Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
ekstra part (bagian 3)


__ADS_3

Siang itu juga setelah puas bermain dengan para cucunya, Ustadz Irsyad berjalan ke belakang rumahnya, bersama Rumi.


Mereka berniat untuk menangkap satu ekor ayam jago kampung peliharaan Beliau di dalam kandang.


Keoookkk.... Keookk... Suara kepakan serta Kokok ayam membuat kebisingan di sana, saat Ustadz Irsyad berhasil menangkapnya lalu memegangi kedua sayap tersebut dengan satu tangan.


"Nggak sayang ini, Bi. Mau di potong?" Tanya Rumi yang sudah mengambil alih. Memegangi ayam tersebut, cukup kuat.


"Nggak lah... Buat anak-anak Abi, masa sayang? Itu kan masih banyak. Nanti juga besar lagi. Yang itu?" Abi menunjuk salah satu kandang yang terdapat ayam betina di dalamnya. "sedang bertelur, sudah ada delapan. Yang di sana sedang mengiring anak-anaknya, semua itu ayam peliharaan Abi. Masih banyak, 'kan?" Terkekeh, sama halnya dengan Rumi.


Benar-benar Abi sudah sangat beradaptasi dengan desanya. Seperti bukan Abi Irsyad yang dulu, beliau benar-benar berbaur dengan masyarakat sekitar, tanpa membawa kesan wibawanya dulu saat masih menjadi dosen di Jakarta.


Beliau lantas berjongkok bersama anak sulungnya itu menyiapkan p*sau yang t*jam lantas membaca basmalah sebelum menyayat bagian urat leher ayam jantan di tangan Rumi.


Rumi sedikit memalingkan wajahnya, saat mata p*sau itu mulai menggores bagian leher ayam berwarna putih dengan corak hitam di bulunya, bukan apa-apa ia amat ngeri saja namun tetap memegang kuat, ketika ayam mulai kelojotan.


"Lempar agak jauh, biar dia mati dulu." Titah Ustadz Irsyad, dimana Rumi langsung menuruti. Sementara Abi Irsyad kembali menangkap ayam satunya lagi.


"Satu saja sepertinya cukup, Bi." Ujar Rumi.


"Abi ingin membuat hidangan spesial, kalau kebanyakan kan bisa di bagi ke tetangga." Balas beliau, suara ayam yang kelabakan pun kembali terdengar, saat tertangkap oleh Ustadz Irsyad. "Yang ini lebih gemuk," tambahnya Kemudian.


Rumi pun hanya tersenyum, ia kembali memegangi sayap ayam tersebut untuk segera di potong.


Rampung dalam urusan memotong ayam, Ustadz Irsyad pun memasukan dua ekor ayam tersebut ke sebuah keranjang lalu membawanya ke bawah.


"Itu mau di bawa ke mana?"


"Ke tempat cabut bulu, di rumah Mbah Dimin di bawah situ ada mesin cabut bulu, lumayan sekalian pinjam p*sau dagingnya," jawab Ustadz Irsyad, di mana Rumi lantas membulatkan bibirnya mengiyakan.


Ustadz Irsyad pun melanjutkan langkahnya, menuruni anak tangga yang terbuat dari tanah yang padat, menuju ke salah satu rumah, karena tanah di sana tidak rata jadi masih terdapat bukit-bukit kecil yang membuat bangunan rumah satu tak setara dengan bangunan rumah yang lain.


Selang beberapa menit, Ustadz Irsyad kembali dengan ayam yang sudah dalam keadaan bersih dan terpotong.


Beliau pun memindahkannya ke baskom yang lumayan besar lalu menyisihkan.


Di sana Debby keluar dari dalam ruang tengah setelah menidurkan Alzah.


"Abi mau masak apa?"


"Ini, masak ayam mau Abi presto biar empuk," jawab beliau ramah, logat Jawanya semakin kental terdengar. Abi Irsyad mulai sibuk mengambil beberapa bumbu dapur lalu duduk di dipan kayu.


Debby menatap sekeliling, bagian depan memang sudah lumayan modern. Namun di area dapur masih terlihat tempo dulu.


Dengan tungku kayu yang berada di ujung ruangan bagian dapur kotor, karena dapur yang luas itu terbagi dua, separuhnya sengaja tidak di lapisi keramik agar suasana jaman dulunya masih terasa, itu menurut penuturan Abi Irsyad saat merenovasi rumah ini.

__ADS_1


Debby pun mendekati. "Debby bantu ya, Bi?"


"Nggak usah, Nduk. Kamu istirahat saja. Lagian membumbui ayam tidak lama. Hanya bikin bumbu terus di presto sampai empuk. Sisanya tinggal di olah nanti."


"Nggak papa Bi," jawab Debby, tak lama Nuha pun turut masuk.


"Masak apa nih?"


"Ayam, Dek." Jawab Abi Irsyad yang mulai meracik bumbu ungkep, yang akan di haluskan oleh Debby menggunakan ulekan besar. Ibu tiga anak itu melirik ke arah baskom yang berada di wastafel dekat kompor.


"Wah, enaknya di santan kental seperti buatan Mbah Putri dulu Bi." Jawab Nuha.


"Boleh– nanti Abi ***** dulu kelapanya." Jawab beliau semangat.


"Nah nanti Nuha yang memarut kelapanya."


"Heheh... Peka sekali, Dede?"


"Peka dong, Bi." Nuha menimpali, hingga menimbulkan tawa hangat di ruangan itu dari ketiganya.


"Anak-anak, sedang tidur?"


"Iya Bi. Hanya Ziya dan Fawwaz. Kalau Faiz masih main sama A'a di dekat kolam," jawab Nuha, dimana Abi Irsyad langsung manggut-manggut.


