Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi
keinginan Debby


__ADS_3

Pukul 01:30


Rumi sudah berada di bangsal VIP, Menunggu Debby yang tak kunjung tertidur.


Nampak Rumi sesekali menguap dan sedikit memejamkan matanya menahan kantuk sembari bersholawat.


"Tidur Dek."


"Aku belum mengantuk."


"Ya di paksain, kamu harus istirahat." Tutur Rumi, ia kembali menengok ponselnya. Tidak ada satupun pesan chat yang masuk.


"Kak Rumi ngapain sih, liat HP terus?"


"Aku cuma ngecek kabar Nuha, Dek."


"Nuha? Memang Nuha kenapa?"


"Tadi Abi langsung ke Asemka, katanya Nuha mau lahiran."


"Lahiran? Ya Allah semoga bisa normal dan lancar."


"Harapannya seperti itu. Tapi salah satu bayinya terlilit tali pusar di bagian lehernya, akhirannya harus sesar."


"Ya ampun, semoga di beri kelancaran. Sehat ketiganya."


"Aamiin..." Rumi mengusap perut sang istri. "Ya Allah masih nggak percaya."


"Apalagi aku." Debby terkekeh.


"Sehat-sehat ya Dede," tutur Rumi bahagia.


"Iya Abi... Tapi Abi jangan macam-macam, jangan naksir cewek Bandung. Soalnya sudah ada aku." Debby berbicara dengan nada yang di buat-buat seperti anak kecil.


"Ngomong apa sih Dek kamu ini ya?"


"Ngomong apa? Aku ngomong fakta tuh. Memang aku tidak dengar apa, dengan apa yang kamu omongin tadi sama Abi."

__ADS_1


Deg...! Rumi tercengang.


"Beneran kan? Kamu naksir cewek Bandung?" Tanya Debby, seolah rasa kesalnya kembali. Debby pun melepaskan pegangan tangan Rumi kepadanya.


"Kalaupun benar, tapi aku yakin itu nggak seperti yang kamu bayangkan, Dek."


"Mimpi ku ternyata firasat ya?"


"Dek?"


"Bisa ya, aku dalam kondisi seperti ini? Punya rasa takut kehilanganmu karena tak kunjung hamil, udah gitu sering di tinggal ke Bandung. Eh kamunya malah punya hasrat sama wanita lain." Cerocos Debby, yang sudah tidak bisa menahan kata-kata yang sedari tadi tersendat di ujung lidahnya. "Sekarang aku seperti ini? Masih mau berlanjut tuh, jatuh cinta haramnya?"


"Astagfirullah al'azim. Dek kok ngomongnya gitu sih? Yang bilang jatuh cinta sama wanita lain siapa?"


"Intinya sama... Sama kak Rumi. Kak Rumi punya hasrat sama dia, entah itu kagum atau apa? Intinya membuat kak Rumi sampai berdebar kan? Apa namanya kalau bukan cinta."


Rumi menatap wajah sang istri yang sedang berpaling itu. Mendengarkan setiap ocehannya yang makin memojokkan Dia.


"Tau lah, pasti wanita itu lebih Soleha kan? Ku dengar anak seorang kyai... Cocok dong sama kamu, apalagi?" Rumi membungkam mulut itu dengan kecupan lembut hingga beberapa detik. Saat melepaskan, Debby hendak berbicara lagi namun kecupan itu kembali di berikan olehnya. Setelah cukup kembali Rumi melepaskannya lantas mengusap bagian bibir sang istri dengan ibu jarinya.


"Sudah cukup ya. tolong, dengarkan aku...! Jangan berargumen tentang hal yang bahkan kamu sendiri tidak tahu. Aku tidak ingin kasar, tapi aku juga bisa tegas sama kamu! Aku diam, aku mengalah, selama ini kamu pikir aku tidak bisa marah?" Rumi menatap sang istri dalam-dalam, dimana hal itu membuat Debby lantas terdiam, ia bisa melihat ekspresi marah Rumi walaupun itu masih di bilang tertahan, namun cukup membuatnya tidak berani untuk menyela. "Adapun rasa itu hadir, aku tidak pernah sengaja. Semua datang secara tiba-tiba. Tapi di sini aku berusaha membuang itu semua, karena aku sadar aku punya kamu. Dan aku ingin cuma kamu yang menjadi istri ku satu-satunya. Tidak ada yang lain."


