," Terkekeh. "Baiklah... Maaf ya."
Justin memutar tubuhnya melanjutkan langkah menghampiri Jimmy.
Sementara Rumi langsung menghela nafas.
"Nyaris," gumamnya. Ia melirik kearah Debby, gadis itu menutup mulutnya terkekeh.
"Apa?"
"Ada yang panas tapi bukan kompor."
"Maksudnya?"
"Hati mu... Iya kan?" Ledeknya.
"Nggak tuh..." Rumi memalingkan wajahnya, malu. "aku harus meeting dengan pria yang tampannya nggak lebih dari pada aku."
"Apa? Hahaha... Iya... Iya suami tampan yang sedang cemburu," ledek Debby pada Rumi yang sudah melenggang pergi menghampiri Jimmy dan Justin.
Bersambung...
__ADS_1