
Di pagi yang sama, Rumi masih belum jalan, walaupun ia sudah rapih dengan jaket berwarna hitam yang melekat di tubuhnya serta ransel yang berada di punggungnya, ia masih setia menanti sang Ayah hanya untuk berpamitan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07:40, Abi Irsyad belum juga nampak.
Sesekali ia melirik kearah jam tangannya, lantas ke luar pagar. Belum juga ada tanda-tanda mobil Abi Irsyad muncul dari ujung gang.
"Kak, ini sudah hampir jam delapan loh."
"Iya, tapi Abi belum keliatan."
"Nanti aku sampaikan saja, takut telat juga, Lagian katanya mau ada pertemuan di jam sepuluh nanti, kan?"
"Iya sih, ya sudahlah. Aku jalan ya, Dek."
"Iya, jangan ngebut. Terus, kalau sudah sampai? kabari." Debby meraih tangan kanan Rumi dan mengecup punggungnya.
"Iya... Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, Suami."
Rumi tersenyum sembari memakai helm-nya lantas menyalakan mesin motor, membaca doa lalu pergi.
"Huft... Semoga suami ku selalu dalam lindungan-Mu ya Allah." Debby berjalan masuk setelah motor Rumi menjauh dari pandangannya.
***
Waktu senja di Bandung...
Langit yang terang kini berangsur-angsur menjadi temaram. Suara adzan Maghrib pula sudah berkumandang, bersahut-sahutan dari satu masjid ke masjid yang lain. Menemani langkah Rumi yang tengah berjalan menuju masjid, sebelum makan malam. Dia memang biasa seperti itu, ibadah menjadi prioritas awal, baru urusan perut menyusul.
Sembari mengobrol soal pekerjaan, ia berjalan bersama Jimmy. Teman yang sudah seperti adik baginya, karena memang jarak umurnya dengan Jimmy ada sekitar empat tahun.
Sesampainya di depan masjid, mereka pun duduk, di ujung anak tangga batas suci. Melepaskan sepatu serta kaos kakinya. Bersamaan dengan itu, seorang wanita yang datang dengan sepedanya membuat Rumi tercenung.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum pada beberapa ukhti lain, ataupun ibu-ibu di sana. Senyumnya benar-benar menawan, bahkan membuat Rumi tanpa sadar merasa betah menatapnya.
"Assalamualaikum, Neng Meida."
"Walaikumsalam warahmatullah, MashaAllah Ibu sudah bisa ke Masjid? Memangnya sudah sehat?" Tanya Meida ramah, pada seorang ibu yang baru saja sembuh paska operasi kaki.
Sementara di sisi lain, tatapan Rumi masih tertuju kepada gadis itu.
"Alhamdulillah, sudah mulai bisa jalan. Jadi bisa jama'ah lagi."
"Alhamdulillah kalau begitu, yuk masuk." Ajak gadis itu kemudian, yang lantas berjalan bersama menuju samping kanan masjid. Tepatnya area wudhu khusus wanita.
"Ayo masuk, Kak." Jimmy menoel lengan Rumi dengan sikutnya.
"Eh... Iya. Astagfirullah al'azim." Rumi geleng-geleng kepala lalu masuk. Karena sedari tadi ia tanpa sadar menyunggingkan senyumnya pada wanita itu, terlebih saat mendengarkan suara lembut Meida.
Ibadah sholat Maghrib hendak di langsungkan setelah iqomah di kumandangkan. Namun pak Kyai yang sudah berdiri di depan mihrab malah justru menoleh ke belakang, lantas mendekati Rumi.
"Afwan... Jangan pak Kyai, saya jadi makmum saja."
"Nggak papa, ayo antum saja."
"Wallahi pak kyai, saya merasa tidak enak. Karena di sini ada pak kyai, masa saya yang harus menjadi imam."
Kyai tersebut tersenyum. "Tapi saya senang mendengar bacaan mu."
"Mohon maaf pak Kyai, tapi saya benar-benar tidak enak hati. Jika harus saya yang menjadi imamnya."
"Baiklah kalau begitu. Oh... nanti masih ada pekerjaan tidak?"
"Tidak pak kyai."
__ADS_1
"Berati bisa ya, kasih kajian beberapa menit."
"Sa–saya?"
"Nggak papa." Pak kyai tersebut langsung kembali menuju ke mihrab-nya. Dimana Rumi sedikit menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia menoleh ke arah Jimmy, yang sudah mengacungkan kedua ibu jarinya sembari menunjukkan gigi-giginya, nyengir.
Rumi pun menghela nafas, lalu bersiap untuk menjalankan ibadah shalat setelah pak kyai berseru takbir.
–––
Tiga rakaat di jalani, di akhiri dengan zikir singkat. Setelah selesai, Rumi beranjak ketika pak kyai sudah memberikan isyarat untuk Rumi naik ke atas mimbarnya.
Dengan rasa sedikit gugup, ia pun membaca doa untuk kemudahan dalam berbicara di depan umum, mengucap salam, sholawat lalu mulai membuka kajian singkat tentang Ujian niat baik saja sudah berpahala.
"kita sebagai manusia, ketika melakukan suatu amalan. Maka Allah SWT pasti akan melipatgandakan pahal serta kebaikan untuk kita."
"Sebab apa? Kita kalau hanya mendapatkan nilai yang sama seperti jumlah amalan kita? Ya nggak akan cukup. Memang amalan kita seberapa? Itulah baiknya Allah SWT kepada para hamba-Nya. Tapi ada satu hal yang lebih luar biasa di sini, yaitu Niat baik manusia yang akan di hitung sama apabila kita belum sempat melakukannya." Rumi tersenyum, pandangannya berkelana, menangkap satu persatu sepasang mata para bapak-bapak yang serius mendengarkan kajiannya.
"Makanya para Ulama menyarankan kita untuk? Jangan pernah kikir dalam berniat baik. Berniat baiklah yang banyak. Ketika kita keluar rumah coba selalu diniati. –ya Allah semoga hari ini saya bisa membantu orang di jalan, semoga saya bisa silaturahmi dengan teman lama atau dengan keluarga, mudah-mudahan saya bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat, mudah-mudahan saya bisa membantu siapapun orang yang sedang dalam kesusahan, mudah-mudahan saya bisa... Bisa... Bisa...– banyakin aja niatnya terus, nggak papa walaupun cuma niat namun serius entah yang mana yang bisa kita lakukan, entah yang mana yang bisa kita tunaikan."
"Nah setelah niat sudah berada di hati. Dan Ketika kita keluar rumah? Allah sudah mencatat amal baik kita sebanyak apa yang kita niatkan itu. MashaAllah ya...? Niat aja sudah mendapatkan pahala yang minimal sama. Apalagi apabila di lakukan?"
"Bismillahirrahmanirrahim, wa innama likullimriin manawa –seseorang itu mendapatkan pahala, sesuai apa yang ia niatkan. Jadi ingat ya... Niat saja sudah ibadah, apalagi jika kita kerjakan. Pasti akan lebih berlipat-lipat ganda lagi."
.
.
.
#ceramah di atas berdasarkan hasil dari kajian seorang ustadz asal Bandung, yang saya kutip intinya. dan maaf saya tidak pernah kasih panjang setiap kajian yang saya sisipkan karena pasti ada beberapa yang skip karena membosankan 🤭 dan lagi bukan bermaksud saya menggurui. hanya untuk menambahkan bumbu islami karena ini cerita tema religi... Barakallahu Fiikum.
__ADS_1