
Kembali ke Jakarta...
Pagi yang mulai terang, memberi semangat baru bagi jiwa yang memulai aktivitasnya di pagi ini.
Bibi Maryam misalnya, beliau bersiap untuk acara peluncuran bukunya. Di salah satu hotel, yang akan menjadi tempatnya melakukan seminar, dan berbicara sedikit tentang dunia literasi.
Iya, acaranya pagi pukul sepuluh. Namun karena tempatnya agak jauh, jadi dia harus berangkat agak pagian. Karena sebelum itu dia akan mengunjungi salah satu sahabatnya lebih dulu.
Ia menoleh kearah jam tangannya, sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dia pun beranjak, hingga sebuah panggilan telepon masuk.
Debora ia calling...
"Astagfirullah al'azim, anak ini kan harusnya sudah kembali ke Jakarta?" Maryam cemas, dia benar-benar sibuk untuk acara peluncuran bukunya. Sehingga membuatnya lupa tentang nasib keponakannya itu.
Maryam bergegas menggulir layar ponselnya. "Assalamualaikum..." Sapa dia halus, karena memang suara Maryam sangatlah halus.
"Walaikumsalam warahmatullah. Tante sibuk?" Tanya anak itu.
"Emmm, Tante mau jalan ke Tanggerang. Kenapa sayang?" Tanya Maryam, ia merasakan ada sesuatu di sana. Karena suara Debby serak.
"Tidak apa, sudah Tante jalan saja. Ku tutup ya...."
"Eh... Tunggu sayang. Jawab dong, Tante rasa kamu tidak baik-baik saja." Tanya Maryam yang kembali duduk.
Sementara yang di sebrang, terdiam sejenak menutup mulutnya menangis. "Debby, kamu nangis kan?"
"Hiks..." Debby menahan semampunya, namun memang Isak tangis itu tidak bisa ia kontrol sehingga terdengar sampai ke Maryam.
Maryam yang paham, tanpa harus di jelaskan pun menghela nafas. "Sabar sayang, kamu kuat. Ada Allah SWT."
"Hiks... Hiks... Debby?" Gadis itu sudah tidak bisa berbicara apa-apa lagi.
"Tenangkan diri mu ya sayang, apa Tante ke sana sekarang? Menjemput mu."
Debby masih berusaha mengontrol suaranya. "Jangan.." jawabnya tidak jelas. Dia masih berusaha meredakan Isak tangisnya, itu. "Jangan tante... Aku nanti sore kembali kok ke Jakarta. Besok, Debby sudah harus berangkat kerja."
"Jangan sore, sayang. Tante tidak mau, kamu mengemudi mobil di malam hari."
__ADS_1
"Debby naik bus..."
"Naik bus?"
Debby menghela nafas, "iya..." Jawabnya sangat lirih. "Karena...? Aku mungkin sudah tidak bisa memakai fasilitas milik papah." Suara Debby benar-benar tidak jelas karena terkalahkan dengan tangisnya itu.
"Tadi, aku dengar papah menelfon notaris." Sambung Debby.
"Menelfon Notaris? Untuk apa?"
"Nggak tahu. Yang jelas, papah berbicara tentang Kartu keluarga, dia bilang ingin merubah."
Deg...! Maryam menutup mulutnya terkejut.
"Debby pikir? Papah mau mencoret nama ku dari Kartu Keluarga...." Terisak lagi.
"Ya Allah..." Maryam mengingat masa lalunya. Dan sekarang keponakannya juga akan merasakan hal yang sama. bulir bening pun menetes begitu saja. "Sabar ya sayang... Jangan beranggapan buruk dulu. Papah mu, tidak sekeras Opah."
"Hiks... Ku harap begitu Tante. Karena jika iya, Debby harus bagaimana? Debby tidak mungkin bisa mengasingkan diri, dan pergi dari keluarga selamanya."
–––
Selang beberapa jam kemudian...