"Segini cukup nggak, Bi?" Tanya Rumi. Abi Irsyad menoleh.


"inshaAllah cukup, le. Itu kalau di timbang ada satu kilo lebih." jawab Ustadz Irsyad. Rumi pun mendekati dipan kayu tersebut.


"Kacang panjang? Kak Rumi dapat dari mana?" Tanya Debby, sembari menyentuhnya.


"Di belakang rumah. Metik, Dek. Ada banyak."


"Ya Allah– Abi nanam sayur juga?"


"Iseng, dari pada nganggur." jawab Ustadz Irsyad sembari terkekeh, beliau kini sudah mengambil posisinya, duduk di sebuah kursi kayu yang pendek untuk ******* sabut kelapa di tangannya.


"Hebatnya jadi pengen lihat."


"Sini aku yang ulek Dek." Rumi meraih batu ulekan di tangan sang istri.


"Ayu Ce, kita ke kebun." Ajak Nuha sumringah. Debby pun mengangguk, dan langsung beranjak dari tempatnya.


"Hati-hati, Nduk. Licin, petik cabe sama tomatnya sekalian ya."


"Iya Bi–" jawab Nuha dan Debby yang sudah keluar dari area dapur.

__ADS_1


Ustadz Irsyad geleng-geleng kepala sembari tersenyum. Sudah hampir terlepas seluruhnya sabut itu dari tempurung kelapanya. Lantas memukul keras agar kelapa itu pecah dan mengeluarkan air, setelahnya Ustadz Irsyad pun congkel buah kelapa tersebut dengan cekatan. Karena tak membutuhkan waktu lama satu butir buah kelapa itu sudah terlepas seluruhnya dari tempurung. Kembali beliau meraih sebutir lagi untuk di ***** dan di lepaskan, karena untuk dua ekor ayam kampung mungkin akan membutuhkan dua hingga tiga butir kelapa.


–––


Di kebun...


Dua pasang kaki melangkah dengan semangat, mereka pun mengambil langkah terpisah saat yang satunya lebih memilih ke kanan sementara satu yang lainnya ke kiri.


Pandangan Debby tertuju pada buah labu Siam yang menggelayut di sebuah atap bambu buatan untuk menahan dahan menjalar, dari pohon labu tersebut.


Buah yang besar-besar dan segar, rasanya ingin ia petik semua. Namun hari ini menunya bukanlah labu Siam, jadi dia hanya menyentuh-yentuh saja.


"Ya ampun– senangnya tinggal di desa begini ya, Dek? Bisa menanam segala jenis sayur mayur." Ujar Debby semakin bersemangat.


"Iya Ce–, kalau di Jakarta agak panas. Jadi nggak semua sayuran bisa tumbuh." Nuha menjawab, sembari memetik beberapa buah tomat yang sudah berwana merah.


Debby tersenyum, ia kembali mendekati adik iparnya yang hanya berjarak usia dua menit saja dengan sang suami. Ia pun mulai memetik cabai merah dan cabai rawit merah di dekatnya.


Di sekitar, angin berhembus cukup kencang. Daun-daun yang berada di pepohonan sekitar terdorong angin, berdesir.


Menimbulkan riakan, yang berpadu syahdu layaknya konser alam yang mengetuk sanubari.


"Aku sepertinya betah di sini." ujar Debby di sebelah Nuha yang tengah tersenyum. Satu lagi gadis itu memetik tomatnya, sudah dapat lima butir, mungkin ini cukup.


"Cece, berapa hari di sini?" Tanya Nuha.


"Mungkin ada semingguan. Menghabiskan masa libur lebaran kak Rumi," jawabnya.


"Wah... Senangnya. Kalau aku hanya dua malam."


"dua malam? Cepat sekali?" Angin kembali menyibak kerudung panjang mereka. Dimana Nuha mengangguk dengan senyum tipis, sedikit nampak sendu di matanya.


"ya... Karena habis ini, mau langsung ke Sukabumi. Kakeknya A'a masih ada jadi kita harus ke sana setiap lebaran. Ini saja aku bersyukur, A'a ngajakin berlebaran di Magelang lebih dulu tanpa menunggu hari berikutnya."


"Begitulah ya?"


"Iya... Aku tak seluang kak Rumi. Mau tidak mau harus lebih membagi waktu. Walaupun sebenarnya aku masih ingin lama, bersama Abi." Nuha kembali mengulas senyum, paham sekali isi hati Nuha, tanpa perlu ia berbicara panjang lebar menjelaskan isi hatinya. Debby pun mengusap lengannya lembut.


"Kamu benar-benar istri yang berbakti ya. Aku tidak pernah loh melihat mu membantah A'a. Selama kalau kita dekat selalu bilang iya dan iya, tidak seperti aku." Debby terkekeh.


"Hehehe... memang Pria setelah Abi, yang paling aku segani saat ini adalah suami. Beliau itu amat tegas, tapi sebenarnya juga perhatian."


Debby membulatkan bibirnya, sembari manggut-manggut. Memang nampak jelas dari garis wajah Faqih yang lebih banyak diam itu, wajar jika Nuha pun segan. Ia pun jika punya suami seperti Faqih akan nampak segan, namun untungnya dia memiliki suami yang lebih sabar seperti Rumi, hingga tak membuatnya merasa tegang. Ya... Intinya mereka berdua adalah pria salih yang berbeda karakter.


## Author berkata..... Kau tidak tahu saja Debby, semenegangkan apapun suami Nuha itu? Beliau adalah salah satu suami paling jahil yang tidak pernah kau duga hehehe...

__ADS_1


__ADS_2