Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
dilema


__ADS_3

Selepas Maghrib Rumi dan Debby sudah kembali dari rumah sakit guna memeriksa kandungan.


Kehamilan yang kini masuk bulan kelima, membuat perut Debby semakin nampak.


Hal yang selalu di nanti, ketika gerakan-gerakan kecil dari janin yang ia kandung mulai terasa. Membuat tawa gemas Debby yang tiba-tiba terdengar renyah.


"Kak, Dia bergerak lagi." Kata Debby yang sedang duduk di meja makan, sembari menonton sang suami yang sedang sibuk menyiapkan hidangan makan malam yang mereka beli tadi. Rumi pun tersenyum, ia berjongkok sebentar menyentuh perut istrinya.


"Kalau aku sentuh belum kerasa ya, Dek." Kata Rumi, mengusap-usap.


"Bisa jadi nanti, nunggu beberapa bulan lagi. Kalau aku melihat di aplikasi Vidio singkat mereka akan aktif bergerak di usia jalan delapan hingga sembilan bulan. Bahkan hanya dengan tatapan mata, kak Rumi bisa melihat perut ini bergerak-gerak."


"MashaAllah, tidak sabar jadinya." Rumi mencium perut Debby. Lalu beranjak, ia mendapati susu hamil yang belum juga di minum istrinya. "Ini sudah agak dingin, ayo di minum susunya."


Debby meraihnya lalu meminum susu khusus ibu hamil dengan varian coklat, hingga habis separuhnya.


"Abi tadi pulang jam berapa ya?" Tanya Debby.


"Jam lima lewat seperempat Dek. Katanya sempat terjebak hujan jadi agak telat."


"Ya ampun kasian, jadi nggak enak sama Abi karena mobilnya kita bawa."


"Abi nggak masalah kok, berdoa saja aku lekas punya mobil sendiri."

__ADS_1


"Aamiin..." Debby kembali meminum sisa susunya hingga hampir habis. "Emmm, Kak? Papa sempat bilang. Katanya mobil yang dulu di pakai aku, suruh di bawa saja ke-Jakarta lagi pula di Bandung tidak pernah di pakai."


Rumi pun duduk, ia mengusap kepala sang istri. "Aku bukannya menolak. Tapi, jujur saja aku agak gimana kalau memakai barang yang sejatinya milik kamu, dari sebelum kita menikah."


"Agak gimana, apanya? Itu kan memang mobil hadiah kelulusan ku dulu. Jadi tidak masalah kalau kita mau pakai."


Rumi hanya tersenyum, ia pun beranjak guna membereskan bungkus-bungkus yang sudah kosong.


Debby yang mengamati tidak bisa untuk berbicara apapun lagi, memang semenjak mereka menikah. Hal yang sudah membuat Debby hafal adalah sikap Rumi yang kurang suka menerima pemberian apapun dari orang. Kalau di tanya, jawabnya selalu sama, ia sendiri tidak tahu apa alasannya. Yang jelas Rumi lebih suka menggunakan sesuatu yang hasil dari kerja kerasnya sendiri. Lain halnya jika itu sebelum menikah, pemberian orang tua sudah pasti dia akan menerimanya, hal yang membedakan adalah, karena Debby itu tanggungjawabnya jadi semua yang menjadi kebutuhan mereka harus Rumi yang mencukupi.


"Kak, tiga bulan lagi. Kak Gallen menikah."


"Oh ya?" Rumi menoleh dengan ekspresi semangat.


"Iya, tapi aku khawatir kalau kita datang. Kita bakal di usir lagi, nggak ya?"


"Kalau pemberkatannya pagi pukul sepuluh, sementara resepsinya malam."


"Ya sudah kita datang malam saja ya. Karena kita tidak mungkin ke Gereja kan."


"Iya aku paham, Mama pun mengusulkan seperti itu." Debby tersenyum ceria.


"Ya sudah habiskan susunya, kita sholat Isya." Kata Rumi yang sudah mendengar adzan isya mulai berkumandang.

__ADS_1


***


Ayam-ayam berkokok menandai datangnya hari baru. Pagi yang cerah memang pas untuk mengawali hari dengan penuh rasa syukur, ustadz Irsyad pun sudah jalan sejak pukul enam pagi tadi, mengajar kelas pagi di mana hari itu akan di adakan kuis.


Hingga tanpa terasa mentari yang semakin meninggi pun mulai memburatkan hawa panas yang cukup terik.


Baru selesai Ustadz Irsyad mengajar, beliau kini kembali ke ruangannya dua puluh menit sebelum masuk waktu Dzuhur.


Ustad Irsyad meraih tasbihnya, lalu berjalan menuju masjid yang tak jauh dari ruangan para dosen. Menjalani ibadah bersama, di ruangan yang sejuk tempat paling nyaman untuk menyembuhkan segala gundah gulana kehidupan yang penuh dengan hiruk pikuk.


Ustad Irsyad duduk menyandar, membaca ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang amat lirih. Baru beberapa ayat beliau baca, lantas teringat satu masa, gadis yang senantiasa memurojaah hafalannya di masjid ini. Kepala itu terangkat, lantas menghela nafas. Ini sudah kesekian kalinya. Rasa tidak nyaman terus saja menguasai dadanya.


Mengingat ucapan pak Huda, lantas apa yang di lakukan Isti kemarin. Beliau pun menutup kembali Al Qur'an di tangannya lantas melepaskan kacamata.


"Kalau seperti ini mengganggu juga, aku bukan ABG yang harus merasakan zulzilu di dada. Astagfirullah al'azim..." Gerutu Ustadz Irsyad, yang memilih untuk beranjak saja dari sana.


Di ruangan kantor. Beliau tengah makan siang, bersama dengan pak Huda dan juga Ustadz Rahmat.


Ustadz Irsyad masih saja menjadi incaran pak Huda. Dengan sesekali bertanya mengenai pendamping hidup.


"Sebenarnya juga jika Ustadz Irsyad hendak memperistri seorang wanita lagi ketika keduanya sama-sama Soleha inshaAllah bisa menjadi satu di surga kelak. Bukankah antum sendiri paham tentang ayat 55 hingga 57 di surat Yasin. Tentang penghuni surga yang pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta." Tutur Ustadz Rahmat.


"Iya Ustadz, berbeda dengan perempuan yang hanya bisa bertemu dengan satu suami terakhirnya yang paling Soleh. Di antara beberapa suaminya apabila dia menikah lagi."

__ADS_1


Ustadz Irsyad terdiam sejenak. Memang, sebelum Rahma meninggal Rahma pun pernah menawarkan untuk dirinya menikah lagi. Karena tanggungjawabnya sebagai istri untuk memenuhi hasrat suaminya tidak bisa ia penuhi di beberapa tahun terakhirnya karena kelumpuhan saraf.


"Pikir-pikir lagi saja, jika sudah mantap nanti saya sampaikan pada Isti." Ujar pak Huda kemudian. Membuat Ustadz Irsyad memilih untuk menjalankan shalat istikharah. Demi menerima jawaban yang pas.


__ADS_2