
Waktu terus bergulir sudah ada hampir satu jam, Rumi belum juga beranjak dari posisinya. Membuat Debby memutuskan untuk keluar dari ruangan sholat tersebut, sejenak. Menuju kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaian.
Dan saat keluar dari tandas, Rumi belum juga nampak di kamar mereka. Ia pun kembali turun setelah memakai pakaiannya.
Dan yang ia dapati masih sama, Rumi belum bergerak dari posisinya. Entah zikir apa yang ia baca, karena kalau kata Nuha, Rumi memang seperti itu jika sedang memiliki masalah.
Cuman, bedanya untuk saat ini. Hatinya benar-benar merasa kehilangan, membuat dia menjadi lebih betah berzikir di atas alas sujudnya.
Debby kembali duduk di belakang Rumi, ia menyandarkan kepalanya di dinding karena lelah, juga perutnya yang mulai terasa perih karena belum sarapan.
selang setengah jam lebih, Rumi meletakan tasbihnya. Membuat Debby merasa lega.
"Kak Rumi, makan yuk." Ajaknya bersemangat, saat melihat pria itu menoleh kebelakang.
Rumi pun hanya mengulas senyum, mengusap kepala Debby sembari beranjak tanpa menjawabnya.
Gadis itu pikir Rumi akan berjalan menuju meja makan, namun tidak dia malah berbelok ke sebelah kiri bukan ke arah kanan menuju ruang maka. Rupanya hanya kembali mengambil air wudhu lalu berjalan masuk ke dalam ruangan solat itu lagi. Sebelum masuk, Debby sempatkan untuk menahan lengan sang suami.
"Kak, makan dulu. Ini sudah lewat jam sembilan." Ucap sang istri. Rumi meraih tangan Debby.
"Nanti ya... Kamu makan dulu saja." Melepaskannya pelan, lalu kembali masuk kedalam ruangan solat itu. Mata Rumi benar-benar sembab, berjalan lunglai lalu berdiri di atas sajadahnya.
Ia mengangkat kedua tangannya sebatas telinga. "Allahu Akbar..."
Pria itu melaksanakan empat rakaat shalat Dhuha. Debby menatap sendu, dan segera menggeleng cepat lalu berjalan menuju meja makan dengan lesu.
Saat dirinya tengah menyantap makanan secara ogah-ogahan. Nuha menghampiri sang kakak ipar, lantas duduk di hadapan Debby.
"Kak Rumi belum keluar?" Tanya Nuha. Debby menggeleng dengan senyum mengembang.
"Dia solat Dhuha dulu. Mungkin setelah ini mau makan," jawab gadis itu, seraya meraih nasi seujung sendoknya. "Makan..." Menawarkan.
"Iya Ci... Aku masih kenyang." Jawab Nuha, Debby pun tersenyum tipis.
__ADS_1
Selang beberapa menit berlalu, Rumi keluar dari ruangan solat. Ia menghampiri meja makan itu, membuat Debby langsung beranjak lalu mengeluarkan kursi di sebelahnya.
"Dek, Abi sudah ke makam Umma?" Tanya Rumi pada Nuha. Belum duduk di kursi yang di keluarkan Debby.
Membuat Nuha merasa tidak enak melihat pemandangan itu. Terasa kasihan dengan kakak iparnya.
"Emmmm... Iya, baru saja."
"Ya sudah." Rumi menoleh ke arah Debby. "Aku ke makam dulu ya,dek?"
"Ini, makannya? Kakak belum sarapan kan?" Ucap sang istri.
"Aku tidak lapar... Maaf ya, aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Debby membeku saat Tangannya yang hendak meraih tangan Rumi di abaikan. Nuha yang melihat itu pun geleng-geleng kepala, lalu berjalan mendekati Debby.
"Cici harus lebih sabar ya sama Kak Rumi. Sebenarnya, kak Rumi itu saking sayangnya sama Umma, dia jadi seperti itu sikapnya. Maafkan Kak Rumi ya." Ucap Nuha merasa tidak enak. Mata Debby sebenarnya mulai menggenang namun ia tahan. Bukan apa-apa, ia jadi seperti tak mengenali Rumi saat ini.
Debby terkekeh "Nggak dek.... Menurut Aku, itu wajar kok. Kan baru dua hari, kalau sudah beberapa hari mungkin dia akan membaik. Dia kan laki-laki beriman." Jawab Debby. Nuha pun tersenyum.
"Aamiin..." Jawab Debby. Keduanya sama-sama menyunggingkan senyum.
