
Hari itu datang...
Hari di mana Ustadz Irsyad dan beberapa rombongan tiba di Magelang. Rombongan yang di antaranya adalah Nuha dengan tiga anaknya, A' Faqih, Ustadz Rahmat dengan Umma Hasna, pak Huda, seorang pengasuh yang membantu menjaga anak kembar Nuha, juga Rumi pastinya.
Ya– karena kandungan sang istri sudah semakin mendekati HPL, Dia jadi tidak bisa ikut walaupun amat teringin turut ikut mengantarkan Abinya ke kampung halaman, namun mau bagaimana lagi. Kondisi lah yang menahannya untuk datang ke Magelang.
Saat ini Debby pun sudah berada di Bandung, Karena rencananya ia akan melakukan proses persalinan di sana.
Suasana sejuk membuat Ustadz Irsyad menghirup udara dengan tarikan nafas yang panjang, lalu menghembuskannya pelan.
"Suasananya masih asri ya Ustadz." Tutur Ustadz Rahmat, beliau dan pak Huda memang sudah berniat untuk ikut mengantarkan Ustadz Irsyad ke Magelang, dari jauh-jauh hari. Makanya mereka sengaja mengambil waktu libur untuk ke tempat ini, menginap satu malam? Cukup lah untuk menghalau lelah selepas perjalanan jauh.
"Iya, soalnya masih banyak pepohonan. Di sini juga masih belum begitu banyak rumah. Ayo semuanya kita masuk."
Beberapa santri membantu membawakan tas milik putra dari Kyai muktar tersebut, setelah mencium tangan Ustadz Irsyad dengan sopan.
"Monggo– silahkan masuk." Satu orang mempersilahkan, di sana Mbah kyai Sarowi pun sudah menyambutnya dengan tongkat di tangan.
"MashaAllah, Irsyad." Binar mata sepuh dari pak lek Sarowi memancarkan rasa bahagia sekaligus rindu yang sudah lama menanti, terlebih Ustadz Irsyad belum pernah pulang lagi ke Magelang selama Rahma sakit dan meninggal dunia bahkan hingga saat ini.
"Assalamualaikum, pak Lek. Pie kabare?"
"Walaikumsalam– Apik, le. Among nambah tue, nambah sering ora penak awa'e," jawab Pak lek dengan bahasa Jawa yang benar-benar medok, sembari terkekeh. *(Baik, nak... Cuma tambah tua, tambah sering nggak enak badan.)
Ustadz Irsyad mengusap lengan kurus yang tertutup baju Koko berwana putih dengan sarung beliau.
Melihat pak lek nya sendiri Irsyad malah justru mengingat mendiang bapaknya, mungkin karena prawakan serta garis wajah yang lumayan mirip sehingga memandangi beliau sudah seperti memandang Kyai Muktar.
Ustadz Irsyad mengusap matanya yang sedikit basah, sembari berjalan masuk.
Para santri yang di mintai tolong untuk membantu pun nampak mondar-mandir. Ada yang menyuguhkan minum, ada pula yang menyuguhkan makanan.
Karena Pondok para santri dengan rumah orang tua Irsyad itu memang amat dekat, hanya perlu jalan kaki saja sudah sampai, masjid tempat beribadah pun ada di depan rumah.
__ADS_1
Jadi walaupun Ustadz Irsyad tinggal sendirian di rumah itu, beliau tetap tidak akan kesepian.
Riuh suara para santri yang sedang menyetor hafalan mereka pun sayup-sayup terdengar. Membuat yang berada di sana merasakan ketenangan sebab lantunan ayat-ayat Allah yang di bacakan.
"Betah saya di sini, kayaknya." Ujar pak Huda, yang lantas membuat mereka terkekeh.
"Kalau begitu di sini saja pak, temani saya." Kata Ustadz Irsyad menimpali.
"sebulan aja di sini sepertinya logat bicara pak Huda akan seperti Ustadz Irsyad," balas Ustadz Rahmat.
"Nah saya penasaran nih, Betawi campur Sunda seperti saya ini kalau jadi medok kaya gimana ya?"
"Di coba pak ngomongnya kaya saya." Pinta Ustadz Irsyad.
"Piye...? Piyeee...? Aku iso...?" Tutur pak Huda mengikuti logat Ustadz Irsyad yang malah justru aneh terdengar, dan hal itu sontak membuat yang di sana tertawa lagi.
Mereka pun kembali mengobrol ringan, bersamaan dengan pak lek dari Ustadz Irsyad itu, hingga masuk waktu shalat ashar. Dimana suara adzan sudah terdengar keras memanggil para santri dan jama'ah lainnya untuk segera menjalani ibadah sholat.
Di masjid itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama Ustadz Irsyad pun menjadi imam.
