Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
persimpangan yang berbeda


__ADS_3

Kehidupan tidak akan pernah selamanya selaras dengan pengharapan. Dimana kerikil-kerikil kecil hingga besar kadang menahan lajunya kendaraan hati yang kita tumpangi.


Sakit memang, ketika kita sudah berjuang? Menitipkan namanya dalam doa, bertemankan semilir angin di sepertiga malam. Menapaki jalan terjal yang sebenarnya, mungkin belum sepantasnya kita meresapi terlalu dalam. Dan kini apa? Jatuh di tengah jalan.


Tingkat sabarnya manusia memang tidak ada batasnya. Karena yang membatasi hanyalah manusia itu sendiri. Dia yang bisa menerima kenyataan serta takdir yang di berikan, akan mendapatkan ketenangan hati yang amatlah manis. Berbeda dengan dia yang hanya mengandalkan ego... Meresapi sakit hati itu terlalu dalam, sehingga malah justru menzolimi dirinya sendiri dengan ketidakmampuan untuk bertahan pada sebuah garis kehidupan.


–––


Malam di mana ketika ustadz Irsyad menyerahkan alamat bibi Maryam.


Rumi segera menghubungi Shafa, ia tahu ini amatlah tidak sehat. Karena akan kembali menggores luka Shafa lebih dalam lagi.


Namun sepertinya ia ingin memastikan lagi, jika gadis itu sudah benar-benar tidak terluka.


Cukup lama Shafa menjawabnya. Namun akhirnya di terima juga, menyapa dengan suaranya yang khas, lembut dan sedikit lirih.


"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Rumi, dengan posisi duduk di kursi kerjanya. "Maaf, kamu sudah tidur ya?"


"Belum... Baru mau. Ada apa?" Tanya Shafa.


"Fa... Aku tahu, seharusnya aku sudah tidak membahas ini lagi. Namun di hati ku, seperti masih ada ganjalan."


Shafa terdiam di sebrang. Tangannya menyentuh jendela kaca, bergerak naik menyentuh cahaya rembulan yang seolah sangat lah dekat dan mudah ia raih. Namun tidak, itu sangat lah jauh... Bahkan saking jauhnya sangat mustahil untuk dia raih.


"Maaf ya Fa..." Ucap Rumi lembut. "Aku tahu, kesalahan ku tidaklah bisa terampuni."


Gadis itu menitikkan air matanya lagi. Dia bahkan tidak bisa berbicara, hanya bisa menunduk sedih sembari menurunkan tubuhnya duduk di kursi plastik itu.


"Fa..?"


"Aku... Amatlah rendah, Dimata mu.... Rumi." Kata-kata Shafa terbata-bata.


"Wallahi Shafa... Aku tidak memandang mu rendah, jangan berkata seperti itu."


"Apa aku jelek?" Tanya Shafa.


"Enggak Shafa... Kamu cantik, kamu Soleha... Kamu idaman sekali. Tapi?"


Shafa tersenyum. "Cinta tidak bisa di paksakan. Bukankah begitu?"


"Emmm..." Jawab Rumi menunduk.


"Shafa mengagumi Rumi, bahkan dengan sangat lancangnya kadang berharap bisa berada dalam satu ruangan yang sama, dalam doa masing-masing, berdoa selayaknya sepasang kekasih halal. Di sepertiga malam." Shafa tersenyum dengan deraian air mata yang bahkan dia sendiri tidak tahu bagaimana menghentikannya. Jari telunjuknya bergerak-gerak mengguratkan sesuatu di sana. 'ya Rabbi' begitu tulisnya di dinding kaca yang tak berembun.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Rumi. Suaranya terdengar sesak "aku tidak pernah berniat, menyakiti mu. Shafa."

__ADS_1


"Rumi tidak menyakiti ku kok.... Aku yang menzolimi diri ku sendiri."


"Maaf Fa..."


"Jangan minta maaf, sudah ku bilang kamu tidak salah." Shafa menghela nafas. Ia mendadak ingat akan secarik kertas yang ia berikan pada ustadz Irsyad. "Sudah punya alamat Tantenya Debby kan? Namanya Maryam, di kenalnya Ci Maryam."


