Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
ujian awal seorang Mualaf


__ADS_3

PERHATIAN!!! (Tolong di pahami👇)


mohon maaf untuk semuanya ya, kali saja ada orang non muslim yang membaca. Aku nggak menghujat orang non muslim seperti ini semua.


Aku mengutip sepenggal kisah dari salah satu kenalan ku, dan kisah Debby pun sebenarnya ada dalam kehidupan nyatanya, walaupun nggak semuanya ya.


Aku cuma ngutip dari perjalanan dia ketika berpindah keyakinan, dan bagaimana respon keluarganya.


Mudah-mudahan sih... nggak jadi perdebatan hingga menimbulkan sebuah ujaran kebencian. Nggak semua seperti itu kok, dan menurut ku, kekecewaan sebuah keluarga ketika salah satu anggota keluarganya berpindah keyakinan itu pasti akan terjadi, dan itu lumrah. Entah dari pihak muslim yang pindah ke Non muslim, ataupun non muslim berpindah ke muslim. Jadi mohon di sikapi dengan bijak ya, agar novel ini bisa berjalan dengan baik tanpa terhambat apapun. Karena aku juga sebenarnya takut mau lanjut, tapi nggak papa... Niatku bukan untuk menjelekkan salah satunya kok. Ini hanya karya romantis kisah perjuangan seorang anak Ustadz dan anak pendeta yang menjalani ikrar tanpa restu dari pihak perempuan.... Intinya gitu lah hehehe.


🤗🤗 selamat membaca teman-teman.


🍂


🍂


🍂


Di sisi lain, mobil Debby sudah hampir memasuki kawasan tempat tinggalnya. Dia pun menepikan mobilnya lalu berhenti di bahu jalan.


Hatinya mendadak khawatir, lebih-lebih dengan hijab ini. Apa harus dia melepaskannya lebih dulu, karena sepertinya dia harus berbicara pelan-pelan pada keluarganya. Jika dia langsung berpenampilan syar'i seperti ini. Yang ada malah, akan membuat ibunya shock.


Debby menghela nafas, serangan panik tiba-tiba saja menguasai dirinya. Sehingga dia pun mencoba untuk menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


Jari-jarinya terus mengetuk-ketuk lingkaran setir di hadapannya. "Duh... Gimana ya? Tiba-tiba jadi ciut gini nyali ku." Batin Debora, ia sudah tidak lagi merasa sedih seperti saat baru keluar dari rumah Shafa. Ia malah justru mengkhawatirkan dirinya sendiri.


"Aaaaa.... Gimana ya? Duh... Gimana ini?" Debby menggigit ujung kukunya. "Telfon Tante Maryam saja lah." Dia pun meraih ponsel di tasnya, lalu mendapati ponselnya yang mati.


"Yah... Lowbat? Duh... Di saat butuh kekuatan seperti ini, malah lowbat ponsel ku?" Debby semakin panik, namun dia pun mengingat jika kini dia tidak sendiri. Debby sudah yakin akan pertolongan Tuhannya, dia pun mengucap bismillah.


'seorang muslim tidak boleh memperlihatkan auratnya di depan non-muslim. Apakah itu berlaku ya pada keluarga ku sendiri?' batin Debora, dia pun mencoba untuk melepaskan hijabnya, namun urung.


"Nggak... Aku harus tetap memakai kain penutup kepala ku. Sebagai identitas seorang muslimah." Debby kembali menyalakan mesin mobilnya. Berucap bismillah lagi, lalu pedal gas itu pun kembali ia injak setelah mengatur tuas giginya.

__ADS_1


Ya... Debora sudah benar-benar yakin. Dia akan menunjukan ini semua langsung pada kedua orangtuanya itu.


Semakin mobil itu masuk ke dalam kompleks perumahan. Jantung Debby terus saja berdebar semakin kencang, antar yakin dan tak yakin, namun kaki itu masih saja menginjak pedal gasnya seolah tidak ingin beralih menginjak yang lain, untuk menghentikan laju mobilnya.


Dan saat sampai di depan rumah, mobil pun berhenti di luar pagar. Di sana ia sudah melihat kak Gallen dan ibunya di luar.


Namun sepertinya ada yang lain. Lebih-lebih saat kak Gallen berjalan cepat menghampiri mobilnya.


Dia mematung sejenak di dapan kaca samping Debby. Air matanya terlihat menetes seketika, dia tidak percaya adiknya berhijab sekarang?


Gallen mengusap kasar matanya, lalu kembali mendekat dua langkah. Braaaaakkk.... Braaaaakkk... Dengan kasar Gallen menggebrak kaca mobil Debby.


"KELUAR CEPAT!!" Memekik dengan keras, membuat mata Debby terpejam sejenak lalu membuka lagi.


'Ya Allah... Aku berlindung dari amukan keluargaku.' Debby, gemetaran menyentuh sebuah kunci pintu mobilnya.


"Cepat...!!" Seru Gallen lagi. Perlahan tangan itu menekannya. Dan belum sempat dia membuka pintu mobil itu. Gallen sudah membukanya paksa.


Debby mulai terisak, dia bahkan hampir terjatuh karena kakaknya membawa dia dengan amat kasar.


Lalu melepaskannya sama kasar juga, hingga tersungkur di hadapan ibunya yang masih berdiri di sana, dan ayahnya yang baru saja keluar.