"Wajahnya mirip seperti Umma Rahma. Suaranya juga sama. Awalnya aku hanya merasa dia mirip, lalu pertemuan selanjutnya? aku hampir keserempet sepeda milik dia hingga membuat ponsel ku jatuh dan retak, dan karena dia punya konter jadilah ponsel ku di perbaiki olehnya. Setelah itu pertemuan demi pertemuan pun tak terelakkan, karena memang aku sering jamaah di masjid yang memang dekat dengan rumah gadis itu."


"Sudah jangan lanjutkan... Aku nggak mau dengar." Debby menutup kedua telinganya. Dimana Rumi masih terus memandangnya dengan tatapan hangat. Ia menyentuh kedua tangan Debby lantas melepaskannya.


"Tapi aku harus menjelaskan. Supaya kamu tidak salah paham."


"Hiks... Nggak mau dengar. Nggak mau." Isaknya, membuat Rumi lantas memeluknya erat.


"Aku tuh sayang sama kamu, wallahi. Aku sudah janji sama Papa kamu. Untuk tidak menduakan mu. Hal lumrah kan jika terkadang perasaan tertarik sama lawan jenis itu muncul. Maaf Dek..."


"Yang membuat ku tidak bisa menerima, wanita itu lebih Solehah. Sementara aku apa?"


"Kamu Solehah. Kamu juga baik, Dek."


"Nggak sih... Kamu ngomong gitu karena aku kesal kan."

__ADS_1


"Dek, udah dong. Jangan gini. Aku nggak mau membuat mu semakin sakit. Kasian Dedenya."


"Kamu nggak sayang sama aku dan calon anak ku."


"Aku sayang sama kalian. Wallahi, Dek. Tolong maafkan aku ya. Aku nggak bermaksud menyakiti mu. Maaf... Aku mohon maafkan aku, sementara aku mohon sisihkah masalah ini dulu kalau perlu lupakan, kita fokus untuk kesehatan Dedenya. Setelah ini terserah kamu maunya gimana, atau kamu mau aku keluar dari pekerjaan ku? Supaya nggak ke Bandung lagi, aku akan lakukan itu."


"Kalau perlu begitu, karena aku hamil. Jadi aku mau kamu menemani aku di rumah. Nggak usah ke Bandung-Bandung lagi. Titik!"


Rumi terdiam, ia menghela nafas. "Iya Dek. Nanti aku pikirkan lagi ya, harus berhenti, atau kita pindah ke Bandung."


"Pindah ke Bandung? Lalu Abi bagaimana?" Tanya Debby tidak percaya.


"Aku belum bisa memantapkan. Tapi aku akan memilih salah satu dari itu. Masalah Abi, nanti ku pikirkan semuanya. Mudah-mudahan sih, aku segera mendapatkan pekerjaan di Jakarta." Tutur Rumi lantas mengecup kening sang istri. "Sekarang istirahat lah dek. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Percayalah, aku tidak pernah punya niatan untuk mendua."


"Janji ya, karena aku percaya sama kamu."


Rumi tersenyum. "Iya Zaujatti..."


Debby pun menyentuh wajah Rumi, membawanya mendekat hingga bibir mereka menyatu dengan lembut selama beberapa detik, setelah itu menatap wajah sang suami lekat.


"Anna– uhibuka?"


Rumi terkekeh. "ana uhibbuka fillah."


"Iya itu."


"ahabbakilladzii ahbabtani lahu," jawab Rumi kemudian, sembari menarik pipi Debby pekan.


"Itu artinya apa? Tanya Debby."


"Artinya? Semoga Allah juga mencintaimu karena kau telah mencintai ku karenaNya," jawab Rumi lembut, ia pun membenahi selimut sang istri. "Tidur ya, sudah hampir jam Dua."


"Iya, kamu juga."


"Aku tidur, setelah kamu tidur."


"Bacain sholawat."

__ADS_1


"Iya sayang... Sekarang baca doa dulu, sesuai urutan ya." Titah Rumi dimana Debby langsung mengangguk dan membaca doa, setelah itu berusaha memejamkan matanya. Dengan di temani lantunan sholawat Nabi sebagai kidung indah yang selalu membuatnya tenang.


__ADS_2