Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
Rindu Umma


__ADS_3

Ketika adzan Maghrib berkumandang, Rumi baru saja keluar dari ruangannya.


Ia segera berjalan mendekati lift, sebelum ketinggalan jamaah Maghrib di masjid.


Berdiri cukup lama di depan pintu yang masih tertutup, ia mengeluarkan ponselnya. Ketika mendapati satu pesan chat dari Debby.


Rumi tersenyum, hendaknya dia membalas pesan itu namun tidak jadi, karena pintu sudah terbuka, dan memutuskan untuk memasukkan kembali ponselnya ke saku baju. Di dalam lift itu rupanya ada orang, iya... Dialah Justin. Rumi menyapa dengan anggukan sekali.


"Pak," kata dia. Yang di balas hanya dengan senyuman oleh Justin lantas ia pun langsung bergeser sedikit, memberinya ruang.


"Sudah selesai?" tanya Justin.


"Ya pak, sudah. Baru saja," menjawab dengan canggung. Hening sejenak, ketika lift bergerak dalam posisi turun. Justin pun menoleh.


"Rencana, setelah ini mau kemana? Apa langsung pulang?"


"Niatnya sih iya, pak. Tapi saya mau ibadah dulu sebelum jalan."


"Owh," Justin manggut-manggut. Lift masih berjalan turun, karena tujuan mereka sama yaitu lantai paling dasar. "Emmmm, boleh saya bertanya?"


"Silahkan, pak..."


"Bagaimana, rasanya bisa menikahi wanita seperti Debby?"


Deg...! Rumi mematung, kenapa bisa dia bertanya seperti itu? Ahh... Sudah biarkan saja. Dia mungkin belum paham tentang adab menanyakan istri orang lain.


Rumi tertawa singkat. "Maksudnya bagaimana pak? Saya tidak paham."


"Begini. Dia itu kan wanita yang energik sekali, ceroboh, banyak bicara. Pasti seru sekali ya memiliki istri seperti itu," Justin senyum-senyum. Ketika mengingat dia pernah menjahili Debora saat SMA dulu.


"Hahaha... Bapak paham sekali karakter istri saya," Rumi menghela nafas menahan perasaan tak enak di hatinya.

__ADS_1


Justin menoleh dengan senyum polosnya. "Tentu lah, dia kan dulu adik kelas saya. Saya pernah menjahili dia saat masa ospeknya, mau dengar ceritanya?"


"Sepertinya tidak pak, takut kelamaan. Nanti malah menghabiskan waktu bapak," jawab Rumi langsung, yang berharap pintu lift segera terbuka.


"Nggak kok, karena ini lucu."


"Hahaha... Iya akan lucu bagi bapak, dan mungkin tidak bagi saya. Belum mendengar saja saya sudah di terpa angin panas pak, apa lagi jika mendengarnya?"


"angin panas?" Tanya Justin.


"saya hanya bercanda pak. Hahaha" Rumi terkekeh garing. Sementara Justin hanya menanggapi dengan senyum. Entah dia tidak mengerti atau bagaimana? kenapa tidak bisa menyadari bahwa karyawannya itu tidak suka istrinya di jadikan pokok bahasan mereka. "Jadi... sebaiknya tidak usah di ceritakan," jawab Rumi kemudian. Berharap pembicaraan ini berakhir.


"Begitu ya? Saya bicara seperti ini, tidak membuat mu cemburu, 'kan? Tenanglah saya tidak punya niatan untuk macam-macam kok."


"Emmm... Bagaimana ya bilangnya?" Rumi bergumam sembari garuk-garuk kepala, "Kalau saya tidak cemburu, berarti saya Dayyuts, pak."


"Dayyuts?" Justin tidak paham.


"Ahh... Kalau begitu maaf."


"Tidak apa-apa pak," jawab Rumi Keduanya pun terdiam lagi. Merasa canggung antar satu sama lain. Hingga pintu lift itu terbuka. "Silahkan pak..." Rumi mempersilahkan Justin untuk keluar lebih dulu.


"Terimakasih." Pria itu melangkah keluar, dan di susul Rumi. Sesaat beliau kembali menoleh kebelakang lalu menyerahkan paper bag coklat kecil yang ia bawa kepada Rumi.


"Terima ini, sebagai permintaan maaf saya," kata beliau.


"Ya ampun, tidak usah pak. Saya tidak apa-apa kok."


"Terima saja, sungguh saya merasa tidak enak sekali pada mu. Tenang saja, ini halal kok karena dalamnya hanya kue manis isi kacang merah."


"Justru saya yang tidak enak, takut menyinggung bapak dengan kata-kata saya tadi. Yang seperti sedang berkhutbah."

__ADS_1


Justin tersenyum. "Tidak kok. Tenang saja, jadi terimalah ini. Ayo terima."


Perlahan Rumi meraih paper bag dari tangan Justin. "Terimakasih banyak pak."


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam."


"Iya pak, selamat malam." Rumi menatap punggung yang mulai menjauh mendekati pintu keluar. Menghela nafas dan beristighfar setelahnya, di lirik lagi bungkusan yang ia pegang lalu tersenyum.


"Sebenarnya beliau adalah orang yang baik. Semoga memang hanya sebatas mengagumi saja, tidak lebih," gumamnya, ia pun mengingat jika dia harus ke masjid, hingga membuatnya bergegas mendatangi masjid guna memenuhi panggilan Tuhannya.


.


.


.


Di masjid, Rumi melepas alas kakinya. Di mana iqomah sudah berkumandang, tanda sholat akan segera di jalankan. Rumi yang baru saja tiba bergegas menuju tempat wudhu.


Setelah beberapa saat, selepas tiga rakaat itu di jalankan. Ia mengeluarkan tasbih kecil dari dalam tasnya lalu menggulirkan satu persatu, berzikir singkat hingga hampir setengah jam lamanya.


Baru setelah itu menengadahkan kedua tangannya, bermunajat.


Di akhir Ia menyebut nama ibunya, lalu membaca alfatihah. Hingga kedua mata itu kembali menganak sungai. Ketika sekelibat kenangan antara dirinya dan Umma seolah melintas di kepala. Ia pun mengusap wajahnya setelah selesai berdoa. Lalu terdiam sejenak di atas alas sujud sembari membayangkan tubuhnya itu di peluk Umma Rahma.


"Umma... Rumi rindu." Ia mengusap lembut kedua matanya. "Astagfirullah al'azim... Astagfirullah al'azim..."


Nafasnya sedikit berat, ketika sesak kembali datang. Itu hal biasa yang di rasakan Rumi. Ketika mendoakan ibunya, dia pasti akan menangis karena rindu. Dalam hati selalu berfikir, andai masih di kasih kesempatan untuk bertemu ibunya ia sangat ingin tidur dengan kepala berada di pangkuannya lagi. Tidak lama, hanya beberapa menit saja. Asal ia bisa merasakan kembali tangan hangat yang membelai lembut kepala... Begitulah pengharapan Rumi.


Namun, mau bagaimana? Semua sudah menjadi takdirnya ketika tidak bisa lagi dekat dengan wanita nomor satu paling ia cintai.


Kini hanya doa saja yang bisa ia berikan, dan berharap? Ummanya bisa bahagia di sana. Terhindar dari siksa kubur, dan mendapati makam yang lapang di alam barzah.

__ADS_1


__ADS_2