
Di kawasan kaki lima...
Seorang ayah dan anak, tengah menyantap hidangan sate taichan kesukaan Shafa, Ulum sengaja memesan sekitar lima puluh tusuk sate untuk mereka makan berdua.
Agak berlebihan sebenarnya menurut Shafa, terlebih-lebih sate di kedai ini kan lumayan mahal, karena terkenal dengan bumbunya yang enak, serta potongan dagingnya yang besar-besar. Sungguh sangat puas jika memakannya.
Shafa sempat khawatir jika makanan itu tidak habis. Namun itulah cara Ulum yang tengah berusaha membuat Putrinya senang, dan luka di hatinya terobati.
"Di makan satenya." Ulum menawarkan karena Shafa masih saja melamun mengamati sang ayah yang tengah makan, dengan sikap sempurnanya itu. Shafa tersenyum kecut.
"Mendadak Shafa tidak lapar, yah." Jawabnya.
"Loh, ini banyak loh. Kamu suka sate ini kan?"
"Iya... Tapi, Shafa sedang tidak berselera." Jawabnya lirih.
Ulum pun meraih satu tusuk, lalu menyodorkan itu pada anaknya. "Kapan ya, terakhir kamu di suapi ayah?" Tanya Ulum dengan sate masih terarah ke Shafa. Gadis itu pun tersenyum tipis lagi, dia membuka mulutnya menggigit sate itu lalu menarik potongan ayamnya. "Sekarang jadi kangen, kamu yang dulu seringnya minta di suapin ayah. Kamu tahu? Ibu saja sampai cemburu, karena kamu maunya sama ayah terus."
"Hehehe... Ayah, bisa saja." Shafa dan Ulum terkekeh.
Mereka pun menyambung makan mereka dengan di selingi Senda gurau sesekali. Tanpa mengungkit masalah ta'aruf yang gagal tadi.
Hingga tibalah segerombol anak-anak muda berusia dua puluh lima ke atas kurang lebihnya. Salah satunya memegang tripod dan kamera juga, serta penampilan yang keren sih, seperti selebritis, tapi kayanya sih bukan artis, begitu pikir Shafa.
Mereka pun duduk tepat di belakang Shafa, bercerita kesana-kemari.
"Woy... Arifin susah sekali di hubungi sih?" Tanya si A, dengan telfon seluler menempel di telinga.
"Biasa, dia paling ngumpet lagi dari kejaran fans, di masjid." Jawab si B santai.
__ADS_1
"Ck...! Jangan-jangan ketiduran lagi dia?" Si A menimpali, dengan sedikit mendesah.
"Bisa jadi." Jawab si C kemudian.
"Ck... Niat syuting nggak sih anak itu? Heran, mentang-mentang sudah jadi selebgram." Si A mulai gusar, sepertinya dia paling tua diantara mereka yang di sana.
Shafa yang tak sengaja dengar pun teringat pria yang sedang tidur di masjid tadi. Namun seketika dia tidak peduli, toh dia juga tidak kenal. Dan memilih untuk melanjutkan makannya saja dengan tenang.
***
di Bandung...
Waktu sudah semakin gelap. Gadis itu terjaga dari tidurnya, karena suara kunci yang sedang di buka ia dengar.
Sementara dirinya langsung beranjak duduk menatap langit yang mulai temaram di luar, sementara kamarnya masih gelap.
Pintu pun terbuka, sang ibu masuk dengan sepiring nasi dan lauk di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyalakan lampu kamar itu.
"Mamah?" Debby merasa senang, dan berharap sang ibu sudah bisa menerimanya.
"Makanlah." Dia meletakkan piring itu di pangkuan Debby. "Kau suka dendeng daging ini kan?" Ucap Nyonya Brigitta.
"Mamah," mengeluarkan suara yang sangat lirih. "Debby sudah tidak makan, makanan yang non-halal. Maaf ya mah," Debby kembali menitikkan air mata, saat melihat ibunya menatap dengan sedih.
