
Selesai dengan ceramah ustadz Irsyad. Para ibu-ibu berhamburan keluar. Di sana masih ada Isti, serta satu wanita lain yaitu sang bendahara majelis taklim tersebut, yang tengah mengobrol sebentar dengan ustadz Irsyad dan yang lain.
"Ustadz, maaf ini amplop dari kami."
"Ya Allah... Tidak usah. Saya sudah bilang saya tidak suka di bayar."
"Tidak bisa begitu, untuk kali ini? Ustadz harus bersedia menerimanya. Ini sudah ketentuan kami. Lagi pula tidak banyak kok." Isti berjalan sopan menggunakan lututnya meletakkan itu di atas meja, lalu mundur lagi, menelungkupkan. Kedua tangannya di depan dada. "Mohon di terima ustadz,"
"Sebenarnya saya nggak menjual ilmu saya. Ada yang mengamalkan juga sudah Alhamdulillah." Irsyad merasa tidak enak.
"Tidak apa ustadz... Sekali lagi terimakasih. Para jamaah senang mendapat kajian dari ustadz Irsyad."
"MashaAllah... Alhamdulillah kalau begitu." Gumam ustadz Irsyad.
"Iya ustadz, maaf kami permisi ustadz. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah." Ustadz Irsyad menatap ke arah amplop di atas meja. Lalu meraihnya. Mengobrol sebentar dengan sang Takmir tersebut lalu memutuskan untuk pulang.
Di luar masjid...
Ustadz Irsyad menyerahkan amplop itu pada Ibnu.
"Bagi dua ya." Ucap beliau. Sementara dua mahasiswa itu bingung.
"Loh, kok di kasih ke Kita pak?" Tanya Ibnu.
"Rezeki kalian," jawab beliau santai.
"Tapi kami kan nggak ngapa-ngapain. Pak Irsyad yang sudah ceramah tadi."
"Loh memang kenapa?" Terkekeh. "Sudah ambillah."
"Sungguh, kami tidak enak pak. Karena sejatinya bisa mendampingi pak ustadz Irsyad saja, kami sudah senang sekali." Ujar Zulham.
"Benar pak." Ibnu mengiyakan.
__ADS_1
"Rezeki itu jangan di tolak, kalian bisa gunakan uangnya buat jajan atau beli apa gitu." Tersenyum, sama halnya dengan dua anak didiknya.
"Tapi? Memang pak Irsyad tidak ingin melihat dulu isinya? Langsung di kasihkan ke kita begitu saja?"
"Hahaha... Memang kenapa? sudah bapak bilang, 'kan? itu rezeki kalian."
"MashaAllah... Alhamdulillah. Terimakasih ya pak Irsyad." Keduanya mencium tangan ustadz Irsyad secara bergantian.
"Sama-sama... Kalau begitu bapak jalan duluan ya. Kalian hati-hati pulangnya."
"Iya pak Irsyad," jawab Zul dan Ibnu secara bersamaan. Mereka masih berdiri di tempatnya menunggu mobil ustadz Irsyad melaju pergi dari sana. Dan setelah klakson mobil berbunyi mereka melambaikan tangan lalu saling tatap.
"Kebetulan sekali? Hari ini uang kiriman dari orang tua sedang habis, niatnya mau pinjem teman satu kos buat makan karena bapak ku baru bisa kirim besok siang." Ujar Ibnu berbinar.
"Alhamdulillah, saya juga kebetulan sedang tipis harus fotocopy makalah juga... coba intip Nu, ada berapa." Titah Zulham. Sementara Ibnu langsung mengangguk ia membuka sedikit amplopnya.
"Alhamdulillah Zul. Lumayan, dua ratus ribu," kata Ibnu dengan senyum tersungging senang.
"Alhamdulillah. Ya sudah ayo pulang, beli makan dulu kita." Zul bersemangat menunggangi motornya, di mana Ibnu langsung memasukkan amplop itu kedalam tasnya dan naik membonceng Zulham. mereka pun pulang bersama.
***
langkah kaki ustadz Irsyad terhenti. Beliau berjongkok menyentuh nisan bertuliskan Rahma Qurrata Aini.
"Assalamualaikum, dek. Mas datang lagi. Kamu nggak bosan kan, kalau mas datang setiap hari?" Tutur ustadz Irsyad, mengusap lembut ujung batu nisannya. "Mas kangen loh. Serius. Kamu kangen nggak?"
