
Sepertinya ini mimpi, tidak– Debby berusaha untuk menarik pipinya sendiri. Ini sakit...
Berarti Dia tidak berhalusinasi, ketika Ia melihat kedua orangtuanya datang, Mama yang langsung memeluknya erat lalu menciumi wajah putrinya itu dengan rasa rindu serta kekhawatiran yang sudah merejam-rejam jiwa sepanjang perjalanannya dari Bandung tadi.
"Debby, anak Mama." Nyonya Brigitta mengusap lembut pipi sang anak. Sementara Debby masih saja bengong tidak percaya.
"Ma–ma disini? Mama tahu Debby di sini?"
"Iya, menantu Mama ini yang ngasih tahu tadi malam. Jadi pagi ini langsung jalan." Tutur Mama sembari melirik kearah suaminya yang sedang menatap kearah Rumi.
Ia ingat betul kecemasan sang suami saat di kabari putrinya mengalami pendarahan, dan harus melakukan observasi di rumah sakit.
"Duduk dulu Pa, Ma." Rumi menawarkan.
"Kamu–"
"I...iya, Pa?"
"Bagaimana bisa kejadian seperti ini, menimpa putri saya?" Tanya Tuan Yohan menatap tajam kearah Rumi. "Kamu bilang anak saya terpeleset, lalu tahu-tahu pendarahan dan rupanya sedang hamil?"
"itu? Karena Rumi sebenarnya tidak tahu jika Debby sedang mengandung."
"Tidak tahu? bagaimana bisa tidak tahu jika istri mu sendiri sedang hamil anak kamu?"
"Pa– papa?" Panggil Debby. Namun di hentikan dengan tangan Tuan Yohan yang terangkat.
"Sudah Berapa bulan?"
"Sepuluh Minggu," jawab Rumi.
"Astaga...! Selama itu anak saya hamil anak kamu? Tapi kamunya tidak tahu?"
"Maaf Pa, mungkin Rumi yang kurang perhatian."
"Benar....! Kamu memang selama ini kurang memperhatikan anak saya. Kalau sekiranya tidak bisa merawat putri saya ya kembalikan saja, biar saya bawa dia lagi." Tutur Tuan Yohan ketus, membuat Rumi gelagapan sendiri.
"Ja... Jangan Pa. Rumi akan berusaha lagi memperhatikan Debby."
"Bisakah kamu memegang ucapan mu itu?"
"Papa, sudah– jangan marahin Kak Rumi. Jangankan Kak Rumi, Debby sendiri saja tidak menyadarinya," kata Debby yang merasa tidak tega melihat Rumi di pojokan.
"Lihat itu? Anak saya belain kamu?" Menunjuk Debby. Terlihat tawa lirih dari Nyonya Brigitta.
"Sekali lagi maafkan Rumi, Pa." Rumi menunduk, ia tidak tahu harus berbicara apa lagi.
"Pa?" Debby mengulurkan satu tangannya.
"Apa? Jauh-jauh Papa kesini karena cemas? Rupanya sesampainya di sini hanya untuk mendengar mu membela dia, padahal Papa marahin dia karena membela mu?"
"Ya ampun... Nggak gitu, Pa. Tapi kan?"
"Kenapa? Tidak suka Papa datang? Liat saja, papa datang bukannya di sambut dengan penuh kerinduan malah banyak bengong."
Debby menitikkan air matanya, ia mengusap cepat sembari tersenyum. "Suka– suka banget. Sini Pa, peluk Debby. Debby itu rindu."
__ADS_1
"Bohong kan? Kamu bilang gitu hanya untuk membujuk Papa?" Tuan Yohan masih belum mendekati putrinya, sementara Nyonya Brigitta kembali terkekeh tanpa suara. Karena memang seperti itu lah watak ayah Debby, yang terlihat galak namun sejatinya dia sangatlah penyayang.
"Nggak Pa, sungguh. Sini... Debby kangen Papa. Pengen di peluk Papa."
"Ini kamu loh yang minta." Tuan Yohan mendekati lalu memeluk erat tubuh putrinya.
"Ya ampun Papa, ini benar kan? Yang peluk Debby itu papa?"
Tuan Yohan tersenyum. Lalu melepaskan pelukannya. "Lihat wajah ini baik-baik. Papa bukan?"
"Hiks... Papa–" kembali Debby merentangkan kedua tangannya meminta untuk di peluk.
"Kesayangan ku..."
"Huwaaaaa– senang di panggil kesayangan lagi."
"Anak manja ku."
"Lagi... Lagi..." rengek Debby manja.
"Anak ku yang suka ngempeng, sambil usap-usap pipinya Papa."
"Aaaaaa.... Yang itu nggak usah di ingat."
"Hahaha..." Tuan Yohan tertawa, sama halnya dengan Nyonya Brigitta.
Rumi yang melihat itu pula sedikit tersentuh, ia merasa senang, lantas mempersilahkan sang ibu mertua untuk duduk.
"Silahkan Ma."
"Abi sedang di Asemka, karena saudara kembar saya melahirkan semalam."
"Wah... Laki-laki atau perempuan?"
"Dia melahirkan kembar, Alhamdulillah laki-laki semuanya."
"Syukurlah kalau begitu, yang penting sehat Semua." Kata nyonya Brigitta. Mereka kembali menatap kearah Debby dan ayahnya yang masih bercerita entah apa. Nampak sekali semangatnya yang seolah kembali menyala, dan jika di cermati? Sepertinya Rumi tahu, sifat Debby menurun dari siapa. Ia pun terkekeh.
