
Mereka mulai sampai ke salah satu tempat yang sepertinya tidak jauh dari masjid tadi. Karena memang, kedua orang itu hanya mutar saja mencari tempat aman.
"tunggu, tunggu dulu..." Shafa menahan pria itu.
"Apa sih?" Semakin ngos-ngosan.
"kerudung ku terlepas." Shafa masih memegangi hijab di bagian bawah dagunya menahan kerudungnya agar tidak terbuka.
Sementara pria dengan brewok tipis itu menghentikan langkahnya,menoleh ke kiri dan ke kanan.
Sepertinya aman, dia menghela nafas lega dengan posisi sedikit membungkuk, dengan kedua tangannya memegangi kedua lututnya sendiri mengambil nafas... rasanya dia ingin merebahkan tubuhnya di jalan aspal yang ia pijak ini saking lelahnya.
Dia pun melepaskan mukenah yang ia pakai itu lalu menyerahkannya pada Shafa yang sama masih ngos-ngosan.
Dia sendiri saja bingung, kenapa Shafa harus turut ia bawa lari dari kerumunan para fansnya itu. Tapi, ia khawatir juga sih, gadis ini akan menjadi bulan-bulanan mereka. Bisa-bisa gadis itu di tuduh memiliki skandal dengan dirinya.
Dan entah apa yang akan mereka lakukan pada Shafa. Karena fansnya fanatik semua.
Sejenak ia melihat Shafa masih diam saja di hadapannya.
"Hei... Katanya mau benerin hijab?"
"Iya, tapi ada situ."
"Ck...! Emang saya ngapain? Benerin ya benerin aja." Titahnya.
Shafa menatap ke sekeliling. "Ini tempat terbuka." Gumamnya.
Dan ketika mendengar itu, pria dihadapan Shafa pun menghela nafas. Ia berjalan mendekati Shafa lalu tanpa berfikir panjang lagi, langsung meraih tangannya. Sontak Shafa yang menyadarinya itu pun menghindari bersentuhan tangan dengan pria itu langsung.
"Saya sudah bilang kan, Jangan sentuh saya...?" Shafa kembali menunduk, dia takut sebenarnya dengan pria berpenampilan gangster di hadapannya itu.
"Apaan sih...!!! Kamu mau memperbaiki hijab mu kan, Mbak ustadzah? Makanya ikut saya, ayo." Kembali tangan itu hendak meraih lengan Shafa untuk yang ketiga kalinya seraya berjalan. Dan gadis itu masih menghindar, hingga kepala pria itu kembali menoleh ke arah gadis berhijab di belakangnya. "Suci sekali kah diri mu? Bahkan di sentuh saja tidak boleh? Saya muslim... Tenang saja. Tangan saya juga tidak najis."
"Bukan begitu, tapi saya sedang menjaga wudhu saya."
"Ahh...Ribet!" Pria itu mencubit bagian lengan baju milik Shafa lagi, lalu menariknya.
__ADS_1
"Maaf om, kak, bang, emmm....?" Shafa bingung ingin menyebutnya siapa.
"Arifin...!" Potong pria itu.
"Iya, om Arifin... Aku?" Mendengar kata om di sematkan di belakang namanya pria itu langsung saja menghentikan langkahnya.
"Kau sebut siapa aku? Om kata mu? Kapan saya nikah sama Tante mu?"
"Ya... Mau bagaimana lagi, anda sepertinya sudah dewasa sekali."
Arif mendesah, "Berapa usiamu?" Tanyanya kemudian.
"Du...dua puluh lima tahun." Jawab Shafa.
"Panggil saja kak atau apa gitu... Terserah lah, asal jangan Om."
"Iya bang."
"Bang??" Kedua bola mata itu membulat.
"Ck...!!" Arifin geleng-geleng kepala menahan kesal, dia pun kembali membawa gadis itu menuju mobilnya. Dan berhenti di depan pintu seraya menekan kunci pembuka pintu itu. "Masuk." Titahnya setelah pintu mobil itu terbuka.
"Saya mau di bawa kemana?"
