
Aku bukanlah manusia suci yang tak berdosa. Aku juga manusia biasa, yang bahkan sering melakukan kesalahan serta kekeliruan.
Jalan yang ku tempuh pun terkadang tidak semulus apa yang ku harapkan. Walaupun kita sudah berusaha berkelakuan baik. Tidak menutup kemukiman, aku masih bisa membuat khalayak ramai kecewa padaku.
- Rumi Al Fatih -
🌸
🌸
🌸
Pagi yang cerah, secerah hati sepasang pengantin baru ini.
Nampak mereka tengah sibuk mengemas pakaian yang akan di bawa Debby. Karena mulai hari ini, mungkin untuk waktu yang lumayan lama keduanya akan tinggal di rumah Rumi.
Sudah menjadi kesepakatan sebelumnya, ketika Rumi bertanya apakah Debby bersedia tinggal bersama kedua orangtuanya? Saat Maryam berkata setuju untuk menerima pinangan dari Rumi untuk Debby. Dan gadis itu mengiyakan, dia memahami kondisi ibunda Rumi sedang tidak sehat, dan lebih banyak menghabiskan waktunya di atas ranjang. Jadi dia memutuskan untuk bersedia tinggal di rumah itu.
Saat ini, sepertinya tugas merapikan lebih banyak di Rumi, karena harus berkali-kali mengarahkan cara untuk menata pakainya agar muat lebih banyak. Hingga akhirnya dia sendiri lah yang mengambil alih.
"Selesai." Ujar Rumi seraya menutup resleting koper tersebut. Debby tersenyum, dia pun mengacungkan dua ibu jarinya.
"Hebat sekali suami ku." Pujinya, namun alih-alih tersanjung. Rumi malah justru menarik pipi Debby. "Aaaa..." Rengeknya.
"Senengnya, akhirnya aku semua kan yang beresin." Menggerutu. Sementara Debby terkekeh.
"Aku kan sibuk kak." Mengusap-usap pipinya yang baru saja di lepaskan oleh Rumi.
"Sibuk apa, hah?"
"Sibuk mengabadikan momen suami ku yang sedang membantu ku mengemas pakaian." Nyengir, sembari memamerkan hasil jepretannya menggunakan kamera ponsel.
Rumi pun menarik nafas, ia menurunkan koper yang berada di atas ranjang itu tanpa berbicara lagi. Hingga tangan Debby meraih lengan itu, memeluknya. "Maaf, kakak tidak suka ya?"
"Suka. Lebih-lebih kalau di kasih hadiah," tersenyum. dia mengetuk-ketuk pipinya, Minta di cium. Membuat Debby langsung saja memberikan kecupan di sana.
Rumi tersenyum, ia pun membalasnya. Namun yang ia berikan bukanlah sebuah kecupan di pipi, melainkan di bibir sang istri. Menempelkannya dan terdiam, lalu melepaskannya lagi.
"Alhamdulillah." Gumam Rumi, seraya membelai rambut sang istri lembut. Dengan tatapan tertuju pada mata sayu yang tak terlalu sipit tengah sama-sama menatapnya, balik.
"Kenapa mengucap hamdalah?"
"Wujud syukur ku, karena bisa merasakan ini, bersama mu." Jawab Rumi, kedua pipi Debby merona.
"Aku baru tahu, kak Rumi pandai merayu."
"kok merayu? Itu sungguh-sungguh rasa yang perlu kita syukuri, dek. karena kita sedang masuk dalam naungan Allah, sebab cinta yang menjadi halal. Sehingga hanya dengan saling menatap mata saja, Allah SWT sudah memandang kita dengan penuh cinta. Dan lagi?" Rumi meremas tangan Debby, dengan pandangan masih tertuju pada wanita yang seperti berusaha mengalihkan pandangannya terus karena malu.
__ADS_1
"Hanya meremas tangan ini saja, dosa kita sudah saling berguguran." Mencium pipi Debby, namun perlahan menurunkan tubuhnya. Sepertinya belum puas Rumi bermain pada bibir ranum sang istri. Dia kembali menyatukan itu lagi, hingga beberapa detik. kemudian saling pandang lagi setelah melepaskannya.
Debby mengusap pipi Rumi, "aku boleh jujur."
"Apa?"
"Tapi jangan marah, aku tanya ini."
