
Hari yang terus bergerak semakin siang, selepas shalat duha Rumi sudah bersiap untuk mengunjungi orang tua Debby di Bandung.
Dengan kendaraan milik Abinya, Rumi meletakkan beberapa barang yang wajib di bawa, Seperti baju ganti dan sebagainya.
Tak lupa beberapa kue yang di beli Ustadz Irsyad untuk besannya itu.
Ustadz Irsyad mengusap bagian kap mobil itu, sembari berjalan sampai kebagian bodi belakang menghampiri Rumi.
"Nanti jangan lupa di isi bensinnya ya. Abi lupa kemarin tidak masuk POM bensin karena terburu-buru." Tutur ustadz Irsyad.
"Iya Bi." Jawab Rumi singkat, pandangannya masih tertuju pada barang yang tengah ia tata. Hingga beberapa lembar uang terulur kepadanya. Rumi pun menoleh ke arah Abi Irsyad "Ini apa?"
"Buat isi bensin nanti sama pegangan kamu."
"Duh... Tidak usah Bi. Rumi ada kok." Mendorong pelan.
"Mau menolak rezeki?" Tanya Abi Irsyad.
"Bukan begitu. Tapi Rumi kan sudah memiliki istri, masa masih di kasih uang sih."
"Halah... Sudah ambil ini." Abi Irsyad meraih tangan Rumi lalu meletakkan uang senilai satu juta di telapak tangannya.
"Bi, ini kebanyakan." Rumi menyerahkan lagi, namun kedua tangan Abinya sudah terangkat.
"Abi itu ngasih, jadi terima saja. Nggak usah di balikin lagi."
Rumi pun menurunkan tangannya lalu duduk di bibir bagasi belakang itu. Lembaran uang itu pun masih ia genggam di atas pangkuannya. Rumi nenghela nafas sejenak.
"Abi dulu waktu menikah sama Umma, sudah ada rumah ini. Sudah memiliki pekerjaan yang mapan juga, sementara Rumi?"
"Kamu mikir apa? Tidak usah berkecil hati, rezeki itu ada yang mengatur."
"Tapi Rumi merasa khawatir, tidak bisa membahagiakan Debby."
"Harta tidak melulu membuat bahagia pasangan mu. Kamu pikir jalan Abi mulus-mulus saja dengan Umma dulu? Tidak seperti itu... Tetap masih ada cobaannya. Jadi jangan berkecil hati, hanya karena kamu belum memiliki kecukupan harta."
Rumi tersenyum kecut. "Seharusnya Rumi kemarin selesaikan kuliahnya." Terkekeh, merasa menyesal.
"Sudah... Abi tahu kamu seperti itu untuk Umma. Sekarang? Bekerja lah sesuai ijazah mu dulu, kalau ada kelebihan rezeki sambung lagi kuliahnya. Allah itu dekat, ikhtiar cukup di raga mu, jangan pakai hati. Kerja-kerja saja tidak usah mikir hasilnya."
__ADS_1
"Iya Bi." Rumi beranjak saat Debby berjalan terburu-buru keluar. Dengan pakaian yang sudah rapi siap untuk pergi.
"Maaf Bi, Abi di cari Umma. Katanya minta di tungguin karena merasakan rada sesak di bagaian dadanya."
"Iya... Kalian jalan saja ya, hati-hati." Abi Irsyad berjalan masuk setelah menyalami kedua anak itu.
Debby pun menatap Rumi, "kak, kita beneran jadi ke Bandung? Umma Sepertinya sakit." Terlihat mimik wajah khawatir di sana, membuat Rumi langsung meraih tangan Debby.
"Umma biasa seperti itu, jika sedang kambuh penyakitnya. Sebentar ya, kita cek Umma dulu." Rumi menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah itu.
–––
Di dalam kamar...
Ibu paruh baya itu tengah duduk dengan sedikit membungkuk menekan bagian dadanya yang sesak. Nafasnya pun pendek tersengal-sengal.
"Kenapa, dek?" Ustadz Irsyad masuk dengan terburu-buru, dan bergegas mengeluarkan sebuah tabung oksigen kecil, di laci sebelah ranjang mereka. Lalu memasang maskernya. "Kamu terlalu kelelahan pasti nih."
Rahma tersenyum tipis sembari menghirup pelan oksigennya.
"Jangan terlalu lelah sayang, kamu tuh ya kalau di bilangin, mbok ya yang nurut." Ocehnya.
"Jangan berlebihan mas." Gumamnya di dalam masker oksigen tersebut, dengan suara yang sedikit tidak jelas.
"Aku kan sudah sembuh." Jawab Rahma lirih, masih menghirup oksigennya.
