
Di siang hari yang terik ini, sebuah mobil berhenti di depan pagar. Debby sudah siap, menyambut kedatangan Bibi Maryam yang tengah melambaikan tangan kepadanya.
Sebelumnya, mereka berdua sudah mengatur janji untuk pergi ke suatu tempat, dan atas izin Rumi pula Debby pun keluar. Menuju sebuah acara seminar yang menjadikan Ci Maryam sebagai salah satu narasumber dalam acara tersebut. Tak hanya itu di sana juga terdapat salah satu masjid yang amat indah. Membuat Debby tertarik untuk ikut dan niatnya selepas acara tersebut mereka pun akan mengunjungi kawasan islamic center itu.
Debby mengucap salam setelah sampai di hadapan Maryam dengan senyumnya yang ceria, lalu masuk ke dalam mobil itu. Hingga tak lama mobil mulai bergerak, menjauh dari rumah ustadz Irsyad.
Di dalam mobil...
Angin sejuk yang keluar dari AC, serta nyanyian merdu bernuansa islami menjadi teman perjalanan mereka berdua.
Bercengkrama kesana-kemari, menceritakan sesuatu yang amat membuat Maryam merasakan senang dan lega. Lebih-lebih saat tahu, ibunya Debby sudah mulai menerima perubahan gadis itu. Walaupun sikap ayah dan kakaknya masih sama, dingin dan nampak tak peduli. Tapi setidaknya itu jauh lebih baik, terpancar dari aura ceria Debby yang seolah mulai kembali.
"Mama sempat titip salam juga untuk Tante?"
"Oh, iya kah?"
"Iya. Kata Mama, aku harus belajar menjadi wanita Mualaf taat seperti Tante."
"MashaAllah..." Maryam tersanjung dengan ucapan itu, bibirnya bahkan terus saja tersungging senang, sembari fokus menatap jalan yang sedikit lengang. "Salam balik untuk mama ya."
"Iya Tante, nanti aku sampaikan," kata Debby tersenyum senang. Menikmati perjalanan siang dengan perasaan damai di hati, hingga tak lama ponselnya bergetar. Tanda sebuah pesan chat masuk, yang secepat kilat di buka oleh Debby. Karena itu dari Rumi.
📲 (Assalamualaikum, ya Zaujatti... Jadi pergi dengan Tante, 'kah?) Begitu isi pesannya.
Debby pun membalas cepat, padahal baru beberapa jam yang lalu dia di tinggal ke Bandung. Rasa rindu sudah merasuki jiwanya, membuat dia ingin segera bertemu petang. Menanti sang suami pulang.
📱 (Walaikumsalam suami ku. Iya... Ini lagi di jalan. Kamu sudah makan siang, belum?) Balas Debby.
__ADS_1
Menunggu lagi sejenak, ketika terdapat tulisan mengetik di bawah nama yang tertulis Pangeran halal ku.
"Siapa? Rumi ya?" Ledek Bibi Maryam. Gadis itu pun mengangguk cepat dengan senyumannya. "Ooo..." Bibi Maryam hanya membulatkan bibirnya, membiarkan Debby untuk berkirim pesan dengan suaminya itu.
Tak lama, pesan kembali masuk. Dimana Debby langsung membacanya, karena dia belum keluar dari menu chat Rumi.
📲 (Sudah dong... Aku makan lauk telur balado. Boleh tanya nggak?)
Debby mengetik langsung.
📱(Apa?)
📲 (Kamu tadi masak telur itu bumbunya apa, sayang? Kok beda dengan yang ku makan sekarang.)
Debby berfikir sejenak, perasaan tidak ada yang aneh. Apa menurut Rumi tidak enak ya? Begitu pikirnya. Dia pun membalas lagi.
📱 (Beda bagaimana? Pasti lebih enak yang kamu makan tadi ya?)
Ting....! Sebuah pesan balasan kembali masuk, dimana Debby langsung membukanya.
📲 (Kalau yang ini biasa, hanya bikin kenyang. Kalau yang kamu buat tadi lebih membuat ku merindu, makanya aku beli telur bulat lagi untuk lauk makan siang ku. Apa karena manis ya...? Kaya kamu.)
Debby terkekeh sembari menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Astagfirullah... Bisaan nih orang." gumam Debby yang kembali membaca ulang pesan itu, karena senang. Bukankah itu hal biasa yang di lakukan wanita, ketika ada pesan yang membuatnya meleleh? Maka dia akan membacanya berulang-ulang. Maryam yang melihat itu turut senang.
Debby kembali membalas pesan tersebut setelah puas membacanya sebanyak tiga kali. Dan dengan itu dia masih saja terkekeh gemas.
__ADS_1
📱 (Gombalannya basi. Jelas lebih manis lah, punya ku di semur, sementara yang kamu makan tadi di balado... hadeehh pasti ada sesuatu nih? kamu mau aku kasih apa nanti saat pulang, suami?😘)
Tidak hanya Debby yang senyum-senyum saat berbalas pesan dengan sang suami, tapi Rumi yang di sana pun sama. Kembali Rumi menulis pesan balasan untuk istrinya, yang kembali membuat Debby bersemangat membukanya.
📲 (Cukup manjakan aku... 😌)
📱 (Heran, mintanya di manjain terus wkwkwkwk...)
📲 (Iya lah... Sebelum ada bayi kecil. Kan bayi besar duluan, yang di manjain. Ehh... Zaujatti, jangan mikir yang nggak-nggak ya. Aku belum di rumah soalnya. 😅😅)
Sontak Debby langsung melebarkan kedua bola matanya, lalu tertawa. Membuat Maryam sedikit terkesiap lalu menghela nafas, ketika Debby berucap maaf pada tantenya itu seraya tertawa.
'dasar pengantin baru...' batin Maryam sembari geleng-geleng kepala, namun ia tetap memaklumi. Pasangan muda yang baru menikah beberapa bulan hehehe.
–––
Inilah kawasan islamic center...
Di mana terdapat perpustakaan yang mengkoleksi buku-buku islami beberapa generasi. Dari tema kanak-kanak hingga orang dewasa. Di sebelah kanan dari kawasan itu terdapat masjid yang lumayan besar. Lantas di ujung kirinya? Terdapat salah satu aula yang lumayan luas, tempat acara seminar di adakan.
Debby dan Maryam keluar dari dalam mobilnya. Seorang panitia acara langsung menghampiri, dan mempersilahkan ke-duanya untuk masuk. Namun belum sempat keduanya masuk, Maryam menghentikan langkahnya. Saat melihat banner yang bertengger di tiang penyangganya, dekat dengan pintu masuk.
Ia tercenung Ketika narasumber yang lain adalah seorang Habib yang sepertinya ia kenal.
Karena wajahnya yang tak asing.
"Habib Bilal Lutfhi Asegaf." gumam Maryam amat lirih membaca namanya.
__ADS_1
"Ada apa Ci?" Tanya sang panitia wanita di sebelahnya.
"Tidak ada apa-apa." Maryam tersenyum lalu melanjutkan langkahnya masuk. Di ikuti Debby serta panitia tersebut.