Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
bertemu Papa 2


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, nasi di piring Rumi sudah habis. Sama halnya dengan Tuan Yohanes. Segelas besar teh hangat dihadapan ayah Debby juga sudah berkurang lebih dari separuhnya.


Saat ini Rumi masih menengguk dengan sopan, teh hangat miliknya sendiri.


"Alhamdulillah," gumam Rumi tanpa suara, seraya menurunkan gelasnya.


"Mau nambah nasinya?" Tanya Tuan Yohan, menawarkan.


"Terimakasih Pa, saya sudah kenyang. Ini sudah cukup kok."


"Tapi lauk di sini masih banyak, 'kan?"


Rumi tersenyum tipis, amat kaku. "Sungguh, saya sudah kenyang Pa."


Mendengar itu, Tuan Yohan berdeham, lalu terdiam. Karena Rumi pun hanya diam saja. Sembari memegangi mug besar berisi teh hangat dengan kedua tangannya, menunduk sopan. Merasa gugup akibat tatapan Tuan Yohan yang terus saja terarah kepadanya.


"Kalau begitu, saya bisa bicara sekarang pada mu?" tanya beliau. Di mana Rumi langsung meletakkan gelas itu, lalu menurunkan kedua tangannya di bawah meja. Duduk lebih sopan.


"Iya Pa, boleh?"


Tuan Yohan meraih gelas minumannya, lalu menghela nafas. Menatap isian gelas di hadapannya.


"Bagaimana kabar putri ku?"


"Baik... Debby baik-baik saja Pa."


"Apakah dia berperan baik, sebagai seorang istri?"


"Alhamdulillahnya, sejauh ini Debby amat berusaha untuk menjadi istri yang baik," kata Rumi sembari tersenyum tipis. Tuan Yohan pun kembali menatap Rumi, dalam-dalam.


"Tapi dia bahagia 'kan?"


"inshaAllah. Yang saya tahu, De... Debby bahagia."


"syukurlah... karena, jika anak itu masih tidak bahagia setelah dipersunting oleh mu. Itu tandanya saya telah melakukan kesalahan."


Deg...! Rumi menunduk, semua sebab rasa canggung yang semakin menjadi.


"saya ingin menanyakan sesuatu? Jujur saja, saya amat penasaran. Dengan orang-orang seperti mu. Saya harap kamu tidak tersinggung karena ini."


"Emm... Silahkan Pa."


"Apa yang kamu lihat dari anak, ku?" Tuan Yohan langsung berbicara pada poin bahasannya.

__ADS_1


"Emmm, itu?"


"Debby 'kan, bukan wanita yang taat beragama?" Potong Tuan Yohan, sementara Rumi kembali terdiam. "Laki-laki seperti mu, seharusnya memilih wanita yang jauh lebih baik, lebih agamis dengan segala ketaatannya. Sedangkan anak saya, dia bisa apa?"


"Maaf Pa, Rumi menyela, menurut ku? Debby sudah cukup baik, untuk Rumi."


"Kamu berbicara seperti itu karena ada saya 'kan?"


"Tidak juga. Rumi berbicara apa adanya. Karena memang, Debby itu istri yang baik. Walaupun, Dia masih perlu banyak belajar, tapi semangatnya untuk memperdalam ilmu agama membuat hati saya tertarik."


Tuan Yohan kembali terdiam. Beliau menengguk langsung sisa teh manis di dalam gelasnya. Dan kini gelasnya pun kosong, yang beliau letakkan lagi di atas meja.


"Lagi? Apakah kau adalah tipe pria yang merasa cukup dengan satu istri?"


Rumi mematung, dia sendiri bingung ingin menjawab apa? Karena pertanyaan seperti itu amatlah sulit, bukan berarti dia punya niatan untuk mendua. Hanya saja, pikiran untuk tidak mendahului takdir lah yang membuat Rumi bungkam.


"Kenapa diam?"


"Maaf, Rumi agak sulit menjawabnya."


Mendengar itu Tuan Yohan tersenyum sinis. "Sulit kata mu?"


Rumi pun menggeleng cepat sembari mengangkat kedua tangannya di depan dada.


"Bisakah kau mendengarkan saya lebih dulu?" Tanya Tuan Yohan, sementara Rumi langsung mengangguk. "Kamu tahu, seberapa besar rasa kecewa saya terhadap putri saya itu?"


Rumi mengangguk lagi, pelan.


"Seperti sebuah belati yang menikam dari belakang. Dada ini, amatlah sakit saya rasakan. Kecewa.... Sangat kecewa! Kau bisa membayangkan, ketika menjadi seorang Ayah dan mendapati putri tercintanya berpindah keyakinan, tanpa berunding lebih dulu. Menurut mu bagaimana rasanya?"


Rumi menunduk. "Rumi sangat paham, Pa."


"Kecewa ku itu, lebih dari yang kamu bayangkan. Bahkan saya sampai merasa? Ingin mengakhiri hidup saja." Tuan Yohan menyentuh dadanya. Ia lantas menghela nafas. "Tapi Sekeras apapun hati seorang ayah? Dia tidak akan pernah bisa, untuk benar-benar membuang anaknya. Dan kamu mau tahu alasan saya menyetujui pernikahan kalian?"


Tuan Yohan menghunuskan pedangnya terhadap Rumi.