Keluarga Debby berkumpul. Tuan Yohan sepertinya ingin menyampaikan sesuatu, posisinya duduk menghadap Debby, dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Kembalilah ke Jakarta, dan tinggalah sebagai orang lain. Tanpa mengingat, kau pernah punya keluarga di Bandung."
Deg...! Mata Debora membulat.
"Ma... Maksudnya pah?" Tanya Debby, mungkinkah feelingnya tepat?
"Terhitung dari hari dimana kau menanggalkan keyakinan mu sejak lahir, dan menggantinya dengan keyakinan lain. Kamu bukan anak ku lagi."
Debby menggeleng, ia lantas turun dari duduknya. Lalu memeluk kaki sang ayah. "Jangan pah... Apa daya Debby tanpa papah dan mamah, serta kak Gallen." Debby pun menoleh ke arah Ibunya yang langsung berpaling sembari menangis. "Mamah...?" Panggilnya.
"Jangan...? Jangan panggil aku lagi dengan sebutan mamah. Kau bukan putri ku lagi." Beliau beranjak karena sudah tidak tahan melihat situasi di ruangan tengah itu.
__ADS_1
"Mamah–" rengek Debby, dia pun kembali menatap ayahnya. "Tolong pah? Papah jangan asingkan Debby pah."
Tuan Yohan hanya berpaling tidak ingin menatap wajah sang anak.
"Papah lihat mata Debby pah? Papah sayang sama Debby kan?" Tutur Debby, namun bibir beliau semakin rapat mengatup, seolah menutupi getaran tangisnya. "Papah sayang sama Debby kan? Jadi tolong jangan coret nama Debby dari keluarga ini pah."
"A... Anak ku, sekarang? hanyalah Gallen." Tuan Yohan berat mengatakan itu.
"Papah. Debby sayang sama papah. Debby sayang papah. Ampun pah... Tolong ampuni Debby pah." Debora menciumi tangan ayahnya itu berkali-kali, sembari menangis sesenggukan.
"Kemasi barang mu. Dan pergilah sekarang juga." Tuan Yohan menarik kedua tangannya. Lalu beranjak.
"Papah?" Gumam Debby menutup mulutnya dengan tangan, sementara punggungnya berguncang hebat akibat menangis.
Gallen yang masih di sana pun sebenarnya tidak tega, namun dia memilih untuk beranjak tanpa berucap sepatah katapun. Meninggalkan anak itu sendirian. Menangis tersedu-sedu.
***
Petang itu, Debby sudah tiba di Jakarta. Dia memeluk bibinya, yang langsung membawa keponakannya itu masuk kedalam rumahnya.
Di dalam, Debby mulai menceritakan semuanya. Dari awal kepulangan dia keBandung hingga semua yang ia alami.
Maryam yang mendengar itu pun paham rasanya, karena dia pun merasakan hal yang sama. Dan itu lumrah terjadi, bagi keluarga yang salah satunya berpindah keyakinan.
Hingga kembali mereka saling berpelukan, demi menenangkan hati gadis itu.
Baru beberapa detik mereka saling berpelukan, suara mobil di luar terdengar. Mereka pun saling melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke arah jendela.
"Siapa ya?" Gumam Maryam, karena merasa tidak kenal dengan mobil tersebut. Hingga mata Debby melebar, saat melihat seorang pria keluar dari dalam mobil itu. Sembari membawa sekeranjang buah di tangannya.
"Kak Rumi? Dan...?" Dia tercengang, sedikit tidak percaya. "A... Abinya? Ya Allah."
"Kamu kenal mereka?" Tanya Maryam.
"Ke... Kenal. Tapi kenapa, mereka kesini? Mau apa?" Tiba-tiba saja jantung Debby berdebar kencang, sehingga membuatnya beranjak lalu masuk ke dalam kamarnya. Terlebih saat pintu rumah itu di ketuk serta seruan salam dari luar, mulai terdengar.
Bersambung...
__ADS_1