Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
berbicara empat mata dengan Abi


__ADS_3

Rumi berjalan menuruni anak tangga, dengan bungkusan masih di tangannya, ketika berhasil menjauhkan kue tersebut dari istrinya.


Nampak konyol memang, padahal dia bukan termasuk tipe pria yang kekanak-kanakan hanya karena cemburu.


Tapi entah mengapa saat Debby berbicara, tentang makanan itu adalah makanan kesukaannya dan Justin juga? Seolah muncul hawa panas yang ia rasakan saat di lift, petang tadi.


Saat tiba di lantai bawah, ia mendengar suara televisi yang berada di ruang tengah, menyala. Tanda Abinya pasti sedang menonton di sana.


Ya... Semenjak tidak ada Umma, Abi lebih sering menghabiskan waktu malamnya di ruang TV. Bahkan sering ketiduran di sana juga.


Langkah yang tadinya hendak menuju ke dapur ia batalkan. Dan memilih untuk mendekati ruang tengah itu, melihat Abinya.


"Bi?"


"Ya?" Abi menyaut, padahal matanya seperti terpejam. Membuat Rumi mengira Abinya sudah tidur. Namun rupanya tidak, beliau hanya menyipitkan matanya saja.


"Kirain Abi tidur di sini lagi. Pindah aja ke kamar Bi. Nonton di kamar," kata Rumi sembari meletakkan bungkusan mooncake yang ia bawa keatas meja, dan duduk setelahnya.


"Nanti aja, Abi suka tiduran di sofa. Cepat membuat Abi terlelap. Kalau di kamar? Abi malah jadi nggak bisa tidur," jawab Abi Irsyad yang di maklumi oleh Rumi.


Abinya pasti kesepian sekali, karena tidak ada Umma.


Di kamar mereka, semua kenangan Umma masih ada, seperti pakaian yang masih tertata di lemari. Karena Abi tidak ingin mengemasnya hanya untuk di pindahkan ke gudang. Beberapa alat makeup, bahkan gamis terakhir sebelum Umma drop pun sengaja masih di gantung beliau di balik pintu kamar. Semua barang-barang Umma masih utuh, tidak ada yang di keluarkan dari kamar mereka. Terkecuali kursi roda, itu saja baru beberapa hari yang lalu beliau pindahkan ke gudang.


Di sisi lain Abi sempatkan untuk menoleh, ke bungkusan yang di bawa anak sulungnya tadi.


"Apa itu?" tanya beliau yang membuat Rumi tersadar, setelah terdiam dengan tatapan tidak tega dengan Abinya.


"Oh... Ini kue, khas orang China. Di kasih sama bosnya Rumi. Halal kok," jawab Rumi. Abi Irsyad pun beranjak duduk, membuka bungkusan itu lalu meraihnya satu. Beliau memakan itu dengan pelan dan rapi.


"Enak Bi?"


"Emmm... Enak. Nggak terlalu manis," jawab Abi Irsyad sembari mengunyah.

__ADS_1


Tubuh yang tambun, dan menua itu. Sepertinya lebih terlihat memprihatinkan. Bukan karena beliau tidak terurus, namun lebih ke kesendirinya Abi, dan beliau yang jauh lebih banyak diam sekarang. Padahal dulu Abinya lebih banyak membuka suara, menghangatkan suasana dengan candaan beliau.


Ya... mungkin karena hatinya yang pincang sekarang, membuat beliau seperti kehilangan separuh dari rasa semangat dalam hidupnya. Walaupun beliau berusaha untuk terlihat tegar, namun semua itu tak menutupi kesepiannya, selepas kepergian sang kekasih hati. Teman dalam hidupnya.


Hanya melihat Abinya makan saja, mata Rumi sudah mengembun. Sungguh, hanya tinggal Abi cinta pertamanya saat ini. Dia bahkan jadi takut, jika suatu saat Abinya menyusul Umma.


'sehat-sehat, Bi... Rumi sayang sama Abi. Rumi akan berusaha membuat Abi bahagia. Walaupun sudah tidak ada Umma.' gumam Rumi dalam hati, yang berusaha keras menahan air matanya.