"Deb? Mamah, masaknya sesuai selera kamu loh. Ini enak... Tidak terlalu pedas. Ayo di cicipi. Mamah suapi ya, yang penting Debby makan."
Debby meraih tangan yang gemetaran itu, dia lantas mengusap air mata ibunya yang kembali terisak. "Maaf mamah, Debby tidak bisa makan ini."
"Ini enak, ini enak sayang... Ayo kamu suka masakan mamah kan?"
__ADS_1
"Hiks... Debby suka masakan mamah, suka sekali mah. Tapi Debby sudah tidak bisa makan daging ini. tolong mengertilah mah. Tolong..." Debby berusaha menolak, tangan ibunya yang terus saja menyodorkan sesendok nasi menggunakan tangannya.
Berusaha terus berusaha, hingga wanita paruh baya itu mulai lelah, dia menjatuhkan sendok itu di atas piring seraya menangis. Bersamaan dengan itu Debby pun sama, dia tidak tega melihat ibunya meraung-raung menangisinya. Keduanya pun sesenggukan di kamar itu.
"Apa salah ku, oh... Tuhan? Apa aku kurang mendidik putri ku ini? Sehingga dia berkhianat?" Isaknya dengan suara yang sudah teramat berat. Sementara Debby semakin memperkuat pelukannya.
Debby pun menggeleng pelan, menciumi wajah yang basah akibat air mata yang membanjiri kedua pipinya, yang masih putih dan mulus itu. "ini bukan salah mamah, ini pilihan hidup Debby mah... Debby tetap menghormati mamah dan papah, Debby tetap menyayangi kalian. Sungguh mah... Mamah jangan seperti ini, Debby sayang sama mamah."
"Aku lebih memilih mati, dari pada putri ku berpindah keyakinan. Aku lebih memilih mati Oh Tuhan... Cabutlah nyawa ku Tuhan." Nyonya Brigitta semakin tak terkendali, dengan tangisnya itu.
"Ngga mamah, jangan bilang seperti itu. Mamah maafkan Debby mah. Tolong maafkan Debby, terimalah keputusan Debby mah. Hiks... Mamah."
"Teganya kau Debby, teganya kamu." Suara sang ibu melemah. Dia bahkan hampir tak sadarkan diri, karena perasaan tidak percayanya itu. "Aku pasti bermimpi, ini pasti mimpi," nyonya Brigitta masih bergumam tidak jelas. Di dalam pelukan Debby dengan mata yang terpejam dan Isak tangisnya itu.
Seperti menangisi seorang anak yang pergi meninggalkan dunia ini. Itulah gambaran kesedihan ibunda dari Debora itu.
Hingga masuklah Gallen ke kamar tersebut. Dia mencoba menolong ibunya, membangunkan tubuh yang lemas itu lalu membopongnya keluar dari kamar Debby.
Gadis itu pun semakin sesenggukan di buatnya, dengan kedua tangan menutup mulutnya, sementara punggungnya berguncang hebat, menangis sejadi-jadinya.
–––
Hari berganti...
keputusannya memang tidak salah, namun dampaknya memang amatlah besar. Bahkan kini sang ayah pun mendadak sakit hingga mengurung diri di dalam kamarnya, selama tiga hari ini. Beliau bahkan sampai tidak mau makan dan minum, hanya menghabiskan waktu untuk tidur saja dengan mata yang terus terpejam.
Dan ketika Debby menemuinya pun, sang ayah sama sekali tidak menjawab ucapannya. Selain memunggungi dia, dengan air mata yang terus saja bercucuran.
Belum lagi hujaman kata-kata yang menusuk dari kakaknya yang terus saja memaki serta mencelanya. Seperti saat dia tetap memakai hijab di rumah itu, cibiran demi cibiran pun mulai ia rasakan dari kerabat yang berkunjung. Serta dirinya yang mulai merasa di asingkan.
__ADS_1
Dimana ayah dan ibunya tidak lagi mengajaknya berbicara, sama halnya dengan Gallen. Di sana ada Debby, namun mereka menganggap di rumah itu hanya ada anak laki-lakinya yaitu Gallen.
Bersambung...