Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
hal yang di utarakan Jimmy


__ADS_3

Esok paginya...


Ketika mentari mulai nampak, Rumi sedang membantu sang istri menjemur pakaian yang ia cuci tadi di mesin cuci.


Sementara Debby sedang merebahkan tubuhnya karena rasa pusing dan meriang yang tiba-tiba ia rasakan selepas bangun tidur.


Sebenarnya, pekerjaan mencuci pakaian memang selalu menjadi pekerjaannya. Bukan karena Debby malas melakukan pekerjaan itu, tapi? Senang saja ketika bisa melakukan pekerjaan tersebut. Alasan lainnya hanya ingin membuat Debby merasa lebih nyaman tinggal di rumah ini, dengan cara tidak membebankan banyak pekerjaan rumah kepadanya.


Pun pekerjaan Debby hanya sebatas memasak dan menyetrika saja. Sisanya, di kerjakan oleh ustadz Irsyad dan Rumi. Seperti menyapu dan mengepel, bahkan Abi Irsyad sampai melakukan pekerjaan itu sebelum solat subuh semua demi bisa mendahului menantunya itu dalam urusan berbenah hehehe.


Kembali pada Rumi, yang hanya tinggal satu baju kemeja lagi tengah ia pasang di hanger dan ia gantung di tiang jemuran. kemudian berjalan masuk sembari membawa ember kosong yang ia pakai sebagai wadah pakaian bersih, lantas ia pun mengembalikannya ke ruang laundry.


"Kak Rumi–" Debby menuruni anak tangga dengan rasa tidak karu-karuan mencari sang suami yang sedang berada di dapur. "Kakak...."


"Iya Dek? Aku di dapur." Menyaut dengan tangan bekerja menuangkan air panas ke dalam gelas separuhnya lalu meraih air dengan suhu normal, guna mencampurkannya agar tidak terlalu panas.


"Temani aku tidur." Rengek Debby yang langsung memeluk tubuh suaminya dari belakang.


"Sebentar ya. Aku lagi bikin teh buat kamu."


"Lama–"


"Ini udah selesai." Rumi mengaduk-aduk minuman itu pelan, hingga air yang jernih perlahan mulai berubah menjadi merah.


perlahan Rumi melepaskan tangan Debby lalu memutar tubuhnya, menyentuh kening sang istri kemudian.


"Ya ampun, tambah panas Dek. Ke dokter saja ya," ajak Rumi.


"Nggak mau. Maunya di temenin kamu aja. Udah cukup."


"Ya tetap saja harus ketemu dokter. Biar dapat obat jadi cepat sembuh."


"Aku maunya tidur, di temani kamu."


Rumi mengalah, ia pun meraih gelas berisi teh manis hangat yang ia buat baru saja, lalu merangkul pundak Debby.


"Yuk... Bobo. Tapi janji tidur ya."

__ADS_1


"Iya, kamu juga jangan kerja. Pokoknya stay di ranjang temani aku."


"Iya..."


"Iya-nya nggak ikhlas banget."


"Ikhlas sayang. Udah yuk lah tidur."


Keduanya lantas berjalan bersama keluar dari dapur itu menuju tangga. Karena memang, Rumi sudah mulai paham karakter Debby yang mudah merajuk.


Hingga masuk ke dalam kamar. Rumi meminta sang istri untuk minum teh buatannya itu lalu merebahkan tubuh sang istri.


"Maaf ya, semalam kamu mandi di jam dua belas malam. Sepertinya kamu masuk angin."


"Iya, lagian kak Rumi tumben. Ngajak aku berjima selepas dari Bandung. Biasanya kan besoknya kira-kira tubuh kak Rumi sudah tidak begitu lelah."


Rumi tersenyum tipis, ia mengusap lembut kening Debby. Menyibak rambut sang istri kebelakang. Semua sebab adanya zulzilu di dalam hatinya.


"Istirahat ya. Besok-besok nggak lagi." Rumi menciumi wajah Debby ketika kembali mengingat wajah Meida.


