
Sebuah mobil memasuki pelataran rumah, yang memang jaraknya tidak jauh dari masjid tersebut.
Habib Bilal dengan adik laki-lakinya serta salah seorang pendamping beliau pun turun dari mobil, setelah perjalanan jauhnya dari Mojokerto.
Di luar hujan sudah mulai reda, namun hal yang menarik perhatian Bilal adalah pria paruh baya yang sedang memakai jas hujan di samping motornya.
"Pak ustadz Irsyad?" Gumam beliau, yang langsung menghampirinya. "Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah," ustadz Irsyad menjabat tangan Bilal dan Hafizh kemudian yang terulur kepadanya. "Dari mana ini?"
"Saya baru pulang habis ke Mojokerto, ada acara sholawat bersama semalam," jawab Bilal.
"Barakallah... Semoga bisa mendapatkan berkahnya ya, Bib." Ustadz Irsyad tersenyum, penuh kekaguman. Sama halnya dengan Bilal yang turut tersipu.
"Pak Ustadz hendak pulang?" Tanya Bilal.
"Iya ini, sudah lebih dari satu jam tertahan karena hujan lebat. Akhirnya reda juga."
"Ya Allah, mampir dulu saja pak ustadz. Yuk," ajak Bilal.
"Lain kali ya, lagipula antum kan baru pulang."
"Nggak papa pak ustadz, mari mampir dulu saja yuk."
"Terimakasih, tapi saya benar-benar harus pulang. Karena ada acara tambahan juga selepas Maghrib ini di rumah tetangga."
"Oh begitu ya? Ya sudah."
"Emm..." Ustadz Irsyad menoleh kearah pintu rumah Isti yang masih tertutup. "Bilal, sampaikan ucapan terimakasih saya pada Ummi kamu, tadi Dia memberi saya kopi. Namun gelasnya masih saya letakan di dalam masjid."
"Oh... Iya pak ustadz nanti saya sampaikan ke Ummi." Bilal semakin mengembangkan senyumnya.
Ustadz Irsyad kini sudah memakai helmnya. Dan menaiki sepeda motornya.
"Saya pamit ya, Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah. Hati-hati pak ustadz. Jalannya licin."
Ustadz Irsyad hanya menjawab dengan anggukan kepala sekali. Dan motor pun melaju.
Tak lama dari itu, Isti menghela nafas ia baru berani membuka pintu rumahnya setelah mendengar deru suara motor Ustadz Irsyad yang semakin menjauh. Dari suara gagang pintu itu, Hafizh dan Bilal menoleh.
"Ummi." Bilal tersenyum, beliau menghampiri sang ibu sembari mengucap salam lalu mencium punggung tangannya lantas menciumi kedua pipi, dan terakhir keningnya. Hal yang sama lantas di lakukan juga oleh anak bungsunya, Hafizh.
__ADS_1
"Alhamdulillah, anak-anak Ummi sudah pulang dengan selamat." Isti menciumi pipi ke-duanya.
"Iya Ummi, Fara belum pulang?" Yang di tanyakan adalah adik perempuannya.
"Belumโ katanya sih, hari ini ada acara tambahan di sekolah tempatnya mengajar, jadi agak terlambat."
"Oh begitu ya, biar nanti Bilal saja yang menjemput Fara jika sudah petang."
"Iya...."
"Ummi, kami bawa oleh-oleh loh." Kata hafiz menyela.
"Oh ya, mana?"
"Ada di mobil, kesukaan Ummi. Nanti di turunin kok sama kang Beben."
Isti tersenyum senang. Sementara si Hafiz masuk, Bilal pun meraih tangan ibunya sembari senyum-senyum.
"Ada apa senyum-senyum seperti itu?"
"Tidakโ hanya mau menyampaikan pesan dari pak ustadz Irsyad untuk Ummi."
Isti mengerutkan keningnya.
"Oh."
"Alhamdulillah."
"Alhamdulillah apa?"