"Hei, kau mau membenahi hijab mu kan, sana masuk dan benarkan hijab mu di dalam."
"Oh, iya." Menurut, gadis itu pun langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Haaahhh...! Yang begini bikin kesal namanya." Gerutu Arif setelah menutup lagi pintu mobilnya. Dengan posisi membelakangi, dia menunggu gadis itu sampai selesai. Hingga pintu mobil pun terbuka.
Arif sedikit menjauh dari situ, lalu menoleh ke arahnya. "Sudah?" Tanya dia.
"Sudah, terimakasih banyak bang Arifin." Ucap Shafa tulus. Pria itu pun hanya menjawab dengan hmmm seraya berjalan lalu masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Sementara itu, Shafa masih berdiri tepat di depan pintu mobil milik Arifin. Pria itu pun membuka kaca mobilnya. "Nih..." Mengulurkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah.
"A...apa ini?"
__ADS_1
"Uang terimakasih, karena mukenah mu, saya jadi tidak di kejar fans." Kata dia masih mengarahkan uang tersebut ke arah Shafa.
"Nggak perlu bang, simpan saja." Shafa menolak dengan halus, dimana saat ini kening itu tengah berkerut. 'memangnya dia artis ya? Kok dia sampai segitunya di kejar fans.' batin Shafa, yang tidak paham jika Arifin adalah seorang selebgram dan Utubers ternama. Maklum saja dia tidak terlalu minat dengan sosial media, apalagi menonton konten-konten yang menurutnya berkesan sangat duniawi.
"Serius tidak mau?" Arifin meyakinkan.
"Iya serius bang, saya nolong Bang Arif tuh tulus. Dari hati."
"Nggak yakin tulus sih, buktinya tadi nggak mau kan? Pake nuduh maling segala." Gumamnya.
"Bukan begitu, saya kan jaga-jaga. Dan lagi gelagat anda seperti maling."
"Kan? Berhijab tapi su'udzon ya? Dasar Muna.."
"Maaf kan saya ya bang, saya tidak bermaksud seperti itu."
"Terserah diri mu lah. Yang penting nih ambil duitnya. Halal kok ini tenang saja, bukan hasil rampok." Masih berusaha mengulurkan. Namun Shafa mendorongnya pelan.
"Maaf, saya tidak bisa terima."
"Halal ini... nggak kotor nggak najis juga." Gregetan.
"Bukan begitu, tapi saya nggak mengharapkan uang. Maaf sekali lagi, saya permisi... Assalamualaikum." Gadis itu berpamitan sebelum akhirnya pergi meninggalkan pria yang masih mengulurkan uang kearahnya.
"Walaikumsalam." Gumam Arif lirih, dia pun mengangkat kedua bahunya. "Ya sudah... Jaman sekarang masih ada aja orang munafik, paling juga nyesel dia nggak nerima uang ini." Arifin kembali menutup kaca mobilnya. Hingga mesin mobil itu mulai menyala dan pergi dari sana, melewati Shafa yang masih berjalan santai, dengan sedikit menekan gasnya.
Gadis itu pun geleng-geleng menatap mobil yang sudah melaju di depannya itu.
"Namanya Arifin? Nama yang bagus, tapi kelakuannya? Astagfirullah al'azim." Shafa beristighfar ketika tersirat fikiran buruk tentang pria itu.
Sementara yang di mobil, berkali-kali mengintip bayangan wanita yang masih berjalan di belakang melalu kaca spion, hingga benar-benar samar dan akhirnya tak nampak, setelahnya geleng-geleng kepala. Entah apa yang ada di pikiran pria itu, yang pasti untuk saat ini dia lega bisa terlepas dari para fansnya.
Sebuah dering ponsel pun membuatnya memasang earphone di telinganya.
"Apa?" Tanya dia ketus. "Aku di jalan, sudah ku bilang nanti barangnya ku ambil sendiri, untuk masalah X sudah biarkan saja manager ku yang mengurusnya." Pikkk... ia mematikan sambungan telepon itu.
***
__ADS_1