"Iya kamu sudah sembuh, tapi jangan langsung mau beraktivitas berat. Jantung mu belum kuat." Ujar ustadz Irsyad, sementara yang di khawatirkan hanya tersenyum lemah dengan mata yang terpejam.
Tak lama Rumi pun mengetuk pintu kamar mereka. Membuat Ustadz Irsyad menoleh ke arah pintu, sementara Rahma kembali membuka matanya pelan.
"Umma, sakit lagi?" Rumi duduk di sebelah kaki sang ibu, memijatnya pelan. Rahma pun menggeleng pelan.
"Kalian mau ke Bandung kan?" Rahma menarik nafas panjang, "kok belum jalan?" Tanya Rahma terbata-bata karena nafasnya yang pendek itu.
"Besok saja tidak apa Umma. Kita khawatir malah kalau hari ini jadi jalan," jawab Debby.
"Jalan saja... Umma kan? Hanya tinggal di kasih oksigen saja... Sudah.... Enakan." Jawabnya lemas.
"Umma jangan banyak bicara dulu. Umma istirahat ya." Ucap Rumi, dia langsung menyelimuti bagian kaki sang ibu karena ia akan semakin merasa sakit di bagian dadanya jika terasa dingin. "Dek, maaf ya? Tolong isi bantal karet itu dengan air panas." Titah Rumi pada Debby.
__ADS_1
"Iya Kak." Debby segera meraih bantal karet yang tergeletak di atas meja, lalu berjalan keluar dengan langkah cepat. Sementara Rumi langsung beranjak membuka laci meja, meraih beberapa obat untuk mengurangi efek sesak akibat penghimpitan di bagian jantung ibunya.
Satu persatu obat itu di keluarkan dari wadahnya oleh Rumi, dan setelahnya menyambar segelas air yang berada di meja itu juga.
Ustadz Irsyad pun berpindah posisi, bergantian dengan Rumi yang sudah memegang segelas air dan beberapa butir obat di tangannya.
"Di minum dulu Umma." Ucap Rumi, saat ustadz Irsyad membuka masker oksigennya. Rahma pun tersenyum, ia meminum obat itu langsung dari tangan sang anak laki-lakinya lalu menyeruput air putih itu, hingga beberapa butir obat itu terdorong masuk.
"Masih sesak tidak?" Tanya Ustadz Irsyad, Rahma mengangguk pelan.
"Sedikit." Jawabnya lirih. Ustadz Irsyad pun kembali memasang masker oksigennya, lalu merebahkan tubuh Rahma perlahan.
Tak lama Debby pun kembali masuk, lalu menyerahkan bantal karet berisi air panas itu pada Rumi yang kemudian meletakkan itu di dekat lengan ibunya untuk di peluk. Rumi pun membenahi selimut Rahma hingga ke bagian dada.
"Sudah cukup, sayang. Umma sudah enakan." Jawabnya merasa tersanjung dengan perlakuan kedua anak dan suaminya.
"Umma istirahat ya, mungkin Rumi sama Debby akan jalan nanti rada sorean saja."
"Loh... Kenapa? Umma sudah lebih baik." Jawabnya.
"Nggak papa Umma, Debby juga nggak tenang kalau ke Bandung sekarang. Malah kalau bisa besok saja."
"Nggak papa... Jalan saja."
"Iya Umma, nanti sorean saja selepas Ashar." Jawab Rumi, ia mengecup kening ibunya. "Umma istirahat ya."
Rahma mengangguk pelan, matanya pun terpejam karena mengantuk. Sehingga membuat Rumi beranjak pelan, lalu menggandeng tangan Debby keluar dari kamar itu dengan raut wajah sedih bercampur khawatir.
Dan setelah pintu kamar itu tertutup, ustadz Irsyad merebahkan tubuhnya dengan posisi miring di sebelah Rahma.
Tangannya memeluk bagian perut Rahma, sementara satu tangan lagi menopang kepalanya.
Rahma kembali membuka mata menatap sang suami lembut.
"Apa?" Tanya Rahma pelan, Karena ustadz Irsyad tak sedikit pun melepaskan pandangannya.
"Mas, mau ade sehat."
"Ini sudah sehat." Jawab Rahma, hendak melepaskan masker oksigennya. Namun di tahan oleh Ustadz Irsyad yang langsung menggeleng pelan, kembali memasang masker itu lagi.
__ADS_1
"Harus lebih sehat lagi, jadi kamu harus nurut ya. Sama Mas." Ustadz Irsyad menurunkan wajahnya mengecup kening Rahma lembut. "Mas sayang sama kamu, dek."
Rahma tersenyum, ia membalas pelukan ustadz Irsyad dengan cara memegang lengan yang melingkar di perutnya itu sembari memejamkan matanya, tertidur.