"Ada apa?"
"Enggak Ma. Senang rasanya melihat Debby bisa tertawa lepas dengan Papa."
"Apalagi Mama, selama Debby keluar dari rumah. Papa tidak pernah tertawa selepas itu sebelumnya. Kali ini, Mama terharu ketika melihat mereka dekat lagi. Aaaaa.... Tuhan memang memberkati keduanya."
Rumi tersenyum tipis. Hingga tak lama sebuah ketukan pintu terdengar.
"Assalamualaikum." Sapa ustadz Irsyad sembari masuk. Beliau masih menggunakan Koko dan jaket yang sama dengan yang beliau pakai semalam. Pertanda jika Ia belum pulang ke rumah.
"Walaikumsalam Abi," jawab Rumi dan Debby bersamaan.
"Wah... Ada tamu?" Ustadz Irsyad berbinar dan segera mendekati ayah Debby, yang sudah menyambutnya juga namun dengan ekspresi yang berbeda, beliau jauh lebih nampak ramah kepada Abinya itu. "Apa kabar Tuan Yohan?"
"Baik. Anda sendiri bagaimana?"
"Saya pun sama. Mari silahkan duduk."
__ADS_1
"Terimakasih, itu tadi anaknya habis saya marahi."
"Oh ya?" Ustadz Irsyad terkekeh.
"Iya, tidak apa-apa kan?"
"Tidak masalah, marahi saja lagi."
"Dengar sendiri kan? Saya sudah dapat izin dari Abi kamu untuk memarahi mu lagi."
"Hahaha..." Ustadz Irsyad tertawa lalu mempersilahkan beliau untuk duduk.
Terasa hangat suasana di ruangan itu, karena Abi dan Papa mengobrol seolah tanpa batasan, padahal mereka sama-sama pemuka agama yang walaupun berbeda namun nampak toleransi di antara keduanya. Hal yang di bahas pun beragam, dan dari sana Rumi ataupun Debby jadi merasa lebih tenang. Ketika satu masalah sudah terselesaikan dengan baik, dan di lihat dari papa dan mama yang bersedia mengobrol santai dengan Abi Irsyad pun seperti membuka tabir perbedaan antara mereka.
'Papa... Terimakasih sudah datang untuk ku.' batin Debby yang sedang menggenggam tangan Rumi erat, dimana senyum hangat tersungging sempurna dari bibir Rumi, membalas tatapan sang istri.
Tak berselang lama, sebuah suara ketukan kembali terdengar Rumi kembali menghampiri serta membuka pintu ruangan VIP tersebut.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah, mari silahkan masuk Tante." Rumi mempersilahkannya.
Maryam pun tersenyum mengucapkan terimakasih, lantas berjalan masuk. Sedikit ada perasaan terkejut ketika melihat orang tua Debby di sana namun segera ia menyapa keduanya.
"Koko, sama Cece di sini?"
"Hmmmm... kamu apa kabar Maryam?" Gita memeluknya erat. Seperti bukan Ce Gita, beliau memanggil namanya dengan sebutan Maryam bukan Merry. Maryam tersenyum senang, membalas pelukan Gita erat.
"Kabar ku baik Ce... Ya ampun. Senang bisa ketemu kalian disini. Terimakasih sudah mau datang."
"Aku yang seharusnya berterimakasih, kamu sudah menjaga putri ku selama ini, hingga dia menikah."
"Semua bukan karena aku, tapi berkat Tuhan." Maryam mengusap air mata harunya. Keduanya pun terkekeh karena Gita pun melakukan hal yang sama.
Lantas Tuan Yohan pun beranjak, menghampiri adiknya serta meraih tangan Merry.
"Maafkan saya."
"Koko?" Sepasang mata itu semakin mengembun.
"Koko senang kamu baik-baik saja selama ini. Dan maaf, aku sempat salah memperlakukan mu, dan juga Debby."
Debby yang mendengar juga mengerjap, bulir bening itu mengalir begitu saja dari kedua matanya, membuat Rumi menyeka itu lembut.
"Lain kali, berkunjunglah ke Bandung. Rumah kami terbuka lebar untuk mu juga, tidak akan ada lagi rasa kecewa ku terhadap kalian karena apapun yang menjadi keputusan mu ataupun Debby semua mutlak karena kehendak Tuhan, dan aku tidak akan bisa menahannya, kau tetap menjadi adik ku Maryam."
"Hiks... Koko, terimakasih... Terimakasih banyak." Maryam menekan dadanya dengan satu tangan. Sungguh sebelum ini ia sempat merasakan, seolah-olah seperti seorang anak yang hilang dari keluarganya lantas hari ini ia merasakan bahagia yang sama ketika di pertemukan kembali. Hingga tak henti-hentinya ucapan terimakasih itu tercurahkan dari bibirnya yang bergetar akibat tangis harunya.
Memang benar... Allah SWT selalu memberikan banyak kejutan, dari hal yang awalnya penuh dengan air mata, kepayahan hingga berujung pada rasa keputusasaan.
Naik turunnya alur kehidupan yang Allah ciptakan, tidak akan pernah sampai pada titik akal kita sebagai manusia.
Entah bagaimanapun juga kita berfikir keras untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi, jika belum saatnya berakhir maka tidak akan bertemu ujung dari masalah itu. Hingga kita mulai lupa dan berdamai dengan masalah itulah baru muncul hal indah yang Allah janjikan bagi mereka yang bersabar.
Sungguh akan Kami berikan ujian kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqoroh ayat 155)
__ADS_1
maha benar Allah dengan segala firman-Nya.