"Tergantung, pertanyaan apa dulu?" Mengecup kening Debby lembut, dengan mata yang terpejam.
"Aku sempat, ragu pada mu."
"Ragu?" Bertanya dengan bibir masih sedikit menempel di kening istrinya.
"Iya, aku pikir Kak Rumi menyukai mbak Shafa. Karena dia wanita Solehah. Dan kak Rumi sempat hendak ta'aruf dengannya kan?"
Rumi Melepaskan kecupan itu, lalu beranjak duduk. Bersamaan dengan Debby juga.
"Kak Rumi marah, ya?" Tanyanya khawatir, sembari memegangi lengan kanan Rumi, dengan kedua tangannya. Sementara tangan kiri Rumi mengusap punggung tangan sang istri.
"Enggak Dek."
"Lalu kenapa diam?" Memiringkan kepalanya, mengintip wajah Rumi yang menunduk, pria itu pun menoleh lalu mengusap-usap kepala Debby.
"Aku jadi kembali merasa bersalah."
Debby murung, ia merenggangkan pegangannya, lalu dudu menyamping, sedikit membelakangi Rumi. Sehingga membuat Rumi segera meraih tubuh Debby memeluknya.
"Kakak, aku juga merasakan hal yang sama kok." Tuturnya dengan pandangan kosong. Menikmati setiap sentuhan yang di berikan Rumi. Walaupun hanya sebuah kecupan di bahu hingga ke leher.
"Sudah jangan bahas lagi. Keluar yuk... Tidak enak sama Tante, kalau kita di dalam terus." Rumi Melepaskan pelukannya. Membuat Debby langsung memutar tubuhnya meraih lengan itu lagi.
"Kak, jangan duakan Debby ya."
Rumi mengernyitkan dahi. "Bicara apa sih kamu? Sudah jangan di bahas lagi. Ayo kita keluar." Rumi beranjak. Sementara Debby masih terdiam di bibir ranjang itu.
Rumi yang melihat istrinya murung pun langsung kembali berjongkok di hadapannya. Ia menyentuh wajah itu dengan lembut menatap penuh kasih sayang.
"Baru kemarin aku berikrar untuk mu, apa aku sudah membuat kamu sedih?" Tanya Rumi. Debby pun menggeleng. "Lalu kenapa?"
"Aku takut, kakak meninggalkan ku. Hanya karena aku tidak sesoleha wanita yang seharusnya menjadi kekasih halal mu. Dan saat ini, posisi ku sudah seperti wanita yang merebut cinta laki-laki yang tak seharusnya hidup bersama ku."
"Kok, ngomong gitu?" Rumi mengerutkan kening, tidak mengerti.
Debby pun mengingat ekspresi Aida kemarin. Seperti ada yang lain, sebelumnya beliau amatlah ramah, namun tidak untuk kemarin. Saat menyalami Rumi, memang wajahnya sudah terlihat tidak senang. Hingga Aida berjalan mendekat pada Debby yang langsung mengulurkan tangan itu ke arah Aida, ibunda dari Shafa itu malah juu mengabaikannya. Membuat dia tersenyum kecut dengan tangan masih mengarah ke padanya yang di lalui begitu saja, lalu beralih ke tamu yang lain.
"Dek?" Panggil Rumi.
__ADS_1
"Ya... Aku cuma merasa seperti itu. Karena yang ku tahu kan, kakak akan menikahi mbak Shafa. Jadi aku masih merasa bersalah dengan dia, andaikan aku tidak datang saat itu. Mungkinkah, kak Rumi tetap bersama dia??"
Rumi menggeleng. "Hari itu, aku datang pun dengan perasaan bimbang. Dan kita pun niatnya hanya silaturahmi, tidak lebih. Bukan maksud untuk melamar Shafa, hanya mencoba untuk lebih mengenal. Tapi memang tak bisa ku pungkiri, hal itu malah justru memicu luka untuk sebagai besar dari pihak Shafa. Dan aku menyadari itu kok. Di sini yang salah bukan kamu, tapi aku dek. Aku yang sudah melukai dia."
Debby menitikkan air matanya.
"Bagaimana cara menjelaskannya ya?" Rumi menggenggam semakin erat kedua tangan sang istri, tatapannya semakin sendu terlihat. "Intinya, aku tidak bisa memberikan hati pada wanita yang sudah benar-benar ku anggap sebagai kerabat dekat. Dan Shafa itu sudah seperti kakak perempuan ku, wallahi sayang."