"Ya nggak papa... Bilal setuju, kalau ustadz Irsyad jadi Abinya Bilal"
"Astagfirullah al'azim. Bilal, nggak boleh ngomong seperti itu walaupun itu hanya bercanda."
"Ummi, Bilal nggak bercanda. Ummi itu harus punya pendamping hidup." Bilal mengusap pipi ibunya. "Beliau baik hati, sama seperti mendiang Abi."
Isti yang mendengar itu sempat terdiam, tatapannya berubah sendu.
"Masuklah, bebersih lalu istirahat. Sebentar lagi masuk waktu Maghrib." Isti mengusap bahu Bilal lalu berjalan menuju masjid yang berada tidak jauh dari rumahnya untuk mengambil gelas.
Pria yang menggunakan Koko gamis berwarna maroon itu menyempatkan untuk memutar sedikit menatap sang ibu. Lalu menunduk sembari tersenyum, setelah itu kembali masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam masjid itu Isti duduk bersimpuh memandangi gelas yang sudah kosong karena terdapat kertas kecil yang terselip di bawah lambar.
__ADS_1
Perlahan tangannya mendekati lalu meraih kertas tersebut.
[ Kopinya enak... Terimakasih Ukhti. ]
Isti tersenyum tipis. Namun segera dia beristighfar, ia pun meremas kertas tersebut dan meraih cangkir kosong di hadapannya.
Berjalan keluar dari masjid, lantas mendekati sebuah drum sampah hendak membuang kertas tersebut. Namun sesampainya tangan yang sudah berada di atas lubang drum malah justru gemetaran, sehingga membuatnya urung untuk membuangnya. Entahlah kenapa tiba-tiba muncul rasa sayang jika guratan tangan ustadz Irsyad itu harus di buang begitu saja. Ia menarik tangannya kembalikan hendak memasukkan kertas itu ke dalam saku baju.
"Astagfirullah al'azim... Apa yang aku lakukan? Audzubillahiminasyaitonirojim." Isti pun memilih untuk tetap membuang kertas itu kedalam tong.
menatapnya sejenak lagi kertas yang sudah bercampur dengan sampah, lalu menggeleng cepat. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya pulang ke rumah.
๐
๐
๐
Di rumah...
Ustadz Irsyad Baru saja tiba. Beliau yang merasa lelah bercampur rasa kantuk pun langsung memilih untuk menyegerakan mandi. Memang waktu menjelang magrib serta waktu menjelang subuh hingga jam-jam Dhuha adalah waktu-waktu paling mudah tubuh ini merespon rasa kantuk.
Rumah itu masih sepi, sepertinya Rumi dan Debby belum pulang dari rumah sakit Ibu dan Anak. Beliau pun berjalan menuju tandas di dalam kamarnya untuk bebersih.
Selepas mandi, ia menerima panggilan telepon dari pak Huda, yang bertanya apakah beliau sudah pulang? Dan ustadz Irsyad pun menjawab bahwa beliau memang sudah di rumah dari setengah jam yang lalu dan kini sedang bersiap untuk ke masjid.
"Berarti selama itu, antum benar-benar sendirian?"
"Iya, namun tidak bosan kok sambil dengerin sholawatan nggak kerasa hujan reda."
"Begitu ya?"
"Iya..."
"Tapi apakah Anisa benar-benar tidak keluar?"
"Emmm..." Ustadz Irsyad mengingatnya, tangan Isti yang gemetaran saat meletakkan kopi untuknya. "Keluar sebentar. Sudah dulu ya pak Huda, saya harus ke masjid."
"Baiklah ustadz. Kita sambung besok di kampus ya." Pak Huda terkekeh.
"Iya... Iya... Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah."
__ADS_1
Ustad Irsyad mematikan ponselnya, lalu meletakkan lagi di atas meja. Setelah itu keluar dari kamar beliau sembari menggantungkan sajadah di pundaknya.