Abi Irsyad menoleh. "Ngeliatinnya gitu banget? Makan juga dong."


"Iya Bi, nanti Rumi makan. Enaknya sambil ngeteh. Abi mau Rumi buatkan teh?" tanya Rumi.


"Nggak usah, Abi sudah minum teh satu mug besar, yang di buatkan Debby tadi. Perut Abi masih sedikit kurang nyaman," jawab Abi yang lantas memasukkan sisa potongan kue di tangannya sekaligus.


"Oh, ya sudah. Rumi ambilkan air putih saja ya, kalau begitu."


"Iya," jawab Abi. Rumi pun beranjak hanya untuk mengambil dua gelas kosong dan satu botol air mineral, lalu kembali lagi ke ruangan itu.


"Ini Bi, minum dulu." Rumi menuangkan air ke dalam gelas. Lalu menyerahkannya kepada Abinya.


Selama Abi Irsyad meminum airnya, Rumi pun menuangkan air ke dalam gelasnya sendiri, lantas meminumnya.


"Alhamdulillah..." Abi kembali meletakkan gelasnya ke atas meja. "Debby sudah tidur?"


"Belum Bi," jawab Rumi.


"Lah... Kok kamu malah ke sini? Nggak menemani isteri mu? Bawa saja itu kuenya. Makanlah sama Debby."


"Emmm... Debby bilang lagi nggak ***** makan kue itu," jawab Rumi asal sembari terkekeh.


"Masa iya?"


"Iya Bi." Nyengir.

__ADS_1


"Ya sudah, emmm... Bagaimana pekerjaan mu?"


"Alhamdulillah lancar Bi. Tapi agak lelah juga sih sebenarnya kalau seminggu tiga kali ke Bandung, sudah gitu langsung balik ke Jakarta."


"Kalau kamu mau ngontrak sementara sama Debby di Bandung, nggak papa kok."


"Nggak Bi. Rumi nggak bisa ninggalin Abi sendirian."


"Kamu bisa pulang semingu sekali seperti dulu kan?"


"Tetap Rumi nggak bisa Bi ninggalin Abi. Nggak papa Rumi kuat kok."


"Seberapa tahan kamu jalan dari Bandung ke Jakarta menggunakan sepeda motor? udah gitu petangnya balik lagi, Walaupun hanya seminggu tiga kali itu tetap melelahkan."


Rumi tersenyum tipis, ia mencoba untuk berfikir. Karena apa yang Abinya bilang ada benarnya juga. Tapi tidak mungkin juga dia meninggalkan Abinya sendiri di rumah, kalau hanya meninggalkan Debby di sini tidak enak juga. Debby pasti akan merasakan canggung.


"Rumi, Abi itu tidak apa-apa kok. Kalau kamu mau ngontrak di Bandung, dan pulang ke Jakarta seminggu sekali."


Rumi menghela nafas. "Nanti aja Rumi pikirkan lagi, Rumi juga harus berunding dengan Debby."


"Iya... Abi hanya ingin, kamu jangan merasa terbebani hanya karena Abi sendirian di rumah ini. Dulu... Sebelum Abi menikah, Abi juga sudah hidup sendirian di rumah ini." Beliau terkekeh pelan.


"Itu dulu Bi, kondisinya Abi masih bujangan. Lain dengan yang sekarang."


"Tapi Abi mudah beradaptasi dengan situasi yang baru kok," jawab Abi Irsyad, sembari tersenyum.


Rumi pun terdiam, sejenak. Sebenarnya dia tidak ingin berbicara seperti ini. Namun sudah lebih dari tujuh bulan selepas kepergian Umma, mungkin ini saatnya dia berbicara serius.


"Abi, Rumi mau tanya? apakah mungkin dalam hati Abi, ada sesuatu yang ingin di sampaikan pada Rumi dan Nuha?"


Kening pria berusia lima puluhan itu berkerut tidak mengerti.


"Begini, mungkinkah?" Rumi mencoba berbicara hati-hati. "Abi ada niatan untuk memiliki teman hidup Abi yang lain?"

__ADS_1


Ustadz Irsyad yang mendengar itu langsung terdiam, beliau membeku seketika.


__ADS_2