Beliau mengusap matanya yang basah. Dan mulai menengadahkan kedua tangannya, berdoa dengan mata yang terpejam.
Rasa rindu di dada seolah tidak bisa di bendung lagi. Ia sangat ingin memeluk tubuh tambun Rahma, yang jika tertawa karena godaannya? Maka bahu itu akan sedikit berguncang. Belum lagi bersungutnya Rahma, serta ngeyelnya sang istri jika memasak bersama.
Ustadz Irsyad menitikkan air matanya.
"Astagfirullah al'azim. Tiba-tiba mas kangen ikan nila bakar yang masih utuh sisiknya." Terkekeh, Kembali beliau usap air mata itu sebelum menetes menyentuh tanah makam. Beliau menghela nafas kemudian.
Ustadz Irsyad ingat betul, betapa marahnya Rahma saat Beliau dan dua anaknya malah makan telur goreng, karena ikan nila bakar yang tak menggugah selera. Sebab selain masih ada sisiknya, darah di bagian kepalanya pun masih ada. Membuat mereka enggan memakannya.
__ADS_1
Padahal ustadz Irsyad sudah diam-diam menggoreng telur saat Rahma sedang keluar untuk pergi arisan.
Lalu menyuapi dua anaknya yang pada saat itu masih duduk di bangku MI. Namun naasnya Rahma malah kembali karena arisan di tunda.
(Flashback is on)
"Mas goreng telur? Mas dan anak-anak nggak makan masakan yang sudah cape-cape Rahma masak?"
"Anu...? Ini masalahnya?"
"Nggak menghargai sekali sih?" Potong Rahma Kesal, ia menghentakkan kakinya pergi namun secepatnya di tahan oleh Irsyad.
"Dek... Ini mas mau makan ikan mu yang enak itu. Kamunya salah faham, mas kasih Rumi dan Nuha telur itu karena mereka yang minta."
"Tapi mas sendiri mau makan pakai telur juga kan? Itu di piring mas Irsyad ada telurnya."
Irsyad pun memindahkan telur itu ke piring lain. "Ini punya Rumi, dia kan suka nambah. Mas tuh mau makannya ikan Nila buatan mu."
"Bohong! mas mau makan, karena Rahma marah kan?"
"Loh... Enggak dek. Liat nih." Ustadz Irsyad memakannya. Namun sesekali mengeluarkan sisik yang turut kemakan dari mulutnya. "Duh Gusti, Sengsoro nek koyo ngene Iki." Gerutunya.
"Aku tau, mas sedang menggerutu ya Walaupun pakai bahasan Jawa." Hunus Rahma bersungut.
"Siapa? Nggak dek. Itu kalimat pujian. Duh istri ku memang pintar masak." Meraih sesuap lagi lalu memakannya. Padahal beliau sudah berusaha memilih bagian dagingnya tetap saja sisik besar itu kebawa, membuat dia mengeluarkan lagi.
"kamu juga makan, cobain sensasinya Kaya dapat koin di setiap suapannya." Gumamnya, nyengir kemudian. Sementara Rahma masih menatapnya dengan ekspresi wajah kesal.
(Flashback is off)
Ustadz Irsyad tersenyum, "ya Allah... Waktu cepat sekali berputar, sepertinya baru kemarin kejadian itu. Rupanya sudah lewat puluhan tahun. Dan kamu sudah tidak di sisi ku lagi."
Menghela nafas. "Iya... Kamu pasti nunggu mas di sana kan? Sabar ya... Semoga kita bisa bertemu lagi. Di Jannah." Mengusap nisan Rahma lalu beranjak. "Mas pulang dulu dek, Assalamualaikum."
Beliau pun berjalan meninggalkan makam itu dengan perasaan lebih baik, karena baginya hanya dengan mengobrol di dekat makan Rahma sudah cukup mengobati kerinduannya, walaupun hanya sedikit.
__ADS_1
Tapi seperti itu lah takdir... Ketika perpisahan terjadi, kita yang di tinggalkan bisa apa? Selain mengikhlaskan pasangan yang sejatinya bukan seutuhnya milik kita. Lalu berharap hati itu tetap bisa terjaga walaupun entah sampai kapan dan seperti apa kedepannya nanti.
Bersambung...