–––
Sore selepas Ashar, ketika langit sudah mulai sedikit menguning. Ustadz Irsyad berjalan sendirian, menyusuri jalan setapak di tengah-tengah sawah yang mulai menguning.
Sementara para sahabat dan anak-anak beliau sedang beristirahat di kamar mereka.
Saat ini Ustadz Irsyad tengah menggendong tangannya kebelakang berdiri sendirian di dekat saluran air, yang di buat khusus untuk mengaliri sawah. Tempatnya mencuci cangkul dulu ketika Rahma pertama kali menginjakkan kaki di kota kelahirannya itu.
adek masih betah kan di sini? (Irsyad)
emmmmm. (Rahma)
Walaupun pada saat itu Rahma menjawab dengan ekspresi seperti antara betah, tidak betah. Namun ia tetap berkelakuan baik, bahkan rela membantu ibunya dulu mengolah sayur di tungku dengan kayu bakar sebagai perapiannya.
__ADS_1
Ustadz Irsyad berjongkok lantas mendayung air itu pelan menggunakan tangannya.
Kembali teringat, tatkala beliau dulu berjongkok mencuci cangkul di tepi aliran air tempatnya berpijak saat ini. Rahma turut berjongkok di sebelahnya, walaupun menjawab dengan ketus namun ia tahu, bahwa sang istri sesekali curi-curi pandang padanya.
Ustadz Irsyad senyum-senyum sendiri lantas menghela nafas cukup panjang, kembali berdiri.
kemanapun aku melangkah pergi, kamu tetap ada Dek. Seolah, semua tempat itu sudah kita datangi berdua. Sehingga tidak ada lagi, tempat ku berlari dari bayang-bayang mu.
Ustadz Irsyad membatin sembari menatap sendu ke arah aliran air yang sudah tidak sebening dulu. Dan dari lamunannya itu, kembali pikirannya berkelana. Beliau mengingat lagi kata-kata Isti yang di sampaikan oleh pak Huda, ketika pak Huda kembali menyampaikan niat baik Ustadz Irsyad.
## Flashback is on
"Jadi, bagaimana? Jika Ustadz Irsyad benar-benar mau meminang mu?"
Kala itu Isti mendongakkan kepalanya, mencoba menatap keseriusan Ustadz Irsyad yang berada di sebelah pak Huda, bahkan Bilal dan Hafiz pun ada di sana. Juga Kak Siti istri dari pak Huda yang saat itu duduk di sebelahnya.
"Saya tidak tahu harus menjawab apa? Jujur saja, saya tidak meragukan kesolehan Ustadz Irsyad untuk menjadi imam saya. Dan jika diingatkan saat anak-anak saya masih kecil-kecil, saya pun sebenarnya butuh pendamping untuk teman melanjutkan hidup. Akan tetapi? Saya takut, saya akan menyakiti hati pria yang menjadi suami saya. Seperti saat ini, saya takut menyakiti hati Ustadz Irsyad, karena saya masih suka menangis di kala rindu akan mendiang suami itu hadir."
Ustadz Irsyad tersenyum. Ia memahami, ia pun menahan pak Huda yang hendak berbicara lagi.
"Terimakasih Isti, saya memahami inti dari jawaban mu ini." Tutur Ustadz Irsyad, yang membuat Isti semakin menunduk.
"Maafkan saya, Ustadz." berkata lirih, ia menggenggam tangan kak Siti erat. Bagaimanapun juga, dia sempat melakukan shalat istikharah untuk menentukan jawaban hatinya. Namun yang ada ia malah justru semakin mengingat mendiang suaminya, itulah mengapa ia lebih memilih untuk tetap bertahan menyendiri.
Istri dari pak Huda itu merasakan tangan Isti yang gemetaran dan amat dingin saat menyentuh tangannya.
"Tidak apa-apa, tidak masalah." Ustadz Irsyad memilih mengambil secangkir teh di hadapannya, demi menghalau gugupnya. "Saya minum ya."
"Silahkan Ustadz," jawab mereka yang berada di sana.
## Flashback is off.
*kalaupun aku benar-benar menikahi Isti, mungkin juga akan sama. Belum tentu aku bisa membahagiakanya seperti mendiang suaminya, terlebih hati yang masih bertaut dengan mendiang pasangan masing-masing. Semua akan sulit.
__ADS_1
mungkin memang benar, aku tidak akan pernah berjodoh dari awal. Dia hanya wanita yang pernah singgah untuk pertama kalinya, sebagai ujian hati ku dulu. Namun Rahma, adalah wanita yang benar-benar menetap di hati seorang pria tak sempurna seperti ku*.
Ustadz Irsyad bergumam dalam hatinya, mencoba untuk mensyukuri hidupnya yang baru ini.