
Pagi ini, hujan turun dengan derasnya.
dimana Shafa tengah berdiri di depan jendela kamar Debby, memandangi hujan yang tak kunjung reda sedari subuh tadi.
Menyirami bumi, yang mungkin sudah beberapa hari ini kering karena kemarau yang cukup panjang.
Cklak... Suara pintu tandas terbuka, Debby baru saja selesai mandi dan keluar dengan kain handuk di kepalanya.
"Duh, hujannya awet." Tukas Debby yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk itu, lalu duduk di atas ranjang di dekat Shafa yang sudah siap untuk pulang, kembali ke Jakarta. "Mbak Shafa nginep lagi saja ya." Pinta Debby.
Gadis berhijab itu pun menoleh sembari tersenyum. "Besok Senin kan aku ngajar Deb. Jadi hari ini aku harus kembali. lagipula kalau terlalu lama di sini, akunya yang tidak enak."
"Kenapa harus merasa tidak enak sih mbak? Keluarga ku santai-santai saja kok." Jawab Debby, sementara Shafa hanya menanggapi itu dengan senyum tipisnya lalu kembali menatap hujan di luar jendela.
Debby pun beranjak dan berjalan menuju meja rias. Meraih hairdryer dan memasang kabel colokan itu ke tempatnya. Lalu mulai mengeringkan rambutnya yang sebatas bahu.
Di sela-sela riuh suara dengungan mesin pengering rambut yang tengah di gunakan Debby, ponsel Shafa berdering. Sehingga membuatnya langsung mendekati tasnya dan meraih ponsel tersebut.
Senyum semangat pun langsung mengembang saat nama Rumi tertera di sana. Yang saat itu juga, membuat Shafa langsung menggulir logo hijau di ponselnya, menerima panggilan telepon dari Rumi.
"Assalamualaikum, Rumi." Jawab Shafa, membuat Debby menoleh ke arah wanita berhijab itu.
"Walaikumsalam warahmatullah. Shafa? Kamu masih di rumah Debby?"
"Iya, masih. Kamu dimana?" Tanya Shafa.
"Aku sudah di depan kampus. Kamu bisa ke sini sekarang? Tadi pihak travel meminta kamu untuk standby."
"Oh... Baiklah aku segera ke sana."
"Tapi di sana hujannya masih deras, tidak?" Tanya Rumi.
"Sudah mulai reda sih." Jawab Shafa Kemudian.
"Ya sudah... di usahakan pakai mantel ya, jangan hujan-hujanan." Ucap Rumi.
Shafa tersenyum, rasanya seperti di perhatikan oleh Rumi. membuat hatinya saat itu, menjadi senang. "Iya Rumi." Jawabnya kemudian.
"Ya sudah... Hati-hati ya. Assalamualaikum"
"Iya, walaikumsalam warahmatullah." Shafa menurunkan ponselnya lalu memeluk itu.
Sementara Debby pun masih memperhatikan gerak-gerik Shafa yang mendadak jadi senyum-senyum sendiri. Namun segera ia menggeleng lalu menyelesaikan pekerjaannya itu.
–––
__ADS_1
Beberapa detik kemudian...
Dua gadis itu keluar dari kamar, dan berjalan menuju dapur, menghampiri keluaga Debby yang sedang menyantap sarapan pagi mereka.
"Mah... Mbak Shafa mau pulang ke Jakarta." Ucap Debby, pada Ibunya.
Semua yang di meja makan pun menoleh, bersamaan dengan sang ibu yang langsung beranjak.
"Kok buru-buru sih. Masih hujan loh di luar, sarapan dulu saja ya." Ajak nyonya Brigitta ibunda dari Debora.
"Emmm, anu. Maaf Bu, saya puasa."
"Oh... Ya Tuhan. Maaf, saya lupa kalau ini bulan puasa." Nyonya Brigitta menutup mulutnya merasa tidak enak karena sudah menawarkan dia makan. Namun hal itu hanya di tanggapi dengan senyum manis Shafa.
"Tidak apa kok, Bu." Ucap Shafa. "Kalau begitu saya pamit ya Bu. terimakasih sudah memberikan saya tumpangan, selama dua malam di sini." Sambungnya kemudian.
"Terimakasih untuk apa? yang ada saya tidak enak. Kamu puasa, pasti di sini jadi tidak sahur, kamu pasti kurang nyaman deh." Ucap nyonya Brigitta, tidak enak hati.
"Nyaman kok Bu. dan di sini? Saya tetap sahur kok." Shafa menoleh kearah Debby, sementara gadis itu hanya tersenyum ceria.