"Neng–" seruan Faqih terdengar.
"Iya A'...." Nuha menyaut, ia kembali menatap ke arah Debby. "Aku tinggal dulu ya Ci, Ziya sepertinya membutuhkan aku."
"Iya." Jawabnya lirih sembari tersenyum. Dan setelah Nuha menjauh, Debby kembali duduk dengan lunglai. Bola matanya bergerak-gerak menahan bulir beningnya agar tak menetes.
'wahai Zat yang maha pengasih, lapangkan lah dada ku, luaskan sabar ku. Sejatinya aku hanya wanita yang lemah, demi Engkau aku rela mengabdikan diri untuk suamiku... Dia pria yang salih, aku percaya itu.' batinnya menatap kosong dengan sendu. Dan kembali menghela nafas, demi bisa menghalau perasaan yang mengganjal di hatinya.
🥀
🥀
__ADS_1
🥀
Di area pemakaman...
Ustadz Irsyad sudah duduk bersila, beralaskan sendal yang Beliau kenakan sebagai alas duduknya. Beliau saat ini tengah khusyuk memanjatkan doa, di susul Rumi yang baru saja tiba, dia pun langsung melepaskan sendalnya melakukan hal yang sama menjadikan itu sebagai alas duduknya. Lalu berdiam diri menatap ke arah tanah gundukan yang masih basah dengan bibir bergumam membaca doa.
Sudah cukup lama Keduanya berada dalam keheningan, dalam doanya masing-masing.
Di mana Abi Irsyad melirik Rumi sejenak lalu kembali menatap ke arah makam.
"Umma itu memang cinta pertama dalam hidup mu, wanita yang paling kau cintai dan kau hormati di dunia ini." Gumam Abi Irsyad, pada Rumi yang baru saja mengusap wajahnya setelah selesai berdoa. Pria itu terdiam, dengan posisi sedikit menunduk. "Dan istri mu, adalah wanita kedua yang akan menjadi teman hidup mu, hingga akhir hayat mu. Entah siapa dulu yang akan meninggalkan namun sebelum itu terjadi harusnya kalian bisa menciptakan sebuah kehangatan serta kedekatan lebih di antara kalian. Dan peran seorang suami harus lebih dominan memberikan perhatiannya kepada sang istri, itu wajib kau lakukan. Jangan sampai istri mu merasa di abaikan, apa lagi dia ikut kau di sini."
Rumi berdeham tanpa menjawab sepatah katapun. Ia menyadari sikapnya itu sedang tidak baik, namun hatinya butuh waktu untuk memberi perhatian lagi pada orang lain. Karena tidak hanya dengan istrinya. Dia juga tidak bisa di ajak bicara oleh siapapun.
Semangat hidupnya sedang hilang, yang ada saat ini hanya kehampaan dan rasa kosong di hatinya.
Rumah itu pun seolah tidak lagi bernyawa, sama seperti jasad sang ibu. Tidak ada Umma Rahma, rasanya dunianya turut mati. Begitulah perasaan Rumi saat ini, bahkan saking kosongnya seolah tidak ada orang lain di sekitarnya saat ini.
*****
Kembali ke rumah...
Rumi masuk ke dalam kamar, di mana Debby tengah duduk di atas ranjang. Ia tersenyum menyambut datangnya sang suami, membuatnya langsung bangkit dan menghampiri Rumi yang tengah berdiri di depan lemari pakaian meraih kaos oblong.
Kedua tangannya langsung melingkar di pinggang Rumi memeluk dari belakang. "Assalamualaikum." Ucap Debby ceria, membuat Rumi tersenyum tipis mengangkat beberapa pakaian di bagian atas sedikit, lalu menarik pelan salah satu di bawahnya.
"Jawab... Jawab..."
"Jawab apa dek?" Rumi menutup lemarinya.
"Huuuhhh... Salam ku." Merengek. Rumi pun hanya geleng-geleng kepala lalu melepaskan pelukan sang istri.
"Walaikumsalam." Jawabnya, kemudian berjalan masuk ke dalam tandas. Sementara Debby yang masih di luar pun hanya tersenyum kecut. Sampai kapan akan seperti ini? Pikirnya.
__ADS_1
Namun ia tetap percaya semua sikap dinginnya itu tidak akan lama, karena Rumi adalah pria penyayang juga salih. Dia pasti akan memegang teguh Ikrar cintanya, dan tugas Debby hanya bersabar sebentar saja.
Bersambung...