Rumi menatap lurus dengan sendu, dia terdiam untuk beberapa saat. Lalu menyibak rambutnya kebelakang, Serta mendesah pelan.


"Kenapa kamu lakukan ini?" Tanya Rumi.


"Apa?"


"Membantu aku, mencari alamat Tantenya Debby?"


"Karena aku setuju kamu sama dia."


"Walaupun itu menyakitkan untuk mu? Kamu seharusnya kan membenci ini?"


"Haruskah? Karena tidak mendapatkan mu, lantas aku membenci Debora?"


"Emmm, mungkin," jawab Rumi lirih.


"Aku bukan anak kecil yang tidak terima ketika mainan ku di rebut orang lain, Rumi."


"Aku tahu." Gumam Rumi lirih.


"Sesederhana itu?"


"Memangnya apa yang kau harapkan? Apa aku harus memaki-maki kalian berdua? Itu malah akan semakin membuat ku amatlah rendah. Sungguh aku sudah menerima keputusan mu Rumi, Wallahi."


Rumi terdiam, sejenak.


"Seberapa luas sabar mu? Hingga bisa kamu lakukan ini, pada pria yang sudah menyakiti mu?"


"Hahaha... Rumi, kamu bicara apa?"


"Serius... Aku bingung untuk membalas kebaikan mu itu."


Shafa tersenyum. "Berati, aku boleh meminta sesuatu, dong?"


Rumi sedikit terkekeh. "Boleh... Apa saja."


"Beneran?"


"Iya Shafa... Apa saja."

__ADS_1


"Kalau begitu. Aku hanya ingin, kamu jagain adik manis ku itu ya. Janji, untuk tidak menyakitinya."


"Hanya itu?" Tanya Rumi.


"Iya lah... Memang maunya apa?"


"Astagfirullah al'azim." Gumam Rumi geleng-geleng kepala, dia tersenyum.


"Kenapa, kok istighfar?"


"Nggak... Nggak papa. Aku akan berusaha membahagiakan dia."


Shafa tersenyum, dengan tangan menyentuh dadanya. "Itu baru pria idaman. Debby pasti bahagia."


"Tapi aku juga mau kamu janji satu hal."


"Apa?" Tanya Shafa.


"Cari lah pria, yang jauh lebih baik dari pada aku. Dan bahagia dengannya."


"Sepertinya tidak ada." Ledek Shafa.


"Faaa..."


"Hahaha... Hanya bercanda. Iya Rumi, intinya aku sudah ikhlas... Jadi jangan bahas ini lagi ya. Dan bahagia lah kalian berdua, sebagai sepasang kekasih halal."


Rumi tersenyum. "Terimakasih atas kebaikan mu, yang bahkan aku sendiri mungkin tidak akan sanggup Seperti kamu."


"Bukankah, setiap luka pasti ada obatnya ya? Aku hanya berusaha memperbaiki diri dalam keimanan," jawab Shafa.


"Aku salut padamu."


"Jangan memuji ku."


"Nggak, itu serius. Aku bersyukur, pernah di kagumi wanita sebaik diri mu. Tapi? Mungkin hati ku saja yang tidak mensyukuri itu."


"Rumi jangan bilang seperti itu."


"Iya Shafa... Sekali lagi maaf ya."


"Iya." Tersenyum.


"Sudah malam, tidur lah... Aku tutup ya, assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." Sambungan telepon terputus. Shafa pun menghela nafas. Rasanya sudah jauh lebih baik, dan perasaan malunya terhadap Rumi pun sudah sedikit berkurang. Kini hanya tinggal dirinya membuka lembaran baru setelah drama singkatnya itu.

__ADS_1


Seperti inilah hidup... Dia memang sempat singgah sementara, menggoreskan sedikit luka di hati. Sebagai sebuah pembuktian sebuah tadir. Dimana yang sebenar-benarnya jodoh, mau seperti apapun kita menolak pasti kita akan tetap bersama. Berbeda dengan mereka yang bukan milik kita, sekuat apa tangan ini menggenggam, kalau kita bukan pemiliknya? Maka mau tak mau, mereka pun harus menerima itu. Lantas menyerahkannya kepada yang lebih pantas mendapatkan.


Karena Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan.


__ADS_2