
Wajah Rumi berpaling, ia menopangkan sikunya di Pegangan kursi, menutup bibirnya yang tersenyum dengan kepalan tangannya itu. Karena tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, saat melihat Debby. Lebih-lebih saat cangkir itu berbunyi gretak-gretak karena tangan Debby yang gemetaran.
Mata Debby terangkat pelan melihat pria itu. Dia pun menunduk lagi turut tersenyum, lalu setelahnya beranjak. Debby sempatkan untuk tersenyum pada ustadz Irsyad yang membalas itu dengan anggukan satu kali.
Bibi Maryam pun tersenyum menggoda Debby, membuat gadis itu segera berjalan cepat untuk masuk.
Ustadz Irsyad berdeham. "Saya lanjutkan ya, Ci."
"Silahkan, Pak." Ucap Maryam.
"Iya, saya ingin meminta bantuan Cici, untuk menyampaikan niat baik kami kepada keluarga dari Debby, karena saya berniat ingin melamar nak Debby untuk putra saya ini."
Deg...! Debby yang masih berada di ruangan tamu itu membeku.
Maryam menoleh sejenak kearah Debby, gadis itu menunduk.
"Emmm...?" Maryam bingung sendiri, di situasi yang masih memanas ini? Bagaimana bisa dia mengiyakan. Namun melihat niat baik ini, lebih-lebih ekspresi dari kedua anak itu, sepertinya mereka saling suka. Maryam masih terdiam, lalu menghela nafas.
"Begini pak, saya senang sekali. Ketika mendengar niat baik, bapak dan masnya. Tapi... Di sini saya belum berani menjamin, semuanya akan lancar. Dan belum berani juga untuk mengiyakan." Ucap Maryam.
"Iya Ci... Tidak apa, kami tidak buru-buru. Silahkan bermusyawarah lebih dulu. Dan jika sekiranya kami bisa datang ke Bandung untuk melamar langsung ke orang tuanya, maka segera kami akan lakukan itu."
__ADS_1
Maryam tersenyum kecut, dia menoleh lagi ke arah Debby yang masih tertunduk itu.
"Iya pak, akan saya sampaikan lebih dulu saja pada Papah dan mamahnya Debby. Tapi, andaikata ada?" Maryam menghentikan ucapannya dia bingung mengatakannya. Karena takut menyinggung dua orang itu.
"Katakan saja, Ci. Kami tidak apa kok." Tutur Ustadz Irsyad.
"Iya, begini... Masalahnya hubungan antara Debby dan keluarganya saat ini bisa di bilang sedang tidak baik-baik saja. Saya hanya bisa menyampaikan itu. Karena saya khawatir ketika bapak dan masnya akan kecewa, setelah mendapatkan jawaban dari pihak keluarga. Saya harap bapak paham maksud saya." Sangat hati-hati sekali Maryam berbicara seperti itu. Sehingga membuat ustadz Irsyad manggut-manggut, dia sepertinya paham situasinya seperti apa.
"Iya Ci, begini saja. Cici bisa hubungi nomor istri saya, ketika sudah mendapatkan jawabannya. Apapun nanti jawaban itu? Pasti akan kami terima." Tukas ustadz Irsyad.
"Terimakasih banyak pak." Maryam tersenyum. Ia lantas menawarkan mereka untuk menikmati teh di hadapan mereka, serta biskuit yang berada dekat cangkir mereka berdua.
Ustadz Irsyad pun menyempatkan untuk menuliskan nomor telepon Rahma lalu menyerahkannya kepada Maryam, sebelum akhirnya beranjak dan berpamitan pulang, karena urusan mereka sudah selesai.
"Bagaimana? Apa kamu mau menerima dia?" Tanya Maryam, meraih dagu Debby mengangkatnya lalu menyeka air mata itu.
"Debby bingung." Jawab gadis itu. "Satu sisi, Debby mau menerimanya, tapi bagaimana dengan Papah dan mamah?"
"Tante yang akan ke Bandung besok. Untuk bicara sama papah mu."
"Tapi papah kan sedang kecewa. Debby takut, Tante akan di maki-maki sama papah. Lebih-lebih mengabarkan hal ini, Debi takut Tante." Gadis itu memeluk Bibinya erat.
__ADS_1
"Jadi bagaimana? Apa kita tolak saja? Karena situasi ini masih benar-benar panas."
Debby menggeleng. "Debby menyukai pria itu." Jawabnya lirih. "Debby bingung Tante. Hiks."
Maryam mengusap-usap punggungnya dengan lembut berusaha menenangkan hatinya. "Nanti malam, Tante akan membangunkan mu. Kita solat malam sama-sama ya, untuk meminta petunjuk."
"Iya, Tante."
***
Beberapa hari berlalu, sore ini Debby baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dan ia pun berdiam diri sejenak di kursinya sebelum pulang. karena ini memang sudah jam pulang juga, dan sudah sedikit lewat bahkan sebentar lagi pun masuk waktu Maghrib.
Sebagian dari teman-temannya juga sudah pada pulang. iya... Semenjak berpindah keyakinan, ternyata tidak semuanya menerima. Ada yang masih betah berteman dengannya, ada pula yang seperti menghindari. Belum lagi pakaiannya itu syar'i. Jadi mengundang banyak pertanyaan dari mereka-mereka.
Tidak hanya teman-teman yang non muslim saja, namun yang sesama muslim pun ada yang juga turut menjauh. Entahlah, mungkin karena Debby yang sekarang nampak tidak asik lagi bagi mereka. Dia jarang berbicara, lebih banyak diamnya dan menghabiskan waktu untuk membaca buku islami.
Debby pun jadi paham, sekarang tidak semua umat muslim mau menjalankan ibadah shalat. Seperti ketika ia mengajak temannya untuk ke masjid lebih dulu saat jam makan siang. Mereka malah justru mengabaikan panggilan Allah hanya demi ***** perut mereka, dan tetap meninggalkannya dengan alasan ada pekerjaan yang harus di selesaikan, Padahal sholat tidaklah memakan waktu lama, tapi kenapa mereka-mereka sangat mudah meninggalkan sholat tanpa punya rasa bersalah?
Belum lagi, tak jarang Debby sampai tidak berani masuk ke salah salah satu ruangan untuk foto copy. ketika di dalam ada sepasang pria dan wanita yang sedang berzinah kecil di dalam ruangan itu, di jam kantor. Tepatnya di sudut yang tak tersorot CCTV. Apakah mereka tidak punya rasa takut pada Tuhan mereka, yang tidak pernah melepaskan pandangannya sekali pun. Bukankah Allah mengawasi kita? Tapi kenapa manusia sangat menyukai perbuatan yang sangat Allah SWT benci? Demi kenikmatan sesaat.
Namun itulah manusia, mereka mempunyai cita-cita mati dengan baik dan bisa masuk ke surga. Namun kewajibannya pun enggan mereka kerjakan. Bahkan menganggap ajakan teman yang menjurus pada kebaikan pun, di anggap sok alim seperti umpatan seorang teman yang menuduh dia Islam baru kemarin namun sudah berani menggurui.
__ADS_1
Ya... Debby pun hanya tersenyum, dia paham dunia ini bukan lah tempat terbaik untuk berlomba-lomba pada kebaikan bagi pandangan orang, yang lebih berambisi untuk mendapatkan harta duniawi. Karena mereka hanya akan menikmati apa yang mereka sukai, dan tidak ingin terbebani oleh hal-hal yang seharusnya menjadi kewajiban mereka sebagai mahluk yang di beri tempat tinggal sementara oleh Rabbnya.