"Lihat dia...? Dia pakai baju muslim!!!" Hunus Gallen.


Karena tidak bisa membela diri, Debby pun hanya bisa menunduk seraya menangis. Nyonya Brigitta dengan kakinya yang seperti kaku, dia mendekat anak gadisnya lalu memukuli bahu anak itu dengan tenaganya yang masih ia tahan, sembari terisak-isak.


"Debby... Apa yang kamu lakukan? Hah!! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kau pakai ini? Lepas, lepaskan... Kau tidak sepatutnya memakai ini!" Teriak nyonya Brigitta.


"Jangan mah... Jangan lepas hijab Debby... Ampun mah... Tolong maafkan Debby. Ini sudah menjadi pilihan Debby." Debby memeluk kedua kaki ibunya yang masih saja memukulinya dengan gerakan yang semakin melemah.


"Siapa yang menghasut mu? Siapa? Katakanlah... Berani-beraninya dia menyuruhmu seperti ini... Dia menyuruh putri ku berpindah keyakinan? Hah!! SIAPA DEBBY, AYO KATAKAN...!!"


"Tidak ada yang memaksa ku mah, Debby masuk Islam sesuai keinginan Debby sendiri." Terisak, dia masih memeluk erat kaki ibunya.

__ADS_1


Gallen pun menarik kasar tangan itu lalu memaksa untuk melepaskan hijab milik Debby itu.


"Lepas Deb...! Ayo lepaskan hijab ini...!" Paksa Gallen, dia berbicara dengan nada serak akibat turut menangis. Merasa kecewa dengan adiknya itu.


"Jangan kak, ku mohon. Jangan...! Aku sudah berpindah keyakinan, aku sudah bersyahadat... Aku benar-benar sudah menjadi seorang muslim." Debby mempertahankan hijabnya itu. Sementara tangan Gallen melemas, matanya pun terbuka lebar. Dia semakin geram hingga di angkatnya tangan itu tinggi-tinggi hendak menampar Debby.


Gadis itu reflek memejamkan matanya, siap menerima tamparan dari sang kakak.


"Stop...!" Seru Tuan Yohan. Yang langsung membuat Gallen menghentikan niatannya itu. "Sungguh...! Aku, amatlah kecewa pada mu, Debora." Hanya berbicara seperti itu, dengan suara yang bergetar beliau pun langsung putar haluan, berjalan dengan menyeret kakinya masuk. Dada itu sepertinya semakin sesak terasa, terlihat dari beliau yang lantas menghentikan langkahnya di depan pintu, dengan satu tangan bertopang pada kerangka pintu. Sementara satu tangannya yang lain, meremas bagian dada sebelah kiri.


"Papah..." Debby merasa khawatir namun satu tangan sang ayah sudah terangkat sebatas telinga, memberi kode pada Debby untuk jangan berbicara apapun kepadanya.


Dia menghela nafas, dengan bibir yang ia kulum sendiri. Menangisi keputusan dari putrinya itu. Setelahnya dia pun berjalan lagi masuk kedalam rumahnya.


"Papah maaf..." Seru Debby masih sesenggukan, sementara sang ayah sama sekali tak menoleh balik ke arahnya, "Maafkan Debby papah... Ku mohon Papah maafkan Debora Pah–, Papaaaaah...!" Pekik Debora dalam Isak tangisnya.


Dia pun beralih pada sang ibu. Ia menelungkup kan kedua tangannya. Ia meminta maaf pada sang ibu yang masih saja menangis di sana.


"Mamah, maafkan Debby mah. Tolong terimalah keputusan Debby... tolonglah mah."


"Tidak...! Aku tidak akan menerima siapapun dari anak-anak ku yang berpindah keyakinan." Nyonya Brigitta kembali meraih hijab itu dengan paksa, lalu berusaha sekuat tenaga melepaskannya.


"Jangan mamah... Jangan...."


"Lepaskan... Lepas lepaskan hijab ini. Kau bukan muslim... Kau bukan seorang muslim...! ANAK KU bukan seorang muslim!" Hijab itu pun terlepas dari kepala Debby.


"Mah.... Kembalikan mah, mamah jangan sita hijab Debby mah." Debby berusaha meraih hijabnya itu namun di tahan oleh Gallen. Mata gadis itu pun tertuju pada semua peralatan sholat yang ia miliki, sudah tergeletak di atas meja. Yang dengan cepat di raih oleh ibunya juga, yang bergegas masuk kedalam rumahnya. Seketika hal itu membuat Debby menggeleng... "Mah jangan, mah. Mukena Debby mau di apain? kembalikan mah, jangan di sita. Jangan mah...!, Mamah tolong ampuni Debby mah. Tolong kembalikan mah. Mamaaaah...!"


Seolah teriakan dan tangisnya itu sudah tidak ada gunanya... karena tidak ada satupun yang membelanya, serta menerima keputusannya. Dia pun tidak bisa berkutik, dan pasrah saja saat sang kakak kembali menyeretnya masuk kedalam rumah, lalu mengurung adiknya itu di dalam kamar.


"Merenunglah di dalam, baca Al kitab sebanyak-banyaknya. Agar otak mu bisa berfikir lebih jernih lagi." Pekik Gallen dari luar. Sementara Debby hanya terisak, menurunkan tubuhnya hingga ia pun berjongkok memeluk lutut di balik pintu kamarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2