Air mata Debby kembali menetes. Dan langsung di hapus oleh Rumi.
"sementara kamu? Aku benar-benar bergetar di dekat mu, sejak saat aku melihat mu mengenakan hijab yang ku beli untuk mu dulu di Bandung, lalu ketika kau menghilang tanpa kabar sesungguhnya hati ini merasa ada yang hilang, cuma aku berusaha keras menepis itu. Hanya ku simpan nama Debora Aruan di hati ku, dan rasa berserah ku kepada sang pemilik hati untuk memberikan wanita mana yang pas untuk ku."
Rumi mengecup kedua tangan Debby lembut, "lalu apa aku salah, ketika aku lebih memilih wanita yang ku Kagumi? Sekarang, bagaimana perasaan Shafa, ketika aku menikahinya? Namun hati ku bertaut kepada mu? Kita akan sama-sama terluka. Jadi tolong jangan berfikir kamu merebut ku, karena aku tidak pantas untuk di perebutkan. Dan satu lagi" Rumi mengangkat kepalanya menatap Debby lagi.
"Aku itu sayang sama kamu, dek. Lebih dari apa yang kamu bayangkan. Dan ketika kamu sedih, maka aku akan merasa gagal karena tidak bisa menjadi penguat di hati mu. Tolong jangan pernah ragukan Ikrar cinta ku untuk mu."
"Hiks..." Debby langsung menurunkan tubuhnya menghambur pada pria yang langsung memeluknya erat. "Aku mencintaimu kak. Aku nggak mau kehilangan mu."
Rumi mengusap matanya sendiri yang basah. Dengan bibir tersungging senyum.
"Mau terima aku apa adanya kan?" Tanya Rumi, yang langsung di jawab dengan anggukan kepalanya. "Walaupun aku masih pengangguran?"
"Aku tidak akan mempermasalahkan itu. Aku kan masih kerja." Debby mengangkat kepalanya menatap Rumi.
"Tapi, aku pengennya sih kamu tidak bekerja. Biar aku saja."
"Emmmm... Aku boleh pikirkan itu dulu tidak?"
"Boleh, tapi lekas beri keputusan ya. Bukan berarti aku meminta mu untuk menjadi perawat ibu ku. Cuman?" Rumi bingung ingin menjabarkannya, ia takut Debby salah faham.
"Aku bersedia kok merawat Umma Rahma. Kalau kak Rumi mau aku di rumah karena itu?"
"Bukan karena kemauan ku sayang. Tapi?"
"Iya aku paham, aku hanya ingin menjemput surgaku dari mu. Jadi aku tulus bukan karena kak Rumi yang mau. Begitu kan?"
Kedua mata Rumi berbinar. "Kamu sungguh-sungguh, sayang?"
"Iya, tapi... Kalau untuk waktu dekat ini sepertinya aku masih belum bisa, kak. Tapi nggak lama kok, paling lama dua bulan deh. Boleh ya..."
"Iya sayang." Rumi mempererat pelukannya. "Aku janji akan berusaha keras untuk membahagiakan mu, mencukupi kebutuhan mu."
"Hehehe mudah-mudahan suami ku di beri kesehatan selalu dan pekerjaan yang mapan serta rezeki yang murah. Nggak perlu melimpah, yang penting berkah, dan cukup. Begitu kan doanya?"
"Aamiin... Aamiin... MashaAllah istri ku."
"Cium... Cium..." Rengek Debby manja, sehingga membuat Rumi tergelak.
__ADS_1
"MashaAllah... Masih pagi, loh. Rambut mu saja baru kering. Sudah mancing syahwat lagi." Rumi menciumi wajah Debby yang tengah terkekeh dan berakhir di bibirnya, menyatu cukup lama dan setelahnya mereka pun kembali berpelukan hingga beberapa saat sebelum keluar dari kamar itu.
Sementara Ci Maryam, hanya geleng-geleng kepala, senyum-senyum sendiri. sembari menikmati santap paginya sebelum keluar. Dia tidak mau mengganggu dua keponakannya itu, jadi biarkan saja keduanya di dalam kamar itu. Terserah mau berapa lama... Ia memaklumi sekali bagaimana sepasang pengantin baru itu, yang masih betah berduaan di dalam kamarnya.