"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya cantik. Kalau ke Bandung lagi, jangan sungkan-sungkan untuk menginap di sini. Dengan senang hati, ibu akan menerimanya."
"Iya Bu. Sekali lagi, terimakasih banyak." Ucap Shafa. Dia pun beralih pada Tuan Johanes. "Saya pamit pak, terimakasih atas tumpangannya, dan maaf jika saya merepotkan di sini." Ucap Shafa pada Tuan Yohan, sembari menelungkup kan kedua telapak tangannya di depan dada.
Pak Johannes tersenyum tipis. "Iya, hati-hati di jalan." Jawab beliau kemudian.
Tanpa menyapa kakak Debby dia pun langsung putar haluan sama halnya dengan Debora.
"Deb?" Panggil sang ayah, yang seketika itu membuat langkah Keduanyan terhenti.
"Iya pah?" Debby menoleh.
"Kamu tidak sarapan dulu?" Tutur sang ayah menawarkan, sementara dua wanita itu saling tatap lalu pandangan Debby pun beralih lagi ke sang ayah.
"Nanti saja, di jalan." Jawab Debby, berbohong.
"Oh ya sudah... Hati-hati." Tutur Tuan Yohan yang langsung di Iyakan oleh Debora. Mereka pun melanjutkan langkah mereka keluar.
***
Sudah cukup lama Rumi menunggu, bahkan mobil travel pun telah tiba. Membuat Rumi beranjak dari posisi duduknya.
Seorang supir keluar dari dalam mobilnya menghampiri Rumi, "ini mana A' penumpangnya?" Tanya Supir tersebut yang sudah berdiri di hadapannya.
"Punten ya Kang, mungkin sebentar lagi datang." Ucap Rumi, hendaknya dia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Shafa ataupun Debora namun urung, ketika motor Debby sudah tiba.
__ADS_1
Karena hanya ada jas hujan jenis Ponco, pakaian yang di kenakan Shafa pun sedikit basah.
Keduanya turun dari motor itu, dengan posisi Shafa lebih dulu. Sementara itu sang kenek travel membantu membawakan tas Shafa dan meletakkannya di bagasi belakang.
"Maaf ya Rumi, nunggu lama ya?" Tanya Shafa, sembari Melepaskan jas hujannya.
"Nggak kok. Untungnya kalian tepat waktu. Makasih ya Deb." Ucap Rumi.
"Sama-sama kak." Jawab gadis itu sembari nyengir. Dia lantas menerima jas hujan yang sudah terlepas dari tubuh Shafa dan ia lipat juga.
Di sana, entah mengapa Rumi merasa senang, karena Shafa dan Debora terlihat akrab.
Pandangannya pun berfokus pada Debby yang terkekeh sembari membenahi hijab Shafa di bagian keningnya.
"Sudah?" Tanya Shafa.
"Sudah." Debby mengacungkan kedua ibu jarinya. Mereka pun terkekeh, setelahnya Shafa mengusap-usap tangannya karena kedinginan.
"Dingin ya mbak? Duh, baju mbak Shafa rada basah lagi." Tutur Debby.
"Tidak apa Deb, ya sudah aku masuk dulu ke mobil ya."
"Tunggu, Shafa–" Rumi Melepaskan jaketnya yang masih kering, lalu menyerahkannya kepada Shafa.
Deg...! Mata Debby tertuju pada jaket yang Terulur ke arah Shafa.
"I...ini? Ini kan?" Shafa masih ragu menerimanya.
"Tidak apa, pakai saja. Kasian kamunya nanti kedinginan." Ucap Rumi. Perlahan tangan Shafa meraihnya. Sementara Debby yang berada di tengah antara Shafa dan Rumi pun hanya tersenyum kecut.
"Terimakasih Rumi." Ucap Shafa.
"Sama-sama, ya sudah. Sana masuk."
"Iya..." Jawab Shafa, dia lantas menoleh ke arah Debora, yang langsung melebarkan senyumnya membalas tatapan Shafa. "Makasih ya Deb, aku balik dulu."
"Iya mbak... Kapan-kapan aku deh yang main ke Jakarta."
"Janji ya...?"
"Iya, inshaAllah." Jawab Debby. Shafa pun memeluk tubuh Debora erat.
"Ku doakan, kau bisa benar-benar menjadi seorang muslimah seutuhnya." Ucap Shafa berbisik. Seketika itu mata Debora berkaca-kaca.
"Aamiin... Aamiin ya Allah." Balas Debora. Mendengar itu Shafa pun tersenyum. Lalu melepaskan pelukannya, dan berjalan masuk ke dalam mobil, dengan sang kenek memayunginya.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, mobil pun melaju meninggalkan kawasan kampus tersebut.