Memang benar, ketika seperti ini? Setan akan dengan sangat gencarnya menggoda iman ketika sedikit saja ada rasa goyah di hatinya.


Mendengar bisikan yang tak terlalu jelas, Debby menoleh sembari senyum-senyum.


"Bilang apaan tadi?"


"Apaan." Rumi menjawab sembari tersenyum dan kembali membenamkan wajahnya diceruk leher sang istri.


"Aaaaa...." Debby sedikit terkejut merasakan ada gigitan kecil di bagian lehernya. "Astagfirullah lagi kenapa sih ini orang?"


"Enggak cuma merasa sayang sama kamu." Rumi memberikan lagi stempel cinta di bagian tulang leher istrinya.


"Aku lagi sakit, jangan minta jatah." Debby terkekeh merasa geli.


"Enggak kok, enggak." Rumi mempererat pelukannya. Dengan beberapa kali masih menyerang Debora dengan kecupannya itu.


.

__ADS_1


.


.


Waktu semakin berjalan, sehabis Azhar Rumi duduk termenung di balkon teras. Memikirkan sesuatu, yang membuatnya merasakan cemburu saat Jimmy menelfonnya siang tadi.


## Flashback is on.


πŸ“ž "Menurut kak Rumi, pria seperti ku. Apa boleh menyukai wanita dari keturunan ulama?"


"Yang melarang memangnya siapa?" Rumi terkekeh.


πŸ“ž"Kali saja. Habis aku tertarik sejak beberapa kali bertemu. Cuman baru kemarin aku merasa benar-benar menyukainya. Tapi aku sendiri ragu sekaligus sadar, aku itu siapa? Dia siapa? Jadi seperti air dengan minyak. Nampaknya aku akan sulit mendapatkannya."


"Wah dalam nih kayanya..." Ledek Rumi, sembari tersenyum. "Kalau boleh tahu anak ulama mana? Atau kalau nggak, orang mana?"


πŸ“ž "kasih tahu tidak ya? Hahaha."


"Terserah sih, Jim. Padahal aku mau bantu nih, dengan doa. Hahaha."


πŸ“ž"Nggak papa dengan doa. Yang penting qobul." Terkekeh.


"Jadi orang mana, nih?"


πŸ“ž "Orang dekat kantor kita. Anaknya pak kyai yang kemarin kita temui."


Deg...! Rumi seketika terdiam. Lalu berdeham "Mei... Meida maksudnya?"


πŸ“ž "Ya ampun ketebak. Hahaha iya kak. Jujur aku mengaguminya saat beberapa kali bertemu dan semakin mengagumi sosok Meida sejak semalam. Bahkan aku tidak bisa tidur akibat memikirkan dia."


Rumi tersenyum kecut. "Temui lagi saja pak Kyai, lalu pinang putrinya."


πŸ“ž "Mungkin itu akan segera aku lakukan."


## Flashback is off.


Rumi meremas kepalanya. Ia merasa stress sendiri. Kenapa pula ada perasaan tidak enak di hatinya tatkala mendengar itu dari Jimmy. Bukankah seharusnya ia senang dan turut bahagia. Masalahnya, gadis itu juga membuat hatinya bergetar. Hingga ada rasa tidak ikhlas saat mendengar Jimmy mengagumi Meida.

__ADS_1


Sementara ia sendiri sudah beristri, tidak seharusnya kan dia merasakan cemburu.


Ya... Memang begitulah hati manusia. kita tidak bisa mematoknya dengan iman yang katanya kuat. Karena rasa suka, sara kagum bahkan cinta itu datang, dengan cara sembunyi-sembunyi dan entah sejak kapan ia bersemayam, lantas menimbulkan gejolak yang tidak baik untuk di resapi terlalu dalam. Hanya tinggal mengingat pasangan saja, lantas berharap mampu menjadi perisai yang akan menahan kita agar tidak bertindak lebih jauh lagi.


__ADS_2