
Selepas sholat Maghrib, mereka berdua mendatangi rumah sakit terdekat untuk memastikan lagi.
Melalui metode USG, Faqih yang sedang memangku Ziya tak henti-hentinya mengusap kedua matanya yang basah. Terlebih saat tahu di dalam rahim Nuha terdapat dua benih hidup.
"Masih seperti telur karena usianya masih lima Minggu," tutur sang dokter wanita. Tangan Faqih pun menggenggam erat tangan Nuha. Matanya tak berkedip memandangi layar di hadapannya.
"MashaAllah... MashaAllah..." gumam Faqih tanpa henti, setiap kali sang dokter menjelaskan, saking bahagianya. Hingga pemeriksaan selesai ke-duanya pun keluar dari poli kandungan. Terdengar suara adzan Isya membuat Faqih dan Nuha sepakat untuk sholat lebih dulu sebelum pulang.
–––
Di depan masjid, Nuha dan Ziya duduk di area batas suci. Nuha memasangkan sepatu untuk putri pertamanya itu, yang mengenakan baju berwarna pink dengan hijab yang membuatnya terlihat sangat manis dan lucu sedang menunjukkan gigi-giginya, nyengir. Nuha tersenyum setelah selesai memasangnya, sembari menunggu Faqih keluar dia duduk di bibir teras masjid, mengusap lembut perutnya.
"Aku hamil anak kembar?" Nuha bergumam masih tidak percaya, hingga senyum itu sedikit meredup tatkala mengingat Ummanya.
"Andai masih ada Umma Rahma, pasti akan lebih bersemangat lagi untuk memberitahu." Nuha menggeleng cepat, lalu tersenyum. "Umma sudah bahagia, aku pun sudah ikhlas. Jadi tidak boleh sedih lagi."
Nuha berusaha tersenyum, sembari mengusap-usap kepala Ziya. Gadis kecil itu sepertinya lebih memiliki sifat Abinya, yang tidak begitu aktif berlarian ke sana kemari. Dia bahkan sangat pemalu jika bertemu dengan siapapun, bahkan dengan Debby pun ia tidak pernah mau di gendong walaupun kakak iparnya itu sangat ingin. Seperti saat ini, Ziya lebih banyak duduk diam di sebelah Ummanya membalas setiap ucapan Nuha seperlunya, benar-benar anak Faqih.
Di sela-sela obrolan kecil dirinya dengan Ziya, ia menoleh ke arah kanan dan melihat sebuah gerobak cilok di sebrang jalan.
"Ya ampun, enak banget kayanya jajan itu," gumamnya, ia menoleh ke belakang. Di lihat sang suami belum juga keluar, A'a memang hampir seperti Abi Rahmat jika zikir itu lama. Nuha pun mengusap kepala Ziya. "Neng mau jajan, nggak?"
"Mau Umma, Neng mau jajan."
"Yuk, kita kesana jajan." Ajak Nuha, ia beranjak sembari memegangi tangan Ziya. Lalu menuntun anak itu, menjauh dari masjid, guna menghampiri Abang cilok.
"Neng–" panggil Faqih, sembari berjalan cepat keluar. Nuha pun menoleh, ia memilih untuk berhenti sejenak menunggu A' Faqih memakai alas kakinya, lalu jalan cepat mendekati. "Mau kemana?"
"Mau jajan itu." Nuha menunjuk gerobak di sebrang jalan. Di mana Faqih langsung paham, dan mengeluarkan kunci mobil dari dalam wasbag miliknya. Setelah itu menyerahkannya pada Nuha.
"Kamu ke mobil saja, biar A'a yang beli."
"Nggak mau, Nuha maunya beli sendiri. A'a kan nggak paham selera saosnya Nuha seperti apa. Harus ada campuran bubuk gurih sama bubuk cabainya."
__ADS_1
"A'a ngerti neng. Tapi untuk sekarang kamu makan ciloknya pakai kecap saja ya. Kasian anak-anak A'a yang ada di perut kamu, kalau kamu makan dengan bumbu seperti itu."
"Mana enak kalo cuma kecap?"
"Tetep enak neng, yang penting kan ciloknya. pokoknya kamu masuk saja ke mobil."
"Abi... Iyaa ikut." tutur Ziya sembari mengangkat kedua tangannya, minta di gendong. Faqih pun langsung menggendong anak perempuannya itu.
"A'a, Nuha mau ikut." Rengek Nuha ketika sang suami sudah mulai melangkah pergi.