"Karena kepada siapa lagi saya bisa menitipkan anak itu, selain pada pria yang bisa menerima dia apa adanya, sebagai pasangan hidup. Walaupun, hati ini masih khawatir tentang kesetiaan suami dari anak saya itu. Yaitu kau...!"


Tuan Yohan memejamkan matanya sejenak, sembari menunduk lalu mengusapnya pelan.


"Jujur saja, saya tidak bisa melihat tatapan penuh kesedihannya yang bersimpuh di bawah kaki saya. Meminta ampun atas keputusannya itu." Suara ayah Debby sedikit serak, lalu berdeham kemudian. "Cukuplah saya melihat ia terluka karena ayahnya, yang tidak bisa menerima keputusannya. Jangan lagi, dia menangis seperti itu. Akibat kau yang menyakitinya. Saya harap kau paham maksud ku."


Rumi mengangguk pelan. Ia paham maksud dari sang ayah mertuanya.

__ADS_1


"Buatlah saya yakin jika tidak semua pria muslim yang salih itu suka mendua. Karena jika itu sampai terjadi. Aku akan benar-benar mengutuk mu!!"


"Saya akan berusaha, Pa." Rumi menjawab dengan sopan. Sementara Tuan Yohan pun merasakan kelegaan di dadanya.


"Sekarang, setelah mengobrol seperti ini? bagaimana cara mu memandang saya?"


"Emmm... Papa baik," jawab Rumi.


"Jangan berkata hanya untuk mencari perhatian. Katakan saja dengan jujur."


"Rumi sudah menjawab, sesuai dengan yang ada di hati Rumi. Mungkin agak sedikit tegas, tapi papa baik." Ia menjawab dengan sangat hati-hati, takut-takut sang ayah mertua menjadi tersinggung.


"Sebenarnya, sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya sudah menyadari sesuatu. Ketika Debby mulai kritis masalah ke-Tuhanan. Dia selalu bertanya tentang hal yang bahkan tidak bisa ku jawab."


Rumi mendengarkan dengan baik, apapun yang keluar dari mulut sang ayah mertua. Entah kebiasaan Debby, sampai ke hal-hal yang sebenarnya ia sudah tahu.


"Saya khawatir sebenarnya, lebih-lebih ketika dia punya banyak teman muslimah. Jujur saya kurang suka, bukan karena saya membenci agama muslim. Lebih karena saya pernah kecewa, ketika adik perempuan saya berpindah keyakinan. Hanya karena seseorang yang bisa di bilang taat? Namun pada kenyataannya, dia menjadikannya janda di usia muda. Saya hanya berharap, Debby tidak akan pernah bernasib sama seperti Tantenya itu."


"Maaf Pa. Walaupun dalam agama kami, berpoligami tidak di larang. Tapi tidak semua golongan kami itu mendua. Dan Rumi akan berusaha untuk menjadikan Debby satu-satunya istri dalam hidup Rumi."


"Ku harap ini adalah janji yang perlu kau pegang erat dan kau ingat selalu." Ayah Debby menghela nafas lega. "Ya sudah... Dia terlihat bahagia? Dia pun sepertinya makan dengan baik. Jadi, mungkin berbincangan kita cukup sampai di sini." Tuan Yohan beranjak dari tempatnya duduk.


"Emmmm, apa Papa mau pulang?" Rumi turut beranjak. Sementara pria paruh baya itu tak menjawabnya. Bahkan tanpa berpamitan, dia langsung saja pergi dari meja Rumi. "Pa? Harus kah ku sampaikan salam untuk Debby?"


Tuan Yohan yang berjalan beberapa langkah pun berhenti. Ia menoleh kebelakang.


"Tidak...! Hanya tahu kabarnya baik-baik saja pun, itu sudah cukup untuk ku." Hanya sebatas itu, ia pun memalingkan wajahnya lagi. Mendekati meja kasir, membayar lalu keluar dari restoran Padang tersebut.


Rumi tersenyum, menatap punggung lebar yang sudah mulai menua itu. Ia tahu, ayah Debby amatlah menyayangi putrinya walaupun Debby sendiri sering menangis akibat pesan chat yang tidak pernah di balas. Namun ia paham, ayah Debby sudah pasti selalu merindukan putrinya itu.


***


Epilog...


Di perjalanan, Ayah Debby menghentikan laju mobilnya ketika Beliau mendapatkan pesan chat.


Ia pun membukanya, dengan cepat. Mungkin ia paham, di jam ini Debby biasa mengirimkannya pesan chat. Dan senyumnya pun langsung merekah.


(Papa... Apa kabar? Sudah makan siang belum? Ingat makan siangnya jangan yang terlalu berlemak ya. Jaga selalu kesehatan Papa, Debby sayang Papa.)


Beliau menatap layar ponselnya cukup lama, membaca berulang-ulang, dengan bibir yang masih mengembang.


"Papa sudah makan. Papa makan sama suami mu loh. Kau pun harus makan. Papa juga sayang sekali pada mu. Debby." Tuan Yohan hanya membalas dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya langsung, lantas mengecup layar ponselnya.

__ADS_1


Ya... hal itu biasa beliau lakukan. Walaupun dari kontak Debby selalu nampak centang abu-abu, namun sejatinya semuanya hanya karena pengaturan yang beliau buat. Agar tidak nampak bahwa sang ayah selalu membaca pesan chatnya tanpa menimbunnya berlama-lama, bahkan beliau menyematkan nomor Debby. Agar selalu berada di paling atas.


__ADS_2