"Nggak Umma...! Umma langsung ke mobil." Tegas Faqih tanpa menoleh.
"Ya tapi jangan cuma kecap, A'. Pedes sedikit nggak papa." Pinta Nuha, yang tak di jawab oleh Faqih. beliau pun menoleh ke kiri dan ke kanan lalu menyebrang jalan. "Ck... A'a nih."
Nuha memutuskan untuk belok arah menuju area parkir yang tidak jauh dari masjid itu.
–––
"Uma, Iyaaa beli jajan." Gadis kecil itu menunjukkan bungkusan berisi empat butir cilok yang di beri kecap. Dengan satu batang lidi untuk menusuk cilok tersebut. Nuha pun tersenyum gemas, ia langsung mencium pipi anaknya yang sudah mulai ribut minta di ambilkan sebutir cilok dari dalam plastik. Yang saat itu pula langsung di ambilkan oleh Nuha, menusuk satu butirnya lalu menyerahkan pada Ziya. Sementara pintu samping sudah di tutup, A'a berjalan memutar ke bagian kemudi.
"Nggak di makan ciloknya? Tadi minta." tutur Faqih yang masih mendapati cilok itu tergeletak di dasboard, tak tersentuh Nuha sama sekali.
"Nanti aja," jawabnya sedikit ketus.
"Kenapa?"
"Ya nanti aja, mau Nuha kasih saus di rumah." Nuha tak memandang suaminya sama sekali, karena dia takut tatapan Faqih.
Faqih pun menghela nafas, lalu meraih cilok di hadapan Nuha.
"Pakai kecap doang juga enak neng, A'a nggak mau kamu makan pedes karena takut mempengaruhi janinnya."
"Nggak ngaruh A'... Dulu waktu hamil Ziya juga Nuha suka makan pedes."
__ADS_1
"Suka? Bukanya dulu A'a juga ngelarang ya? Jadi di belakang A'a tetap makan pedes, Begitu?"
Nuha yang menyadari ia keceplosan pun semakin memalingkan wajahnya.
"Cuma sedikit kok," jawabnya lirih.
"Sedikit, banyak sama saja, Neng. Kamu nggak nurut itu namanya!" hunus Faqih. Sementara Nuha diam saja, ia takut Faqih semakin marah. Ziya yang mendengar Abinya sedikit bersuara tinggi pun merengek.
"Abi mayaaah... Hiks. Abi—" rengek Ziya yang tidak pernah mendengar suara tinggi Abinya.
"Astagfirullah al'azim..." Gumam Faqih, ia langsung meraih anak itu memindahkannya ke pangkuan beliau sembari memeluk. "Abi nggak marah neng. Maaf ya... Neng kaget ya?"
Beliau menoleh ke arah Nuha, di lihatnya sang istri masih diam saja sembari mengusap air matanya, menatap ke luar kaca. Ia pun jadi merasa tidak tega. Dengan mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Nuha lembut.
Setelah itu meraih bungkusan di hadapan Nuha, membukanya, dan mengeluarkan satu untuk dirinya sendiri.
"Maaf neng, A'a keras buat kebaikan kamu. Liat cilok ini semuanya pakai kecap. Apa yang A'a larang kamu makan, A'a pun juga tidak makan. Semua demi kamu." Faqih menusuk satu dan memakannya, lalu menoleh ke arah Ziya yang kini sudah tersenyum lebar.
"Abi jajan?" Tanya Ziya senang.
"Iya, samaan kan ya... Kita samaan," kata Faqih sembari menempelkan cilok miliknya ke cilok milik Ziya, gadis kecil itu pun terkekeh. Lebih-lebih pas Faqih memakannya. "Emmmmm enak..."
"Punya Iyaaa enak..."
"Iya, enak ya? Umma ngambek terus aja, nanti kita habiskan ya." Ledek Faqih. Nuha pun menoleh, lalu tersenyum. Terlebih saat Faqih mengeluarkan satu butir cilok lagi, meniup sejenak lalu mengarahkannya ke Nuha yang langsung membuka mulutnya. Faqih tersenyum saat cilok itu sudah masuk ke mulut Nuha, separuhnya.
"Kabogoh Abadi, kalau nurut itu cantiknya nambah."
"Hehehe... A'a mah."
"Serius Neng. Kita makan cilok dulu baru pulang ya."
"Iya A'..." jawab Nuha yang sudah merasa lebih baik.
__ADS_1